RSS

Urgensi Hijrah Kiat Menumbuhkan Militansi Ummat

 

Hijrah berarti pindah kenegeri lain. Dalam sejarah Islam, hijrah Rasul adalah satu peristiwa Sirah Nabawi (sejarah Rasulullah SAW) bersama-sama Mukminin pindah dari Makkah ke Madinah pada satu setengah millenium yang lalu, dan kemudian menjadi awal penghitungan tahun baru Islam di zaman Sahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA di saat menjabat Khalifah III sesudah wafatnya Rasulullah SAW.

Hijrah bukan melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. Hijrah adalah satu peristiwa penting yang menjadi titik awal — starting-point — kebangkitan Dakwah Islam, dedikasi keyakinan Tauhid — beriman kepada Allah, bukti kepatuhan, buah kesetiaan –, ketaatan kepada prinsip-prinsip ajaran tauhid.

Hijrah adalah jawaban tegas seorang mukmin atas seruan Allah, tanda kecintaan sejati – mahabbah — kepada Muhammad Rasulullah SAW. Cinta akan Allah dan Rasul SAW dibuktikan oleh kemampuan menundukkan kecintaan kepada harta benda, sanak keluarga dan kerelaan menggantinya dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam.

Hijrah adalah fenomena kekuatan umat Mukminin. Citra ajaran dan latihan dari Rasulullah SAW,– ujian menghadapi krisis — akan tersua sepanjang masa. [1]

Hijrah adalah gerakan nyata dari interpretasi Wahyu Al Quran. Hijrah adalah kebenaran perjalanan sejarah manusia pemilik keyakinan tauhid — berakidah Islam — sepanjang masa, siap sedia melaksanakan reformasi actual — menanggalkan kehidupan jahili — menumbuh biasakan karakter masyarakat Sunnah – Islami — dalam membentuk generasi Qurani.

Quba_n

Membentuk Militansi Khayra Ummah

Hijrah pada hakekatnya melahirkan militansi – bersemangat, penuh ghairah dalam melakukan sesuatu – di tengah ummat tauhid itu.

Militansi menampilkan sosok umat bermutu — khaiyr-ummah –, yakni umat yang siap memikul tanggung jawab manusiawi – menjadi khalifah Allah di muka bumi – itulah puncak kewibawaan ajaran Islam.

Setiap upaya menjadikan Islam sebagai agama yang haq (benar) dari Allah oleh ummat yang militan — secara pasti tidak bisa dirusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan musyrikin – atheism — Quraisy.

Dalam fenomena kekinian — di era global dan arus kebebasan informasi – tekanan paham-paham – atheis, sekuler, anarchism, permissivism – dalam bentuk neo-communism bergenetika tidak berakhlaq.

Militansi ummat mengamalkan ajaran Islam – di antaranya menampilkan akhlak Islami yang karimah – menjadi satu-satunya benteng terkuat melindungi harkat-martabat kemanusiaan.

Militansi Muhajirin — umat yang tidak cemas dan takut – berhadapan dengan penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi — dari pihak Jahiliyah Qureisy –, tidak takut menentang kemusyrikan maupun atheis – laa diniyah –, walau dalam masa yang panjang tidak boleh berhubungan dagang — embargo ekonomi — serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang Mukmin di masa itu. [2]

Tantangan Ummat Di Depan

Kebiasaan sikap Masyarakat Jahiliyah yang selalu menyembah berhala, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji tercela — zina, sadis, miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba, dan segala bentuk p[enyakit masyarakat –, menjadi ancaman terhadap jiran, memutus silaturrahim dengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah.[3]

Strukturisasi ruhaniyah Risalah Muhammad SAW, dikenal shiddiq (lurus, transparan), amanah (jujur), tabligh (dialogis), fathanah (ilmiah), memancangkan keyakinan bersih kepada kekuasaan Allah Yang Esa (tauhidiyah), percaya kepada hari berbangkit (akhirat), disiplin dalam beribadah (syari’at), memiliki optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki), hidup dalam kesaudaraan mendalam (mu-akhah), — sesungguhnya adalah bentuk-bentuk militansi yang dikiatkan dan di kaitkan kepada setiap pribadi mukmin –, siap sedia untuk berhijrah – tidak ada hijrah lagi sesudah futuh Makkah, dan yang sebenar hijrah itu adalah meninggalkan apa-apa yang dilarangkan oleh Allah – maka hijrah sedemikian semata-mata dikerjakan hanya mengharapkan balasan (pahala) dari Allah semata.[4]

Hijrah telah menjadi ketetapan operatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakat baru, — tegak dengan ikatan kepercayaan, dengan prinsip dasar yang lebih tinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok ‘ashabiyah, nepotisme –, dan kemudian, tumbuh-kembang menjadi masyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmuran dengan kekayaan — iman, harta dan ilmu – menjadi sumber kekuatan dalam membangun.[5] Nash (teks) Al Quran membuktikan pula bahwa masyarakat Madinah tumbuh berkeamanan yang tenteram serta dihuni tidak hanya oleh umat Mukmin — homogrenitas agama –, tapi juga oleh Yahudi-Nashara (Judeo-kristiani) dan bahkan kalangan Munafik (hipokrit).

            Hijrah telah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua, dengan kesempatan berkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya — tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untuk maju –, menjadi salah satu keutamaan yang ditampilkan Islam membangun satu masyarakat yang kuat berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun). Sebuah peradaban yang tinggi yang melahirkan suatu lingkungan yang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil, memungkinkan manusia mengarahkan dirinya untuk menyembah Allah dalam semua kegiatan (lihat QS.Tahrim,ayat 6), tanpa rintangan dari institusi-institusi yang memerintah masyarakat itu.

Khulasah

  • Masyarakat akan tetap dianggap terbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untuk menyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya. Tidak dapat disangkal bahwa Islam dan Iman mampu membangkitkan motivasi kuat dengan keyakinan diri yang unggul dengan militansi penghayatan dan pengamalan syari’at agamanya.
  • Memiliki kebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual adalah menjadi satu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan.
  • Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru dalam gelombang kesadaran Islam. Pengaruhnya akan tampak jelas dalam tatanan kehidupan duniawi.
  • Hanya kelompok Yahudi (zionis) yang tidak akan pernah diam. Mereka akan selalu berupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikut millah (konsepsi dan cara-cara) mereka.[6]

Wallahu a’lamu bis-shawaab

.

Padang,  Muharram 1436 H –  Oktober 2014 M.

 [1] Firman Allah ; Artinya, “ dan ingatlah (hai Para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, Maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS.8, al-Anfaal :26).

 [2] øFirman Allah ; artinya :Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan kamu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS.8, al Anfal :30).

 [3] Lihat “Al Islam Ruhul Madaniyah”, berisi jawaban Sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Kaisar Negus di Habsyi.

 [4] Firman Allah ; Artinya, “ Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.4, an-Nisa’:100).

 [5] Sejarah kemudian membuktikan betapa Shahabat Ali bin Abi Thalib pernah diadili atas aduan seorang Yahudi dengan dakwaan pemilikan seperangkat baju besi oleh seorang hakim Muslim dan akhirnya demi hukum dan keadilan Ali bin Abi Thalib bisa di kalahkan lantaran tidak dapat mengetangahkan bukti-bukti di pengadilan (mahkamah).

[6] Firman Allah ; Artinya ; orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS.2,Albaqarah : 120)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 November 2014 in Uncategorized

 

Kesultanan Siak, Sultan Siak Lahir di Pagaruyung, (Syafriyal -GATRA 7 Desember 2002).

Kesultanan Siak
Sultan Siak Lahir di Pagaruyung

Kesultanan Islam Siak, terpaut erat dengan Kerajaan Johor, Malaysia dan Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau. Siak, berasal dari nama tanaman obat, awalnya cuma pelabuhan sungai di bawah syahbandar kerajaan Malaka di Johor Malaysia. Sejarah berubah kala Sultan Johor, Mahmud Syah II dibunuh karabatnya, Sri Rama, tahun 1699, dan digantikan Tun Habib gelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah sampai tahun 1717.

Istri mendiang Mahmud Syah II, Cik Pung, yang sedang hamil, diselamatkan para perantau Minangkabau ke Kerajaan Pagaruyung. Tak lama kemudian Cik Pung melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi bertubuh kecil itu dipanggil Kecik dibesarkan keluarga Istana Pagaruyung di Balai Janggo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Kala berusia 18 tahun, Kecik, kemudian memakai gelar Raja Pagaruyung, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Atas dukungan pasukan bangsawan Bugis, Daeng Parani, dan pasukan Pagaruyung, Kecik kemudian merebut kembali tahta kerajaan ayahnya di Johor. Lewat sebuah pertempuran hebat, Kecik berhasil mendepak Tun Habib.

Tapi baru dua tahun di kursinya, Kecik digoyang Daeng Parani yang menuntut jabatan Raja Muda atau wakil raja. Daeng Parani bergabung dengan pendukung Tun Habib, Tengku Sulaiman. Mereka memberontak. sehingga terjadilah perang saudara di Johor. Rupanya Kecik

kalah kuat sehingga terpaksa menyeberangi Selat Malaka dan bermukim di Pulau Bintan. Pada 4 Oktober 1722 Kecik mendirikan kerajaan Malayu Riau di Pulau Bintan.

Tapi kerjaaannya tak bertahan karena Pulau Bintan pun direrbut Tengku Sulaiman. Akhirnya Kecik masuk ke perairan sungai Siak dan mendirikan Kerajaan Siak di desa Buatan, kini Kabupaten Siak, di pinggir sungai Siak.

Sebagai asuhan istana Pagaruyung, ia mengangkat empat datuk (menteri) dari empat daerah (kini kabupaten) di Minangkabau sebagai pendukung pemerintahannya. Yaitu, Datuk Sri Paduko Rajo dari Tanah Datar, Datuk Bijoangso dari Lima Puluh Kota, Datuk Sri Dewaraja dari Pesisir Selatan dan Datuk Maharajo Sri Wangso dari Kampar (kini masuk Provinsi Riau). Di kalangan sendiri, ia mengangkat Datuk Laksama sebagaimana Panglima Angkatan Laut dan Datuk Panglima sebagai panglima angkatan darat.

Raja Kecik kemudian tak lagi kecil. Ia menjalin ikatan dengan raja di daratan Riau dan Minangkabau. Ia juga membuka hubungan dagang dengan bangsa Eropa dan Cina. Karena itulah kemudian mudah bagi Kecik menangkap dan membunuh Daeng Parani, yang mengkhianatinya.

Sayang usia Kecik singkat. Pada tahun 1746 ia wafat. Penggantinya, sibungsu Sultan Abdul Jalil Muzafar Syah, setelah memindahkan pusat kerajaan ke Senapelan, menyerbu loji, tempat pemungutan pajak oleh Belanda di mulut muara Sungai Siak. Kekuasaannya pun terbentang luas sampai ke Langkat, Deli dan Serdang di Sumatera Utara.

Tapi hukum alam berlaku: kejayaan sebuah kerajaan pudar seiring melemahnya pemimpinnya. Begitulah Siak, tujuh sultannya kemudian, tak lagi mampu memeluk wilayahnya yang terus menerus direnggut penjajah Belanda. Akibatnya, 1 Februari 1858, Kesultanan Siak di bawah Sultan Ismail, (1815-1864) terpaksa meneken Tractat Siak-Belanda di Batavia.

Sejak itu Siak jadi daerah otonomi Belanda. Wilayah kerjaannya yang lain seperti Deli, Serdang, Asahan dan Langkat, dikuasai Belanda. Akhirnya, Siak di bawah Sultan Syarif Qasim, yang kemudian jadi nama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekanbaru, memilih mengangkat senjata kepada penjajahan Belanda.

Kala kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945, Syarif Qasim menyerahkan mahkota raja milik kesultanan, berupa emas 18 karat (kini di museum Jakarta), juga sebilah keris dan uang 3 juta gulden kepada Tentara Keamanan Rakyat untuk membiayai negara yang baru berdiri.

Kini bila berkunjung ke Istana Sultan Siak, masih terdengar lantunan musik klasik karya Beethoven dari pesawat Komet, gromofon raksasa, ukuran 1,5 x 2,5 meter, satu dari dua yang pernah dibuat Jerman. Itu pertanda istana yang sudah objek wiasata di Siak Sri Indrapura, 125 kilometer di timur kota Pekanbaru, Riau, itu masih dikunjungi pelancong. Istana berlantai dua merupakan perpaduan arsitektur Spanyol, Turki dan Arab, itu dibangun Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, tahun 1889 hingga 1893.

Komplek seluas 3,5 hektare itu terdiri dari Istana Utama, ukuran 50 x 20 meter, Istana Lima, Istana Pajang dan Istana Baroe serta gudang dan tangki air. Lantainya keramik putih buatan Italia. Diding keramik ukiran dari Prancis. Ruang tamunya, khusus pria berkursi kristal, dan jendela-jendela rungan khusus wanita menggunakan gorden beledru berwarna merah.

Di situ masih tersimpan sejumlah benda-benda berharga. Misalnya, kursi raja dari kuningan berukir dan bersalut emas, payung sutra kuning setinggi 170 centimeter bermahkota naga dan tulisan Allah dan Muhammad. Selain tombak dan meriam, terdapat pula cermin mustika, lampu kristal seberat satu ton dan sebuah kursi kristal buatan tahun 1896.

Di istana yang jadi panorama di depan Sungai Siak itu juga tersimpan patung perunggu Ratu Belanda, Wihelmina. Di sampingnya terdapat patung batu pualam Sultan Syarif Qasyim I bermata berlian pahatan seniman Jerman tahun 1889. Yang misteri, adalah sebuah lemari besi yang sudah beberapa kali gagal dibuka. Kini istana dan benda-benda peninggalan Kesultanan Siak dijaga siang malam 20 pegawai Dinas Pariwisata Riau. Dan, kita tinggal memetik hikmah. (Syafriyal -GATRA 7 Desember 2002).

 
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 November 2014 in Uncategorized

 

Jadilah Penuntut Ilmu Sejati Mencari Redha Allah Subhanahu wa Ta’ala

RasuLuLLah shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam bersabda, “Sesungguhnya keutaman orang yang beriLmu diatas orang yang beribadah bagaikan pancaran sinar buLan purnama di atas pancaran sinar bintang-bintang” (HR. Ahmad).

RasuLuLLah shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam memberikan kedudukan yang tinggi terhadap orang yang beriLmu (iLmu syar’i), untuk menjadi dasar bagi sempurnanya ibadah. Agama IsLam ini dibangun dengan kebenaran iLmu yang hakiki yang bersumber dari AL Qur’an dan As Sunnah. DemikianLah haLnya orang yang beriLmu, pancarannya bagaikan sinar buLan purnama penerang aLam geLap guLita.

DSC05198

ILmu Agama adaLah Warisan para nabi

RasuLuLLah shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam bersabda, “Sesungguhnya para nabi tidakLah mewariskan kepada umatnya dinar maupun dirham, akan tetapi para nabi mewariskan kepada umatnya iLmu (iLmu syar’i), barangsiapa yang mengambiL iLmu tersebut maka teLah mendapatkan bagian yang banyak“ (HR. Abu Dawud). TidakLah para nabi memberikan warisan harta kekayaan kecuaLi iLmu syar’i yang dengannya, seseorang akan mendapat pujian dari ALLah dan dengan iLmu syar’i ini ouLa orang tersebut mampu beramaL dengan benar sesuai dengan apa yang diajarkan oLeh agama IsLam yang muLia ini.

ILmu itu akan terus ada, tidak sebagaimana harta dunia yang akan binasa.

Nabi Muhammad shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam bersabda, “Jika seorang manusia meninggaL dunia, akan terputus semua amaLnya kecuaLi tiga perkara yakni shodaqoh jariyah, iLmu yang bermanfaat dan anak shoLih yang mendoakan kedua orang tuanya” (HR. MusLim). Maka RasuLuLLah shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam memboLehkan umatnya merasa iri terhadap orang yang diberikan iLmu oLeh ALLah Ta’aLa yang mana dengan iLmu tersebut ia mampu mengamaLkan dan mengajarkannya.

RasuLuLLah shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam bersabda, “Tidak ada hasad kecuaLi daLam dua haL, yaitu orang yang diberikan oLeh ALLah harta kemudian ia beLanjakan hartanya di atas jaLan kebenaran dan orang yang ALLah berikan kepadanya iLmu kemudian ia mengamaLkan dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan MusLim).

Orang yang beriLmu merupakan saLah satu dari goLongan yang ALLah perintahkan untuk taat kepadanya. ALLah Ta’aLa berfirman (yang artinya), “Wahai orang yang beriman, taatiLah ALLah dan taatiLah RasuL (Muhammad) dan uLiL amri di antara kamu” (QS. An Nisa : 59). Para uLama menafsirkan “uLiL amri”di sini mencakup uLama (orang yang beriLmu) dan penguasa.

Seorang yang beriLmu bagaikan cahaya yang mampu menerangi orang yang disekitarnya daLam masaLah dunia dan akhiratnya. ALLah akan mengangkat derajat orang yang beriLmu baik di dunia maupun di akhirat. ALLah Ta’aLa berfirman (yang artinya), “ALLah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi iLmu beberapa derajat” (QS. AL MujadaLah : 11). Maka, ILmu Agama akan dapat menghantarkan pemiLiknya untuk tetap taat terhadap ALLah, menoLong agama ALLah dan akan memberikan manfaat kepada sesama (Lihat KitabuL ‘ILmi).

Mau Surga? BeLajarLah ILmu Agama.

RasuLuLLah shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jaLan untuk menuntut iLmu syar’i, maka ALLah akan mudahkan baginya jaLan menuju surga” (HR. MusLim). Semoga ALLah Ta’aLa mudahkan kita semua untuk mengamaLkan kandungan hadits ini.

Ta'mir Ramadhan 1432 H di Masjid Al Munawwarah Siteba

JadiLah PembeLajar Sejati

RasuLuLLah shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jaLan untuk menuntut iLmu syar’i, maka ALLah akan mudahkan baginya jaLan menuju surga. Sesungguhnya para maLaikat akan meLetakkan sayap-sayapnya kepada para penuntut iLmu sebagai bentuk ridho atas yang teLah diLakukan dan seLuruh apa yang ada di Langit dan di bumi akan memintakan ampunan kepada seorang penuntut iLmu, begitu juga ikan yang ada di tengah-tengah Laut” (HR. Ahmad).

RasuLuLLah shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam juga bersabda; “TidakLah suatu kaum berkumpuL di saLah satu dari rumah-rumah ALLah untuk membaca kitab-Nya dan mempeLajari kitab-Nya, kecuaLi ALLah akan turunkan padanya ketenangan, ALLah akan meLiputinya dengan rahmat, maLaikat akan menaunginya, dan ALLah akan menyebutnya di sisi maLaikat-maLaikat-Nya” (HR. MusLim).

BegituLah baLasan-baLasan indah yang ALLah berikan kepada para seorang penuntut iLmu yang tidak terniLai harganya. Sekarang tanyakan ke diri dan jawabLah pertanyaan pertanyaan ini. “Sudahkan kita mengetahui dengan pasti bagaimana hakikat sebenarnya mengenai tauhid dan syirik? … Sudahkah kita mengetahui tata cara shaLat, wudhu, tayamum, berpuasa, zakat, haji sesuai dengan apa yang diajarkan oLeh RasuLuLLah shaLLaLLahu ‘aLaihi wa saLLam?”

Jawabannya jeLas ada daLam benak fikiran kita masing-masing.

Ta'mir Ramadhan 1432 H Masjid Al Munawwarah Padang

Jangan sampai diri kita ini LaLai untuk mempeLajari iLmu agama yang muLia ini.

Tentunya, kita senantiasa memohon kepada ALLah Ta’aLa agar memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita untuk dimudahkan mempeLajari iLmu agama yang muLia ini.

Wa shaLLaLLahu ‘aLa nabiyyina Muhammad wa ‘aLa aLihi wa shahbihi wa saLLama.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 November 2014 in Uncategorized

 

Jangan di undang Musibah datang dengan rusaknya akhlak dan moral bangsa

“Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan),

membayar zakat dianggap merugikan,

belajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata),

suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu,

menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran,

membenci ayah,

bersuara keras (menjerit jerit) di masjid,

orang fasiq menjadi pemimpin suatu bangsa,

pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya,

orang dihormati karena takut pada kejahatannya,

para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari,

minum keras/narkoba semakin meluas,

umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin

(termasuk mencela para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar).

 

Maka hendaklah mereka waspada

karena pada saat itu akan terjadi

hawa panas,

gempa,

longsor,

dan kemusnahan.

Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain

seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya

(semua tanda kiamat terjadi).”

 

(HR. Tirmidzi).

 

KETIKA terjadi bencana alam, paling tidak ada tiga analisa yang sering diajukan untuk mencari penyebab terjadinya bencana tersebut.

  1. Azab dari Allah karena banyak dosa yang dilakukan.
  2. Sebagai ujian dari Tuhan bagi yang beriman.
  3. Sunnatullah dalam arti gejala alam atau hukum alam yang biasa terjadi.

Untuk kasus Indonesia ketiga analisa tersebut semuanya mempunyai kemungkinan yang sama besarnya.

Jika bencana dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa ini bisa saja benar, sebab kemaksiatan sudah menjadi kebanggaan baik di tingkat pemimpin (struktural maupun kultural) maupun sebagian rakyatnya, perintah atau ajaran agama banyak yang tidak diindahkan, orang-orang miskin diterlantarkan. Maka ingatlah firman Allah:

“Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Al-Isra’[17]: 16).

Apabila dikaitkan dengan ujian, bisa jadi sebagai ujian kepada bangsa ini, khususnya kaum Muslimin agar semakin kuat dan teguh keimanannya dan berani untuk menampakkan identitasnya. Sebagaimana firman Allah:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”

( Al-Ankabut [29:2).

 

Akan tetapi, jika dikaitkan dengan gejala alam pun besar kemungkinannya, karena bumi Nusantara memang berada di bagian  bumi yang rawan bencana seperti gempa, tsunami dan letusan gunung. Bahkan, secara keseluruhan bumi yang ditempati manusia ini rawan akan terjadinya bencana, sebab hukum alam yang telah ditetapkan Allah SwT atas bumi ini dengan ber bagai hikmah yang terkandung di dalamnya.

 

Seperti pergerakan gunung dengan  berbagai konsekuensinya.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal gunung-gunung itu bergerak sebagaimana awan bergerak.(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.( QS. Al-Naml [27]: 88).

 

Di samping harus tetap bersikap optimis dan berupaya mengenali hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan atas alam ini, adalah bijak untuk terus melakukan introspeksi terhadap keseriusan kita dalam menaati perintah-perintah Allah SwT dan menghitung-hitung kedurhakaan kita kepada-Nya.Sabda Rasulullah saw yang diriwayat kan Imam Tirmidzi di atas patut menjadi renungan bagi bangsa ini atas berbagai bencana yang menimpa secara bertubi tubi.

 

Jika kita cermati hampir semua penyebab bencana yang disebut Rasulullah saw dalam Hadits tersebut tengah melanda bangsa ini.

 

Masalah kepemimpinan, amanah dan penguasa. Jika suatu bangsa memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat, baik (shalih), cakap/cerdas dan kompeten (gawiy) dan amanah (amin), maka kebangkrutan dan kehancuran sebuah  bangsa tinggal menunggu waktu saja. Se bab, pemimpin seperti itu menganggap kekuasaan bukan sebagai amanah untuk menciptakan kesejahteraan dan ketentraman bagirakyatnya, tetapi sebagal sarana dan kesempatan untuk memperkaya diri dan  bersenang-senang.

Akibatnya, perilaku korupsi merajalela, penindasan dan pemiskinan menjadi pemandangan yang lumrah, dan kebangkrutan moral menjadi hal yang sangat sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, memilih pemimpin atau pejabat harus hatihati dan selektif, sebab mereka akan memanggul amanah yang sangat berat.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika amanat disia-siakan, maka tunggulah saatnya (kehancuran). Abu Hurairah bertanya; “Bagaimana amanat itu disia-siakan wahai Rasulullah?, Beliau menjawab,”Jika suatu urusan diserahkan pada orang yang bukan ahlinya (tidak memenuhi syarat)”. ( H R. Bukhari).

Orang kaya tidak menunaikan kewajibannya. Zakat adalah kewajiban minimal bagi orang kaya untuk peduli kepada orang miskin. Jika kewajiban minimal ini tidak ditunaikan, maka kegoncangan social tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena tindakan orang miskin yang terampas haknya tidak bisa dipersalahkan. Sehingga azab Allah menjadi keharusan ;

dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

(Al-Isra’: 16).

 

Demikian intisari istinbath Amirul Mu’minin Umar bin Khathab ra yang didukung Ibnu Hazm rahimallahu ta’ala.

 

Hilangnya ketulusan dan kebijakan para ulama dan cendekiawan.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh penguasa dan pengusaha (orang kaya) itu akan menjadi-jadi jika ulama/cendekiawan sebagai pilar penting suatu bangsa yang bertugas untuk memberi peringatan dan beroposisi secara loyal terseret ke dalam kepentingan pragmatis para penguasa dan pengusaha tersebut.

Aktualisasinya bisa berwujud pada terbitnya fatwa-fatwa pesanan yang tidak memihak orang-orang lemah dan tertindas serta opini yang menyesatkan dan membingungkan umat sebagai akibat terialu banyak menerima pemberian yang tidak jelas dan sering mengemis pada musuh-musuh Islam dan bangsa pada umumnya. Karena ketulusan telah hilang, para ulama pun menjadi orang yang membuat gaduh di masjid dengan perdebatan dan berbantahan mengenai hal yang sudah diputuskan dengan jelas oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pada akhirnya, bukan hanya perintah Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperhatikan dan disia-siakan. Akan tetapi para sahabat Rasul dan generasi mereka sesudahnya (ulama dari kalangan tabi’in dan tabi’tabi’in) sebagai generasi terbaik umat Muhammad saw menjadi bahan olok-olok dan ejekan dalam perbincangan mereka dengan merendahkan dan mencampakkan kezuhudan dan hasil ijtihad mereka yang cemerlang.

Jika ketiga pilar bangsa penguasa, pengusaha dan ulama atau cendekiawan sudah tidak menjalankan fungsi yang semestinya, maka kebangkrutan moral yang lain seperti durhaka pada orangtua, suami yang manut pada hawa nafsu istrinya, mewabahnya khamr (narkoba) dan kesenangan pada hiburan yang memancing keliaran syahwat menjadi pemandangan yang biasa. Pada saat itu ”kemarahan” Tuhan dipastikan tidak bisa dihalang-halangi untuk menghancurkan bangsa yang durhaka.

Berbagai solusi teknologi, tidak akan dapat diterapkan bilamana terdapat pengabaian memandang kedudukan manusia dan alam dalam peradaban. Dan Islam merupakan satu-satunya ideologi alternatif yang mampu untuk menyelesaikan problema peradaban manusia. Konsep dalam Islam meliputi ;

  1. Konsep tauhid, dimana memandang bahwa manusia, alam dan kehidupan adalah ciptaan Allah SWT dan diciptakan dengan tujuan yang telah ditentukan.
  2. Konsep ibadah, dimana memandang bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
  3. Konsep Ekonomi Islam sebagai Solusi Penyelesaian Kerusakan Alamyang dikenal dengan istilah ekonomi syariah.

Segala perbuatan manusia dalam aspek ekonomi pun tanpa terkecuali, harus tunduk pada hukum syariat Islam. Secara makro maupun mikro, konsep ekonomi Islam mengarah pada empat hal yaitu ;

  1. Memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan salah satu tujuan utamanya penghematan sumber daya alam dengan mengurangi eksploitasinya.
  2. Mengutamakan produksi kebutuhan pokok manusia pada taraf yang layak untuk kehidupan normal.
  3. Menciptakan keadilan ekonomi dengan cara melakukan pemberdayaan serta penciptaan sistem distribusi ekonomi yang adil.
  4. Mendudukan ekonomi sebagai salah satu komponen peradaban.

 

Kesimpulannya, Bencana ada yang merupakan adzab dari Allah bagi para penentang Rasul-rasul terdahulu, atau sebagai cobaan bagi orang beriman yang akan menghapus dosa-dosanya jika ia bersabar dan bisa juga sebagai peringatan.

Bencana sebagai azab

telah dijelaskan dalam Al Qur’an,

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

(Q.s. Al-Ankabut:40).

 

Bencana sebagai cobaan (ibtila’) bagi mukmin,

dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang–orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : “Inna Lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

(Q.s. al-Baqarah: 155-156).

 

Ada pula musibah yang diberikan Allah sebagai peringatan agar kita kembali kepada kebenaran, dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; diantaranya ada orang-orang saleh dan diantaranya ada yang tidak demikian. dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

“ dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).”

(Q.s. al-A’raf: 168)

 

Bencana alam berupa letusan gunung api, banjir bandang, wabah penyakit, kekeringan, kelaparan, kebakaran, dan lain sebagainya, dalam pandangan alam Islam (Islamicworldview), tidaklah sekedar fenomena alam.

 

Al Qur’an menyatakan dengan lugas bahwa segala kerusakan dan musibah yang menimpa umat manusia itu disebabkan oleh “perbuatan tangan mereka sendiri”.

 

Tentu saja kata ‘tangan’ sebatas simbol perbuatan dosa/maksiat, karena suatu perbuatan maksiat melibatkan panca indra, dan juga dikendalikan dan diprogram sedemikian rupa oleh otak, kehendak dan hawa nafsu manusia. Maksiat, sebagaimana taat, ada yang bersifat tasyri’ Allah seperti melanggar perkara yang haram, dan ada yang bersifat menentang takwin Allah (sunatullah) seperti melanggar dan merusak alam lingkungan.

Dalam sudut pandang wahyu Allah terakhir, musibah dan bencana ada kaitannya dengan dosa atau maksiat yang dilakukan oleh manusia-manusia pendurhaka.

Allah ta’ala berfirman,

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

(Q.s. As-Syura: 30).

 

Ketika turun ayat itu Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada satu luka, keringat, dan terkilirnya kaki kecuali DISEBABKAN DOSA (yang diperbuat), dan apa yang Allah maafkan dari dirinya jauh lebih besar.”

(HR al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman melalui jalur Qatadah mursal kepada Rasulullah Saw, namun at-Thabrani merawikannya dalam Mu’jam al-Awsath dan dinukil oleh as-Suyuthi dalam al-Jami’ al-Shagir yang disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ al-Shagir vol.5/120-121).

Namun disisi lain musibah atau bencana juga dapat menjadi penghapus dosa (kifarat) bagi hamba Allah yang sabar dan menerima takdir Allah dengan lapang dada. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah menimpa seorang mukmin suatu kesulitan, cobaan, gelisah dan kesedihan kecuali Allah hapuskan darinya dengan aneka musibah itu semua kesalahan-kesalahannya, sampai duri yang menusuknya pun diganjar seperti itu.”(HR Bukhari kitab al-Maradl no.5641-5642 dan Muslim kitab al-Birru wa al-Shilah no.2573).

Dari ‘Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata, “Maukah aku kabarkan kalian dengan ayat paling utama di dalam Kitabullah yang disampaikan Rasulullah Saw kepada kami, yaitu dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Beliau Saw bersabda, Aku akan menafsirkannya untukmu wahai Ali, “Apapun yang menimpa kalian berupa penyakit, siksaan, atau bencana di dunia, maka itu semua akibat perbuatan kalian, dan Allah lebih bijak daripada mengulangi siksaannya atas kamu nanti di akhirat. Dan apa yang telah Allah maafkan di dunia, maka Allah lebih bijak untuk kembali (menyiksamu) setelah dimaafkannya.”(HR Ahmad dan Ibnu Hatim dengan redaksi marfu’ dari Rasulullah Saw tapi dinilai dhaif karena Azhar bin Rasyid al-Kahili, salah satu perawinya, dilemahkan oleh Ibu Ma’in, Abu Hatim dan Ibnu Hajar, yang shahih adalah redaksi mawquf dari sayidina Ali ra riwayat al-Hakim).

Kezaliman kita terhadap diri sendiri dan juga terhadap hak-hak Allah dan alam semesta sungguh terlampau banyak. Kita patut bersyukur bahwa Allah tidak membinasakan kita semua karena kemaksiatan yang kita perbuat, sebab ;

“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.”

(Q.s. An-Nahl: 61).

Di dalam ayat lain yang senada, Allah ta’ala juga menegaskan,

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, Maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”

(Q.s. Fathir:45).

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (vol.11/34) menulis, “Bencana kekurangan buah-buahan dan tanam-tanaman itu disebabkan merebaknya kemaksiatan.” Abul ‘Aliyah berkata, “siapa yang bermaksiat kepada Allah di bumi maka ia telah berbuat kerusakan di bumi, karena kebaikan dan keberkahan bumi dan langit itu terjadi karena ketaatan hamba kepada Allah.”

Rasulullah Saw menyatakan dalam sabdanya, “Suatu hudud yang ditegakkan di bumi itu lebih disenangi dan memberi keberkahan untuk penduduknya dari pada mereka diberikan hujan selama 40 hari”(HR Ahmad dalam al-Musnad vol. 2/362 dan an-Nasai vol. 8/75 dari Abu Hurairah ra). Hal itu karena, jika hudud (hukuman badan bukan kurungan badan) itu diterapkan maka kebanyakan umat manusia akan menjauhi perkara-perkara haram seperti mencuri, berzina, meminum khamar dan lainnya sehingga aman dan sejahteralah hidup manusia. Sebaliknya jika aneka maksiat dikerjakan maka itu adalah penyebab hilangnya berbagai keberkahan hidup dari langit dan bumi.

Jika seorang manusia tidak beriman dengan baik, maka ia akan terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan. Kejahatan itu tidak hanya dirasakan dampak negatif untuk dirinya sendiri, melainkan kerap kali membahayakan orang banyak, merusak fasilitas umum, mengurangi kualitas infrastruktur, tidak terpenuhinya standar pelayanan berkualitas, bahkan dapat merusak ekosistem dan membunuh binatang. Kekufuran yang berujung kepada kemaksiatan memang menyengsarakan banyak makhluk Allah. Sehingga wajar jika Rasulullah Saw bersabda, “Jika orang jahat (ahli maksiat) meninggal dunia sungguh hamba-hamba Allah, negeri-negeri, pohon dan binatang merasa senang dan beristirahat dari kejahatannya.” (HR Bukhari no. 6512).

Akhirnya, marilah kita perbaiki kualitas hubungan kita dengan Allah ta’ala agar kualitas hubungan timbal balik kita dengan masyarakat dan alam lingkungan sekitar kita juga dapat diperbaiki dan berjalan secara harmonis

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Mei 2014 in Uncategorized

 

Waktu adalah Nikmat Allah terbesar

 

Oleh H. Mas’oed Abidin

وَالْعَصْرِإِنَّ الأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلأ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-’Ashr:1-3)

  Gambar

Malik bin Nabi dalam bukunya yang berjudul Syuruth An Nahdhah (Syarat-syarat Kebangkitan) menulis ; “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintas pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau menina bobokkan manusia, ia diam seribu hahasa, sampai ada manusia tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu -selain Allah- tidak akan mampu melepaskan diri darinya”

 

Semua orang tahu, betapa berharganya waktu. Islam menjelaskan bahwa waktu paling berarti dalam kehidupan ini. Meskipun ada sebagian orang yang menilai harga waktu dengan sejumput uang seperti « Time is Money », waktu adalah uang.

Pada hakikatnya, waktu tidak dapat diukur dengan ukuran serendah itu. Waktu tidak hanya dapat dinilai dengan materi atau uang. Harga sebuah waktu jauh lebih berharga dari nilai mata uang. Waktu adalah sebuah anugerah Allah yang diberikan kepada manusia agar menggunakannya dengan tepat demi kesejahteraannya dan demi kebahagiaannya, Dalam waktu terdapat kewajiban dan tanggungjawab. Waktu sangat terbatas. Jika waktu telah berlalu, ia tak akan bisa diganti atau kembali.

Sayidina Ali bin Ahi Thalib pernah berkata: “Rezki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok. Tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok.

Waktu adalah kewajiban dan tanggung jawab. Manusia berkewajiban menggunakan kesempatan dan mengatur waktu dengan sebaik-baiknya.

Kesadaran akan tanggung jawab terhadap waktu meliputi semua sisi kehidupan manusia. Waktu adalah faktor menentukan kesejahteraan seseorang ataupun masyarakat. Sayyid Mujtaba Musawi Lari dalam bukunya Meraih Kesempurnaan Spiritual (Ethics and Spiritual Growth) mengutip ucapan Imam Al Sajjad dalam karya Al Hurrani berjudul Tuhaf al ‘Uqul, menuliskan : “Hendaklah engkau – semoga Allah merahmatimu – mengetahui bahwa Sang Pembeni Rezki segala makhluk telah menetapkan kewajiban-kewajiban dan hak-hak tertentu terhadapmu. Jumlahnya banyak dan meliputi seluruh perilakumu, setiap tindakan dan gerakanmu, setiap istirahat dan diammu. Pada akhirnya, setiap anggota badan yang mematuhi kehendakmu (akan ditanya). Hak ini begitu nyata dan jelas, meskipun sebagiannya memiliki kewajiban lebih besar dari yang lain.”

Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Tidak seorangpun yang bertanggung jawab atas kewajiban dan tanggung jawab orang lain. Al Qur’an menyatakan : « Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. »  (Q.S.17. Al-Israa’: 14-15)

Di dalam Al-Quran kita temukan kisah tentang Luqman yang menasehati anaknya tentang kewajiban-kewajiban utama manusia. Di antaranya ada tiga kewajiban manusia yang harus ia penuhi.

1. Kewajiban manusia kepada Allah .« dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. » (QS.Luqman :13)

 2.   Kewajiban anak kepada orang tua. «  dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [artinya, waktu menyapih ialah sampai anak berumur dua tahun]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. » (QS.Luqman :14)

3.   Kewajiban manusia kepada sesamanya. «  .. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan [janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. » (Q.S. Luqman:18 – 19)

Asy Syahid Hasan Al-Bana dalam kitab “Hadits Tsulatsa”, yang disusun Ahmad Isa ‘Asyur Asy-Syahid berkata, Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menggunakan waktu dalam empat hal”.

1. Dalam hal yang dapat menyelamatkan agama, berupa ketaatan kepada Allah. Ini terbagi dua:

  • Hal-hal yang difardhukan oleh Allah dan tertentu waktunya, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan seterusnya.
  • Hal-hal yang dianjurkan oleh Allah berupa amalan-amalan nafilah (sunnah), seperti tilawatil Qur’an, sedekah, zikir, dan membaca shalawat nabi.

2. Dalam hal-hal yang memberikan manfaat berupa mencari rezki yang halal untuk keperluan diri dan keluarga yang menjadi tanggungan kita, yang dilakukan dengan ikhlas, niscaya akan menjadi amal ibadah.

3. Dalam hal yang mendatangkan manfaat kepada orang lain, bagian dari bentuk pendekatan (qurbah/taqarrub) diri yang paling agung.

4. Dalam hal yang dapat memberi ganti atas sesuatu yang telah hilang, yaitu waktu istirahat. Tentukanlah waktu khusus untuk memperbaharui kegiatan dan menyegarkan kembali semangat, dengan istirahat, olah raga, tadabbur alam, dengan cara-cara yang bermanfaat positif, serta ibadah.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh lbnu Hibban bersumber dari Abu Dzar Al Ghifari, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh hawa nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya.

1. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat dengan Tuhannya.

2. Ada waktu yang digunakan untuk melakukan introspeksi (menghitung diri).

3. Ada waktu yang digunakan untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar).

4. Ada waktu yang digunakan khusus untuk diri (dan keluarga) guna memenuhi keperluan makan dan minum.”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ،

 اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا ِمنْ أَمْسِنَا، وَ اجْعَلْ غَدَنَا خَيْرًا ِمْن يَوْمِنَا، وَ احْسِنْ عَاقِبَتَنَا فيِ الأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَ أَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَ عَذَابِ الآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا،

 رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Oktober 2013 in Uncategorized

 

Bimbingan dan Anjuran agar dapat Menyempurnakan Puasa Ramadhan

Seperti sudah diketahui dari definisi puasa, bahwa puasa adalah “menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dengan berniat.” Dimulai dari semenjak  terbit fajar shadiq sebagai pertanda masuknya waktu shalat Subuh, seorang yang berpuasa sudah harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sampai matahari terbenam di penghujung siang. Jikalau tidak, berarti puasanya batal. Ini berdasarkan firman Allah Swt.:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنْ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ 

 

… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam… 

Maknanya diizinkan untuk mengkonsumsi makan dan minum sampai terbit fajar dan tidak lagi diizinkan untuk makan dan minum setelah itu sampai terbenam matahari.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar puasa kita menjadi lebih bernilai baik. Diantaranya “Menyegerakan berbuka puasa” bila waktu berbuka telah tiba.

Ketika diyakini telah terbenam matahari di ufuq barat, disunnahkan untuk menyegerakan berbuka puasa, tidak mengundur-undurkannya, berdasarkan hadits saw.:

لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ 

“Manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa (HR. bukhari dan Muslim)”

Hadist lainnya menyebutkan ;

 لا يزال الدين ظاهراً ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون 

 “Agama islam akan tetap nyata, selama manusia menyegerakan berbuka puasa, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkan berbuka puasa mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Ta'mir Ramadhan 1432 H Masjid Al Munawwarah Padang

Menyegerakan berbuka adalah satu bentuk perbuatan yang menghindari persamaan dengan Yahudi dan Nasrani.  Namun jikalau tidak bisa menyegerakan berbuka  karena ada uzur, tidak apa-apa.

Ta'mir Ramadhan 1432 H Masjid Al Munawwarah

Berbuka dengan yang manis, air putih atau kurma

Dianjurkan untuk orang yang berpuasa agar berbuka dengan mengkonsumsi ruthab (kurma basah). Jikalau tidak ada ruthab, dianjurkan mengkonsumsi tamar (kurma yang sudah dikeringkan). Jikalaupun tidak ada ruthab dan tamar, maka dianjurkan dengan air putih. Di daerah-daerah yang tidak ada kurma, bisa menggantinya dengan buah-buahan yang manis yang tidak mengganggu terhadap kesehatan jikalau dikonsumsi pertama sekali saat berbuka. Nabi Saw. bersabda:

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

 Rasul Saw. berbuka dengan beberapa biji ruthab (kurma basah) sebelum beliau menunaikan shalat (Magrib). Jikalau tidak ada ruthab, beliau berbuka dengan tamar (kurma kering). Jikalau tidak ada maka beliau berbuka dengan segelas air. (HR. Ahmad dan Turmudzi).

 Hadist lainnya menyebutkan ;

 إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر إنه بركة ، فإن لم يجد فعلى الماء فإنه طهور 

 Apabila berbuka puasa salah seorang diantara kalian, maka hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena itu adalah berkah. Jikalau tidak ada kurma, maka berbukalah dengan air, karena air tersebut adalah suci. (HR. Turmudzi).

Ta'mir Ramadhan 1432 H Masjid Al Munawwarah 

Jangan tinggalkan Berdo`a di saat berbuka

Do`a saat berbuka adalah termasuk do`a yang mustajab. Maka sebaiknya banyak-banyaklah berdo`a:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلىَ رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ   

 Do`a di atas berdasarkan riwayat dari Mu`adz, rasul Saw. berdo`a ketika berbuka puasa:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا صام ثم افطر قال اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلىَ رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ

“Rasul Saw. apabila berpuasa kemudian berbuka puasa, beliau mengucapkan: “ya Allah hanya bagiMulah aku berpuasa dan dengan segala rizkiMulah aku berbuka puasa”  (HR. Abu Daud secara mursal dari jalur Mu`adz Bin Zahrah).

 Hadits lainnya disebutkan do`a Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam ketika berbuka puasa adalah:

  كان النبى صلى الله عليه وسلم اذا افطر قال ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ

 Nabi Saw. apabila berbuka puasa, beliau mengucapkan: “telah hilang dahaga, telah kering keringat dan telah tetap pahala disisi Allah, jika Allah menghendakiNya. (HR. Abu Daud dari jalur Ibnu Umar)”

 

Anjuran Berdo’a dikala berbuka puasa perlu juga diperhatikan :

  1. Berdo`a bisa dengan redaksi yang bersumber dari Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Boleh juga dengan redaksi lainnya.
  2. Jikalau berdo`a dengan redaksi selain redaksi Nabi Saw. tidaklah menyalahi syariat dan tidak mempengaruhi shahnya puasa serta tidak pula akan melakukan suatu yang bid`ah.
  3. Lafadz do`a yang sering diucapkan oleh masyarakat dengan adanya tambahan وَبِكَ آمَنْتُ  memang tidak ditemukan di dalam redaksi hadits, akan tetapi maknanya benar dan tidak menyalahi do`a. Lafadz ini ditambahkan untuk menguatkan keyakinan orang yang berdo`a bahwa puasanya benar-benar dilandasi keimanan kepada Allah serta berharap akan selalu beriman secara permanen.
  4. Puasa itu adalah satu ibadah yang menyimpulkan ikhlas yang sesungguhnya, karena yang mengetahui nilai puasa kita sebenarnya ahanyalah Allah sahaja.
  5. Berdo`a dilakukan setelah berbuka puasa, bukan sebelum berbuka puasa (sebagaimana pendapat mayoritas ulama).
  6. Sangat dianjurkan untuk menyegerakan berbuka, maka berbukalah terlebih dahulu baru berdo`a.
  7. Membanyakkan berdo`a di kala berbuka puasa itu, karena sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam disebabkan saat berbuka dan waktu berbuka adalah salah satu waktu do`a mustajab

Rasul Saw. bersabda:

إنَّ للصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً ما تُرَدُّ

Sesungguhnya bagi orang-orang yang berpuasa ketika mereka berbuka terdapat do`a yang tidak akan ditolak (HR. Ibnu Majah dari jalur Abdullah Bin `Amru Bin Al Ash)

Hadits lainnya menjelaskan ;

ثلاثة لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل ودعوة المظلوم

Tiga kelompok manusia yang tidak ditolak do`a mereka; orang yang berpuasa sampai ia berbuka, imam yang adil dan do`a orang yang dizhalimi. (HR Tirmidzi dari jalur Abu Hurairah).

 Oleh karena itu berdo`alah kepada Allah dengan penuh kerendahan hati, khusyu`, penuh harap dan sampaikanlah segala kaduan kepada Nya.

Semoga Allah mengabulkan do`a-do`a kita. Amiin.

Selain itu, tentu perlu di jaga hal hal yang membatalkan puasa itu.

1.   Makan dan minum.

Umat islam telah bersepakat (ijma`) bahwa apabila ada orang yang makan dan minum dengan sengaja dan Ia mengetahui bahwa perbuatan itu adalah haram, maka puasanya batal, karena menahan diri dari makan dan minum adalah faktor esensi dari pelaksanaan ibadah puasa. Sedangkan perbuatannya bertentangan dengan pelaksanaan puasa tanpa ada udzur. Seperti yang dipaparkan di dalam Al Qur`an:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنْ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ 

 … dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam… 

 Jikalau seandainya ada sisa-sisa makanan di sela-sela gigi, kemudian terkena air ludah tanpa bermaksud mengkonsumsi sisa-sisa makanan yang ada, puasa tidak batal, dengan syarat apabila saat itu sulit untuk memisahkan mana air ludah dan mana sisa-sisa makanan yang terkonsumsi. Ketika itu diberikan dispensasi dan tidak dianggap menyengaja mengkonsumsinya.

 Apabila ada yang makan dan minum karena lupa (tanpa sengaja), maka puasanya tidak batal. Berdasarkan hadits dari Abi Hurairah Ra.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Dari Abu Hurairah Radliallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena hal itu berarti Allah telah memberinya makan dan minum” (HR. Bukhari).

Seolah-olah Allah telah memberinya rizki di bulan Ramadhan kepada orang yang berpuasa. Ini disebutkan secara redaksional pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

 

2. Memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga tubuh melalui lobang yang terbuka.

Benda yang dimaksud adalah setiap benda yang bisa ditangkap oleh indra manusia normal, besar ataupun kecil, meskipun sesuatu yang biasanya tidak dimakan, seperti benang dan jarum.

Rongga yang dimaksud adalah: bagian otak dan semua bagian organ tubuh yang berada setelah kerongkongan sampai kepada lambung dan usus-usus. Beda halnya dengan sesuatu yang masuk ke dalam rongga tidak melalui lobang yang terbuka, seperti melalui pori-pori, dll.

Lobang yang terbuka adalah: mulut, kedua lobang hidung, kedua lobang telinga, qubul (kemaluan), dubur (anus), dll. 

Syarat sesuatu yang dimasukkan itu dapat membatalkan puasa adalah, apabila dimasukkan dengan sengaja, bukan karena terpaksa/tidak bisa dihindari, seperti halnya debu atau lalat yang masuk tanpa disadari.

Berdasarkan keterangan diatas, maka; Jikalau ada yang memasukkan sesuatu dari lobang-lobang yang terbuka dengan sengaja dan tanpa paksaan dari orang lain, maka puasanya batal. Ia wajib mengganti (qadha`) puasa di hari lain di luar bulan Ramadhan.

  1.  Jikalau ada yang mengkonsumsi sesuatu melalui perantara lobang hidung, puasanya batal.
  2.  Jikalau ada yang meneteskan sesuatu melalui telinga atau mengorek telinga, maka puasanya batal.
  3.  Jikalau ada yang memakai obat tetes mata, puasanya tidak batal, meskipun ia merasakan adanya rasa pahit dan semisalnya di dalam rongga. Karena tempat masuknya adalah mata, bukan lobang yang terbuka.
  4.  Jikalau ada yang diinjeksi (suntik) saat berpuasa, puasanya tidak batal, karena suntik tidak dimasukkan pada lobang terbuka, tapi di tempat yang memang tidak ada lobang yang menyalurkan ke dalam rongga, yaitu kulit.

 Air ludah selama masih berada di dalam mulut meskipun tertelan kembali, tidak menyebabkan batal puasa. Karena hal tersebut sulit untuk menghindarinya bagi setiap orang yang masih hidup. Tetapi Jikalau air ludah sudah dikeluarkan dari mulut, kemudian ditelan kembali, maka puasanya batal. Begitu juga ketika air ludah yang masih ada di dalam mulut tetapi sudah bercampur dengan najis dan tertelan, seperti ada orang yang gusinya berdarah dan ia tidak mencucinya atau meludahkannya, maka puasanya batal.

 Seseorang yang berwudhu` boleh untuk berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidungnya di siang hari, akan tetapi tidak boleh sampai ke pangkal hidung, apalagi masuk ke dalam. Jikalau Ia memasukkan air sampai ke pangkal hidung dan air masuk ke dalam atau berkumur-kumur sehingga air masuk ke dalam kerongkongan, puasanya batal.

 Jikalau ada orang yang menyuntikkan sesuatu melalui dubur (anus), kadarnya sedikit atapun banyak, maka itu membatalkan puasanya. Karena ia telah memasukkan suatu benda ke dalam lobang yang terbuka dengan sengaja, meskipun zat yang dimasukkan tidak sampai ke usus dan lambung. 

 Jikalau ada perempuan yang meneteskan sesuatu ke dalam lobang air seni atau kemaluannya meskipun tidak sampai ke kantong kemih, maka puasanya batal, karena Ia telah memasukkan suatu benda ke dalam lobang yang terbuka dengan sengaja.Termasuk meskipun ia cuma memasukkan alat pemeriksa kehamilan atau jari tangan ke dalam lobang kemaluannya.

 

3. Muntah disengaja.

Jikalau seseorang memasukkan tangannya atau memasukkan sesuatu ke dalam kerongkongannya yang menyebabkan ia merasa mual dan muntah, maka puasanya batal.

Jikalau tidak disengaja, tapi ia tidak sanggup menahan muntah; karena pusing, karena kecapean, karena bau yang tidak menyenangkan, karena perjalanan, dll..maka puasanya tidak batal.

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله تعالى عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَن ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلا قَضَاءَ عَلَيْهِ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ 

“Orang-orang yang tidak sanggup menahan muntahan, maka ia tidak wajib mengqadha puasanya dan orang –orang yang sengaja menyebabkant muntah, maka ia mesti mengqadha puasanya.”

Karena muntahan kalau sudah naik dari lambung, maka ia akan turun naik di dalam rongga, atau ada bagian dari muntahan yang kembali ke dalam lambung. Itu artinya ada benda yang masuk ke dalam rongga melalui lobang yang terbuka.

Jikalaupun muntahan keluar semuanya tidak ada lagi yang masuk kembali, maka puasanya tetap batal sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits. 

 

4. Berhubungan badan suami-istri dengan sengaja.

Berhubungan badan suami istri pada siang hari membatalkan puasa, meskipun pergaulan itu tidak menyebabkan keluarnya sperma. Kepada pasangan suami-istri dibolehkan melakukannya di malam hari, tanpa berpengaruh terhadap puasa mereka selama dilakukan sampai sebelum terbit fajar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari berpuasa untuk bergaul dengan istri-istri kalian”.

Para ahli tafsir mengartikan kalimat rafats di dalam ayat dengan jima` (pergaulan suami istri)

Di dalam ayat yang sama dijelaskan:

 فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ

“Maka sekarang gaulilah mereka (istri-istri kalian)”

Di dalam ayat yang sama juga dijelaskan:

 ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Kemudian sempurnakanlah puasa kalian sampai malam dan jangan kalian gauli mereka di saat kalian sedang beri`tikaf di  masjid-masjid”

Mubasyarah bermakna: bergaul suami-istri.

 

Berdasarkan penjelasan ayat maka dipahami bahwa bergaul suami-istri secara hubungan badan (seksual) membatalkan puasa. Jikalau bermesraan dengan istri tidak pada kemaluan (hubungan seks) atau sekedar mencumbui istri tapi menyebabkan keluar sperma, maka puasanya batal. Tetapi jikalau tidak menyebabkan keluar sperma, maka puasa mereka tidak batal.

Adapun orang-orang-orang yang masih dalam keadaan junub sampai masuknya waktu fajar; karena malam hari melakukan hubungan suami-istri atau malamnya mimpi basah, maka puasa mereka tidak batal. Mereka bisa mandi junub setelah fajar terbit dan menyempurnakan shaum mereka.

 

5. Istimna (berupaya mengeluarkan mani)

Yang dimaksud dengan istimna` adalah perbuatan yang sengaja mengeluarkan sperma tanpa melakukan hubungan badan. Seperti bercumbu, onani dengan tangan sendiri atau dengan tangan istri, atau dengan sentuhan pada kemaluan. Semua perbuatan itu membatalkan, karena ada upaya mengeluarkannya dengan sengaja.

Adapun jikalau sperma keluar bukan karena keinginan, seperti karena mimpi, berfantasi sesuatu yang indah atau melihat lawan jenis yang menarik, sehingga menyebabkan keluarnya sperma tanpa menyentuh kemaluan, maka puasanya tidak batal. Karena Ia tidak berupaya mengeluarkan sperma dengan sengaja secara langsung dari kemaluannya.

Adapun jikalau sekedar berciuman suami istri di saat berpuasa, tidak menyebabkan batalnya puasa. Hanya saja makruh hukumnya berciuman jikalau berciuman itu dapat membangkitkan syahwat, karena akan dapat menyebabkan seseorang sulit mengendalikan diri dan bisa membatalkan puasanya. Sebaiknya tidak melakukannya sama sekali di saat berpuasa.

كَانَ النَّبِيُّ ‏- صلى الله عليه وسلم – ‏‏يُقَبِّلُ ‏ ‏وَيُبَاشِرُ ‏‏وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ ‏ ‏لِإِرْبِهِ “

“Nabi Saw mencium dan bermesraan (bukan pada kemaluan) dengan istri beliau di saat beliau sedang berpuasa dan beliau adalah orang yang paling kuat mengendalikan syahwat”

 

6. Haid dan nifas.

Jikalau seorang perempuan dari pagi hari dalam keadaan suci, kemudian di siang hari Ia mulai haid atau nifas, maka puasanya langsung batal. Ketika itu Ia mesti langsung membatalkan puasanya, karena Ia tidak lagi menjadi mukallaf untuk berpuasa. Dan ia justru berdosa jikalau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa jikalau berniat berpuasa. Karena diantara syarat sahnya puasa adalah bersih dari haid dan nifas. 

Puasa yang dibatalkannya tadi wajib diqadha` (diganti) di luar bulan Ramadhan, sedangkan shalatnya selama masa haid dan naifas tidak wajib di qadha`.

 

7. Hilang akal dan murtad (keluar dari agama islam).

Apabila seseorang hilang akal, karena gila, dll. atau keluar dari agama islam di siang hari, maka puasanya batal. Karena mereka ketika itu tidak lagi dihitung sebagai ahli ibadah, tidak lagi sah pelaksanaan ibadah dari mereka, termasuk puasa. Karena syarat orang-orang yang dituntut untuk berpuasa adalah berakal dan beragama islam. Sedangkan kedua syarat itu; berakal dan dalam keadaan islam tidak terpenuhi oleh seorang yang gila dan seorang yang murtad. 

Inilah hal-hal yang menyebabkan membatalkan puasa, yang mesti dihindari oleh seorang yang sedang berpuasa.

 

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Agustus 2011 in Buya Masoed Abidin, Puasa ramadhan, Surau

 

Dunia ini kehidupan pertama yang fana dan Akhirat kehidupan kedua yang baqa’ (abadi).

Dunia ini kehidupan pertama yang fana dan Akhirat kehidupan kedua yang baqa’ (abadi).

Kehidupan di dunia mesti di isi amal khairat (baik) dan shaleh.

Kehidupan akhirat hanya menerima pahala dari amal perbuatan semasa hidup di dunia.

Perilaku di dunia mesti sejalan dengan perintah Allah Azza wa Jalla yang mencipta alam manusia. Kelak akan berhadapan dengan pengadilan Allah di akhirat.

Jangan main-main dengan kehidupan di dunia jika tidak ingin menyesal nanti. Kesalahan semasa hidup harus ditebus dengan taubatan nashuha selagi di dunia. Taubat sebelum kematian datang menjelang dan pintu taubat tertutup sudah.

‘ .. Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan (kesalahan) karena kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka inilah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana ..’ (An-Nisa’ 17).

Janganlah kelak menyesal sembari  memohon untuk dikembalikan ke dunia agar bisa melakukan amal saleh, yang tentu saja tidak akan pernah dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Sebagaimana diceritakan dalam Al Quran,  ‘.. Ya Rabbku,  kembalikan aku (ke dunia), agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang  telah kutinggalkan (dahulu) .. ‘ (Al-Mukminun 99-100).

 

Allah Yang Maha Mengetahui tidak membenci manusia yang berbuat salah, akan tetapi Allah Azza wa Jalla membenci manusia sombong yang tidak mau mengakui kesalahannya sehingga tidak mau bertaubat.

 

Allah Yang maha Penyayang amat menyenangi manusia yang segera bertaubat. Allah Yang Maha Rahman membuka rahmat lebar-lebar kepada hamba-Nya yang bertaubat berapapun besar dosanya dengan taubat yang sungguh-sungguh (nasuha) dengan tidak mengulangi perbuatan dosa sesudah taubat itu.

 

Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ (Az-Zumar 53).

 

Kehati-hatian dalam menjalani kehidupan, menjadi ukuran perbuatan yang diridhai Allah Azza wa Jalla swt, ada rasa optimis yang diikuti penghargaan atas perbuatan baik, serta ada kejelasan tujuan hidup yang akan di capai yakni syurga.



Allah ‘Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi):

“Tidak semua orang yang shalat itu bershalat.  Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada keagungan-Ku, yang menahan hawa nafsunya dari perbuatan haram yang Aku larang dan tidak terus-menerus bermaksiat terhadap Ku, yang memberi makan kepada mereka yang lapar dan memberi pakaian kepada orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing (ibnu sabil). Semua itu dilakukan semata-mata karena Aku.”

“Demi keagungan dan kebesaran Ku, sesungguhnya bagi Ku cahaya wajahnya lebih bersinar dari matahari, dan Aku menjadikan kejahilan sebagai kesabaran (kebijaksanaan), dan mengubah kegelapan menjadi terang, dia berdoa kepada-Ku dan Aku mengabulkannya, dia mohon dan Aku memberikannya dan dia mengikat janji dengan-Ku dan Aku tepati (perkokoh) janjinya. Aku lindungi dia dengan pendekatan kepadanya dan Aku menyuruh para Malaikat menjaganya. Bagi Ku dia sebagai surga Firdaus yang belum tersentuh dan tidak berobah keadaannya.” (HR. Ad-Dailami)

 

Moga Allah membuka kesempatan bagi kita beramal ikhlas di dunia semasa hidup ini.

Amin.

Wassalam

Buya H.Mas’oed Abidin