RSS

Bimbingan dan Anjuran agar dapat Menyempurnakan Puasa Ramadhan

11 Agu

Seperti sudah diketahui dari definisi puasa, bahwa puasa adalah “menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dengan berniat.” Dimulai dari semenjak  terbit fajar shadiq sebagai pertanda masuknya waktu shalat Subuh, seorang yang berpuasa sudah harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sampai matahari terbenam di penghujung siang. Jikalau tidak, berarti puasanya batal. Ini berdasarkan firman Allah Swt.:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنْ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ 

 

… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam… 

Maknanya diizinkan untuk mengkonsumsi makan dan minum sampai terbit fajar dan tidak lagi diizinkan untuk makan dan minum setelah itu sampai terbenam matahari.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar puasa kita menjadi lebih bernilai baik. Diantaranya “Menyegerakan berbuka puasa” bila waktu berbuka telah tiba.

Ketika diyakini telah terbenam matahari di ufuq barat, disunnahkan untuk menyegerakan berbuka puasa, tidak mengundur-undurkannya, berdasarkan hadits saw.:

لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ 

“Manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa (HR. bukhari dan Muslim)”

Hadist lainnya menyebutkan ;

 لا يزال الدين ظاهراً ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون 

 “Agama islam akan tetap nyata, selama manusia menyegerakan berbuka puasa, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkan berbuka puasa mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Ta'mir Ramadhan 1432 H Masjid Al Munawwarah Padang

Menyegerakan berbuka adalah satu bentuk perbuatan yang menghindari persamaan dengan Yahudi dan Nasrani.  Namun jikalau tidak bisa menyegerakan berbuka  karena ada uzur, tidak apa-apa.

Ta'mir Ramadhan 1432 H Masjid Al Munawwarah

Berbuka dengan yang manis, air putih atau kurma

Dianjurkan untuk orang yang berpuasa agar berbuka dengan mengkonsumsi ruthab (kurma basah). Jikalau tidak ada ruthab, dianjurkan mengkonsumsi tamar (kurma yang sudah dikeringkan). Jikalaupun tidak ada ruthab dan tamar, maka dianjurkan dengan air putih. Di daerah-daerah yang tidak ada kurma, bisa menggantinya dengan buah-buahan yang manis yang tidak mengganggu terhadap kesehatan jikalau dikonsumsi pertama sekali saat berbuka. Nabi Saw. bersabda:

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

 Rasul Saw. berbuka dengan beberapa biji ruthab (kurma basah) sebelum beliau menunaikan shalat (Magrib). Jikalau tidak ada ruthab, beliau berbuka dengan tamar (kurma kering). Jikalau tidak ada maka beliau berbuka dengan segelas air. (HR. Ahmad dan Turmudzi).

 Hadist lainnya menyebutkan ;

 إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر إنه بركة ، فإن لم يجد فعلى الماء فإنه طهور 

 Apabila berbuka puasa salah seorang diantara kalian, maka hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena itu adalah berkah. Jikalau tidak ada kurma, maka berbukalah dengan air, karena air tersebut adalah suci. (HR. Turmudzi).

Ta'mir Ramadhan 1432 H Masjid Al Munawwarah 

Jangan tinggalkan Berdo`a di saat berbuka

Do`a saat berbuka adalah termasuk do`a yang mustajab. Maka sebaiknya banyak-banyaklah berdo`a:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلىَ رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ   

 Do`a di atas berdasarkan riwayat dari Mu`adz, rasul Saw. berdo`a ketika berbuka puasa:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا صام ثم افطر قال اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلىَ رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ

“Rasul Saw. apabila berpuasa kemudian berbuka puasa, beliau mengucapkan: “ya Allah hanya bagiMulah aku berpuasa dan dengan segala rizkiMulah aku berbuka puasa”  (HR. Abu Daud secara mursal dari jalur Mu`adz Bin Zahrah).

 Hadits lainnya disebutkan do`a Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam ketika berbuka puasa adalah:

  كان النبى صلى الله عليه وسلم اذا افطر قال ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ

 Nabi Saw. apabila berbuka puasa, beliau mengucapkan: “telah hilang dahaga, telah kering keringat dan telah tetap pahala disisi Allah, jika Allah menghendakiNya. (HR. Abu Daud dari jalur Ibnu Umar)”

 

Anjuran Berdo’a dikala berbuka puasa perlu juga diperhatikan :

  1. Berdo`a bisa dengan redaksi yang bersumber dari Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Boleh juga dengan redaksi lainnya.
  2. Jikalau berdo`a dengan redaksi selain redaksi Nabi Saw. tidaklah menyalahi syariat dan tidak mempengaruhi shahnya puasa serta tidak pula akan melakukan suatu yang bid`ah.
  3. Lafadz do`a yang sering diucapkan oleh masyarakat dengan adanya tambahan وَبِكَ آمَنْتُ  memang tidak ditemukan di dalam redaksi hadits, akan tetapi maknanya benar dan tidak menyalahi do`a. Lafadz ini ditambahkan untuk menguatkan keyakinan orang yang berdo`a bahwa puasanya benar-benar dilandasi keimanan kepada Allah serta berharap akan selalu beriman secara permanen.
  4. Puasa itu adalah satu ibadah yang menyimpulkan ikhlas yang sesungguhnya, karena yang mengetahui nilai puasa kita sebenarnya ahanyalah Allah sahaja.
  5. Berdo`a dilakukan setelah berbuka puasa, bukan sebelum berbuka puasa (sebagaimana pendapat mayoritas ulama).
  6. Sangat dianjurkan untuk menyegerakan berbuka, maka berbukalah terlebih dahulu baru berdo`a.
  7. Membanyakkan berdo`a di kala berbuka puasa itu, karena sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam disebabkan saat berbuka dan waktu berbuka adalah salah satu waktu do`a mustajab

Rasul Saw. bersabda:

إنَّ للصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً ما تُرَدُّ

Sesungguhnya bagi orang-orang yang berpuasa ketika mereka berbuka terdapat do`a yang tidak akan ditolak (HR. Ibnu Majah dari jalur Abdullah Bin `Amru Bin Al Ash)

Hadits lainnya menjelaskan ;

ثلاثة لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل ودعوة المظلوم

Tiga kelompok manusia yang tidak ditolak do`a mereka; orang yang berpuasa sampai ia berbuka, imam yang adil dan do`a orang yang dizhalimi. (HR Tirmidzi dari jalur Abu Hurairah).

 Oleh karena itu berdo`alah kepada Allah dengan penuh kerendahan hati, khusyu`, penuh harap dan sampaikanlah segala kaduan kepada Nya.

Semoga Allah mengabulkan do`a-do`a kita. Amiin.

Selain itu, tentu perlu di jaga hal hal yang membatalkan puasa itu.

1.   Makan dan minum.

Umat islam telah bersepakat (ijma`) bahwa apabila ada orang yang makan dan minum dengan sengaja dan Ia mengetahui bahwa perbuatan itu adalah haram, maka puasanya batal, karena menahan diri dari makan dan minum adalah faktor esensi dari pelaksanaan ibadah puasa. Sedangkan perbuatannya bertentangan dengan pelaksanaan puasa tanpa ada udzur. Seperti yang dipaparkan di dalam Al Qur`an:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنْ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ 

 … dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam… 

 Jikalau seandainya ada sisa-sisa makanan di sela-sela gigi, kemudian terkena air ludah tanpa bermaksud mengkonsumsi sisa-sisa makanan yang ada, puasa tidak batal, dengan syarat apabila saat itu sulit untuk memisahkan mana air ludah dan mana sisa-sisa makanan yang terkonsumsi. Ketika itu diberikan dispensasi dan tidak dianggap menyengaja mengkonsumsinya.

 Apabila ada yang makan dan minum karena lupa (tanpa sengaja), maka puasanya tidak batal. Berdasarkan hadits dari Abi Hurairah Ra.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Dari Abu Hurairah Radliallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena hal itu berarti Allah telah memberinya makan dan minum” (HR. Bukhari).

Seolah-olah Allah telah memberinya rizki di bulan Ramadhan kepada orang yang berpuasa. Ini disebutkan secara redaksional pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

 

2. Memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga tubuh melalui lobang yang terbuka.

Benda yang dimaksud adalah setiap benda yang bisa ditangkap oleh indra manusia normal, besar ataupun kecil, meskipun sesuatu yang biasanya tidak dimakan, seperti benang dan jarum.

Rongga yang dimaksud adalah: bagian otak dan semua bagian organ tubuh yang berada setelah kerongkongan sampai kepada lambung dan usus-usus. Beda halnya dengan sesuatu yang masuk ke dalam rongga tidak melalui lobang yang terbuka, seperti melalui pori-pori, dll.

Lobang yang terbuka adalah: mulut, kedua lobang hidung, kedua lobang telinga, qubul (kemaluan), dubur (anus), dll. 

Syarat sesuatu yang dimasukkan itu dapat membatalkan puasa adalah, apabila dimasukkan dengan sengaja, bukan karena terpaksa/tidak bisa dihindari, seperti halnya debu atau lalat yang masuk tanpa disadari.

Berdasarkan keterangan diatas, maka; Jikalau ada yang memasukkan sesuatu dari lobang-lobang yang terbuka dengan sengaja dan tanpa paksaan dari orang lain, maka puasanya batal. Ia wajib mengganti (qadha`) puasa di hari lain di luar bulan Ramadhan.

  1.  Jikalau ada yang mengkonsumsi sesuatu melalui perantara lobang hidung, puasanya batal.
  2.  Jikalau ada yang meneteskan sesuatu melalui telinga atau mengorek telinga, maka puasanya batal.
  3.  Jikalau ada yang memakai obat tetes mata, puasanya tidak batal, meskipun ia merasakan adanya rasa pahit dan semisalnya di dalam rongga. Karena tempat masuknya adalah mata, bukan lobang yang terbuka.
  4.  Jikalau ada yang diinjeksi (suntik) saat berpuasa, puasanya tidak batal, karena suntik tidak dimasukkan pada lobang terbuka, tapi di tempat yang memang tidak ada lobang yang menyalurkan ke dalam rongga, yaitu kulit.

 Air ludah selama masih berada di dalam mulut meskipun tertelan kembali, tidak menyebabkan batal puasa. Karena hal tersebut sulit untuk menghindarinya bagi setiap orang yang masih hidup. Tetapi Jikalau air ludah sudah dikeluarkan dari mulut, kemudian ditelan kembali, maka puasanya batal. Begitu juga ketika air ludah yang masih ada di dalam mulut tetapi sudah bercampur dengan najis dan tertelan, seperti ada orang yang gusinya berdarah dan ia tidak mencucinya atau meludahkannya, maka puasanya batal.

 Seseorang yang berwudhu` boleh untuk berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidungnya di siang hari, akan tetapi tidak boleh sampai ke pangkal hidung, apalagi masuk ke dalam. Jikalau Ia memasukkan air sampai ke pangkal hidung dan air masuk ke dalam atau berkumur-kumur sehingga air masuk ke dalam kerongkongan, puasanya batal.

 Jikalau ada orang yang menyuntikkan sesuatu melalui dubur (anus), kadarnya sedikit atapun banyak, maka itu membatalkan puasanya. Karena ia telah memasukkan suatu benda ke dalam lobang yang terbuka dengan sengaja, meskipun zat yang dimasukkan tidak sampai ke usus dan lambung. 

 Jikalau ada perempuan yang meneteskan sesuatu ke dalam lobang air seni atau kemaluannya meskipun tidak sampai ke kantong kemih, maka puasanya batal, karena Ia telah memasukkan suatu benda ke dalam lobang yang terbuka dengan sengaja.Termasuk meskipun ia cuma memasukkan alat pemeriksa kehamilan atau jari tangan ke dalam lobang kemaluannya.

 

3. Muntah disengaja.

Jikalau seseorang memasukkan tangannya atau memasukkan sesuatu ke dalam kerongkongannya yang menyebabkan ia merasa mual dan muntah, maka puasanya batal.

Jikalau tidak disengaja, tapi ia tidak sanggup menahan muntah; karena pusing, karena kecapean, karena bau yang tidak menyenangkan, karena perjalanan, dll..maka puasanya tidak batal.

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله تعالى عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَن ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلا قَضَاءَ عَلَيْهِ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ 

“Orang-orang yang tidak sanggup menahan muntahan, maka ia tidak wajib mengqadha puasanya dan orang –orang yang sengaja menyebabkant muntah, maka ia mesti mengqadha puasanya.”

Karena muntahan kalau sudah naik dari lambung, maka ia akan turun naik di dalam rongga, atau ada bagian dari muntahan yang kembali ke dalam lambung. Itu artinya ada benda yang masuk ke dalam rongga melalui lobang yang terbuka.

Jikalaupun muntahan keluar semuanya tidak ada lagi yang masuk kembali, maka puasanya tetap batal sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits. 

 

4. Berhubungan badan suami-istri dengan sengaja.

Berhubungan badan suami istri pada siang hari membatalkan puasa, meskipun pergaulan itu tidak menyebabkan keluarnya sperma. Kepada pasangan suami-istri dibolehkan melakukannya di malam hari, tanpa berpengaruh terhadap puasa mereka selama dilakukan sampai sebelum terbit fajar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari berpuasa untuk bergaul dengan istri-istri kalian”.

Para ahli tafsir mengartikan kalimat rafats di dalam ayat dengan jima` (pergaulan suami istri)

Di dalam ayat yang sama dijelaskan:

 فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ

“Maka sekarang gaulilah mereka (istri-istri kalian)”

Di dalam ayat yang sama juga dijelaskan:

 ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Kemudian sempurnakanlah puasa kalian sampai malam dan jangan kalian gauli mereka di saat kalian sedang beri`tikaf di  masjid-masjid”

Mubasyarah bermakna: bergaul suami-istri.

 

Berdasarkan penjelasan ayat maka dipahami bahwa bergaul suami-istri secara hubungan badan (seksual) membatalkan puasa. Jikalau bermesraan dengan istri tidak pada kemaluan (hubungan seks) atau sekedar mencumbui istri tapi menyebabkan keluar sperma, maka puasanya batal. Tetapi jikalau tidak menyebabkan keluar sperma, maka puasa mereka tidak batal.

Adapun orang-orang-orang yang masih dalam keadaan junub sampai masuknya waktu fajar; karena malam hari melakukan hubungan suami-istri atau malamnya mimpi basah, maka puasa mereka tidak batal. Mereka bisa mandi junub setelah fajar terbit dan menyempurnakan shaum mereka.

 

5. Istimna (berupaya mengeluarkan mani)

Yang dimaksud dengan istimna` adalah perbuatan yang sengaja mengeluarkan sperma tanpa melakukan hubungan badan. Seperti bercumbu, onani dengan tangan sendiri atau dengan tangan istri, atau dengan sentuhan pada kemaluan. Semua perbuatan itu membatalkan, karena ada upaya mengeluarkannya dengan sengaja.

Adapun jikalau sperma keluar bukan karena keinginan, seperti karena mimpi, berfantasi sesuatu yang indah atau melihat lawan jenis yang menarik, sehingga menyebabkan keluarnya sperma tanpa menyentuh kemaluan, maka puasanya tidak batal. Karena Ia tidak berupaya mengeluarkan sperma dengan sengaja secara langsung dari kemaluannya.

Adapun jikalau sekedar berciuman suami istri di saat berpuasa, tidak menyebabkan batalnya puasa. Hanya saja makruh hukumnya berciuman jikalau berciuman itu dapat membangkitkan syahwat, karena akan dapat menyebabkan seseorang sulit mengendalikan diri dan bisa membatalkan puasanya. Sebaiknya tidak melakukannya sama sekali di saat berpuasa.

كَانَ النَّبِيُّ ‏- صلى الله عليه وسلم – ‏‏يُقَبِّلُ ‏ ‏وَيُبَاشِرُ ‏‏وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ ‏ ‏لِإِرْبِهِ “

“Nabi Saw mencium dan bermesraan (bukan pada kemaluan) dengan istri beliau di saat beliau sedang berpuasa dan beliau adalah orang yang paling kuat mengendalikan syahwat”

 

6. Haid dan nifas.

Jikalau seorang perempuan dari pagi hari dalam keadaan suci, kemudian di siang hari Ia mulai haid atau nifas, maka puasanya langsung batal. Ketika itu Ia mesti langsung membatalkan puasanya, karena Ia tidak lagi menjadi mukallaf untuk berpuasa. Dan ia justru berdosa jikalau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa jikalau berniat berpuasa. Karena diantara syarat sahnya puasa adalah bersih dari haid dan nifas. 

Puasa yang dibatalkannya tadi wajib diqadha` (diganti) di luar bulan Ramadhan, sedangkan shalatnya selama masa haid dan naifas tidak wajib di qadha`.

 

7. Hilang akal dan murtad (keluar dari agama islam).

Apabila seseorang hilang akal, karena gila, dll. atau keluar dari agama islam di siang hari, maka puasanya batal. Karena mereka ketika itu tidak lagi dihitung sebagai ahli ibadah, tidak lagi sah pelaksanaan ibadah dari mereka, termasuk puasa. Karena syarat orang-orang yang dituntut untuk berpuasa adalah berakal dan beragama islam. Sedangkan kedua syarat itu; berakal dan dalam keadaan islam tidak terpenuhi oleh seorang yang gila dan seorang yang murtad. 

Inilah hal-hal yang menyebabkan membatalkan puasa, yang mesti dihindari oleh seorang yang sedang berpuasa.

 

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Agustus 2011 in Buya Masoed Abidin, Puasa ramadhan, Surau

 

One response to “Bimbingan dan Anjuran agar dapat Menyempurnakan Puasa Ramadhan

  1. Feri

    22 Mei 2013 at 6:42 am

    Makasih banyak atas penjelasan seputar puasa ramadan ini….

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: