RSS

Amalan Ramadhan, bekal untuk se tahun mendatang

22 Sep


Menelisik kembali amalan selama bulan Ramadhan untuk pedoman di setahun mendatang

Oleh ; Buya H. Masoed Abidin

وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ
أُجِيْبُ دَعْوََََة الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
فَلْيَسْتَجِيْبُوْالِى وَ لْيُؤْمِنُوْابِي
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat.
Aku perkenankan setiap do’a dari orang yang berdo’a,
apabila ia berdoa  (bermohon) kepada-Ku.
Karena itu hendaklah mereka itu memenuhi segala permintaanku
(hendaklah melaksanakan perintah-Ku dalam bermohon kepada-Ku),
dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku,
agar mereka selalu berada pada kebenaran.
(QS,2 – al Baqarah : 186)

Peluang sangat besar disediakan oleh Allah SWT untuk umat manusia di bulan Ramadhan ini.
Allah SWT telah membelenggu setan di bulan ini, sehingga memudahkan manusia meningkatkan amaliahnya.

(JPEG Image, 227×269 pixels) BuyaDengan berkah Allah pula, di bulan ini pintu neraka di tutup dan pintu kebaikan di buka.
Di bulan Ramadhan tersedia rahmat, ampunan dan bebas dari azab Neraka.

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فِيْهِ غَفَرَ اللهُ وَ أَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ.   (رواه ابن حزيمة)

“ Bulan Ramadhan adalah bulan yang  permulaannya adalah rahmat, pertengahannya keampunan (maghfirah) dan akhirnya adalah pemerdekaan (pembebasan) dari azab neraka. (HR. Ibn Khuzaimah).

Ramadhan bulan penuh berkah.
Apabila  manusia tahu besarnya rahmat tersimpan di bulan ini, niscaya manusia berharap kiranya Allah SWT menjadikan semua bulan sepanjang tahun bernilai sama dengan Ramadhan.

Manusia dicipta dengan lengkap.
Diberi bekal keinginan dan dorongan hawa nafsu.
Manusia di bimbing oleh akal (ratio) untuk beramal baik.
Dalam mengharungi lautan kehidupan, manusia diberi pedoman yang lurus, Kitabullah yang lengkap.

Dengan semua nikmat Allah itu, manusia diuji  bermacam godaan, di antaranya dorongan beramal baik (shaleh) atau pancingan nafsu sendiri untuk berbuat salah.

Manusia dibekali petunjuk dan hidayah Allah.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْا

Maka apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah…,” (QS.59, al-Hasyr : 8).

Manusia wajib setia mengikutinya  agar kedamaian dan ketenteraman hidup dapat diujudkan.

Memanfaatkan fasilitas Allah ini, manusia di dorong untuk memenangkan pertempuran melawan godaan syaithaniyah.

Jalan menyucikan jiwa pada dasarnya adalah menundukkan ghaflah dengan memperbanyak  zikrullah, dan melawan  maksiat dengan bertaubat.
Di antaranya niat yang ikhlas karena Allah, dan upaya konsisten (istiqamah) mencari redha Allah.
Semua itu dapat diraih dengan berbagai latihan.
Termasuk latihan Ramadhan.

Kemenangan akan diraih dengan kesungguhan diri (jihadun nafs) dan keteguhan (istiqamah)  iman yang mampu membedakan antara baik dan buruk.

Allah Maha Tahu dengan kelemahan manusia.
Rahmat Allah menghadirkan bulan mulia untuk manusia.
Agar manusia dapat kembali menyusun kekuatan dirinya.
Semestinya bulan Ramadhan di jalani sepenuh hati.
Melaksanakan ibadah dan taqarrub dengan teratur.

وَ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ أُغْلِقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَ صُفِّدَتْ الشَّيْاطِيْنُ.   (أخرجه مسلم)

“ Jika datang Ramadhan maka dibukakan pintu sorga dan di gembok pintu-pintu neraka serta dirantai syaithan-syaithan”
(HR. Muslim dari Abi Hurairah RA).

MENJAGA  PERUT

Menjadikan perut sebagai tuan, bekerja keras pagi dan petang lantaran takut perut tak berisi, atau hidup di dunia ditakar dengan perut kenyang saja, rasanya  kurang  tepat dijadikan tujuan utama hidup ini.

مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِ عَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أَكَلاَتٌ  يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإ ِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَ ثُلُثٌ لِشِرَابِهِ، وَ ثُلُثٌ لِنَفْسِهِ.   (رواه أحمد و الترمذي و ابن ماجة و النسائي و ابن حبان)

“Tidak ada tempat yang paling buruk dari perut seorang yang dipenuhi oleh makanan. Cukuplah bagi anak Adam (manusia) beberapa makanan –(dan dalam satu riwayat beberapa suap)—untuk menegakkan tulang punggungnya. Dan sekiranya harus demikian, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk menumannya, dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR.Ahmad, Tirmidzi).

Dalam kekenyangan sangat mudah digoda  malas.
Susah mengendali syahwat.
Sulit  merasakan nikmatnya ibadah.
Di akhirat nanti, pasti akan sangat banyak pertanggungan jawab di hadapan Rabbun Jalil.

Pada hari kiamat seorang hamba (manusia) akan ditanya tentang empat perkara; tentang usianya, di pergunakan untuk apa; tentang masa mudanya, dengan apa di isi; tentang hartanya, dari mana di dapatkan dan kemana di belanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya. (HR.Thabrani)

JIHAD AKBAR

Baginda Rasulullah SAW berkata,
“Seseorang tidak dikata mujahid karena melompati musuh di medan laga. Tetapi yang mujahid itu, adalah menahan diri (memiliki ke sabaran)”.
Berani tanpa perhitungan, bukanlah kesabaran. Kesabaran  mendorong seseorang bertindak benar dan   menjadikan seseorang berani berjuang mempertahankan keyakinannya.. Kesabaran adalah mampu mengendalikan diri.

SABAR adalah khazanah kekayaan jiwa yang tidak dapat di ukur dengan harta benda belaka.
Pengendalian diri, memiliki kesabaran sebelum bertindak adalah satu urusan besar dan berat.
Baginda Rasulullah SAW menyebutnya “jihad akbar”,
atau “perjuangan yang berat”.

Dengan modal jihad itu, Islam menembus seluruh permukaan bumi dengan kekuatan kesabaran dan jiwa yang terkendali.

Tidak ada rumah yang mewah maupun yang sederhana di muka bumi ini yang tidak akan dimasuki Islam. Dengan memuliakan orang yang mulia, atau dengan nebnghinakan orang yang hina. (HR.Ahmad dll).

Sepulang dari Perang Uhud yang terkenal dengan banyaknya syuhada berguguran, Baginda Rasulullah bekata, “Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil saja. Kita akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi”. Pernyataan ini mengundang tanya sahabat setia “mana lagi perang (jihad) yang besar itu, wahai baginda Rasul?”. Sahabat merasa perang yang  baru lalu adalah paling besar yang mereka pernah alami. Rasulullah SAW menjawab, “jihadul akbar, jihadun nafsi”. (Al Hadist).

Memang mengalahkan nafsu adalah perang berat.
Perang besar yang hanya dapat dimenangkan dengan perjalanan menuju Allah.
Dan mempertahankan kebaikan tersebut terus menerus atau istiqamah di dalam melaksanakan  kewajiban ibadat yang ikhlas kepada Allah.

Hati yang bersih mampu menanggung beratnya jihad sepanjang masa.
Jihadun nafs, latihannya adalah shaum atau ibadah puasa yang di awali dan di akhiri pengendalian diri sejak mulai menahan, sesudah sahur tatkala fajar datang menjelang.

وَ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطَ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ اَتِمُّوْا الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ.

“…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam (maghrib datang)…” (QS.2, al-Baqarah  ayat 187).

Tidak ada toleransi dalam ta’abudi kepada Allah SWT.
Ibadah adalah disiplin tinggi.
Makin tinggi nilai latihan, makin lama berbekas dalam diri.
Manusia berkualitas memiliki disiplin tinggi dalam setiap kondisi.

Bangsa yang tangguh menghajatkan manusia yang rela menahan diri, berhemat.
Memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang mendalam.
Semua tercipta dengan latihan terus menerus.

Ibadah Ramadhan tujuan utamanya  La’allakum Tattaquuna menjadi orang terlindungi.

Bangsa bertakwa, adalah bangsa yang mawas diri.

Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.

Sejak awal manusia di anugerahi “fithrah” yang bersih.
Martabatnya dibina dengan ibadah jasmaniah  dan rohaniyah.
Martabat pada kemampuan menahan amarah, memupuk kesabaran dan niat yang ikhlas merebut redha Allah.

Sesungguhnya setiap amal itu karena niatnya. Dan bagi setiap orang itu apa yang diniatkan. Maka barangsiapa  yang (niat) hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, berarti hijrahnya itu untuk (mendapatkan redha dan karena taat kepada) Allah dan Rasul-Nya. Dam barangsiapa yang hijrahnya karena kepentingan dunia yang dia kejar, atau karena seorang perempuan yang akan dia kawini. Maka jirahnya itu untuk apa yang dia niatkan itu.”
(HR.Imam Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab RA)

Setiap insan yang memelihara fithrah kesucian jiwanya adalah pribadi kuat. Dijuluki “peribadi muttaqien”, jujur, tabah berdisiplin, mempunyai “harga diri”, pandai “berterima kasih”.
Itulah “peribadi berwatak”.

Manusia yang menjaga fithrah memiliki hati nurani yang hidup,  peduli dengan “kaum dhu’afa” (kaum lemah).

Memiliki fithrah berarti punya rasa bahagia dalam kalbu.
“Kebahagiaan dalam memberi”,
menyiratkan rasa bahagia pada pemberi dan penerima.

Memberi dan menerima,
sesuai martabat dihormati keberadaannya di tiap anggota masyarakat.
“Memberi” bukan monopoli kalangan kaya saja.
“Menerima” tidak pula milik kalangan “bernasib malang”.
Si-pemberi  memikul kewajiban karena ditangannya ada yang wajib dia keluarkan.
Si-penerima memiliki pula kewajiban untuk menerima haknya dari sipemberi.

Hakikatnya, si penerima yang dhu’afak telah menyelamatkan si pemberi yang kaya dari hukuman.
Memberi kepada dhu’afak miskin,
berarti menyelamatkan orang kaya dari menahan hak orang lain.

Maka, orang kaya seharusnya berterima kasih kepada masakin di sekitarnya, karena dhuafak miskin itu yang menyelamatkan orang kaya  tersebut.

Satu ketika kelak, akan datang masanya semua orang kaya ingin memberikan hartanya.
Namun, tidak seorangpun yang mau menerima.
Keadaan ini disebutkan Rasulullah SAW sebagai pertanda kiamat.

Hari kiamat tidak akan terjadi hingga harta umat Islam demikian melimpah dan berlebihan, hingga orang yang mempunyai harta kesulitan mencari orang yang mau menerima sedekahnya, dan jika ia ingin memberikan hartanya kepada seseorang, orang yang akan di berikan harta tersebut berkata, ‘Aku tidak ingin’.
(HR. Muttafaq ‘Alaih, al Lu’ Lu’ wal Marjan : 594.

Bila disimak hadist ini, pemberi dan penerima, sesungguhnya sama sama memiliki  “martabat” di sisi Allah.

Kedua kelompok, atas-bawah dan kaya-miskin,
dapat  berperan mengisi kehidupan duniawi yang indah dan serasi.
Mempertinggi makna kehidupan duniawi dengan harga  menghargai
menurut kemampuan masing-masing pula.

Akan datang masanya,
manusia tidak mau menerima pemberian manusia lain,
karena merasa di balik pemberian tersimpan keinginan
ingin membeli penerima.

Kesadaran memanfaatkan sesuatu
yang berasal dari hasil karya dan keringat sendiri,
self-help dengan mandiri,
lebih utama dari menjadi beban orang lain.

Tatkala manusia sadar asas hidup duniawi,
ketelatenan  menjadi peraih kebahagiaan.
Dan kebahagiaan adalah milik bersama.

Tidak ada kebahagiaan kalau hidup sendiri.
Maka tentulah semua orang ingin membantu.
Tanpa harus lebih dahulu menunggu
tangisan orang miskin minta dibantu.

Renungan hadist Rasulullah SAW menyatakan ;

Akan datang masa dimana seseorang akan berkeliling dengan membawa sedekah dari emas, namun ia tidak menemukan seorangpun yang mau menerimanya. (HR.Muttafaq ‘Alaih, Lu’ Lu’ wal Marjan : 593)

Mengatasi kesenjangan sosial,
seorang Muslim yang berharta wajib “membayarkan zakat,
mengeluarkan infaq, shadaqah” dalam rangka ibadah.

Sembahlah Yang Maha Pengasih (Allah ‘Azza Wa Jalla), dan berilah makanan (kepada orang yang perlu diberi makan, yakni fuqarak wal masakin atau dhu’afak), dan sebarkanlah salam (kepada semua orang di dalam pergaulan kehidupan), niscaya kamu akan masuk sorga dengan salam (penuh keselamatan). (HR.Tirmidzi)

Jangan hendaknya para dhu’afak yang telah lemah
menjadi lebih tak berdaya.
Hanya menampung belas kasihan semata.
Orang kaya harus tahu beban derita orang melarat di kelilingnya.
Jangan dinanti mereka meminta.
Ulurkan tangan di saat ada kemampuan.
Inilah kepedulian menurut ajaran Agama Islam.

Fungsikan lembaga sosial yang ada.
Giatkan pendistribusian kekayaan dengan teratur.
Utamakan nilai manfaat.
Iringkan dengan pendayagunaan Lembaga-lembaga Baitul Maal,
atau Badan Amil Zakat.
Perankan Masjid Masjid dengan sempurna.
Buatkan segera data lengkap “kaum dhu’afa” (kalangan lemah)
di lingkungan sendiri.
Termasuk juga Anak Yatim.

مَنْ ضَمَّ يَتِيْمًا بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ فِى طَعَامِهِ و شَرَابِهِ، حَتَّى يَسْتَغْنَي عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةُ. (رواه أبو يعلى و أحمد)

“Barang siapa yang menggabungkan (menanggung) anak yatim diantara kaum Muslimin, dalam makan dan minumnya, sampai mereka merasa cukup (kenyang) dari makan dan minum itu, maka ia (yang menanggung anak-anak yatim dan dhu’afak) itu pasti memperoleh sorga”
(HR.Abu Ya’la dan Ahmad, dalam Al Munthaqa min At Targhib (1517) dan Majma’ Az Zawa-id (8/16).

Bagikan kepada yang “berhak”
dengan amanah  jujur dan benar.
Bila perlu, ketok pintu “kalangan tak berpunya”
atau dhu’afak itu.
Antarkan langsung ke rumah mereka,
seperti dilakukan Khalifah Umar bin Khattab
dalam upaya menyejahterakan kaum dhu’afak.

Sembahlah Allah SWT dan jangan sekutukan Dia dengan apapun. Dirikanlah Shalat, keluarkan zakat, dan sambunglah tali silaturrahim.

Sediakan diri  “mengetok hati” kalangan berpunya.
Ingatkan bahwa di tangan mereka ada hak orang lain,
yang wajib di keluarkan.
Sehingga kesenjangan sosial teratasi.
Wa ila’ilahi turja’ul umuur.

TAHAN RASA DAN KATA

Sahabat Umar ibn Khattab berkata,
“Tidaklah seseorang itu banyak berbicara
melainkan banyak salahnya.
Dan tidaklah banyak salahnya
melainkan banyak dosanya.
Dan tidaklah banyak dosanya
melainkan masuk neraka”.

Banyak dosa ditimbulkan oleh lidah.
Memfitnah, menggunjing,
berdusta, memaki dan lain-lain.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ، وَ الْعَمَلَ بِهِ: فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فيِ أَنْ يَدَعْ طَعَامَهُ وَ شَرَابَهُ.   (رواه البخاري)

“ Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tidak meninggalkan) perbuatan itu, maka sekiranya dia (dengan berpuasa)  meninggalkan makan dan minumnya, Allah tidak memperlukan itu”.
(HR. Bukhari, dalam kitab as-Shaum dari Abu Hirairah).

Perintah Allah kepada umat untuk beribadah
di bulan puasa dimaksudkan mencipta kemuliaan hidup.

Memelihara hubungan vertikal dengan Allah Yang Maha Esa
atau hablum min Allah.

Membina hubungan serasi bermasyarakat
atau hablum min an naasi secara horisontal.

Ibadah Ramadhan mengokohkan kedua hubungan  di maksud.

Shaum tidak  semata menahan rasa haus dan lapar.
Shaum adalah pula menahan diri dari berkata yang tidak senonoh. Menghindar dari berkata cabul.

وَ الصِّيَامُ جَنَّةٌ وَ إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفَثْ، وَلاَ يَسْخَبْ.                    (متفق عليه اللفظ للبخاري)

Shiyam itu adalah junnatun, yakni perisai.
Apabila satu ketika seorang dari kamu sedang berpuasa,
hendaklah dia tidak berbuat cabul
dan tidak pula berbantahan.
(HR. Muttafaq ‘alaihi, menurut lafazd Imam Bukhari)

REBUT  YANG PASTI

Bila di simak hakikat ibadah dalam Islam
tidak mengabaikan kegiatan rutin.
Tidak pula penyendirian dalam ibadah.
Hidup jamaah memiliki nilai lebih dibanding sendiri.
Mengasingkan diri dan memisah dari lingkungan
bukan ajaran Islam.

Aku ini adalah orang yang paling tahu tentang siapa Allah
dan paling takut kepada Nya,
tapi aku ini bangun malam dan tidur.
Aku juga berpuasa dan berbuka.
Dan aku kawin dengan sejumlah perempuan.
Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku,
berarti dia bukan dari golonganku.
(HR. Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah SAW mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan,
seiring taqarrub kepada Allah.
Tujuan akhir adalah bahagia dunia dan di akhirat yang sama.

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، و إنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، و اتَّقُوا النِّسَاءَ!

Sesungguhnya dunia itu lezat dan menggiurkan.
Dan sesungguhnya Allah SWT menjadikan kalian
sebagai khalifah di atas bumi.
Kemudian DIA melihat bagaimana kalian bekerja.
Takutilah  dunia, dan berhati-hatilah
dalam menjaga hak-hak kaum perempuan.

Dalam seruan shalat Jum’at,
terlihat pula betapa ibadah berjamaah
menjadi kewajiban masyarakat muslim.

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلَوَات مِنْ يَوْمِ الْجُمْعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَ ذَرُوْا اْلبَيْعَ ذَالِكُمْ خَيْرَ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang yang beriman,
apabila diseru untuk menunaikan shalat
pada hari Jum’at,
maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah
dan tinggalkan jual beli.
Yang demikian itu lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui.”

Perintah Allah ini mempunyai makna besar.

Pertama,
shalat Jum’at lebih baik
dari pekerjaan menghasilkan keuntungan (laba) materi.
Melaksanakan shalat Jum’at
untungnya lebih besar dari perdagangan (jual beli).

Kedua,
kehidupan umat muslimin
bergerak antara masjid (ibadah shalat)
dan pasar (ibadah muamalah di tampat usaha).

Ayat ini menggambarkan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi.

Ketiga,
selesai beribadah laksanakan tugas tugas rutin,
mencari redha Allah.

Keempat,
orang mukmin mesti berhitung  matematis.
Ibadah shalat Jum’at
waktu pelaksanaannya hanya beberapa puluh menit
memberi  keuntungan ukhrawi berlipat kali.
Perdagangan keuntungannya spekulatif.

Mukmin berilmu memilih hal yang pasti
dan tidak mau spekulasi.

Keyakinan tauhidullah mendorong inovatif
dengan pemahaman positif (positif thinking)
bahwa tidak ada yang terbuang percuma di sisi Allah.

Seorang Muslim yang menanam suatu tanamaan,
maka jika hasil dari tanamannya itu
dimakan oleh manusia,
maka akan menjadi sedekah baginya;
jika hasilnya dicuri orang,
juga akan menjadi sedekah baginya,
dan jika dicabut oleh orang lain,
maka itu juga akan menjadi sedekah baginya
hingga hari kiamat.
(HR.Muslim).

Beribadah, motivasinya adalah mencari redha Allah.
Redha Allah ini mutlak.
Allah telah menyediakan segalanya untuk hidup
dengan nilai nilai kemanusiaan.

Perlu diikat dengan ibadah kepada Khalik.
Ibadah adalah perjalanan kepada Allah
(rihlah ilaa Allah).

Kita perlu memahami pengertian berjalan menuju Allah,
rukun dan titik tolaknya.
Berjalan menuju Allah artinya
berpindah dari jiwa yang tidak bersih (kotor)
kepada jiwa yang bersih.

Berjalan menuju Allah adalah
berpindah dari akal
yang tidak mengikut syarak (tidak syar’i)
kepada akal yang tunduk kepada syarak.

Berpindah dari hati yang kafir, munafiq, fasiq,
sakit atau keras kepada hati yang tenang lagi selamat.

Berjalan  dari roh yang menyimpang dari pintu Allah,
kepada roh yang mengenal Allah.

Perjalanan kepada Allah adalah
dengan melaksanakan segala kewajiban peribadatan kepadaNya.
Berjalan dari jasad yang tidak terkendali dengan  syarak
kepada jasad yang terkendali secara sempurna
oleh syariat Allah ‘Azza Wa Jalla.

Kesimpulannya:
berjalan menuju Allah adalah berpindah
dari zat yang kurang sempurna
kepada zat yang lebih sempurna
dalam kesalehan dan dalam mengikut Rasulullah SAW,
baik dalam ucapan, perbuatan atau keadaan amalannya.”

Syarat-syarat perjalanan menuju Allah
disebutkan  antara lain,
ilmu dan zikir.

Tidak ada perjalanan  menuju Allah tanpa ilmu.
Tidak ada perjalanan menuju Allah tanpa zikir.
Ilmu adalah yang menerangi jalan.
Zikir adalah bekal perjalanan dan sarana pendakian.

Rasulullah SAW bersabda:

(رواه ابن ماجه وهو صحيح)

Dunia dilaknat,
dilaknat apa yang ada di dalamnya,
kecuali zikir kepada Allah dan apa yang menyertainya,
– artinya orang yang senantiasa ingat
dan mengerti bahwa semua yang ada ini
adalah ciptaan Allah SWT
yang mesti tunduk dan patuh kepada kehendak Allah itu saja,
dengan satu gerakan ubudiyah pengabdian –,
atau orang yang berilmu
dan yang menpelajari ilmu”
(Hadith sahih, diriwayat oleh Ibnu Majah).

Kita amat memerlukan ilmu
yang membawa kita kepada mengenali
segala perintah Allah.

Kita memerlukan ilmu
untuk mengenali hikmatnya,
agar dapat melaksanakan
segala perintah Allah
dan merealisasikan hikmatNya.

Kita berhajat kepada zikir.
Agar supaya Allah selalu bersama kita
dalam perjalanan menuju redhaNya.

Maka rukun berjalan menuju Allah
adalah ilmu dan zikir.
Tidak akan ada perjalanan
melainkan dengan keduanya.

Menempuh jalan menuju Allah itu terbagi dua golongan.
Satu di antaranya lebih banyak memperhatikan zikir.

Meskipun,
mereka ambil zikir itu bersumber dari ilmu.
Kelompok ini  kemampuannya untuk mencapai ilmu memang terbatas. Tetapi, kesanggupan beribadat, beramal dan berzikir adalah besar.

Jalan yang ditempuh tentulah memperbanyak zikir,
dengan kemestian yang tidak boleh dilalaikan
adalah menyertainya dengan ilmu.

Zikir ialah yang diwarisi
atau yang dianjurkan
dan yang termasuk ke dalam
perintah Allah dan RasulNya SAW semata-mata jua adanya.

Golongan lain lebih banyak merperhatikan ilmu.
Meskipun mereka mengambil ilmu
dikembangkan kepada zikir.
Pembahagian ini semata
karena kecenderungan minat manusia.
Ada yang condong minatnya kepada ilmu lebih besar
dengan kemampuan mencapai ilmu  tersedia.

Maka jalan yang sesuai bagi kelompok ini
adalah menuntut ilmu dibarengi zikir.
Pada akhirnya,
Insya Allah keduanya akan sampai
pada tujuan mereka (wusul).

Tidak diragukan
bahwa ilmu ialah ilmu tentang Alquran dan As-Sunnah
serta yang diperlukan oleh salik dalam perjalanan zikirnya.
Maka nilai ibadah lebih mahal
dibandingkan dengan segala yang melekat
pada peribadi seorang manusia.

Ibadah akan mengisi bilai kemanusian
terutama faktor mental.

Karena itu,
pengalaman yang diperdapat pada bulan Ramadhan
seharusnya dijadikan pelajaran
untuk mempersiapkan ibadah yang lebih baik.

Sehingga Ramadhan mampu memberi makna
untuk diri masing-masing
dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan
kepada Allah SWT,

“Dan masing masing orang memperoleh derajat derajat
yang seimbang dengan apa yang dikerjakannya.
Dan, Tuhanmu Allah
tidak pernah lengah
dari apa apa yang mereka telah kerjakan “
(QS. Al An’aam, 6 : 132).

Di dunia ini ibarat menanam.
Di akhirat nanti menuai buahnya.
“Ad dunya daar al-‘amal,
wal akhirah daar ul-jazaa”.
“Dunia ini tempatnya berbuat ‘amal (karya),
akhirat tempat mendapatkan balasan
(dari amalan semasa di dunia ini)”
(Hadist).

Maka di bulan Ramadhan kita tanam amal ibadah.
Keutamaan bulan Ramadhan adalah sarana
bagi pertambahan nilai ibadah kita yang kurang selama ini.

Penekanannya terletak kepada “aktifitas”.
Gerak untuk melaksanakan ‘amalan.

Nilai sebuah ‘amal (karya)
tidak berarti jika tidak ada usaha merealisir amal (karya) itu.

شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهِرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَ قِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا. مِنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ وَ هُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ

“Di bulan Ramadhan,
terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan”.
Seterusnya Rasulullah SAW. bersabda,
“Mengerjakan puasa di siang harinya diwajibkan.
Dan mendirikan malam harinya
(dengan ibadah sunnah seperti tarawih, tadarus Alquran)
menjadi penambah pahala dari amal puasa Ramadhan itu.”

Selanjutnya,
“Amalan amalan yang wajib,
seperti tujuh puluh kali
lebih baik dari pada amalan serupa
di luar bulan Ramadhan.
Dan bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran”.
(HR. Ibn Khuzaimah dari Salman al-Farisi).

Keutamaan Ramadhan  di dapat
dengan dorongan yang tinggi dalam beribadah.
Supaya manusia memiliki ethos kerja yang tinggi.

Ibadah sanggup membentuk watak pekerja yang tangguh
berfikir realistis dalam mengkaji
dan mensyukuri nikmat Allah.

Dari beberapa hadits di simpulkan
ada amalan tertentu untuk lebih di perbanyak.

Khususnya di bulan Ramadhan,
karena keutamaan sorga yang terbuka
dan Pintu Neraka di tutup
serta di rantai iblis dan Syaithan.

وَ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ أُغْلِقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَ صُفِّدَتْ الشَّيْاطِيْنُ.    (أخرجه مسلم)

Hadist dari Abi Hurairah RA,
bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“ Apabila telah datang Ramadhan,
maka dibukakan pintu-pintu sorga,
dan dikunci pintu-pintu neraka,
serta dibelenggu syaithan-syaithan.”
(HR.Muslim).

Menghindar dari syaithan hanya dengan takwa
dan menukar amalan buruk dengan yang baik
di sepanjang waktu dan di masa datang.

Takutlah kepada Allah dimanapun engkau berada.
Ikutilah kesalahan oleh kebaikan,
niscaya ia akan mengapus kesalahan itu,
dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.
(al Hadist).

Baginda Rasulullah menyebut Ramadhan Syahr al muwasah.
Berlapang lapang adalah adat manusia yang beradat.
Sifat terpuji ini hanya ada
pada orang yang mau memperhatikan nasib
dan keadaan orang lain.

Memberi makan kepada orang berbuka sangat di anjurkan.

Dari Zaid bin Khalid RA, dari Nabi SAW,
bahwa telah bersabda Rasulullah,
“Barangsiapa memberi makanan  buka puasa
(ifthar shaim) untuk orang yang berpuasa,
maka dia akan mendapatkan pahala
seperti pahala orang yang berpuasa itu,
tanpa dikurangi sedikitpun
dari pahala puasa orang yang berpuasa
(yang diberi perbukaan itu).”
(HR.Tirmidzi, Nasa’I dan Ibn Majah).

Lapang melapangi adalah sifat yang memiliki
kepedulian sosial yang tinggi.
Memiliki kepekaan sosial yang mendalam.

Kepedulian sosial tidak dimiliki
oleh orang yang egoistis.
Perangai yang hanya mau mementingkan diri sendiri
akan menjadi  benalu dalam bermasyarakat.

Kepekaan sosial melahirkan hidup bertenggang rasa.
Dan tercipta kehidupan masyarakat tolong menolong.

وَ تَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّ و التَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِسْمِ و الْعُدْوَانِ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ.

Ta’aawanuu ‘Alal birri wat takwa.
Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.
Dan jangan bertolongan dalam
berbuat ma’shiyat dan permusuhan.
Sesungguhnya Allah itu keras iqab-Nya.

Sikap gotong royong
adalah  modal utama
penggerak pembangunan.
Tumbuh dari kepedulian sosial yang tinggi.
Rasa peduli,
adalah hikmah lain dari shaum (puasa).

Baginda Rasulullah SAW
menyebutkan dalam hadist
dialog dengan sahabat-sahabat beliau,

قَالُوْا: يَارَسُوْلُ اللهِ لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يَفْطُرُ الصَّائِمُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِى اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ أَوْ عَلَى شُرْبَةِ مَاء أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ.

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW,
‘Ya Rasulullah!
Bukankah tidak semua dari kita berkemampuan
memberikan berbuka  (ifthar shaim)
makan puasa  ini kepada orang yang berpuasa?’.

Rasulullah SAW menjawab,
“Allah memberikan pahala  yang sama besarnya
kepada orang yang memberikan perbukaan makan
kepada orang yang berpuasa,
walaupun pemberian itu
karena ketidak mampuannya
hanya sanggup memberikan sebutir korma,
seteguk air atau hanya seteguk susu”.
(HR.Ibn Khuzaimah)

Di bulan Ramadhan diperbanyak pahala puasa
dengan “pemurah”,
dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ أَجْوَدَ بِا لْخَيْرِ مِنَ الرَّيْحِ الْمُرْسَلَةِ

Adalah Nabi SAW di bulan Ramadhan
berada dalam penuh kebaikan (pemurah)
melebihi angin sepoi-sepoi basah.
(HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibn. Majah).

Agama Islam,
memulai pendekatan
dari menumbuhkan rasa ni’mat dalam memberi.
Menambah  rasa syukur dalam menerima.
Al Yaadul ‘ulya. Khairun Minal Yadis Sufla…”,
kata Baginda Rasulullah SAW.

Maknanya tiada lain adalah,
“Tangan di atas (yang memberi),
lebih baik dari tangan yang dibawah
(yang hanya menerima)”.
(Al Hadist).

Hikmahnya tegas sekali.
Muslim harus menjadi umat terbaik
Berkualitas mulia (khairin),
menjadi umat bertangan di atas.
Umat yang mampu memberi
dengan kasih sayang sesama,
sebagaimana kasih
terhadap diri sendiri.

Belum beriman seorang dari kalian
sehingga mereka mencintai
terhadap saudaranya (sesama beriman)
layaknya mereka mencintai
terhadap dirinya sendiri
(HR.Muttafaq ‘Alaih).

Membentuk umat yang mampu memberi
tidaklah mudah.
Kemampuan memberi itu
harus ditopang oleh adanya syarat dan rukun.
Satu rukunnya adalah harus berpunya.
Punya meteri untuk diberikan.
Punya sikap suka memberi.
Punya kualitas tidak senang menerima.
Punya izzatun nafs
atau harga diri yang tinggi.

Suka memberi didorong oleh sikap jiwa dari dalam.
Memberi dengan ikhlas.
Memberi yang berkualitas
melahirkan rasa solidaritas (ukhuwah).

Menerima, mesti pula dijadikan
“menerima” yang berkualitas.
Pihak yang “memberi”
dan yang “menerima”,
memiliki derajat kemuliaan.

Ibadah shaum
melahirkan keikhlasan yang tinggi.
Yang memberi telah memberi dengan ikhlas.
Yang menerima, juga menerima dengan ikhlas.
La’allakum Tasykuruuma
(supaya kamu bersyukur).

Bersyukur adalah pandai berterima kasih.
Bersyukur tidak semata sebatas mengucapkan Alhamdulillah.

Bersyukur, bermakna memelihara apa yang ada.

“Sesungguhnya Allah SWT  ‘Azza  wa  Jalla,
berfirman pada hari kiamat.
‘ Hai anak cucu Adam!
Aku minta makan kepadamu,
tapi kamu tidak memberi-Ku makan.’
Dia (anak Adam) berkata,
‘Ya Rabb!
Bagaimana aku mau memberi-Mu makan,
sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!’
Allah berfirman,
‘ Apa kau tidak tahu,
bahwa si Fulan hamba-Ku itulah
yang meminta kepadamu makan.
Mengapa tidak kamu beri makan?
Apa kau tidak tahu,
kalau kau memberinya makan,
maka kau akan mendapatkan (ganjaran)
hal itu dari sisi-Ku?’

‘Hai anak Adam!
Aku meminta kepadamu minum,
tapi kau tidak memeberi-Ku minum!’
Dia (hamba) berkata,
‘Ya Rabb!
Bagaimana aku mau memberi-Mu minum,
sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!’
Allah SWT  berfirman,
‘ Hamba-Ku si Fulan meminta padamu minum,
tapi tidak kau beri dia minum.
Apa kau tidak tahu
bahwa kalau kau memberinya minum,
kau akan mendapatkan (pahala)
hal itu dari sisi-Ku?’.”
( HR.Muslim).

Menggunakan ni’mat
menurut ketentuan pemberi ni’mat.

Bersedia memberikan hak Allah
melalui makhluk-Nya.

Setiap ni’mat yang telah diterima manusia
dalam hidup di dunia
akan ditanya kemana dipergunakan.

Manfaatkanlah sebaik-baiknya lima macam kesempatan
sebelum datang lima yang lainnya;
masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu,
saat kayamu sebelum tiba saat miskinmu,
waktu senggang – lapangmu – sebelum datang waktu sibukmu
dan hidupmu sebelum matimu datang menjelang’.
(HR.Hakim)

Nabi Muhammad SAW  selalu  berdoa kepada Allah
agar tidak di perdaya oleh kekayaan dunia
dan tidak hina karena kefakiran yang dimiliki.

Wahai Allah,
sesungguhnya aku ini berlindung kepada MU
dari jahatnya fitnah kekayaan.
Ya Allah,
sesungguhnya aku ini berlindung kepada MU
dari buruknya fitnah kefakiran
(HR. Bukhari Muslim)

Pemurah sesama manusia,
terutama kepada dhu’afak,
karena do’a fakir miskin
sangat mustajab.

Yang tidak peduli nasib simiskin,
sesungguhnya bukanlah golonganku,
kata Nabi Muhammad SAW.

Manusia bukan objek dari alam.
Tetapi sebaliknya,
alam adalah objek bagi manusia.
Alam dibuat untuk  kepentingan,
keperluan manusia.

Manusia adalah subjek terhadap alam itu.
Bila ilmu pengetahuan alam
mengenal adanya geo-centris
dimana bumi sebagai pusar
kendali kehidupan alamiyah.

Maka Allah Yang Maha Pencipta
telah menciptakan manusia
sebagai titik sentral
dari kehidupan di bumi
yang alamiyah ini.

Bumi tidak akan menjadi pusat perhatian,
bila ditakdirkan tidak dihuni oleh manusia.

Apabila masa sekarang planit-planit lain
di keliling bumi mulai menjadi perhatian
dan bahan penelitian,
justeru karena adanya manusia penghuni  bumi.

QIYAMUL-LAIL, SHOLAT MALAM

Rasulullah SAW bersabda;
“Barangsiapa yang melaksanakan Qiyamul-Lail
di Ramadhan atas dasar iman dan ikhlas
pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”.
(H.R. Bukhari Muslim).

Melakukan amalan baik,
seperti shalatul-lail,
serta menyeru orang lain
untuk ikut melaksanakannya,
niscaya  akan mendatangkan
keuntungan besar.

Barangsiapa yang menyunnahkan suatu sunnah
yang baik di dalam Islam,
maka dia mendapatkan pahalanya
dan pahala orang yang mengamalkan sesudahnya,
tanpa mengurangi sedikitpun
dari pahala mereka.
(HR.Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa’I, dan Ibnu Majah).

Seruan untuk setiap Mukmin
agar berjihad memelihara kepatuhan
terhadap Allah SWT
dengan sujud dan rukuk yang teratur.

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ارْكَعُوْا وَ اسْجُدُوْا وَ اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوْا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ. وَ جَاهِدُوْا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ قَبْلُ وَ فِي هَذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَ تَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيْمُوْا الصَّلَوَاتَ وَ آتُوْا الزَّكَوَاتَ وَ اعْتَصِِمُوْا بِاللهِ هُوَ مَوْلاَكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَ نِعْمَ النَّصَيْرُ.

“Hai orang-orang yang beriman,
ruku`lah kamu,
sujudlah kamu,
sembahlah Tuhanmu
dan perbuatlah kebajikan,
supaya kamu mendapat kemenangan.
Dan berjihadlah kamu
pada jalan Allah
dengan jihad yang sebenar-benarnya.
Dia telah memilih kamu
dan Dia sekali-kali
tidak menjadikan untuk kamu
dalam agama suatu kesempitan.
(Ikutilah)
agama orang tuamu Ibrahim.
Dia (Allah)
telah menamai kamu sekalian
orang-orang muslim dari dahulu,
dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini,
supaya Rasul itu
menjadi saksi atas dirimu
dan supaya kamu semua menjadi saksi
atas segenap manusia,
maka dirikanlah sembahyang,
tunaikanlah zakat
dan berpeganglah kamu pada tali Allah.
Dia adalah Pelindungmu,
maka Dialah sebaik-baik Pelindung
dan sebaik-baik Penolong.”
(QS.22, al-Hajj ayat 77-78).

Tanggung jawab muslim memelihara shalat mereka,
dengan shalat di awal waktu.

Para Malikat  mengawasi umat manusia
dan melaporkan setiap hari
keadaan umat tersebut tentang shalatnya.

Hadist Nabi Muhammad SAW
menceritakan kepada kita
betapa malaikat bertimbang terima
pada dua waktu shalat subuh dan ashar.

يَتَعَاقِبُوْنَ فِيْكُمْ: مَلاَئِكَةٌ بِالَّليْلِ، وَ مَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَ يَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلاَةِ الْفجْرِ، وَ صَلاَةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُوْنَ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ،  فَيَسْأَلُهُمْ وَ هُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُوْلُوْنَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ، وَ آتَيْنَاهُمْ وَ هُمْ يُصَلُّوْنَ.   (متفق عليه)

Malaikat akan saling bergiliran
memperhatikan kalian.
Ada malaikat yang bertugas pada malam hari
dan ada malaikat yang bertugas pada siang hari.
Mereka (kedua kelompok malaikat itu)
berkumpul pada shalat Fajar dan shalat Ashar.
Kemudian malaikat yang telah bertugas
mengawasi kalian akan naik kelangit,
dan Allah SWT menanyakan laporan mereka,
dan Allah SWT lebih tahu dari mereka tentang itu,
bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku
saat kalian meninggalkan mereka?
Mereka menjawab,
“kami meninggalkan mereka sedang saat shalat,
dan kami datang di saat mereka sedang shalat juga.
(HR. Muttafaq ‘alaih)

TADARUS ALQURAN

Bulan Ramadhan adalah bulan Nuzul Quran.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ القُرْآنَ هُدًى للنَّاسِ و بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى و الفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَ مَنْ كَانَ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ. يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ و لِتُكْمِلُوْا العِدَّةَ و لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ  و لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran
sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Karena itu,
barangsiapa di antara kamu hadir
(di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu,
maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,
dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka),
maka (wajiblah baginya berpuasa),
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu,
dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya
dan hendaklah kamu mengagungkan Allah
atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,
supaya kamu bersyukur.
(QS.2, al Baqarah : 185)

Mendalami Alquran
sama halnya dengan menambah ilmu
yang berguna untuk kehidupan manusia.

Dengan membaca dan menghafal Alquran
sebenarnya seseorang melatih memori otaknya.

Melatih perekaman otak
agar tidak cepat menjadi pelupa
dan melatih kefasihan lidah.

Membaca Alquran dengan makhrij huruf yang benar
sama dengan mengajar kefasihan lidah
pada semua lahjah (intonasi)
bahasa-bahasa dunia.

Rajin membaca Alquran
berarti menambah ilmu pengetahuan.

Dan orang berilmu
tampil dengan sikap teguh,
kuat, dan istiqamah,
yakni konsisten dalam bertindak
atau berbuat kearah yang baik.

POLA QURANI.

Sebagai muslim ada kewajiban
mewujudkan  masyarakat makmur
berkeadilan ketenteraman
yang menjadi idaman dalam hidup ini.

Berkeadilan sejati adalah makmur
dan tenteram di bawah naungan
Rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Sebagai insan hamba Allah,
tidak boleh kita  mengabaikan
dimensi kultural dari bangsa ini.
Lebih 85% umat ini memiliki
nilai nilai khair umatin
atau umat utama.
Sebagai konsekwensi dari
dinamika sosial
bangsa yang berkemampuan tinggi.

Tepatnya,
perlu di mulai
dengan menerapkan Pola “Q”
yang semestinya tidak ditolak
oleh bagian terbesar
generasi bangsa ini
yang telah menerima Alquran
sebagai hidayah.

“Pola Qurani” yang bermuatan hidayah
mampu menjadi nilai dasar
pembentukan kualitas manusia.

Muatan dasar pertama adalah imaniyah.
Keyakinan kepada Kekuasaan Allah Yang Maha Esa.
Dikenal dengan formula “tauhid”,
yang memberikan motivasi kepada manusia
menggerakkan aktivitas nyata.

Mengantisipasi perubahan cepat yang tengah berlaku.
Suatu tatanan peradaban modern (maju)
dapat di terima oleh umat,
selama perubahan tersebut
tidak harus berakibat tercerabutnya umat
dari nilai dasar iman dan kepribadian Islami.

Formula tauhid,
adalah kesadaran bahwa alam ini
di cipta dengan kesiapan
menerima setiap perubahan.

Setiap perubahan itu
berada di dalam kerangka idealisme
yang tetap utuh,
yakni mencari redha Allah.

Muatan kedua adalah
formula ukhuwwah.

Kesadaran pentingnya persaudaraan
dan kekerabatan
yang di ikat dengan tali keakraban
(sebangsa dan setanah air).

Muatan ini mendorong terciptanya
upaya upaya nyata dan serius
mengaktualisasikan potensi yang di miliki
guna di arahkan kepada kehidupan mandiri (self help)
dalam upaya menciptakan tatanan bermasyarakat
yang lebih baik (mutual help).

Pada akhirnya
mampu melahirkan masyarakat yang hidup
dan menghidupi (selfless help)
sebagai uswah hasanah
atau sosok ketauladanan.

Formula ukhuwwah,
kekerabatan (kesaudaraan)
berperan dalam memecahkan masalah kemiskinan
dan kemelaratan umat,
dengan meluruskan kesenjangan sosial
atas prinsip ta’awunitas,
yaitu kerjasama
atas dasar sama sama bekerja.

Firman Allah dalam Al Qur^an menyebutkan,
“I’maluu ‘alaa makanatikum, inni ‘amil”,
artinya
“kamu masing masing berbuat pada tempat (posisi) kamu,
akupun berbuat pula
(menurut kemampuan pada posisiku pula)”.

Makna lebih dalam ialah
berkembangnya tatanan saling menghormati
pada posisi sama sama terhormat.

Dan tertutupnya kesempatan
exploitation de l’homme par l’homme
seperti pada kehidupan kapitalistis.

Muatan ketiga adalah formula fii sabilillah,
yang pada hakekatnya
mengikat diri pada pemilihan
hanya pada jalan Allah.

Maknanya,
bahwa sumber pendapatan
dan pembiayaan yang di lakukan
terhindar dari kebocoran kebocoran
(waste  atau mubazzir).

Menegakkan aturan normatif
merupakan konsekwensi logis
agar secara aktualita
di dapati batas batas antara boleh dan tidak,
antara suruhan dan larangan,
antara halal dan haram,
dan kepedulian yang tinggi
terhadap perubahan perubahan
dengan bimbingan akhlakul karimah.

Muatan keempat,
adalah formula ukhrawi.

Karena antara keperluan dunia
dan kepentingan akhirat
sama sekali tidak terpisah.

Tidak berdiri sendiri sendiri
tanpa ada ketergantungan satu sama lainnya.

Kepercayaan kepada hari akhir
(kehidupan sesudah mati)
sebenarnya keyakinan
terhadap adanya kewajiban
pertanggungan-jawab individual
yang tidak bisa dimanipulasi datanya.

Keyakinan ini menempatkan
pernilaian bahwa
“hari akhir itu lebih baik
dari hari sekarang (dunia) ini”.

Konsep kesejahteraan hari akhirat
amat ditentukan oleh pemilihan yang amat tepat
di masa kini (duniawi).

Konsep “ukhrawi”
melahirkan sikap positif
dalam bertindak dengan penuh kehati hatian.

Memilih amal yang tepat,
disiplin yang tinggi,
hemat, tidak takabbur,
bahkan terjauh dari sikap perilaku tercela.

Akhirnya mampu membentuk
kualitas manusia efektif dan konstruktif.

Kualitas itu ada pada semua proses pembangunan
di seluruh segi kehidupan manusia
di dalam mencipta kedamaian dunia.

Maka, formulasi “akhirat”
membentengi umat dari gejolak faham sekularistik,
yang muaranya adalah hedonistik,
vandalisme, anarkis, sadisme dan a moral.

Kepercayaan atau keyakinan kepada kehidupan ukhrawi
memposisikan manusia pada peranan strategis.

Muatan nilai-nilai yang dididikkan
menciptakan sumber daya manusia seimbang.
Dengan memiliki kehandalan intelektual,
fisik, profesionalitas.
Memiliki keimanan dan ketakwaan.
Mempunyai kepribadian luhur, dan akhlak karimah,
seperti yang diharapkan
dalam format pembangunan manusia seutuhnya.

Muatan kelima,
adalah formula ilmu dan hikmah.

Keperluan  terhadap ilmu,
menjadi bahagian awal dari pemberitaan Alqurani,
pada ayat ayat yang pertama di turunkan.

Ilmu tidak pernah berhenti,
sampai dunia berakhir dengan kiamat.
Allah SAW menyebutnya dalam Fiman Nya,

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ.  خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ.  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.

” Bacalah,
Dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya”
(Al ‘Alaq, QS.96 ayat 3 5).

Untuk mendapatkan ilmu
perlu dicari guru yang ikhlas
(syeikh atau  mursyid)
yang dapat  memberikan ta’lim  pembelajaran,
tarbiyah pendidikan,
dan diiringi oleh tarqiyah  pembimbingan.

Kewajiban mendapatkan guru
(belajar, menuntut ilmu) ini a
dalah termasuk dalam kaedah usul fiqh
yang menyebutkan,

ما لا يتم ا لواجب الا به فهو واجب

Sesuatu perkara
yang menyebabkan sesuatu kewajiban
tidak akan dapat disempurnakan
kecuali dengannya
maka perkara tersebut
adalah wajib juga hukumnya.

Dengan kaedah ini dapat di pahami
betapa pentingnya usaha-usaha pembentukan da’iya,
imam khatib, para mu’allim dan tuangku
di nagari-nagari pada saat kembali ke surau.
Memberikan bekalan yang cukup
melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai.
Membuatkan anggaran belanja yang memadai
di daerah-daerah menjadi sangat penting
di dalam mendukung satu usaha yang wajib.

Tidak syak lagi,
merawat berbagai penyakit batin itu wajib.
Siapapun yang dikuasai oleh penyakit batin
wajib mencari guru
yang dapat menjauhkan dari berbagai sifat jahat itu.

Merebut ilmu,
sesuai dengan bimbingan Rasulullah SAW
menjadi kewajiban bagi setiap Muslim
(lelaki dan perempuan),
(Al Hadist).

Tidak ada batas usia menuntut ilmu
sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“Tuntutulah ilmu itu dari ayunan
hingga ke liang lahat (qubur)”
(Al Hadist).

Tidak pula terbatas di satu wilayah
seperti yang dianjurkan
“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”.

Kenyataan tentang keberhasilan manusia
di dalam ukuran universal
hanyalah dengan penguasaan ilmu pengetahuan.

Hal ini senyatanya amat sesuai
dengan sabda Rasulullah SAW,
“Siapa yang inginkan dunia
dia harus peroleh dengan ilmu,
siapa yang inginkan akhirat
juga harus direbut dengan ilmu,
dan sesiapa yang inginkan keberhasilan kedua duanya
(dunia dan akhirat)
maka keduanya harus direbut dengan ilmu”
(Al Hadist).

Seorang yang ingin melakukan tazkiyah nafs
mesti didukung oleh himmah (minat dan cita) yang kuat.

Himmah  diartikan cita-cita,
tekad yang bulat dan kuat,
yang di dorong oleh niat yang tulus,
keyakinan yang benar,
cara yang benar
di dalam mencapai cita-cita itu.

Seorang yang memiliki himmah kuat
didorong menjalani jalan Allah
seumur hidupnya.

Himmah akan mendorongnya bersungguh-sungguh,
tanpa lalai dan letih.
Himmah tidak mengenal segan
sampai kepada tercapainya tujuan perjalanan.

Untuk menjaga himmah ini
maka hendaklah dibaca
dan diingatkan selalu doa munajat :

الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Ya Allah, Ya Tuhanku!
Engkaulah tujuan hidup dan matiku
dan keredhaan-Mu adalah yang ku cari.

Redha adalah aplikasi utama dari nilai Alqurani
yang di turunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan.

Salah satu keutamaan puasa Ramadhan
dan membaca Alquran itu
disebutkan dalam salah satu Sabda Rasulullah,
”Puasa dan sholat malam
membela si hamba pada hari kiamat.
Puasa berkata,
‘Ya robbi, saya halangi ia
untuk makan dan minum disiang hari ’.

Alquran juga berkata,
‘Aku rintangi ia untuk tidur di malam hari’.
Maka jadikanlah kami penolongnya.”

Melakukan tazkiyah nafs
menghendaki  adanya teman (ikhwan).
Agar sama-sama ingat-mengingatkan
dan bantu-membantu
dalam berbagai masalah yang dihadapi.

Apabila tazkiyah nafs akan dicapai dengan sempurna,
hindarilah untuk berdampingan
dengan orang yang menyukai kejahatan.

Jauhilah bergaul dengan para pengikut hawa nafsu
dan yang tidak beradab sopan.

Seiring pula dengan Firman Allah,

يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَآءُ وَ مَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوْا اْلأَلْبَابِ

” Allah menganugrahkan al hikmah
(kefahaman yang dalam tentang Alquran dan As Sunnah)
kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu,
ia benar-benar telah dianugrahi
karunia yang banyak.
Dan hanya orang-orang yang berakallah
yang dapat mengambil pelajaran
(dari firman Allah). “
(Al Baqarah, QS. 2 ayat 269).

Tazkiyah nafs
memerlukan perawatan dari berbagai  penyakit nafs
dengan menjaga dan menyuburkan jiwa itu.

Ketika roh suci ditiupkan kedalam tubuh manusia,
semua hati manusia telah diperkenalkan kepada Allah
dan musyahadah kepada-Nya.

Allah berfirman :

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِد ْ نا

Bukankah Aku ini Tuhan kamu? (Para roh menjawab):
Benarlah (Engkau Tuhan kami) Kami saksikan.

Setelah Allah memasukkan roh itu ke dalam jasad manusia,
hati itu telah lupa  terhadap janji dan pengakuan tersebut.
Hanya Rahmat Allah semata,
dengan diturunkan  agama kepada para rasulNya.
Dengan melaksanakan ajaran agama itu,
roh manusia dikenalkan kembali kepada Allah SWT.

Roh manusia yang berada dalam jasad
(Nafs al-Natiqah) itu
mudah dikotori berbagai perkara.

Pengotoran yang sangat berbahaya
ialah syirik atau menyekutukan Allah.

Karena itu, orang musyrikin  rohaninya najis.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Bahawasanya orang-orang musyrikin itu najis.

Selain syirik,
berbagai maksiat dan dosa-dosa
besar maupun kecil
juga mencemari jiwa dan hati manusia.

Jiwa yang telah tercemar berbagai maksiat
akan mengandungi berbagai sifat tercela
dan jauh dari sifat-sifat terpuji.

Hati akan mati, karena ghaflah yaitu lalai.

Langkah pertama ke arah tazkiyah nafs itu
ialah menghidupkan jiwa
atau hati yang mati karena ghaflah itu.
Cara terbaik dengan zikrullah
dan muraqabah
atau tafakkur mengingati nikmat Allah.

Nabi SAW bersabda :

مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت

Umpama orang yang mengingati Tuhannya
dan orang yang tidak ingatkan Tuhannya
seumpama perbandingan orang yang hidup dengan yang mati.

Satu keniscayaan bahwa pergolakan kompetitif
di era globalisasi didominasi oleh
pemilik ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mereka berpeluang menguasai dunia global masa datang.
Penguasaan ilmu pengetahuan (hikmah)
adalah bagian integral dalam Pola Qurani (Pola Q).

Penguasaan ilmu pengetahuan bagi umat ini
menjadi dorongan kuat
dan akomodasi alternatif
untuk memotivasi manusia (Muslim)
mengantisipasi langkah zaman jauh kedepan.

Akan tetapi,
dengan ilmu semata
tanpa dikuatkan oleh hati yang bersih,
akan di dapati satu susunan masyarakat
yang berilmu banyak dengan keyakinan tipis.

Kalau umat Islam masih “mendua”
menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup,
maka selama itu pulalah umat Islam
ditimpa berbagai macam kegelisahan
dan penderitaan.

Umat Islam yang menderita itu,
tidak bisa dilepaskan
dari keingkaran pada kebenaran ayat ayat Alquran.
Karena itu,
mari kita benar benar menjadikan Alquran
pedoman hidup yang membawa kesejahteraan
secara keseluruhan.

Dengan mengembangkan kehidupan berpola Qurani
sebagai salah satu pilihan tepat
bermuatan hidayah Allah
yang di percayai umat terbanyak
dari generasi bangsa ini.

Pola Qurani yang diterapkan ini
dapat menopang laju pembangunan negara tercinta
dan menjanjikan langkah positif kedepan
guna menatap perubahan zaman.

Semua langkah tersebut
mestinya  di lakukan
dengan mengharap redha Allah.

I’TIKAF DI MASJID

Maknanya berdiam di Masjid
mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah padaNya.

إَنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ و أَقَامَ الصَّلَوَةَ وَ ءَاتَي الزَّكَوَةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ.

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah
ialah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan hari kemudian,
serta tetap mendirikan shalat,
menunaikan zakat
dan tidak takut (kepada siapapun)
selain kepada Allah,
maka merekalah
orang-orang yang diharapkan
termasuk golongan orang-orang
yang mendapat petunjuk.
(QS.at Taubah : 18)

Rasulullah selalu beri’tikaf
terutama 10 malam terakhir Ramadhan.
Para malikat di langit selalu bersujud
dan tasbih kepada Tuhannya.
Tidak sejengkalpun permukaan langit
yang terluang dari tempat bersujudnya malaikat.

Langit tertutup,
dan memang sepantasnya ia tertutup.
Demi zat yang Yang Menguasai Diri Muhammad!
Tidak ada satu tempat selebar satu jengkalpun,
kecuali di sana ada kening malaikat
yang sedang bersujud dan bertasbih
kepada Allah
dengan segala pujian-pujian.
(HR.Ibnu Marduweih).

Sudah sewajarnya
manusia menyediakan waktu
untuk bersujud di masjid.

Ibadah I’tikaf di Masjid
sangat disenangi oleh Rasulullah SAW,
terutama di bulan Ramadhan.

“Masjid adalah rumah
untuk setiap orang yang bertakwa
dan Allah bertanggung jawab
akan memberi rahmat
kepada orang yang menjadikan masjid
sebagai rumahnya,
dan ia akan melewati jembatan
keridhaan Allah SWT.”
(HR.  Thabrani)

Setiap muslim hendaknya sadar
bahwa yang akan membantu
dalam hidup di dunia dan di Padang Mahsyar,
semata hanya pertolongan dari Allah
dan dari sesama yang bertauhid.

Pertolongan akan didapat
dari mereka yang sama bersujud,
termasuk para malaikat,
dan dari mereka yang sama taat
dan patuh kepada Allah SWT.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ، وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلَوَاتَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكَوَاتَ وَ هُمْ رَاكِعُوْنَ.

“ Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah,
Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman,
yang mendirikan shalat
dan menunaikan zakat,
seraya mereka tunduk (kepada Allah).”
(QS.5, al-Maidah, ayat 55).

Allahu Akbar wa Lillahi l-hamd لَنْ تَزُوْلَ قَدَمًا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَسْأ َلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، و عَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أِبْلاَهُ، و عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، و فِيْمَا أَنْفَقَهُ، و عَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ (رواه الطبراني) لاَ يَبْقَى على ظَهْرِ الأرضِ بَيْتَ مَدَرٍ ولا وَبَرٍ، إلاَّ أَدْخَلَهُ الله الإسلام، بِعِزِّ عَزِيْزٍ، أو بِذُلِّ ذَلِيْلٍ … (رواه أحمد و الطبراني و ابن حبان و الحاكم) وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَ اتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ و اْلأَرْضِ إنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، و إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ ورَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللهِ ورَسُوْلِهِ، فَمَنْ كانَتْ هِجْرَتَهُ إلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَجَرَ إلَيْهِ.(رواه البخاري و مسلم) لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرُ فِيْكُمْ المَالَ فَيَفِيْضُ، حَتَّى يَهَمُّ رَبُّ المَالَ مَنْ يَقْبَلُ مِنْهُ صَدَقَتَهُ، و حَتَّى يُعْرِضَهُ فَيَقُوْلُ الَّذِي يُعْرِضُهُ عَلَيْهِ لاَ أَرَبَ لِي.     (متفق عليه) لَيَأْتِيَنَّ عَلى النَّاسِ زَمَانٌ يَطُوْفُ الرَّجُلُ فِيْهِ بِالصَّدَقَةِ مِنَ الذَّهَبِ ثُمَّ لاَ يَجِدُ أَحَدًا يَأْخُذُهَا مِنْهُ. (متفق عليه) اُعْبُدُوْا الرَّحْمَنَ، و أطْعِمُوا الطَّعَامَ، و أفْشُوا السَّلاَمَ، تَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ         (رواه الترمذي و أحمد و البخاري) تَعْبُدُ الله ولا تُشْرِك بِهِ شَيْئًا، و تُقِيْمُ الصَّلاَةَ، و تُؤْتِي الزَّكَاةَ، و تَصِلُ الرَّحِمَ أنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ و أَخْشَاكُمْ لَهُ، و لَكِنِّي أَقُوْمُ و أَنَامُ، و أَصُوْمُ وأَفْطُرُ، و أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (متفق عليه) مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، إِلاَّ كاَنَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. (رواه مسلم) قال عليه الصلاة والسلم:  “الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الأ ذكر الله وما واله أ و  عا لما ومتعلما”       وَ لِكُلِّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوْا وَ مَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ اِتَّقِ الله حَيْثُمَا كُنْتَ، وَ أتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا،   و خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضَىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقَصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ. (رواه الترمذى و النسائي و ابن ماجة) لا تُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ ِلأِخِيْهِ ما يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.  (متفق عليه) إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ يَوْمَ القِيَامَةِ: يَابْنَ آدَمَ! اسْتَطْعَمْتُكَ، فَلَمْ تُطْعِمْنِي! قَالَ: يَا رَبِّ! كَيْفَ أُطْعِمُكَ و أَنْتَ رَبُّ اْلعَالَمِيْنَ؟! قال: أَمَا عَلِمْتُ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلاَنٌ، فَلَمْ تُطْعِمْهُ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتُ ذَلِكَ عِنْدِي؟  (رواه الطبراني) اِغْتَنِم خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، و صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، و غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، و فَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، و حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.    (رواه الحاكم) اَللَّهُمَّ إَنِّى أَعُوْذَبِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى، اَللَّهُمَّ إَنِّى أَعُوْذَبِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الفَقْرِ.    (رواه البخاري) مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا و أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ (رواه مسلم و أحمد و الترمذي و النسائي و ابن ماجة) أَطتِ السَّمَاءُ، و يَحِقُّ لَهَا أنْ تَئِطَ. و الَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! ما ِفيْهَا مَوْضِعُ شِبْرٍ إلاَّ و فِيْهِ جَبْهَةُ مَلَكٍ سَاجِدٍ، يُسَبِّحُ الله بِحَمْدِهِ.       (رواه ابن مردوبه)

 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: