RSS

PERMASALAHAN DAN BIMBINGAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM

15 Agu

BAB I  ..  PERNIKAHAN

A.    Pengertian Pernikahan

Pernikahan merupakan serangkaian peristiwa yang mampu membangun sebuah komplikasi peradaban manusia, yang selama-lamanya harus dilestarikan, peristiwa itu ialah peristiwa fitrah; sebagai manusia pernikahan adalah Pertama, Pernikahan sebuah fitrah untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, diantaranya fitrah manusia itu adalah bertumbuh dan berkembang, nah dengan adanya wadah pernikahan, manusia dapat menjawab tuntutan itu. Kedua, Pernikahan adalah peristiwa fiqiyah, menunjukkan seseorang telah melaksanakan suatu hukum agama yang asal hukumnya sunat. Ketiga, Pernikahan adalah peristiwa dakwah, seseorang yang telah melaksanakan akad pernikahan, berarti ia telah menegakkan syari`at dengan mendakwakan bahwa akad pernikahan itu harus dilakukan setiap orang Muslim yang akan mengarungi hidup Berumah Tangga. Dan Keempat, Pernikahan menunjukkan hubungan sosial yang semula adalah sebuah keluarga kecil, kemudian menjadi besar dengan bergabungnya dua keluarga kecil. Serta Kelima, Peristiwa Budaya, pernikahan dapat membentuk suatu budaya yang kokoh, dan mempunyai nilai keakraban yang asri, karena dua budaya yang berbeda, setelah terjadinya akad berarti peristiwa budaya akan menjadi berwarna-warni, yang nantinya akan dapat membentuk budaya yang satu, walaupun didalamnya terdapat banyak karakter, namun merupakan satu budaya, yaitu budaya Islam, “ummah al-wâhidah”. Inilah yang didambakan Islam sebagai agama Ilahiyah atau Tauhid.

Pernikahan adalah suatu jalan hidup yang berorientasi hubungan horizontal dan fertikal kepada ilâhi-rabbi. Yang dimulai dengan niat ibadah kepada Allâh, dengan pembentukan al-Usru “keluarga” yang terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak. Kemudian menjadi suatu struktur sosial “al-Ijtima`i“.

Keluarga terbentuk dari rasa saling memperlukan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Allâh dalam al-Qur`ân, surat al-A`râf ayat 189 maksudnya, “agar suami merasa tenang dan tenteram bersama isterinya”. Dan yang melindungi antara satu samalain (QS. Al-Baqarah/2: 187). Dalam ayat ini Imam al-Qurtubi menafsirkan kata “libas” yang asal maknanya berkenaan dengan pakaian. Kemudian menyatukan hubungan suami dan isteri tersebut, seperti melekatnya pakaian sekaligus fungsinya. Sebagian ulama berpendapat, “segala sesuatu yang menutupi sesuatu itu libas.

Keluarga sebagai ajang sikap yang saling memberi perhatian, apapun yang diberi misalnya oleh suami kepada isteri, tidak boleh diminta kembali (QS. Al-Nisâ/4: 20-21), hal ini membuktikan keikhlasan harus ditanamkan dalam diri suami sebelum ia berumah tangga. Keluarga juga untuk menyatukan perasaan, tenang dan tenteram “mawaddah wa rahmah“, serta akan membuat suami dan isteri berfikir jernih (QS. Al-Rûm/30: 21).

Nah, Islam berpicara tentang pernikahan, lalu apa saja yang menjadi substansi dan prosedural dari hal tersebut?, mari kita lihat. Dalam al-Qur`ân dan al-Sunnah, masalah yang diungkapkan adalah sakral berkisar sekitar masalah substansi, seperti masalah memilih jodoh, pernikahan, pembentukan keluarga beserta sikap-sikap yang harus ditempuh, pendidikan anak keturunan. Sedangkan masalah prosedural perkawinan tidak diatur, hanya saja itu menjadi lahan ijtihad baik ijtihad tathbiqy dan istinbathy. Seperti pelanggaran dalam masalah rumah tangga. Ini diatur dalam undang-undang mujtahid. Kita ambil contoh, masalah ta`liq thalaq, dalam undang-undang Perkawinan Indonesia ditentukan terutama undang-undang tahun 1975 tentang perceraian akibat tidak diberi nafkah oleh suami selama dua (2) tahun berturut-turut, ini tidak ditemukan dalam al-Qur`ân dan al-Sunnah[1]. Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No. 1 tahun 1974 mengatur sahnya pernikahan menurut agama masing-masing[2]. Undang-undang ini dirumuskan dan berlaku atas perjuangan untuk mengembalikan berlakunya hukum Islam di Indonesia, setelah hukum nasional dikuasai oleh hukum adat dan eks Barat. Jadi, pelanggaran dalam perkawinan itu diatur dalam undang-undang yang dimunculkan oleh mujtahid melalui kajian dalil-dalil, maka terwujudlah sebuah ijtihad diterapkan sebagai hukum yaitu hukum ta`zir[3].

Islam agama berlaku pada masa apapun, tujuannya adalah untuk menunjukkan keagungannya. Dengan aturan seperti di atas, maka memberi peluang pada perkembangan peradaban manusia yang sempurna. Agama islam tidak akan pernah terlibat dalam masa yang sia-sia, penuh dengan kepura-puraan, tidak ada keteguhan dalam mempertahankan prinsip-prinsip sakral.

  1. Pengertian Pernikahan
    1. Pernikahan Menurut Bahasa

Pernikahan dalam Bahasa Arab disebut dengan nikah atau tazwij. Lafazh nikah atau tazwij artinya; kawin, berkumpul atau menghimpit ( تَزْوِجٌ ), marriage (pernikahan) seperti “yâ ma`syara al-syabâb” atau marriageable.

  1. Menurut Istilah

1)      Menurut Jalaluddin Al-Mahally

Nikah adalah   ‘akad yang mengandung kebolehan melakukan hubungan seksual dengan mempergunakan lafazh nikah atau tazwij.

2)                                                     Menurut Hasby Ash Shiddieqiy

Nikah adalah  ‘aqad yang mengandung kebolehan melakukan hubungan seksual dengan lafazh nikah atau tazwij dan lafazh yang semakna dengannya.

3)  Menurut Undang-undang No. 1  Tahun 1974 Pasal 1

Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berdasarkan pengertian dan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Pernikahan atau Perkawinan itu adalah `aqad atau perjanjian yang membolehkan bergaulnya seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan lafadz nikah, tazwij atau kawin guna membentuk keluarga bahagia dan kekal atau langgeng menurut yang diatur oleh syari’at[4] Islam dan hukum yang berlaku. Karena pernikahan menyangkut masalah biologis, psikologis, pendidikan, ekonomi, yuritis, moral, dan agama.

2.  Dorongan Untuk Melangsungkan Pernikahan

Mengenai pernikahan ini Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam (570-632 H)[5], memberi dorongan kepada para Pemuda yang telah mampu, pesan itu diungkapkan dalam hadits berikut ini,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ لَنَارَسُولُ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَائَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. (رَوَاهُ مُتَفَقٌّ عَلَيْهِ)[6]

“Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda : “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu sudah mampu (lahir dan bathin) untuk berkeluarga, maka kawinlah. Sesungguhnya hal yang demikian lebih memelihara pandangan mata, memelihara kehormatan, dan siapa yang belum mampu untuk berkeluarga, dianjurkan baginya untuk berpuasa, karena hal itu akan menjadi pelindung dari segala perbuatan memperturutkan syahwat.” (HR. Mutafaqq `alaihi).

Hadits ini tercantum dalam Shahih Bukhari pada kitab al-Nikah, Jilid tiga, juz tujuh halaman tiga dan Shahih Muslim pada kitab al-Nikah, Juz 2, halaman 118-119. Dan Allâh meridhai akan hal ini, serta memberikan statemen yang patut diyakini yaitu;

تزويج العسر, لقوله تعالى: … إِنْ يَّكُونُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ والله وَاسِعٌ عَلِيْمٌ.(سُوْرَةُالنُّوْرِ/24:32) (رَوَاهُ الْبُخَارِى-كِتَابُ النِّكَاحِ-جِلِدْ 3, جُزْءٌ 7:8)

“Kesulitan dalam pelaksanaan nikah, sebagaimana firman Allâh: Yakinlah, jika kamu miskin Allâh akan memampukan kamu dengan karunia (rezki-Nya), dan Allâh Maha luas (pemberian-Nya).” (Bukhâriy, Jilid 3, Juz 7, halaman 8)

Kandungan hadits di atas adalah sebagai berikut :

  1. Dorongan untuk menikah bagi generasi muda yang telah mampu lahir bathin untuk melangsungkan pernikahan atau berkeluarga.
  2. Pernikahan itu lebih mampu memelihara kehormatan diri.
  3. Dorongan untuk berpuasa sunat bagi pemuda yang belum mampu kawin untuk membentengi diri dari syahwat.

Dorongan ini muncul karena begitu pentingnya melangsungkan sebuah pernikahan yang akan melanggengkan kehidupan ketika manusia dalam keadaan berduka cita, kemiskinan bukanlah penghalang untuk melangsungkan pernikahan, karena Allâh menjamin rizkinya (QS. Al-Nûr/24: 32). Hal itu akan padam dengan adanya keseimbangan yaitu suami-isteri. Dan dianjurkan memilih calon isteri/suami yang jauh dari hubugan keluarga, seperti anjuran Umar bin Khaththab radiy Allâhu `anhu, “Aghribu wa lâ tadhawwu” (carilah yang jauh/asing dan jangan kamu menjadi lemah), karena hal ini akan menjadi salah satu perekat tali persaudaraan kita sebagai muslim semakin besar.

Bahaya kalau tidak melakukan pernikahan pada saat ia mampu, dan bahaya itu juga dipaparkan Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam berikut;

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ (رَوَاهُ التُّرْ مُذِىوَإِبْنُ حِبَّانٌ فِى صَحِيْحِهِ)

“Yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka adalah mulut dan kemaluannya.” (HR. Al-Tirmidziy dan dia berkata hadits ini shahih).

Dan, “Sabda Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam: “Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri.” (HR. al-Tirmidziy).

Sabda Nabi sall Allâhu `alaihi wa sallam, “Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain.” (Hadits Qudsi)[7]

Maka dari pada ini semua, islam sangat mengecam pola hidup yang lebih menyukai membujang (celibat), yaitu hidup tanpa ada ikatan perkawinan yang sah. Islam juga bahkan melarang kalau keadaan tersebut terjadi dalam kondisi ia mampu untuk nikah, kecuali ada alasan biologis, seperti impoten[8].

Hidup membujangkan memberi peluang untuk berbuat serong, jauh dari fitrah manusia yang sesungguhnya. Seperti berbuat zina. Maka pantaslah Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa daripada zina”.

Selanjutnya manusia akan berjuang untuk menghalalkan Zina seperti yang diprediksi oleh Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam berikut,

لَيَكُوْنَنَّ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْر َوَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِف َ(صَحِيْحُ الْجَمْع/ِ 5466)

Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !” (HR. Al-Bukhâriy).

Dengan peringatan-peringatan Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam di atas, maka beliau sekaligus membatasi pergaulan umatnya hal itu dapat kita ketahui pada hadits berikut :

لاَيَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمْ)

“Janganlah sekali-kali (diantara kalian) berduaan dengan wanita, kecuali dengan mahramnya.” (HR. Al-Bukhâriy dan Muslim).

Hal ini semua adalah untuk mengantisipasi timbulnya pelanggaran hukum yang pada asalnya diharamkan dan perlindungan hak-hak bagi setiap sendi kehidupan. Baik pribadi muslim maupun antar manusia dengan Sang Khaliq. Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam sendiri lewat hadits-hadits beliau telah menyatakan batasan-batasan tersebut yang berlaku sebagai syari`at.

3.  Macam-macam Zina

Zina sebagai mana di ketahui lewat hadits berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَرَضِىَاللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: [كُتِبَ عَلَىابْنِ أَدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا فَهُوَ مُدْرِكٌ ذَالِكَ لاَمَحَالَةَ: الْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرَ وَالرِّجْلٌ زِنَاهُمَا الْخُطَى، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّ، وَيُصَدِّقِ ذَالِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ] (رَوَاهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمْ وَأَبُوْدَاوُدْوَالنَّسَائِى)

Dari Abi Hurairah radhiy Allâhu `anhu dari Nabi sall Allâhu `alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : “Telah ditulis atas anak adam nasibnya (bagiannya) dari zina, maka dia pasti menemuinya, zina kedua matanya adalah memandang, zina kakinya adalah melangkah, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan, dan dibenarkan yang demikian oleh farjinya (kemaluannya) atau di dustakan.” (HR. Al-Bukhâriy, Abû Dâud, dan al-Nasâ’i). Dan dalam riwayat lain beliau bersabda,

[ … وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ فَزِنَاهُمَاالْبَطْشُ، وَالرِّجْلاَنِ تَزْنِيَانِ فَزِنَاهُمَاالْمَشْيُ، وَالْفَمُ تَزْنِيْ فَزِنَاهُ الْقُبْلُ] (رَوَاهُ مُسْلِمْ وَأَبُوْدَاوُدْ)

“Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah kearah yang salah (maksiat), dan mulut berzina dan zinanya adalah mencium (yang tidak halal baginya).” (HR. Muslim dan Abû Dâud).

Demikianlah Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam selalu membimbing umatnya, tiada petunjuk yang lebih baik selain petunjuk beliau, walaupun beliau sudah tiada, tapi pusaka beliau masih tetap ada dalam hati sanubari paling dalam umatnya yang taat dan patuh untuk menjalankan Syari`ah al-Islam sebagai tuntunan hidup yang tenang dan tentram. Dan Allâh tidak akan pernah memerintah kita untuk berbuat jahat, sebagaimana firman Allâh subhânahu wa ta`âlâ berikut:

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا ءَابَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَالاَتَعْلَمُونَ(28) (سُوْرَةُ اْلاَعْرَافِِ/7: 28)

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allâh menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: “Sesungguhnya Allâh tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui?.” (QS. Al-A`râf/7: 28)

Ketahuilah saudaraku bahwa Allâh dan Rasul-Nya tidak pernah menginginkan manusia susah, malahan memberikan keringanan-keringanan yang sesuai dengan situasi dan kondisi hambanya. Inilah menjadi dasar bagi kita bahwa Allâh tidak akan pernah merugikan manusia, dimana hadits di atas berlaku apabila manusia tidak mengindahkan peringatan-peringatan tersebut di atas. Dan ini bukanlah menjadi takdir yang muthlak tapi sebagai gambaran berkuasanya Allâh terhadap manusia.

Masalah apapun yang dialami hambanya pasti ada jalan keluar, dan itupun tidak ada yang bersifat permanen. Hukum yang diberlakukan sesuai dengan situasi dan kondisi. Setiap pemberlakuan syari`at, terbatasi oleh tiga keadaan mendasar, yaitu sebagai sabda Rasul Allâh sall Allâhu `alaihi wa sallam; sesungguhnya Allâh mengampuni umatku dalam keadaan tiga hal: tersalah, lupa, dan apa yang dipaksakan atasnya[9]. Sangat fleksibel bukan ajaran islam? Apa yang membuat saudaraku untuk jauh dari ajaran Islam?. Padahal islam jauh sebelum manusia memikirkan masalah moral telah menjadi program utama Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam.

  1. Hukum dan Penerapan Hukum Zina

Makhluk yang diciptakan Allâh, semuanya disertakan dengan hukum. Baik Pertama: itu hukum alam (kauniyah), seperti Allâh telah menjadikan segala sesuatu dengan ukuran tertentu, seperti diterangkan dalam firman-Nya; “Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Hijr/15: 19), bahkan air yang diturunkan Allâh pun sesuai kadarnya (QS. Al-Mukminûn/23: 18). Kedua: hukum yang sifatnya tertulis sebagai syari`at yaitu al-wahy.

Kemudian mengikuti perkembangan pemikiran dikalangan manusia sejak zaman penyembahan alam, Roh nenek moyang mereka, berhala atau fetisisme yaitu kepercayaan bahwa setiap benda mempunyai roh (jiwa). Pemilik benda itu dapat menggunakan roh yang ada disitu untuk keperluan-keperluannya. Dan seterusnya manusia sampai pada Penyembahan Sesuatu Yang Lebih Tinggi. Ini adalah proses terakhir  dari evolusi agama.

Hukum syari`at seperti tersebut di atas itulah yang akan menjadi pengatur manusia. Berlaku bagi mukallaf (manusia yang memenuhi syarat untuk dibebankan hukum syari`at). Hukum syari`at agama Islam tidak berlaku bagi mukallaf yang berada dalam keadaan gila, tidak sadar (pingsan), tidur, dan dipaksa. Dibawah ini penulis coba untuk menguraikan sedikit tentang hukum syari`at mengenai perzinahan dan penerapannya:

  1. Pengertian Hukum

Sulit mendefinisikan hukum secara tuntas, sehingga Imanuel Kant menulis, “Noch Suchen die Juristen eine Definition zu ihrem Begriffe von Recht” (Tidak seorang ahli hukumpun yang mampu membuat definisi tentang hukum). Yang lain berpendapat, “Kalau anda meminta kepada sepuluh ahli hukum untuk membuat definisi tentang hukum, maka bersiap-siaplah anda untuk mendengarkan sebelas jawaban. Namun hal itu tidak menciutkan usaha ahli hukum untuk mendefinisikannya, berikut tinjauannya;

1)      Hukum menurut bahasa (etimologi)

Secara bahasa hukum itu diartikan sama dengan ugeren, patokan atau kaidah. Dalam bahasa Belanda hukum itu disebut recht (berarti lurus), ini mempunyai kandungan “kewibawaan dan keadilan”. Bahasa Latinnya hukum adalah ius, Prancisnya loi dan Inggrisnya law, serta bahasa Belandanya wet.

Dalam bahasa Arab, berasal dari kata kerja “hakama” (حَكَمَ) artinya sama dengan “qadha” (قَضَى) dan “qarrara” (قَرَّرَ) yang artinya menghukum, memutuskan, dan menetapkan. Sesuatu yang ditetapkan itulah hukum atau hukuman.

2)      Hukum menurut istilah (terminologi)

Melihat arti hukum secara etimologi, maka dapat dipahami bahwa makna hukum yang tersimpul dalam pengertian secara etimologi tersebut di atas terkandung  dua unsur utama, yaitu unsur Kewibawaan dan Keadilan.

  1. Asas-asas Hukum

Asas-asas hukum secara umum dibagi atas tiga; Asas Keadilan, Asas Kepastian Hukum, dan Asas Kemanfaatan. Dalam ikatan perkawinan sebagai salah-satu bentuk perjanjian (suci) antara seorang pria dengan seorang wanita, yang mempunyai segi-segi perdata, berlaku beberapa asas; (1) kesukarelaan, (2) persetujuan kedua belah pihak, (3) kebebasan memilih, (4) kemitraan suami-isteri, (5) untuk selama-lamanya, dan (6) monogami terbuka (karena darurat).

Semua segi asas hukum di atas menunjukkan ketelitian dan cermatan dalam penerapan hukum terhadap pelaku kejahatan. Dengan sikap demikian diharapkan akan diperoleh keadilan. Bagi korban kejahatan dan pelaku kejahatan bahkan bagi masyarakat.

  1. Penerapan Hukum Zina

Sebelum menerapkan hukum tentunya harus pasti dulu apa itu zina?. Zina adalah hubungan kelamin di antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang satu sama lain tidak terikat dalam hubungan perkawinan yang sah, baik agama atau pun hukum negara. Walaupun salah satu pihak atau keduanya telah memiliki pasangan masing-masing (nikah) atau belum nikah. Kata Zina ini juga sering dipakai secara majaziy yaitu pergaulan bebas. Sama saja!, hanya objeknya secara kolektif (kelompok), lebih ekstrim lagi Free Sex.

Menurut Islam perbuatan Zina akan menghancurkan landasan keluarga secara mendasar, memperbesar perselisihan dan akan mengarah pada pembunuhan, meruntuhkan nama baik dan kekayaan, memperluas peluang terjangkitnya penyakit baik jasmani maupun rohani. Zina adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang terburuk (QS. Al-Isrâ’/17: 32-33).

Penerapan hukum terhadap pelaku Zina dalam islam akan adil, dan mempunyai kepastian hukum, serta memiliki manfaat, baik terhadap pribadi, keluarga, dan masyarakat, apalagi agama, dan seterusnya bagi negara.

Banyak orang menilai, bahwa hukum bagi pelaku zina yaitu di rajam sampai mati, bagi yang sudah pernah menikah. Dan di dera 100 kali bagi yang belum pernah nikah. Kalau perbuatan zinanya pasti menurut hukum melalui kesaksian empat orang yang terpercaya, dan bukti-bukti otentik lainnya. Kalau buktinya terdapat kecacatan maka hal tersebut akan meringankan si tertutuduh.

Bukti lain misalnya dari pengakuan si tertuduh sebanyak empat kali yang diungkapkannya secara sukarela dalam satu majlis. Jika pada pengakuan yang keempat ia membatalkan pengakuannya, maka tidak boleh dirajam.

Laki-laki atau perempuan yang mengakui perbuatannya itu harus sehat pikiran, puber, dewasa dan telah menikah. Penerapan hukum terhadap mereka dikatakan oleh atsar shahabat Umar bin Khatthab yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas; harus dibuktikan oleh saksi-saksi (empat orang), adanya kehamilan, atau pengakuannya. Khusus untuk wanita yang berbuat demikian hukuman rajam dilakukan setelah ia melahirkan. Serta hukuman tersebut dilaksanakan di depan umum, agar masyarakat mengetahui sekaligus mengambil pelajaran bahwa Islam ingin mensucikan hubungan pernikahan, bukan perzinahan. Hukuman ini dipandang kejam oleh sebagian umat Islam. Namun hanya hukuman inilah yang akan dapat menentramkan, dan melestarikan keluarga sakinah mawaddah wa rahma. Ingatlah zina merupakan dosa yang terbesar setelah syirik kepada Allâh.

  1. Ampunan Allâh Terhadap Manusia

Segeralah kepada ampunan Allâh, sebab Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Islam adalah agama yang benar (lihat QS. al-Taubah/9: 33) menurut yang kita pahami. Semua isme-pun menganggap ialah yang benar. Jadi untuk itu kita punya argumen yang benar tentang masalah ini bahwa selain Islam akan tertolak dan ia termasuk orang yang merugi (lihat QS. Ali `Imrân/3: 85). Hal ini berlaku, karena Allâh telah memberi kesempatan untuk bertobat sesudah kafir (lihat QS. Ali `Imrân/3: 89 dan al-Nisâ’/4: 146) mengapa lagi Allâh menyiksa mereka jika mereka telah beriman dan bersyukur (lihat QS. al-Nisâ’/4: 147). Kecuali orang-orang yang kafir dan bertambah kekafirannya dan mati dalam keadaan kafir, Allâh tidak akan menerima tobatnya (lihat QS. Ali `Imrân/3: 90-91).

B.     Hukum Nikah

Nikah hukum asalnya menurut ahli fiqih adalah sunat (lihat surat al-Nisâ’/4: 3). Ini pendapat Jumhur Ulama termasuk Imam Syafi’i. Adapun hukum nikah wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram hanyalah berdasarkan keadaan saja.

  1. Wajib

Seseorang wajib nikah apabila ia mampu (lahir bathin), kuat keinginan untuk kawin dan dikhawatirkan ia akan jatuh pada perbuatan dosa/zina jika tidak melaksanakan pernikahan atau tidak kawin.

  1. Sunat
20

Seseorang sunat nikah apabila seseorang itu mempunyai kemampuan (lahir bathin) untuk kawin, dan punya keinginan yang kuat untuk kawin, tapi jika ia tidak nikah, maka ia tidak akan terjerumus pada perbuatan dosa.

  1. Mubah

Seseorang mubah hukumnya melakukan akad perkawinan apabila tidak ada hal-hal yang mendorongnya untuk kawin. Ia hanya mampu lahir bathin.

  1. Makruh

Makruh terhadap orang yang mampu lahir bathin, tapi tidak mampu memberi nafkah atau menghalangi bagi seseorang kepada memenuhi kewajibannya seperti seseorang dalam keadaan menuntut ilmu (belum punya penghasilan untuk menafkahi isterinya).

  1. Haram

Seseorang haram menikah apabila dilakukan perkawinan, akan terzalimi kehidupannya. Atau Seseorang haram nikah apabila ia bermaksud jahat terhadap perempuan yang akan menjadi isterinya.

C.    Tujuan Pernikahan

Perkawinan dalam Islam bukan saja bertujuan untuk menghalalkan hubungan seks antara seorang pria dengan seorang wanita, tapi perkawinan mempunyai tujuan yang sangat mulia dihadapan Allâh subhânahu wa ta`âlâ. Adapun tujuan perkawinan itu adalah:

  1. Menyalurkan libido seksualitas (lihat firman Allâh QS. al-Baqarah/2: 233).

Penyaluran libido (nafsu seks) keperluan manusia yang harus dipenuhi. Menurut Piere Janet (1859-1947), kemudian dikuatkan oleh Siegmund Freud mengatakan bahwa manusia hidup digerakkan oleh dua keperluan utama yaitu:

  1. Keperluan kepada makan dan minum, untuk mempertahankan kesehatan jasmani.
  2. Keperluan kepada seks untuk mempertahankan keturunan

Oleh sebab itu haram bagi perempuan jika ia menolak ajakan suaminya berhubungan seks. Sabda Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam, “Bila seorang suami memanggil isterinya untuk memenuhi keperluan seksualnya hendaklah ia penuhi sekalipun ia di atas cerobong yang tinggi”.

  1. Memperoleh keturunan yang shaleh (QS. al-Syûra/42: 49-50).
  2. Memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman (QS. al-A’râf/7: 189).
  3. Mengikuti sunnah Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam.
  4. Menjalankan perintah Allâh subhânahu wa ta`âlâ (QS. al-Nisâ`/4: 3 dan hadits Nabi Muttafaqq ‘alaih).
  5. Untuk berdakwah (QS. Ali Imrân/3: 104).
  6. Menjaga diri dari berbuat serong, seperti free sex.

Dari tujuh point di atas dapat dipahami, bahwa menyalurkan nafsu seksual bukanlah satu-satunya tujuan dari sebuah perkawinan, tapi lebih dari itu semua adalah untuk beribadah kepada Allâh subhânahu wa ta`âlâ. Lebih spesifiknya mengembangkan keturunan, mewujudkan suatu kehidupan yang sakinah, tenteram, bahagia lahir-batin dunia yang insya Allâh juga di akhirat.

D.    Hikmah-hikmah Pernikahan
Hikmah-hikmah Pernikahan ini sudah dijelaskan oleh al-Qur’ân dan Hadits Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam, dengan mengetahui hikmah-hikmah tersebut akan mendorong seseorang untuk berusaha untuk melaksanakannya dengan benar dan penuh rasa sejuk, serta ridha apapun yang akan ia hadapi setelah itu. Hikmah-hikmah pernikahan juga akan menambah keyakinan bagi orang yang akan melaksanakannya, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:
E.     Menumbuh kembangkan naluri kebapakan bagi laki-laki dan naluri keibuan bagi perempuan. Dengan demikian sikap laki-laki dan perempuan yang punya anak berbeda dengan yang tak punya anak.

  1. Menumbuhkan aktivitas untuk berusaha dan mencari rizki yang halal (QS. al-Baqarah/2: 233).
  2. Memperteguh rasa kasih sayang (QS. al-Rûm/30: 21).
  3. Menjalin rasa persaudaraan antara dua keluarga (suami dan isteri).
  4. Mempererat persatuan dan kesatuan umat Islam pada umumnya.

Secara khusus hikmah pernikahan ini diterangkan dalam al-Qur’ân sebagai berikut:

وَمِنْءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًالِتَسْكُنُوا إِلَيْهَاوَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذاَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(21) ( سُوْرَةُالْرُوْمِ/30: 21)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. al-Rûm/30: 21)

Jadi, pernikahan merupakan suatu hal yang mulia, disamping ia menjadi penyempurna subtansi agama juga ibadah, serta pelestarian kehidupan manusia secara berkesinambungan. Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam juga menekankan masalah pernikahan ini dalam banyak hadits beliau, ini tentu menunjukkan suatu yang penting bagi kelayakan hidup kemanusiaan.

Kehidupan tidak akan lestari tanpa adanya ikatan pernikahan yang diridhai Allâh, karena apapun macam agama dan kepercayaan pasti mempunyai sebuah ikatan masalah ini, dan pernikahan memperlukan hal tersebut sebagai manusia. Dengan bangga mengatakan, “Saya adalah anak si Anu, dan Cucu si Anu”, dengan adanya ikatan tersebut, maka akan muncul nilai-nilai dan pandangan yang beragam tentang kehidupan. Hal itu jelas, akan memperindah hidup dan kehidupan kemanusiaan.

Alangkah indahnya hidup ini sekiranya pernikahan itu dijadikan sebagai tujuan mulia bukan tujuan pelepas rasa cinta pada nafsu semata, namun untuk menjadi kebanggaan sebagai manusia. Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Tanda kenabianku adalah wahyu yang Allâh turunkan, aku harapkan pengikutku di hari kiamat yang terbesar.” (HR. Bukhâriy dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiy Allâhu `anhu). Demikianlah masalah pernikahan ini mendapat tempat yang mulia dalam agama Islam, sebagai agama fitrah.

Perkembangan keluarga yang baik akan membantu memperbesar dan menambah kualitas kekukuhan islam dalam perobahan watak dan pemikiran perkembangan islam yang lebih kuat. Dengan demikian akan tercipta tatanan hidup yang harmonis. Islam pada awal perkembangannya bertolak dari pernikahan untuk mendekatkan, dan membentuk suatu kelompok islam yang dekat dan dapat dipertahankan dengan baik, yaitu dengan pernikahan antar sahabat dekat. Setelah hijrah dilakukan pernikahan antar kaum (anshar dengan muhajirin), dengan inilah tumbuh suatu masyarakat islam yang kokoh dan bermartabat, salah satu contoh, nabi menikahkan sepupunya Zainab binti Jakhsy dengan anak angkatnya Zaid bin Harisah pada tahun ke-5 hijriyah atau tahun ke-18 kenabian. Dengan tujuan untuk mengangkat derajat budak, dimana diketahui bahwa Zaid bin Harisah pada awalnya adalah budak, walaupun pada akhirnya beliau menikahi Zainab, karena sikap Zainab, yang membuat Zaid bin Harisah minder. Dan keadaan beginilah nabi dengan pertimbangan tanggungjawab beliau menikahi Zainab. Ini juga dikabarkan oleh Allâh dalam al-Qur’ân;

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allâh telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “tahan teruslah isterimu dan bertakwalah kepada Allâh”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allâh akan menyatakan, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allâh-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid bin Harisah telah mengakhiri keperluan terhadap isrerinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia (setelah habis iddahnya), supaya tidak keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Adalah ketetapan Allâh itu pasti terjadi (QS. Al-Ahzab/33: 37).

Contoh ini menggambarkan suatu penunaian tanggungjawab, untuk mempertahankan penerapan hukum. Yaitu tidak sama perlakuan hukum antara anak angkat dengan anak kandung. Hal ini juga untuk menjaga hubungan kekerabatan yang berbasiskan saling mendukung sikap, saling menghargai dan menjaga kelanggengan ikatan keagamaan.

Perobahan seperti ini akan kita lanjutkan sebagai khasanah hukum islam yang bersifat universal dan lebih kepada mempertahankan ikatan kekeluargaan dalam menerapkan rasa saling memperlukan antara pengukuhan tanggungjawab dengan kepentingan agama di atas kepentingan rasa pesimisme. Ini terbukti dalam pernyataan Zaid yang selalu mengeluhkan sikap Zainab, namun nabi menasehati untuk mempertahankan pernikahan itu, tapi gagal.  Disamping itu perintah Allâh.

Saudaraku yang memiliki keimanan kepada Allâh, kewajiban yang mutlak bagi komponen rumah tangga menjaga keutuhan dan kelanggengan keluarganya. Begitu banyak berita bahkan kejadian nyata yang sampai ketelinga kita tantang keretakan rumah tangga, seperti berita yang dimuat surat kabar Republika: terbitan Rabu, 2 Maret 2005, tentang kasus perceraian sebagai berikut;

“Jumlah permohonan cerai di Pengadilan Agama (PA) Jakarta Timur meningkat menjadi 170 permohonan per bulan pada awal tahun 2005 dari sebelumnya tercatat paling banyak 120 permohonan per bulan. Dari permohonan cerai yang masuk sebanyak 15 persen dicabut kembali dan perceraian dibatalkan, sisanya berlanjut hingga putusan. Sebagian besar, pasangan suami isteri yang mengajukan permohonan cerai di Pengadilan Agama Jakarta Timur adalah pasangan muda yang baru dua hingga tiga tahun menikah. “Biasanya mereka berusia 21 hingga 27 tahun, masih dibawah 30 tahun. Itu baru di Pengadilan Agama Jakarta Timur, belum di daerah-daerah lain. Na`udzubi Allâhi min dzâlik.

Semoga keluarga-keluarga yang lain menjadikan ini sebagai pelajaran yang berarti. Dan mampu memacu semangat untuk menjaga keutuhan keluarga yang merupakan anugerah Allâh yang sangat terhormat ini.

Begitu hati-hati dan mulianya Islam mengatur masalah pernikahan ini, karena disamping bernilai ibadah, juga bernilai sosial yang terpenting untuk membangun sebuah masyarakat madani atau beradab dan bermartabat.

Masalah pernikahan bukanlah perbuatan main-main, setelah akad nikah boleh melakukan apa saja, itu bukan ajaran islam, dan tidak pula tertutup kemungkinan untuk berpisah (thalaq), atau dapat rujuk kembali. Apa, bagaimana syarat yang harus dipenuhi dalam proses perpisahan tersebut apakah boleh atau apakah haram, berikut  kita bahas.[10]

Penulis mengkhususkan pembahasan setelah ini dengan orientasi Akad Nikah dan Permasalahannya yang mempunyai komponen Rukun dan Syarat Nikah serta sebab putusnya pernikahan.

BAB II

AKAD NIKAH DAN PERMASALAHANNYA

A.  Rukun dan Syarat Nikah

Rukun Nikah harus dipenuhi, sebagaimana disyari`atkan Ajaran Islam, seterusnya ijma’ ulama tentang masalah tersebut. Sedangkan Syarat Nikah, masih ada alternatif minimal dapat menggantikan syarat yang tidak ada atau terhalang untuk dipenuhi, seperti wali nasab yaitu ayah mempelai perempuan tidak bisa menghadiri untuk menjadi wali, karena sakit yang tak memungkinkan menjadi wali nikah, maka hal itu dapat beralih kepada kakek mempelai perempuan dan seterusnya. Menikahkan anak perempuan dewasa termasuk hal yang mesti disegerakan. Bahkan dalam riwayat Ibnu Syahin, dari `Aisyah: “Siapa yang menikahkan anak perempuannya, maka kelak pada hari Kiamat Allâh akan memberikan mahkota kepadanya.” Islam tidak akan mempersulit penyelenggaraan pernikahan, bahkan mempermudah dengan dalil fitrah manusia yang tak mungkin dielakkan.

  1. Rukun Nikah itu ada tiga, yaitu :
    1. Suami
    2. Istri dan
    3. Ijab dan Qabul
30

Pertama: Suami, disyarat hendaknya suami itu tertentu (bukan yang tidak dikenal) syarat lainnya adalah hendaknya suami seorang pria yang halal (atau tidak muhrim)

Kedua: Istri, disyaratkan dalam hal ini  hendaknya isteri itu tertentu dan bukan wanita yang diharamkan untuk dinikahi oleh seorang suami karena adanya satu diantara beberapa pencegah nikah, yaitu: sedang dalam `iddah, wanita itu akan menjadi isteri kelima, wanita yang masih muhrimnya.

Ketiga: Ijab dan Qabul, Ijab adalah ungkapan yang pertama kali di ucapkan calon menantu atau suami, seperti : “Nikahkanlah putrimu dengan aku”. Dan Qabul adalah ungkapan yang kedua diucapkan oleh wali seperti ucapan, “Saya terima”.

2.   Syarat-syarat Nikah itu adalah:

  1. Adanya calon suami dan calon istri
  2. Wali nikah
  3. Dua orang saksi
  4. Ijab dan Qabul
  5. Maskawin atau mahar

1)     Calon Suami-Calon Isteri

Calon suami atau calon isteri adalah rukun nikah untuk dapat dilangsungkan pernikahan antara kedua calon mempelai, hendaklah diperhatikan hal-hal yang menghalanginya melaksanakan pernikahan. Dalam Islam perempuan yang haram dinikahi ada dua kelompok :

a)  Kelompok Perempuan yang Haram Dinikahi

(1)  Haram Dinikahi untuk Selamanya, yaitu:

(a)    Ibu kandung

(b)   Anak perempuan kandung

(c)    Saudara perempuan

(d)   Bibi dari pihak ayah

(e)    Bibi dari pihak ibu

(f)    Anak perempuan dari saudara laki-laki

(g)   Anak perempuan dari saudara perempuan (QS. Al-Nisâ’/4: 23)

(h)   Anak tiri perempuan yang ibunya sudah digauli

(i)     Isteri anak kandung

(j)     Ibu tiri

(k)   Ibu sepersusuan

(l)     Anak perempuan sepesusuan

(m) Saudara perempuan sepesusuan

(n)   Saudara perempuan dari bapak susuan

(o)   Saudara perempuan dari ibu susuan

(p)   Anak saudara perempuan sepesusuan

(2) Kelompok yang haram dinikahi untuk sementara waktu:

(a)     Mengumpulkan dua orang yang bermahram (bersaudara) (QS. Al-Nisâ’/4: 23) atau mengumpulkan seorang perempuan dengan saudara ayahnya ataupun saudara ibunya (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

(b)    Mengawini isteri orang lain yang masih dalam `iddah (QS. Al-Nisâ’/4: 24)

(c)     Mengawini kembali isteri yang telah ditalak tiga (QS. Al-Baqarah/2: 230)

(d)    Larangan karena sedang ihram (HR. Muslim)

(e)     Mengawini perempuan pezina (QS. Al-Mâidah/5: 5)

(f)     Mengawini perempuan musyrik (QS. Al-Baqarah/2: 221)

2)   Wali Nikah

Wali nikah adalah rukun nikah yang mesti ada apabila terjadi pernikahan antara calon suami dan calon isteri. Dengan syarat-syarat sebagai berikut;

a)     Syarat-syarat Seorang Wali

Untuk menjadi seorang wali dalam sebuah pernikahan hendaklah mempunyai tujuh kriteria sebagai berikut: Bertanggung jawab, Bijaksana, Adil, Pria, Seagama, dan Merdeka. Juga, Tidak dalam keadaan ihram (akad nikah dilarang baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain sebagai wali atau wakil) Sebagaimana diriwayatkan  oleh Imam Muslim dari `Usman bin `Affan bahwa Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda,

(لاَيَنْكِحُ اْلمُحْرِمُ, وَلاَيُنْكِحُ, وَلاَيَخْطُبُ).رَوَاهُ التُّرْمُذِىُّ وَلَيْسَ فِيْهِ”وَلاَيَخْطُبُ” وَقَالَ حَدِ ْيثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ)

“Tidak Boleh Orang yang sedang ihram itu nikah, tidak menikahkan dan tidak pula meminang!” Riwayat al-Tirmidziy tanpa kata : “Dan tidak meminang”. Menurutnya hadits ini hasan shahih).

Ini diamalkan oleh shahabat-shahabat Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam, dan Imam Malik, Syafi`i, Ahmad dan Ishak. Sedangkan masalah Nabi menikahi Maimunah, itu sebagian mengatakan, “Nabi menikahinya selagi dalam keadaan halal, namun berita pernikahan tersebut tersebar sewaktu beliau sedang ihram. Kemudian beliau menggaulinya dalam keadaan halal, yaitu di Saraf, dalam perjalanan ke Makkah. Sebaliknya golongan Hanafi berpendapat melangsungkan pernikahannya dibolehkan, yang dilarang itu melakukan senggama. Bukan sahnya `akad. Berdasarkan hadits di atas, bahwa Nabi menggauli Maimunah pada saat halal.

Pendapat lain mengemukakan, ada lima syarat jadi seorang Wali: Orang mukallaf, Muslim (QS. Ali `Imrân/3: 28). Muslim adalah orang yang patuh, tunduk serta menyerahkan diri kepada Allâh sepenuhnya, Berakal sehat (layak untuk  menjadi wali nikah), Laki-laki (tidak boleh dari wanita), dan Adil (mampu membedakan mana yang sah dan yang batal). Yang bertindak menjadi wali dalam pernikahan ada tiga macam; Wali Nasab, Wali Hakim, dan Wali Mujbir. Berikut keterangannya.

(1)     Wali Nasab

Wali nasab adalah wali yang kedudukannya dikelompokkan kepada beberapa kelompok, dimana yang satu dengan yang lainnya didahulukan dari kelompok yang lainnya berdasarkan erat tidak susunan kekerabatan dengan calon mempelai wanita. Kelompok itu adalah:

Kelompok pertama adalah kerabat laki-laki garis lurus ke atas: ayah, kakek dari pihak ayah dan seterusnya, Kelompok kedua adalah kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah dan keturunan anak laki-laki mereka. Kelompok ketiga adalah kelompok kerabat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara laki-laki seayah dan keturunan anak laki-laki mereka, Kelompok keempat adalah saudara laki-laki kandung kakek, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara laki-laki seayah dan keturunan anak laki-laki mereka. Kelompok urutan wali di atas harus diikuti, artinya jika kelompok pertama tidak ada, maka wali beralih pada kelompok berikutnya. Begitulah struktur syari`at yang diajarkan oleh Islam.

(2)   Wali Hakim

Wali hakim adalah wali yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau yang diberi hak dan wewenang untuk bertindak sebagai wali nikah. Wali nasab beralih kepada wali hakim apabila Ada pertentangan diantara wali. Bilamana wali nasab tidak ada atau ada tetapi tidak mungkin dihadirkan, atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau hilang ‘adhal/enggan. Terlepas dari sikap tidak menyetujui pernikahan terjadi. Alasan tersebut dapat dianggap tidak membatalkan akad.

(3)   Wali Mujbir

Wali mujbir adalah wali yang berhak memaksa seseorang untuk menikah, dikarenakan dia mampu memenuhi nafkah lahir bathin, dan karena umurnya sudah pantas untuk nikah (marriageable).

Para ulama berselisih paham tentang disyaratkan sifat adilnya para wali, yang benar adalah hal itu tidak disyaratkan, pendapat ini dipilih oleh sebagian besar ulama ternama seperti Ibnu Qudamah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Abdurrahman As-Sa`ady dan Muhammad bin Ibrahim. Berkata Syaikh Muhammad Ibrahim, “Yang benar dalam hal ini adalah bahwa ayah dari wanita adalah memiliki anak putrinya, walaupun keadaan ayah itu adalah buruk, maka status kewaliannya adalah sah”.

Jika wanita dinikahkan tanpa seizin walinya maka pernikahan itu batal, dan jika si pria telah menyetubuhi wanita itu maka wajib bagi istrinya untuk menerima mahar untuk menebus kehormatan yang telah dihalalkan dari wanita itu, jika mereka bertengkar, maka pemimpin kaum itu menjadi wali untuk orang yang tidak memiliki wali”. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abû Dâud dan Al-Tirmidziy, ia berkata, “Hadits Hasan dari Aisyah radhiy Allâhu `anha”.

3).    Dua Orang Saksi

Saksi adalah orang yang akan menjadi saksi dalam sebuah pernikahan. Menurut Sayyid Sabiq, saksi itu hendaklah:  Berakal (punya ilmu tentang pernikahan), Dewasa (Baligh), Pendengarannya mantap (dapat menangkap pembicaraan orang), Dan dalam hal ini saksi harus `adil (tidak mempunyai sifat tercela).

4).    Ijab Qabul

Ijab adalah kata-kata yang diucapkan wali mempelai wanita atau wakilnya. Dan Qabul adalah ucapan menerima pernikahan yang diucapkan oleh mempelai laki-laki. Halalnya menggauli seorang wanita disebabkan “kalimah Allâh”, dalam hal ini aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allâh dan Rasul-Nya.

38

Sebelum pelaksanaan Ijab Qabul, hendaknya dalam penentuan hari dilaksanakannya pada hari yang tidak ada keberatan atau kemudharatan bagi kedua mempelai. Seperti pada hari dimana calon isteri mesti dalam masa suci, sehingga tidak mengganggu dalam menjalankan malam pertama kedua mempelai. Walaupun tidak termasuk rukun dan syarat syar`i. inilah yang dijaga oleh sebagian adat, seperti adat Minang Kabau dalam penetapan hari pernikahan atau pelaksanaan akad nikah semua yang berhubungan dengan hubungan keluarga, mamak (paman), kemenakan hadir pada hari penetapan tersebut, istilah yang dipakai adalah “manantuan hari” atau menentukan hari akad dan atau pernikahan, serta kapan di adakannya walimah (perayaan pernikahan) ini termasuk sunnah.

Dalam acara akad yaitu ijab dan qabul kita harus memperhatikan, seperti dalam contoh berikut;

Contoh ucapan ijab dan qabul :

Ucapan wali: “Wahai .. (nama mempelai laki-laki) .. aku kawinkan (nikahkan) engkau dengan anakku …(nama mempelai perempuan)… dengan mas kawinnya …(sesuai konfirmasi dengan mempelai perempuan)… tunai. ”Jawaban mempelai laki-laki, “Aku terima nikahnya (menikahi anak bapak) …(nama mempelai perempuan)… dengan maskawin …(seperti yang diucapkan oleh wali)… tunai.” Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada waktu akad nikah:

Sebaiknya akad nikah dimulai dengan kalimat لاَاِلَهَ اِلاَّالله  “tidak ada Tuhan selain Allâh” dan ucapan بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ   “Dengan nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang“. Antara ucapan ijab (perkataan wali) dengan ucapan qabul (jawaban mempelai pria) jangan sampai terputus beberapa saat.

Ucapkanlah kata-kata ijab dan qabul itu dengan sepenuh hati karena ia adalah perjanjian sakral. Pada Allâh dan pada diri sendiri yang akan mengarungi bahtera rumah tangga. Hendaknya terlebih dahulu memberi nasehat kepada mempelai laki-laki, seperti yang dilakukan Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam terhadap `Ali bin Abi Thalib waktu menikahkan anaknya Fathimah dengan `Ali bin Abi Thalib. Hendaknya masing-masing pihak benar-benar ikhlas dan konsekwen atas janji tersebut.

a)    Syarat Ijab Qabul

(1)   Satu Majelis (tempat yang sama) dan waktu yang sama.

(2)   Tidak diselingi apapun di antara sighat Ijab dan Qabul tersebut, atau dengan kegiatan lain. Lafazh ijab dan qabul boleh dituliskan.

(3)   Ikhlas hanya karena Allâh.

5).  Maskawin atau Mahar
40

Mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum islam. Hukumnya wajib menurut kesepakatan para ulama merupakan salah satu syarat sahnya nikah.

Sebagai mana sabda Rasul Allâhu `alaihi wa sallam,

اَيُّمَااْمرَأَةٍنَكَحَتْ بِغَيْرِ اِذْنِ وَلِيِّهَافَنِكَاحِمَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَافَلَهَاالْمَهْرُبِمَااسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَافَإِنِ اسْتَجَرُوافَالسُّلْطَانُ وَلِىُّمَنْ لاَ وَلِىَّلَهَا.

“Apabila wanita menikah tanpa izin walinya maka nikahnya batal, apabila ia digauli, maka ia berhak menerima mahar sebagai penghalalan farj-nya.” (Dari `Aisyah, diriwayatkan Imam yang empat kecuali al-Nasâ’i).

Tidak ada ketentuan hukum yang disepakati tentang batas maksimal pemberian mahar, demikian juga batas minimalnya.

B. Putusnya pernikahan

Pernikahan adalah sebuah hubungan syari`at yang disyari`atkan, dalam hal ini ia memiliki berbagaimacam pilihan dan aturan, maka dalam islam ikatan pernikahan disebut dengan sunnah dan sekaligus sunnah Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam. Pilihan dimaksud adalah perceraian, apabila terdapat hal-hal tertentu yang tidak mungkin lagi diredam baik secara syari`at maupun yuritis (baik konvensional maupun agama). Prof. Hamka  Mengatakan, “Hubungan ayah dan anak, adik dan kakak, dan lain-lain, tidaklah dapat dipisahkan. Yang dapat diputuskan hanya hubungan suami isteri.” Jadi walaupun ungkapan ini agak pahit, namun itulah kenyataan. Yang terpenting adalah bagaimana kelanggengan dalam Rumah Tangga tercipta dengan amanah, baik amanah Allâh, maupun amanah masing-masing anggota keluarga, yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Secara spesipik yaitu Suami, Isteri, Anak, Keluarga suami, dan Keluarga isteri. Adapun hal-hal yang bersifat syar`i yang dapat memutuskan hubungan pernikahan adalah sebagaimana akan diterangkan setelah ini.

  1. Putusnya pernikahan dikarenakan delapan hal sebagai berikut:
    1. Karena di Thalaq (QS. Al-Baqarah/2: 230)
    2. Karena Khulu` (QS. Al-Baqarah/2: 229)
    3. Karena Mulâ`anah (QS. Al-Nûr/24: 6-10)
    4. `Ila`
    5. Wafat Salah Seorang dari Mereka
    6. Suami-isteri Kafir Kemudian Isterinya Masuk Islam (QS. Al-Mumtahanah/60: 10)
    7. 42

      Bila Isteri Murtad yang lari dari suaminya kedaerah kafir (QS. Mumtahanah/60 : 11), kecuali dalam keadaan dipaksa (QS. Al-Nahl/16: 106), Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat. Dan sesungguhnya seseorang mendapat apa yang diniati itu. Hal ini bukan berarti seseorang yang berkata, “Sayakan melakukannya atas rasa cinta, akan tetapi niat saya tak seperti itu”, hal ini akan berdampak pada meremehkan ajaran agama islam. Jelasnya ia berbuat seperti itu tidak ada dasar dalil yang membolehkan tindakan tersebut.

  1. Karena Melanggar Perjanjian Ta`liq Thalaq, yang diikrarkan pada saat akad nikah dilaksanakan didepan kedua belah pihak orang tua, keluarga dan kaum muslim lainnya.

Keterangan:

Karena Thalaq, ucapan yang muncul dari suami. Talak itu hanya dua kali, setelah itu tidak boleh rujuk kembali, kecuali mantan isteri tersebut nikah dan cerai dengan laki-laki lain, setelah itu dirujuki dengan cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik pula (QS. Al-Baqarah/2: 229). Kalau seandainya seorang suami mengucapkan terhadap isterinya talak, tiga sekaligus, maka hanya dihitung satu, sebagai ketetapan bagi sang isteri, sebagaimana sabda Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam dari Ibnu Abbas berikut:

اَلطَّلَقُ ثَلاَثٌ وَاحِدَةً.

“Talak tiga sekaligus adalah berlaku satu (thalaq).”

Karena Khulu`, adalah adanya keinginan bercerai dari isteri dengan mengembalikan mahar yang telah diberikan oleh suami atau permintaan cerai pada suami dengan pembayaran yang disebut `iwadh (QS. Al-Baqarah/2: 229). Berlakunya talak berdasarkan pengaduan isteri atas perlakuan suami terhadap isterinya, maka berlakulah talak untuk diri sang isteri. Hal ini boleh karena sikap atau sifat suami terhadap isteri, sebagaimana sabda Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam,

مَنْ عَلَقَّ طَلاَقًابِصِفَةِ وَمَعَ بِوُجُوْدِهَا عَمَلاًبِمُقْتَضِ اللَّفْظِ.

Siapa saja yang menggantungkan talaknya pada suatu sifat, maka jatuhlah talak tersebut dengan terwujudnya sifat menurut zhafir bunyi ucapan tersebut.”

Karena Mulâ`anah, adalah isteri tidak mau menerima tuduhan suami, tentang ia berbuat zina, berbuat serong dengan laki-laki lain, lebih luas lagi, lesbian. Maka sang suami bersumpah atas nama Allâh empat kali bahwa “tuduhannya itu benar”, dan yang kelima “bahwa ia akan dilaknat oleh Allâh kalau berdusta”.  Jika jelas sang suami berdusta maka hukumannya 80 kali dera, kesaksiannya tidak diterima selama-lamanya, kecuali dia bertobat dengan sebenar-benarnya (QS. Al-Nûr/24: 4-5). Hal ini berdasarkan empat orang saksi.

Karena `Ila`, adalah suami bersumpah tidak akan mencampuri isterinya. Dengan sumpah ini seorang wanita menderita, karena tidak disetubuhi dan tidak pula diceraikan. Setelah empat bulan harus memilih antara kembali menyetubuhi isterinya lagi dengan membayar kafarat sumpah[11] atau menceraikannya. Atau `Ila’ disebut juga sumpah suami untuk tidak menggauli isterinya sampai waktu empat bulan berturut-turut. Sumpah berlaku hanya dengan diiringi nama Allâh.

Seorang putus hubungan perkawinannya karena salah seorang diantaranya meninggal dunia. Baru boleh nikah lagi setelah habis masa iddahnya sang isteri selama empat bulan sepuluh hari (QS. Al-Baqarah/2: 234). Sekaligus sebagai hari berkabung sang isteri.

Jika suami isteri itu kafir kemudian masuk Islam, maka sejak ia masuk Islam itu perkawinan dengan suaminya terputus, dan pihak isteri mengembalikan mas kawin yang pernah diterima dahulu dari suaminya. Menurut Imam Syafi`i, wajib isteri mengembalikan mahar itu jika suami memintanya, jika suami tidak memintanya, maka mahar itu tidak wajib dikembalikan (menurut sebagian ulama, “orang-orang yang telah melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin mahar tersebut wajib dikembalikan, jika tidak hal tersebut tidak wajib). Hal ini berkaitan dengan firman Allâh berikut (QS. Al-Mumtahanah/60: 10).

“Hai orang-orang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allâh lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allâh yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Mumtahanah/60: 10)

46

Bila isteri murtad yang lari dari suaminya kedaerah kafir (dalam perang), maka ketika ia berhasil lagi menguasai daerah itu suami menawan bekas isterinya itu, maka bekas isterinya itu boleh diambilnya kembali dengan membayar kembali mahar yang telah diterima oleh isteri dari suami yang kafir itu.

Putusnya hubungan pernikahan juga dapat dikarenakan ta`liq thalaq, yaitu apabila suami tidak memberi nafkah isteri selama dua tahun berturut-turut dengan pembayaran `iwadh (besar uang `iwadh ditentukan oleh Kantor Urusan Agama setempat) atau dengan alasan yang jelas, seperti karena sifat suami yang menelantarkan dan atau acuh terhadap keluarga. Terhadap pelanggaran demikian berdasarkan asas saling menghargai dalam hubungan pernikahan, dijatuhkan ganjaran oleh hakim. Ta`liq Thalaq diikrarkan oleh suami setelah akad nikah, yang isinya antara lain jatuh satu talak terhadap isteri bila selama dua tahun berturut-turut meninggalkan isterinya, dan isteri berhak menuntut cerai dengan `iwadh apabila tidak menafkahi isterinya selama enam bulan berturut-turut. Begitu janji yang dibuat oleh suami terhadap isterinya, ini pada hakekatnya adalah sumpah, karena pada awal pengikrarannya disebut nama Allâh. Maka hal tersebut berlaku sebagai hal yang berlaku menurut syari`at kalau hal tersebut terjadi.

  1. Pemberian Mut`ah oleh suami:

Pemberian Mut`ah sesuai dengan kemampuan suami pada isteri yang diceraikannya secara baik-baik. Yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang bertaqwa. Jika isteri yang diceraikan itu belum dicampurinya, maka masa `iddah tidak berlaku baginya, begitu juga pemberian mut`ah, bahkan maskawin atau mahar. Mahar bila tidak disebutkan waktu akad nikah, maka nikahnya tetap sah. Kalau telah ditetapkan mahar, lalu terjadi perceraian dari suami, maka suami sebelum digauli, suami harus mengeluarkan separoh dari mahar yang ditetapkan, jika sama-sama redha hal itu tidak menjadi kewajiban.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اِنَّ اَعْظَمُ النِّكَاحِ بَرَكَةً اَيْسَرُ هُ مُؤْنَةً. (رَوَاهُ اَحْمَدْ)

“Sesungguhnya sebesar-besar barakah nikah adalah yang sederhana maharnya”. ( HR. Ahmad ).

Sebagaimana maksud firman Allâh; “Dan jika seseorang dari isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allâh Yang kepada-Nya kamu beriman”. (QS. Mumtahanah/60: 11)

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Hasan diterangkan bahwa ayat ini diturunkan (QS. Mumtahanah/60: 11), berhubungan dengan peristiwa Ummul Hakam binti Abi Sufyan yang telah murtad dan melarikan diri dari suaminya, kemudian ia nikah dengan seorang laki-laki Bani Tsaqif. Ayat ini memerintahkan agar mas kawin yang diterima Ummul Hakam dari suaminya Bani Tafsir itu dikembalikan dan diambikan dari harta rampasan perang dan Ummul Hakam kembali kepada suaminya semula.

Menurut riwayat Ibnu Abbas, mas kawin itu diambil dan diberikan kepada suami yang kafir sebelum harta rampasan perang dibagi lima sebanyak yang pernah diberikan suami yang kafir kepada Ummul Hakam.

Syarat-syarat sahnya akad nikah ada enam antaranya diperselisihkan oleh para ahli Fiqih, yaitu: Saling meridhai, Wali wanita, Saksi nikah, Maskawin, Suami isteri sama-sama menjaga kehormatan, dan Kesepadanan (diperselisihkan).

  1. Masa `Iddah

Masa `Iddah adalah merupakan masa dimana perempuan dibolehkan nikah lagi dengan laki-laki lain. Dalam masa `iddah mantan suami boleh rujuk kembali  pada mantan isterinya, tidak boleh bagi laki-laki lain, kecuali sudah habis masa `iddahnya. Selang waktu tersebut telah diterangkan dalam al-Qur’ân dan hadits, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut: Tiga kali suci `iddah bagi wanita masih haid (QS. al-Baqarah/2: 228), Tiga bulan bagi isteri yang tidak haid lagi (QS. al-Thalâq/65: 4). Empat bulan sepuluh hari untuk isteri yang ditinggal wafat suaminya (QS. Al-Baqarah/2: 234), dan Sampai melahirkan bagi yang hamil (QS. Al-Thalâq/65: 4). Bila berkumpul dua sebab timbulnya `iddah, maka dipilih masa yang terpanjang. Seperti `iddah bagi wanita yang sedang hamil yaitu sampai melahirkan, dan `iddah ditinggal wafat suaminya empat bulan sepuluh hari. Maka yang berlaku masa yang terpanjang yaitu sampai melahirkan. Kecuali wanita yang kawin hamil, ia tidak terhalang oleh masa iddah. Karena masa iddah hanya dikarenakan oleh adanya pernikahan yang sah menurut syari`at Islam.

Dalam masa `Iddah, seorang laki-laki mengungkapkan hasrat ingin menikahi wanita yang masih dalam masa `iddah diperbolehkan dengan sindiran dengan ungkapan yang baik, dan dilarang ber-`azam (memastikan janji) untuk menikahinya, sampai habis masa `iddahnya (QS. Al-Baqarah/2: 235). Sikap ini akan memberikan hiburan dan membuat isteri yang ditinggal mati atau diceraikan suaminya tidak terbebani jiwanya. Walau bagaimanapun situasi begini tentu akan membuat isteri yang ditinggal mati suaminya stres.

  1. Hakekat Akad Nikah

Seperti diketahui bahwa akad nikah adalah acara sakral, maka dalam lafazh itu terkandung ungkapan menyerahkan amanat oleh wali kepada seorang laki-laki (mempelai laki-laki). Selanjutnya suamilah yang berkewajiban melanjutkan tugas orang tua perempuan (mertua), dengan sebaik-baiknya. Simak Firman Allâh QS. Al-Nisâ’/4 : 19 berikut;

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS. Al-Nisâ’: 19), “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembangbiak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-Rûm/30: 20-22).

Mengingat masalah pernikahan adalah ibadah yang sakral dan mempunyai risiko hukum yang sangat memungkinkan terjadinya pengharaman pada waktu yang tidak kita sadari, maka kita harus memperhatikan dan mengaplikasikan hadits berikut, “Empat hal yang dibolehkan jika keempat hal itu diucapkan, yaitu : “Thalaq, memerdekakan (hamba sahaya), Nikah dan Nadzar.” Diriwayatkan dari Umar radhiy Allâhu `anhu dan Berkata Ali radhiy Allâhu `anhu : “Tidak ada gurauan dalam keempat hal itu.” Yang dimaksud dengan gurauan di sini adalah bermain-main dengan menyebut suatu ungkapan yang bukan pada tempatnya, seperti seorang berkata, “Aku nikahkan kamu dengan putriku“, Sementara ia sendiri tidak bermaksud menikahkan putrinya itu dengan lawan bicaranya yang laki-laki, demikian maksud pendapat Ali bin Abi Thalib sebagaimana tersebut di atas.

52

Hal yang terpenting dalam kehidupan di dunia ini adalah kebahagiaan, sesuai dengan tujuan kehidupan manusia “sebuah proses penyempurnaan”, sebab di akhirat tidak ada lagi penyempurnaan yang kita alami seperti di dunia ini. Dan dunia ini diibaratkan seperti ungkapan, “Dunia tempat beramal, dan akhirat adalah tempat menerima ganjarannya”, sesuai dengan apa yang kita usahakan di dunia, kita renungkan hadits ini,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الْصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْحَنِيْءُ. وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ الْسُوءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ الْسُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيَّقُ. (رَوَاهُ أَحْمَدٌ وَ إِبْنُ حِبَّانٌ).

“Empat hal yang merupakan kebahagiaan, yaitu: wanita shalehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman. Empat hal yang merupakan penderitaan, yaitu: tetangga yang jahat, istri yang jahat, kendaraan yang buruk dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Maksudnya adalah wanita yang shalehah adalah wanita yang patuh pada ajaran agama, suami, dan menjaga hati suaminya, pandai menjaga kehormatan dan martabatnya dan keluarganya. Rumah yang luas adalah tempat tinggal yang sarat dengan nilai-nilai religius, saling amanah (mempercayai), terhindar dari bau keduniaan (hingga dapat melupakan perintah ingat kepada Allâh) kalau begitu halnya Allâh-lah satu-satunya pembimbing keluarganya mereka (QS. Al-Munâfiqûn/63: 9), sehingga ia akan berkata, “rumahku adalah sorgaku”. Karena menikah itu separoh dari agama, sebagaimana sabda Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam,

اِذَاتَزَوَّجَ اْلعَبْدُفَقَدِاْستَعْمَلَ نِصْفُ اْلدِّيْنُ فَاْليَتَّقِ اللهَ فِي اْلنِّصْفِ الْبَاقِي. رَوَاهُ البَيْهَقِى.

“Apabila telah nikah seseorang, maka ia benar-benar telah menyempurnakan seruan agama. Maka hendaklah ia takut kepada Allâh pada separoh yang tinggal” (HR. Baihaqiy).

  1. Firman Allâh yang berhubungan dengan Thalaq dan Masa `Iddah

Firman Allâh yang berkaitan dengan masalah pernikahan, berikut dipaparkan:

a.  Firman Allâh tentang Thalaq dan masa `Iddah (QS. Al-Thalâq/65: 1-7),

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لاَ تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلاَ يَخْرُجْنَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لاَ تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا (1) فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَالِكُمْ يُوْعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3) وَاللاَّئِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاَثَةُ أَشْهُرٍ وَاللائَِّي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولاَتُ اْلأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (4) ذَالِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا (5) أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلاَ تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولاَتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى (6) لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا ءَاتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا ءَاتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا(7) سُوْرَةُالطَّلاَقِ/65: 1-7)

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allâh Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allâh dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allâh, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allâh mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru. Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allâh. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allâh dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allâh melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allâh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allâh niscaya Allâh menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allâh yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allâh kepadanya. Allâh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan apa yang Allâh berikan kepadanya. Allâh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan tersebut.” (QS. Al-Thalâq/65: 1-7). Menurut jumhur ulama saksi hanya diperlukan ketika pelaksanaan rujuk kembali. Dan dalam masa `iddah isteri yang ditalak suaminya, tidak boleh dipinang apalagi dinikahi oleh laki-laki lain, kecuali oleh mantan suaminya. Adapun dalam hal isteri yang ditinggal mati atau ditalak tiga oleh mantan suaminya maka boleh, dengan kata-kata sindiran yang tidak menambah beban bagi sang isteri (janda). Demikian ketetapan hukum syari`at.

b.  Isteri boleh mengajukan Thalaq dengan membayar (QS. Al-Baqarah/2: 229)

الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلاَّ أَنْ يَخَافَا أَلاَّ يُقِيْمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيْمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ . سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ (سُوْرةُالْبَقَرَةِ/2: 229)

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma`ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allâh. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allâh, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allâh, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allâh mereka itulah orang-orang yang zalim.”(QS. Al-Baqarah/2: 229).

Banyak pembayaran tesebut tidak ditetapkan oleh syari`at, hanya masalah ini ditangani oleh badan yang berwenang yaitu Kantor Urusan Agama (KUA) setempat atau telah ditetapkan oleh pemerintah. Berdasarkan kesepakatan ulama setempat. Ini mengingat adanya perubahan yang dialami.

Kebijakan seperti inilah yang perlu diperhatikan, karena ini masalah keduniaan dan demi menjaga harkat martabat sang isteri, dalam bahasa lain adalah menghargai hukum sebagai hasil ijtihad. Walau bagaimanapun kejadian semacam ini tidaklah diinginkan, kecuali karena keterpaksaan yang syar`i.

c.  Kedudukan harta waktu ber-Thalaq (QS. Al-Nisâ’/4: 20)

“Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?. Bagaimana kamu mengambilnya kembal, pada hal padahal sebagian kamu telah bergaul luas dengan sebagian yang lain dan mereka telah mengikrarkan perjanjian yang kuat.” (QS. Al-Nisâ’/4: 20-21).

Kata yang dipakai dalam masalah ini adalah “wa akhadzna minkum mitsâqan ghalizhâ” mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. Kata ini hanya tiga kali diungkapkan dalam al-Qur’ân, yaitu; (1) melukiskan ikatan suami isteri dalam al-Qur’ân surat al-Nisâ/4: 21; (2) Menggambarkan perjanjian Allâh dengan para nabi dalam al-Qur’ân surat al-Ahzâb/33: 7; dan (3) tentang Perjanjian Allâh dengan manusia dalam al-Qur’ân surat al-Nisâ/4: 154.

d. Suami berhak merujuki isterinya yang di-Thalaq sedang hamil (QS. Al-Baqarah/2: 228)

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allâh dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allâh dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para isteri mempunyai hak yang seimbangan dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai kelebihan dari pada isterinya. Dan Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah/2: 228).

Masa menunggu atau `iddah, dimaksud masa yang dimana mantan isteri halal dirujuki kembali mantan suaminya dalam status talak pertama, kedua, tidak untuk yang selanjutnya. Haram hukumnya suami merujuki isteri yang telah di talak tiga, kecuali mantan isteri telah nikah dan cerai dari orang lain (QS. Al-Baqarah/2: 230), Imam Malik meriwayatkan berdasarkan penuturan Yahya bin Sa`id dari Al-Qasyim bin Muhammad bahwa `Aisyah pernah ditanya oleh seorang laki-laki yang telah menalak isterinya (talak tiga), “Bagaimana kalau setelah talak tiga, mantan isteri tersebut menikah dengan laki-laki lain, lalu diceraikannya, padahal ia belum disetubuhi suami yang menikahinya itu?, kemudian saya nikahi lagi?”. Jawab `Aisyah, “Tidak boleh, sampai suaminya (yang menikahinya) merasakan madu kewanitaannya”. Juga diriwayatkan oleh Al-Bukhâriy, Abu Dâud, dan Al-Nasâ’i. (DR. `Abdullah Abu Al-Su`ud Badr, Tafsir Umm Al-Mu`minîn `Aisyah r.ha, hal. 187).

Seperti yang tersebut di atas (nikah cina buta) terjadi maka ini jelas meremehkan harkat dan martabat kaum wanita. Sedangkan Islam sangat menjaga dan memuliakan mereka. Dengan batasan yang proposional.

Kehormatan kaum perempuan mesti dihargai dengan sikap kasih sayang, karena kasih sayang yang dicurahkan akan menempatkan mereka pada posisi yang semestinya. Salah satu cara menghormati mereka adalah menceraikan dan merujuki dengan cara yang ma`ruf, sesuai dengan syari`at Islam.

Islam memperlihatkan keluhuran dan sangat memuliakan kaum hawa, sebagai perhiasan dalam kehidupan. Karena kata Nabi, “Sebaik-baik perhiasan adalah isteri yang shalehah.” Melalui penghargaan inilah wajar kalau kaum laki-laki menjadi bergairah apabila bergaul dengan perempuan baik-baik dan sejuk dipandang. Inilah keindahan sesungguhnya yang menenteramkan hati.

Apajadinya dunia ini tidak ada wanita, seperti yang dipraktekkan oleh kaum Jahiliyah sebelum Islam dengan membunuh anak perempuan yang lahir. Tentunya dunia menjadi sunyi dari suara sang bayi, yang membahagiakan kaum laki-laki.

BAB III

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTERI

A.    Hak dan Kewajiban Bersama Suami Isteri

Hak dan kewajiban bersama antara suami-isteri itu adalah:

  1. Hak bergaul sebagai suami isteri {(menggauli isteri sebagaimana kamu kehendaki, jangan sampai ada keinginan setelah itu bersumpah untuk tidak menggaulinya (`Ila) sehingga ia tersiksa oleh perbuatanmu (QS. al-Baqarah/2: 226, 223-224), sindiran Allâh karena mereka adalah pakaian bagi kamu (QS. al-Baqarah/2: 187), bergaul secara patut jangan dengan paksaan (QS. al-Nisâ`/4: 19), kalaupun diceraikan ceraikanlah dengan baik-baik, dan merujuki dengan baik-baik (QS. al-Baqarah/2: 229, 231), dan jangan mengambil apa yang telah kamu berikan semasa bergaul bersama mereka, kecuali khawatir tidak dapat menjalankan hukum Allâh (QS. al-Baqarah/2: 229)}. Amanat terakhir Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam saat akan wafat beliau yaitu, “Shalat 3x, dan bertakwalah kamu kepada Allâh dalam menggauli isterimu“اَلصَّلاَةُ 3× وَاتَّقُوااللهَ فِى النِّسَاءِ” . Sebab sabda Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam, “ مَااكْرَمُ النِّسَاءِ اِلاَّكَرِيْمَ” “Tidaklah pernah memuliakan seorang isteri kecuali suami yang mulia pula”.

  1. Hak saling mendapatkan warisan (masalah waris-mewarisi lihat QS. al-Nisâ’/4: 7, 8, 11, 12).

Warisan merupakan suatu yang manusiawi dalam kehidupan karena apapun usaha manusia mesti diwarisi oleh orang yang ditinggalkannya (yang masih hidup). Tentunya sebagaimana kita ketahui, semua yang kita wariskan itu haruslah hal-hal yang baik. Mengenai warisan ini Prof. DR. Achmad Ameen menjelaskan, warisan itu ialah:

اِنْتِقَالُ اْلخَصَائِصِ مِنَ اْلأُصُوْلِ اِلَىاْلفُروْعِ هُوَمَايُسَمَّى  بِاْلوَرَاثَةِ.

“Berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua), kepada cabang (anak) itu dinamakan warisan”.

Keterangan bermaksud apapun yang dapat menyerupai sifat masing-masingnya, maka hal itu dapat diwarisi, baik secara fisik (harta-benda), maupun non fisik (tabi`at, warna kulit dan sebagainya). Dalam maksud warisan di atas saling mewarisi harta kekayaan yang ditinggalkan orang yang telah meninggal. Yaitu bagi hubungan darah (nasab), dan negara (kalau tidak ada lagi yang berhak menerima warisan). Penerima waris tidak berhak atas wasiat, sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya.

  1. Sama-sama punya hak diperlakukan dengan baik (QS. Al-Nisâ’/4: 19)
  2. Hak atas anak (keturunan) (QS. Al-Baqarah/2: 124) berdo`a mendapatkan anak yang shaleh (QS. Ali `Imrân/3: 38) do`a kepada Allâh agar dianugerahi isteri dan anak untuk menyenangkan hati (QS. Al-Furqân/25 : 74) balas budi anak kepada orang tua (Al-Ahqâf/46 : 15).
  1. B. Kewajiban Suami Terhadap Isteri (Hak Isteri)

Adapun kewajiban suami terhadap isterinya adalah adalah :

  1. Membimbing Isteri pada Ajaran Agama (QS. al-Tahrîm/66: 6)
  2. Memberi Nafkah terhadap Isteri maupun Anak dari Penghasilan yang Halal (QS. Al-Thalâq/65: 7), demikian juga sabda rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam berikut;

دِيْنَارٌاَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ لِلَّهِ, ودِيْنَارٌاَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ, ودِيْنَارٌ تُصَدِّقَتِ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنَ, دِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ عَلَى اَهْلِكَ, أَفْضَلُهَا الَّذِى اَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ (رَوَاهُ مُسْلِمْ)

“Uang yang kamu nafkahkan untuk jalan Allâh, memerdekakan budak perempuan, dan sedekah untuk orang-orang miskin, serta untuk menafkahi keluarga, maka yang lebih utama adalah menafkahi keluarga” (HR. Muslim).

  1. Menempatkan (menyediakan tempat tinggal) Isteri dan Anak pada tempat yang jauh dari lingkungan yang tidak baik (QS. Ibrahîm/14: 35-36)
  2. Memenuhi Keperluan Biologis (seks) Isteri (QS. Al-Baqarah/2: 187)

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang diantara kamu janganlah sekali-kali menyamai isteri seperti seekor hewan bersenggama, tapi hendaklah ia mendahului dengan perantaraan. Selanjutnya, ada yang bertanya: Apakah perantaraan itu? Beliau bersabda, ”yaitu ciuman dan ucapan romantis”. (HR. Bukhâriy dan Muslim).

  1. Memuliakan Kedudukan Isteri (QS. al-Baqarah/2: 231)

Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam, bersabda, “orang yang paling baik diantara kamu sekalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, saya adalah orang yang paling baik terhadap keluarga saya. Tidak ada orang yang memuliakan wanita, kecuali dia sendiri orang yang paling hina”. (H.R. Ibnu Asakkir).

  1. Suami tidak perlu mencari-cari Kesalahan dan kekurangan isterinya (QS. Al-Baqarah/2 : 229, 231)

Dari Abu Hurairah radhiy Allâhu `anhu berkata, “Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin tidak boleh mencela seorang mukminat. Sekiranya ia tidak senang kepada salah satu sifat wanita itu, boleh jadi ia senang kepada sifat-sifat lainnya.” (HR. Muslim).

Bahkan Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam selalu menganjurkan untuk berdo`a, diwaktu akan bersenggama, sebagai berikut;

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ قَالَ لَوْ أَنَّكُمْ إِذَا آتَى أَهْلَهُ قَالَ : بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَقُضِىَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌلَمْ يَضُرُهُ. (رَوَاهُ الْبُخَارِى فِى اْلكِتَابِ الصَّحِيْحِهِ/كِتَابُ الْوُضُوْءِ- حَدِيْثٌ- 141)

“Dari Ibnu Abbas r.a. ia menyampaikan apa yang diterima dari Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Andaikata seseorang diantara kamu semua mendatangi (menggauli) isterinya, ucapkanlah, “Bismi Allâhi, Allâhumma Jannibnâ Syaithânâ wajannibi al-syaithânâ mâ razaqtanâ.” (Dengan nama Allâh. Ya Allâh, hindarilah kami dari syetan dan jagalah apa yang engkau rizkikan kepada kami dari syetan.” Maka apabila ditakdirkan bahwa mereka berdua akan mempunyai anak, syetan tidak akan pernah bisa membahayakannya.” (HR. Bukhâriy dalam Kitab Shahih-nya pada Kitab Wudhuk Hadits ke-141). Dan do`a yang selalu diamalkan,

اَللَّهُمَّ أَنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنْ صَحِبِ غَفْلَةِ, وَمِنْ جَارِّ سُوْءِ, وَمِنْ زَوْجٍ يُؤْذِى.

“Ya Allâh, aku berlindung dari kawan yang lalai hatinya, tetangga yang jahat, dan isteri yang menyakiti hati “. Semoga Allâh mengabulkan do`a kita.

  1. Meluruskan kesalahan isteri dengan baik

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Dari Amru bin ‘As al-Jusyami radhy Allâhu `anhuma. Sesungguhnya ia mendengar Rasul Allâh Shall Allâhu `alaihi wa sallam. berkhotbah pada haji wada’, sesudah mengucapkan Hamdalah, kemudian beliau memberi nasehat dan peringatan. Beliau bersabda, “Ketahuilah hendaklah kamu berpesan kepada isterimu dengan baik. Karena mereka itu ibarat seorang tawanan disisimu, yang kamu sekalian tidaklah memiliki kekuasaan sedikitpun lebih dari itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji dengan terang-terangan. Jika mereka melakukan itu maka kurunglah ia di dalam kamar dan pukullah dengan pukulan yang tidak menyakitkan, jika mereka telah mentaati kamu, janganlah kamu mencari-cari alasan. Ketahuilah bahwa kamu mempunyai hak terhadap isteri-isteri kamu dan isteri kamu pun punya hak terhadap diri kamu.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidziy).

  1. Dilarang berbuat aniaya terhadap Isteri (QS. Al-Baqarah/2: 231) umpamanya: Memaksa mereka minta cerai dengan jalan Khulu` (permintaan cerai kepada suami dengan pembayaran yang disebut `iwadh – QS. Al-Baqarah/2: 229).
  2. Membantu meringankan pekerjaan isteri (QS. Al-A’râf/7: 42)

10.  Memotifasi isteri untuk selalu belajar menuntut ilmu;

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang terbaik diantara kamu adalah yang mempelajari al-Qur’ân dan mengajarkannya.” (HR. Ibnu Madjah).

Juga sabda beliau, “نَوِّرُوْا بُيُوْتَكُمْ بِقِرَاءَةِ الْقُرْءَآنِ” Terangilah Rumah Tanggamu dengan bacaan al-Qur’ân.” (HR. Baihaqiy).

Mendidik anak dan memuliakan ibunya (QS. Luqmân/31 : 14)

  1. Menyamakan perlakuan yang baik terhadap anak-anak.

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda , “Samakanlah pemberian terhadap anak-anakmu sekalian sebagaimana kamu senang bilamana mereka semua sama-sama berbakti kepadamu sekalian.” (HR. Muslim).

12. Mempererat hubungan isteri dengan keluarganya (QS. Muhammad/47: 22-24). Dengan mengharap keridhaan orang tua atas hubungan tersebut. Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda,

“رِضَى اللهُ فِى رِضَى  الْوَالِدَيْنِ, وَسُخْطُ اللهِ فىِ  سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ (رَوَاهُ تُرْمُوْذِى)”

Ridha Allâh pada keridhaan Ibu Bapak, dan kemurkaan Allâh pada kemurkaan Ibu Bapak.” (HR. Turmûdziy).

Ini bermaksud, bahwa apapun yang kita lakukan dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi adalah dibawah kerelaan Ibu Bapak, tidak membedakan antara orang tua si-isteri dengan orang tua si-suami, kedua belah pihak keluarga merasakan ikatan yang berbasis keridhaan Allâh, dalam artian, jika telah mendapat restu darinya niscaya akan direstui Allâh. Dan sebaliknya jika Ibu Bapak sudah marah, maka jangan harap kasih sayang Allâh akan wujud pada kehidupan Rumah Tangga. Ingat do`a orang tua itu manjur, apabila ia tersakiti, sempat dia berdo`a yang tidak baik, maka “kualat lo!”.

  1. Membina hubungan baik dengan keluarga isteri (QS. Al-Nisâ’/4: 1)

Pembinaan keluarga dimaksudkan untuk mewujudkan jalinan cinta kasih (mawaddah wa rahmah) dalam keluarga, baik antara suami isteri, antara orang tua dengan anak-anak, maupun diantara anak-anak sendiri. Dalam surat al-Hujurat/49 ayat 13, juga mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu menjalin hubungan kekeluargaan diantara sesamanya karena silaturahmi tersebut merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allâh subhânahu wa ta`âlâ. Dalam sebuah hadits Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.” Dan pada hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau bersabda, “Silaturahmi, akhlak yang baik, dan berbuat baik kepada tetangga akan memakmurkan kehidupan masyarakat dan menambah umur (keberkahan). ”Hidup akan langgeng dan lapang dalam berbagai hal.  

  1. Dilarang memadu isteri dengan perempuan yang tidak disukainya (QS. Al-Nisâ’/4: 3-6).

Poligami atau beristeri lebih dari satu bukanlah suatu yang baru, yang dikenalkan dalam ajaran Islam. Tetapi sebelum datang Islam yang meluruskan aturan tentang poligami, poligami dilakukan tanpa batasan. Patokan dan syarat. Kemudian Islam datang dengan aturan-aturan yang diantaranya memberikan batasan dalam hal poligami, yakni bahwa poligami boleh dilakukan dengan tidak melebihi empat orang isteri sekaligus. Dan satu hal yang menjadi syarat penting, adalah kemampuan berlaku adil suami terhadap isteri-isterinya. Sebagaimana ditegaskan Allâh, “…jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja.” (QS. Al-Nisâ’/4: 3).

Hal-hal tersebut di atas untuk menghindari malapetaka penyakit menular akibat pergaulan bebas, dan menyuburkan keturunan yang menjadi salah satu tujuan dalam berkeluarga, dan untuk menegakkan syari`at Islam. Tapi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, jangan sudah jelas tidak mampu tapi mau lagi. Ini tidak dibenarkan oleh syari`at Islam.  Walaupun tujuan kita mungkin saling tolong-menolong, namun Allâh tidak akan memberatkan untuk itu asalkan niat baik, seorang isteri harus memahami.

  1. C. Kewajiban Isteri Terhadap Suami (Hak Suami)
    1. Mentaati Perintah Suami,

      Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Dua golongan yang shalatnya tidak diterima oleh Allâh, yaitu seorang hamba yang lari dari tuannya sampai ia kembali kepada mereka dan seorang isteri yang mendurhakai suaminya sampai ia taat.”  (HR. Tabraniy dan Hakim).

Namun kita berharap sebagaimana sabda Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam,

“اِذَا صَلَّتْ الْمَرْاَةِ خَمْسَهَا وَصَامَتْ رَمَضَانَ شَهْر وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَاَطَاعَتْ زَوْجَهَا (رَوَاهُ الطَبْرَانِى  وَالبَزَارِى)

“Apabila seorang wanita yang selalu melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam, berpuasa di bulan Ramadhan, dan selalu menjaga kehormatannya, serta selalu ta`at pada suaminya.” (HR. Tabraniy dan al-Bazar). Suami yang seperti inilah yang paling bahagia, sebab semua yang diungkapkan Nabi di atas itu adalah sarana amanah yang paling ampuh untuk meredam kemelut Rumah Tangga.

  1. Mengutamakan Kepentingan Suami;

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Dari ‘Aisyah, radhiy Allâhu `anha berkata, “Saya bertanya kepada Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam; siapa yang paling besar haknya kepada seorang wanita? Sabdanya, “Suaminya, aku bertanya pula, siapakah yang paling besar haknya kepada seorang laki-laki? Sabdanya, ” Ibunya” . (HR. Al- Nasâ’i).

  1. Memberikan Layanan Keperluan Biologis Suami dengan baik. Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Bila seorang suami memanggil isterinya untuk memenuhi keperluan seksualnya, hendaklah ia penuhi, sekalipun isteri itu di atas cerobong yang tinggi.” (HR. Al-Turmuziy dan al-Nasâ’i).
  2. Ajaklah dan Bantulah Suami Mempelajari Agama; Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda,

لِيَتَّخِذَ اَحَدَ كُم قَلْبًاشَاكِرًا وَلِسَانًا ذََاكِرًا وَزَوْجَةً  مُؤْمِنَةً عَلَى  أَمْرِاْلآخِرَةِ. (رَوَاهُ الْبَيْهَقِى)
“Hendaknya ada diantara kamu hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, dan isteri yang beriman  yang membantu melakukan urusan akhirat” (HR. Baihaqiy). Demikian juga sabda Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam,

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرِ مَتَاعِهَا الْمَرأَةِ الصَّالِحَةِ (رَوَاهُ مُسْلِمْ)

“Dunia adalah perhiasan, namun sebaik-baik perhiasan adalah isteri yang shalehah”. (HR. Muslim).

  1. Mencegah suami jika mencari rezki dengan cara yang haram (QS. Al-Mâidah/5: 62), Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka nerakalah yang lebih patut baginya.” (HR. Tirmidziy).
  2. Menjaga Kehormatan dan Kemuliaan Suami, Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia ini, kelak pasti isterinya dari kalangan bidadari akan mengatakan: Janganlah engkau sakiti dia, karena Allâh akan membinasakan kamu”. (HR. Ibnu Madjah, Ahmad, dan Tirmidziy).
  3. Menjaga harta suami, Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Seorang isteri tidak dibenarkan mempergunakan hartanya sendiri sebelum izin suaminya.” (HR. Thabraniy).
  4. Meringankan beban suami (QS. Al-Ahzâb/33: 28-29).
  5. Menciptakan suasana supaya Suami betah di rumah “Rumahku adalah sorgaku”. Syaikh Ahmad bin Harb berpendapat, “Apabila pada wanita terhimpun enam faktor, maka sudah cukup sempurna kebaikannya, yaitu senantiasa memelihara shalat lima waktu sehari semalam, menunjukkan taat kepada suaminya, perbuatannya selalu pada jalan yang diridhai Allâh, tidak suka mengumpat dan memfitnah, tidak terpikat oleh kemewahan hidup duniawi (QS. Al-Ahzâb/33: 28), dan sabar ditimpa musibah.

10.  Mengatur Rumah Tangga dengan baik, Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “…seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya (bila suami pergi) ia diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhâriy).

11.  Memuliakan Suami (QS. Al-Nisâ’/4: 34).

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى  النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ…(سُوْرَةُ النِّسَاءِ/4: 34).

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allâh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan),… (QS. Al-Nisâ’/4: 34).

12.  Mendidik Anak-anaknya supaya Kenal dengan Keluarganya:

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Kenalilah nasab-nasab kamu supaya kamu dapat menjalin tali kekeluargaan, sebab tidak akan menjadi dekat keluarga yang terputus, sekalipun ia kerabat dekat dan tidak akan menjadi jauh ikatan kekeluargaan apabila ia disambung, sekalipun dengan keluarga jauh.” (HR. Abu Dâud).

Ini selaras dengan firman Allâh, “Sembahlah Allâh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal bukan dalam tujuan maksiat atau orang terlantar), dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. Al-Nisâ’/4: 36).

13.  Mendorong Suami supaya Berbakti kepada Ibu Bapaknya:

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja sempat bertemu dengan ibu bapaknya kemudian ia durhaka sehingga ia dapat menyebabkan masuk neraka, berarti ia dijauhkan oleh Allâh (dari rahmat Nya) dan mendapat murka Allâh.” (HR. Ahmad) dan juga bersabda, “Keridhaan Allâh terletak pada keridhaan orang tuanya dan kemurkaan Allâh terletak pada kemurkaan kedua orang tuanya.” (HR. Thabraniy).

14.  Melapangkan waktu untuk suami berhubungan dengan saudara-saudaranya

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Pelajarilah silsilah kamu yang dapat kamu pergunakan untuk menghubungkan tali kekeluargaan kamu, karena tali kekeluargaan adalah kecintaan dalam keluarga, meluaskan harta dan menambah panjang umur.” (HR. Turmuziy dan Tabraniy). Dan juga bersabda, “Siapa saja senang rezkinya dikeluarkan dan dikekalkan keberadaannya, maka hendaklah ia senantiasa memelihara hubungan silaturahmi (kekeluargaannya).”(HR. Bukhâriy dan Muslim).

15.  Mendorong semangat jihad dan gerakan dakwah suami.

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja mati, padahal ia belum pernah berperang dan tidak pula dalam hatinya terbersit keinginan untuk mensyi’arkan agama, maka ia mati dalam keadaan membawa salah satu sifat kemunafikan.” (HR. Muslim). Pada hal kalau tidak mampu ikut jihad maka membantu dengan harta atau do`a yang sesuai dengan situasi dan kondisi dia waktu itu, sama dengan berjihad. Atau memberi jalan untuk melakukan jihad dijalan Allâh.

Secara ringkas isteri tersebut harus: Shaleh, menjalan perintah Allâh dan Rasul-Nya; Taat, mentaati suami selama tidak untuk hal-hal yang dimurkai Allâh; Muhâfizhât, pandai menjaga diri dan harta suaminya ketika suaminya tidak ada di rumah; Menampakkan kepada suami hal-hal yang dapat membahagiakannya; Pandai menjaga kehormatan dan martabat suami; Gemar mensyukuri jerih payah suami; Dapat menciptakan suasana rumah yang nyaman, bersih dan rapi; serta mampu mendidik anak-anak. Tentunya semua ini tidak terlepas dari kerjasama.

Hal di atas perlu di perhatikan dengan baik dan seksama, karena sangat banyak yang akan dapat memperkeruh rumah tangga baik datangnya dari dalam maupun dari luar yang berupa norma-norma lingkungan yang tidak kondusif dan transformasi lingkungan keluarga yang tak sehat. Masalah akan selalu timbul, namun tugas sebagai suami isteri adalah bagaimana mengendalikan masalah itu menjadi siklus yang bermanfaat dan skala sosial yang proposional.

Diantara kebaikan yang tidak hangat, yang tersembunyi atau perilaku sebagian wanita, adalah: sikap malu seorang wanita saat berduaan dengan suaminya di dalam kamar, atau isteri mencegah suaminya untuk melihat atau mendengar sesuatu dari isterinya yang dapat menambah kasih sayang antara kedua suami isteri, atau isteri tidak mau bersenda gurau dan bermanja pada suaminya dimana hal itu dapat memberi kebahagiaan tersendiri dalam diri suami, serta dapat menjadi penjagaannya yang kokoh dari perbuatan maksiat, bagaimanakah wanita ini terhadap sabda Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam kepada Jabir;

هَلاً بِكرًا تَلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ

“Mengapa engkau tidak menikahi perawan agar engkau bersenda gurau dengannya dan ia bisa bersenda gurau denganmu”. Dalam riwayat lain disebutkan;

تُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ

“Engkau bisa menjadikan dia tertawa dan dia bisa membuat engkau  tertawa”.

Diantara godaan syetan dan bisikannya terhadap suami isteri untuk memisahkan hubungan antara keduanya atau paling tidak untuk memperkeruh kehidupan keduanya serta untuk merusak hubungan kasih sayang diantara mereka adalah: memasukkan prasangka kepada satu diantara keduanya bahwa pasangan hidupnya bukanlah orang yang didambakan, lalu prasangka ini secara berlahan tapi pasti berupah menjadi ketidakpuasan menjadi kebencian kemudian dilampiaskan dalam prilaku dan sikap tidak baik. Bagi orang berakal hendaknya ia tidak membiarkan hal itu menyelimuti dirinya dan hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allâh dari godaan syetan, jika tidak hendaknya ia bertanya pada dirinya apakah ini dari syetan atau dari prasangka saya belaka?.

Perceraian dapat juga terjadi akibat pekerjaan para tukang sihir, yang mempelajari ilmu sihir dari orang jahat pura-pura saleh seperti Malaikat, untuk menceraikan suami isteri. Seperti  digambarkan dalam QS. Al-Baqarah/2: 102.

Keluarga adalah masyarakat kecil dan merupakan satu pilar diantara pilar-pilar masyarakat besar, umat manusia tidak lain hanyalah merupakan perkumpulan keluarga-keluarga, semakin kuat pilar suatu bangunan maka semakin kuat pula bangunan itu. Allâh subhânahu wa ta`âlâ berfirman, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allâh, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanaman tumbuh merana.” (QS. Al-A`râf/7: 58).

Banyak penyebab yang akan memecahkan hubungan rumah tangga, seperti yang terungkap dalam firman Allâh berikut;

وَاتَّبَعُوامَا تَتْلُوالشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَاكَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوايُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَوَمَاأُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْابِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْكَانُوا يَعْلَمُونَ(102) (سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ/2: 102)

“Dan mereka mengikuti apa[12] yang dibaca oleh syetan-syetan[13] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[14] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[15]. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allâh. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa siapa saja yang menukarnya (kitab Allâh) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah/2: 102).

Demikianlah peristiwa demi peristiwa di alami manusia itu semua adalah tujuan penciptaan manusia yaitu untuk mengabdi dengan seleksi yang beragam dengan ujian-ujian yang beragam pula. Semuanya punya fungsi, dan bergerak sesuai dengan andil masing-masing. Hanya yang membedakan mereka adalah ketakwaan dan sejauhmana kebaikan yang dilakukannya selama dalam proses. Yaitu dalam dunia fana ini. Demikian juga halnya sarana dan prasana yang telah disiapkan oleh Allâh untuk menunjang penyelesaian masalah demi masalah tersebut dengan al-Qur’ân dan al-Sunnah Nabi-Nya, serta fatwa-fatwa para mu`allimin, yang teguh dalam dua hal tersebut. Sebagaimana yang dikenal yaitu hasil ijtihad untuk pribadi dan ijma` untuk kelompok mereka.

  1. D. Cara Menangkal dan Menanggulangi Sihir

Syaikh bin Baz menjelaskan cara menjaga diri dari bahaya sihir ataupun kalau sudah terjadi, maka yang terpenting adalah melakukan dzikir yang disyari`atkan, membaca do`a dan ta`audz (minta perlindungan kepada Allâh subhânahu wa ta`âlâ }, sesuai dengan tuntunan Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam diantaranya:

  1. Membaca ayat kursi (QS. Al-Baqarah/2: 255).
  2. Membaca surat QS. al-Ikhlas/112: 1 – 4, al-Falaq/113: 1-5, dan al-Nâs/114: 1 – 6, sebanyak 3 kali tiap selesai shalat 5 waktu. Sesudah subuh dan maghrib masing-masing 3 kali.
  3. Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah/2 : 285 – 286).
  4. Banyak berlindung dengan kalimat-kalimat Allâh yang sempurna. Sebagaimana sabda Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam, siapa saja yang berhenti di suatu tempat dan dia mengucapkan,

أَعُوْذُبِكَلِمَتِ اللهِ التَّامَاتِ مِنْ شَرِّ مَاخَلَقَ,

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allâh yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya,”

maka tidak ada satu pun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu.” (HR. Muslim).

  1. Membaca do`a berikut 3 kali pada pagi dan menjelang malam;

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِيْ اْلأَرْضِ وَلاَ فِيْ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلعَالِيْمُ. (رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدٌ وَالتِّرْمِذِى)

“Dengan nama Allâh, tidak ada yang membahayakan bersama nama-Nya sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit, Dia Maha Mendengar dan Mengetahui.” (HR. Abu Daud dan al-Tirmidziy).

Dan bacaan yang sesuai dengan Al-Qur’ân dan Hadits Shahih, dan bukan bacaan para dukun yang sesat dan menyesatkan. Terutama sekali surat/ayat Kursi (QS. Al-Baqarah/2: 255), Al-Kâfirûn, Al-Ikhlâsh, Al-Falaq, Al-Nâs, Al-A`râf/7: 117-119, surat Yûsuf/12: 79-82, dan Thâhâ/20: 65-69. semua ayat ini biasa digunakan untuk meruqyah atau memantra penyakit yang diakibatkan oleh sihir.

Seseorang wajib menjaga dirinya dari bahaya sihir dengan jalan selalu mendekat diri kepada Allâh. Apakah datang dari orang lain atau dari sikap sendiri sehingga memudahkan syetan menghampiri jiwanya. Dan saat-saat yang bersamaan ia akan terjemak kepada kemusyrikan. Hal ini diperingatkan oleh Allâh,

يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَيَعْصُوْنَ اللهَ مَآاَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُؤْ مَرُوْنَ.

“Hai Orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. Al-Tahrîm/66: 6). Semoga kita selalu menjaganya.

Ingatlah, sesungguhnya penyihir adalah objek dari neraka, karena efek dari perbuatannya sendiri, dan yang kena sihir juga ikut korban terperosot dalam perbuatan syetan. Sedangkan korbannya akan terbebas dari dosa, karena sesuatu yang dipaksakan pada seseorang padahal ia tidak berniat sedikitpun untuk melakukan kesalahan. Ini termasuk rukhshah dari Allâh.

Demikian juga masyarakat yang ada disekitarnya, harus memberantas dengan segala kemampuannya terhadap perlakuan yang tidak benar ini. Salah satunya mendukung dan melaksanakan ajaran Islam serta menegakkan syari`at-Nya dengan benar.

BAB IV

TUNTUNAN UNTUK MEMBENTUK

KELUARGA SAKINAH

A.    Sebelum Nikah

Sebelum melangsungkan akad pernikahan maka hendaklah seorang perempuan memperhatikan calon suaminya atau laki-laki memperhatikan calon isterinya. Ulama telah memberikan kriteria perempuan yang baik dan begitu juga dengan laki-laki. Menurut Subki Junaedi, kriteria isteri yang baik itu menurut Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam menggaris bawahi dengan sabdanya;

اَلْمَرْءُ عَلَىِ  ديْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرُ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

“Seseorang wanita akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapa yang harus dikawininya”.

Ungkapan itu disambut dengan sebuah sya`ir,

“Kawini wanita yang kecil lalu kupenuhi, kendaraan yang lebih kusukai adalah yang belum dikendarai. Banyak biji permata yang berlubang, lalu diuntai, tetapi ada juga yang belum berlubang. Diteruskan,

“Sungguh kendaraan yang dikendarai tidak akan lezat, sebelum diikat dan diatur tali penambat. Permata bagi pemiliknya belum berarti, sehingga diuntai dengan rapi dan dilubangi.

Hal-hal yang mesti diperhatikan sebelum melangsungkan pernikahan sebagai berikut;

  1. Kriteri Memilih Pasangan Hidup Perempuan:
  1. Beragama Islam dan beramal shaleh (QS. Al-Nisâ’/4: 34)

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Perempuan dinikahi karena empat faktor: Pertama, karena harta; Kedua, karena kecantikan; Ketiga, kedudukan; dan Keempat, karena agamanya. Maka hendaklah engkau pilih yang taat beragama, engkau pasti bahagia.” (HR. Bukhâriy dan Muslim).

  1. Berasal dari keturunan yang baik-baik

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah oleh kamu sicantik yang beracun!, lalu sahabat bertanya: “Wahai Rasul Allâh, siapakah perempuan yang beracun itu? jawab Rasul Allâh,”Perempuan yang cantik tapi berada dalam lingkungan yang jahat.” (HR. Dâr al-Quthniy).

  1. Masih perawan

Diriwayatkan dari Jabir,

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Rasul Allâh telah berkata kepadanya, kata Beliau: “Hai Jabir, apakah engkau kawin dengan perawan atau dengan janda?” Jawab Jabir: “Saya kawin dengan janda”. Kata beliau: “Alangkah baiknya jika engkau kawin dengan perawan. Engkau dapat menjadi hiburan baginya dan diapun  menjadi hiburan bagimu.” (HR. Jama’ah).

  1. Carilah perempuan yang Sehat atau tidak Mandul

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Dari Mu’qil bin Yasar, katanya telah datang seorang laki-laki kepada Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam. Kata laki-laki itu, “Saya telah mendapat seorang perempuan yang bangsawan dan cantik tapi hanya dia tidak beranak (mandul). Baikkah saya kawin dengan dia ?”. Jawab Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam, “Jangan”, kemudian laki-laki itu datang untuk kedua kalinya dan Nabi tetap melarangnya. Kemudian pada kali ketiga laki-laki itu datang lagi. Nabi bersabda: “Kawinlah dengan yang dikasihi dan berkembang menghasilkan keturunan (subur)”. (HR. Abu Dâud dan Al-Nasâ’i).

  1. Adapun kriteria laki-laki yang baik untuk calon suami adalah:
  1. Laki-laki yang beragama Islam dan shaleh (QS. Al-Nûr/24: 3 dan 26).
  2. Mempunyai kemampuan untuk membiayai kehidupan Rumah Tangga (sesuai dengan hadits Mutafaqq `alaihi – “yâ ma`syar al-syabâb”).
  3. Cerdas dan Sehat (layak untuk berumah tangga, baik jasmani dan rohani). dan
  4. Cakap Hukum (Baligh).

B.     Sesudah Akad Nikah

Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa setelah akad nikah dilaksanakan, maka suami isteri mempunyai hak dan kewajiban masing-masing. Tujuan diperjelas hak dan kewajiban masing-masing adalah untuk tercapainya tujuan perkawinan itu sendiri, yaitu membentuk keluarga bahagia dan kekal sebagaimana yang telah diatur dalam syari’at Islam.

Sesudah akad nikah semua orang pasti berkeinginan untuk hidup bahagia, kekal dan langgeng, tapi kenyataan dilapangan masih terdapat sebuah penjara di rumah tangga. Rumahku adalah syorgaku hanya dalam mimpi belaka.

Prof. Dr. Zakiah Darajat dalam bukunya “Ketenangan dan Kebahagiaan Dalam Keluarga” memberikan 5 (lima) resep mewujudkan keluarga tenang dan bahagia, yaitu:

  1. Saling Mengerti antara Suami-isteri

Seorang suami atau isteri harus tahu latar belakang pribadi masing-masing. Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing adalah sebagai dasar untuk menjalin komunikasi masing-masing. Dan dari sinilah seorang suami atau isteri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga hancur, disebabkan oleh sifat egoisme. Ini artinya seorang suami tetap bertahan dengan keinginannya dan begitu pula isteri.

Seorang suami atau isteri hendaklah mengetahui hal-hal sebagai berikut :

  1. Perjalanan hidup masing-masing
  2. Adat istiadat daerah masing-masing (jika suami isteri berbeda suku dan atau daerah)
  3. Kebiasaan masing-masing

d.  Selera

  1. Kesukaan atau hobi
  2. Pendidikan
  3. Karakter/sikap pribadi secara proporsional (baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya. Seperti orang tua, teman ataupun saudaranya), Dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.
  4. Saling Menerima

Sebagai suami isteri haruslah saling menerima satu sama lain. Bukankah suami isteri ibarat satu tubuh dua nyawa, tidak salah kiranya suami suka warna merah, si isteri suka warna putih untuk apa ditolak. Jika warna merah dicampur dengan warna putih, maka akan terlihat keindahannya. Sikap ini telah dibuktikan dengan tindakan nabi menikahi Zainab binti Jakhsy, mantan isteri anak angkatnya yaitu Zaid bin Haritsah yang telah dibahas sebelumnya. Keminderan yang dimiliki Zaid bin Haritsah telah membuat tanggungjawab tersebut mesti dipindahkan kepada orang yang lebih optimis dan sepadan.

  1. Saling Menghargai

Seorang suami atau isteri hendaklah saling menghargai:

  1. Perkataan dan perasaan masing-masing
  2. Bakat dan keinginan masing-masing
  3. Menghargai keluarga masing-masing

Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju terkaitnya perasaan antara suami-isteri.

  1. Saling Mempercayai

Jika suami isteri saling mempercayai, maka kemerdekaan akan terasa dan kemajuan pun meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.

  1. Saling Mencintai

Suami isteri saling mencintai akan memunculkan beberapa hal :

  1. Lemah lembut dalam bicara
  2. Akan selalu menunjukkan perhatian
  3. Selalu bijaksana dalam pergaulan
  4. Tidak mudah tersinggung
  5. Batin masing-masing akan selalu tenteram

Dari uraian di atas dipahami bahwa tumbuhan yang dirawat dan diperhatikan akan tumbuh dengan subur, dan tidak sama dengan tumbuhan yang tidak diperhatikan sama sekali. Artinya suami atau isteri harus selalu merawat dan memupuk lima poin di atas guna tercapainya keluarga bahagia dan kekal beradasarkan Syari’at Islam.

  1. C. Kenapa Siti Khadijah Sangat Dicintai Rasul Allâh ?.

Siti Khadijah adalah isteri pertama nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam, dan beliau tidak menikah lagi sampai Siti Khadijah meninggal dunia, demikianlah hubungan kasih sayang di antara beliau dan isterinya. Karena hal tersebut menjadi skenario yang bijak menurut kehendak Allâh, dan sesuai dengan firman-Nya,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًالِتَسْكُنُوْااِلَيْهَاوَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لآ يَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ. (سُوْرَةُ الرُّوْمِ/30: 21)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”. (QS. Al-Rûm/30: 21)

Khadijah binti Khuwailid, memandang Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam adalah orang yang sangat cerdas, jujur, seakan-akan Khadijah telah mendapatkan barangnya yang hilang, dikarenakan selama beliau berdagang tidak pernah dilihatnya. Atas keterangan pembantunya Maisarah, beliau menjadi tertarik pada Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam. Akad nikah dilaksanakan, dihadiri oleh Bani Hasyim dan para Pemuka Bani Mudhar, maskawinnya dua puluh ekor onta. Khadijah adalah orang yang pertama dinikahi Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam, beliau tak pernah nikah sampai Khadijah meninggal dunia. Semua putera-puteri beliau, selain Ibrahim yang dilahirkan dari Maria Al-Qibthiyah, dilahirkan dari Khadijah. Yang pertama adalah Al-Qasim dan dengan nama ini beliau dijuluki (Abu al-Qasim), kemudian Zainab, Quqayyah, Umm Kultsum, Fathimah dan Abdullah. Semua putra beliau meninggal dunia selagi kecil. Sedangkan semua puteri beliau sempat menemui Islam serta ikut hijrah. Hanya saja mereka semua meninggal dunia selagi beliau masih hidup, kecuali Fathimah. Dia meninggal dunia enam bulan setelah Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam wafat.

Tercatat dalam sejarah, bahwa Siti Khadijah binti Khuwailid adalah isteri Nabi yang sangat ia cintai dan menduduki tempat yang khusus di dalam lubuk hati Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam, selalu diceritakan dan disebut-sebut oleh beliau kepada isteri-isterinya yang lain. Pernah satu kali Siti Aisyah berkata kepada Nabi Muhammad kira-kira, “Apakah yang harus diingat-ingat lagi kepada perempuan tua itu …!”, Merah padam muka Rasul Allâh pada waktu itu menahan marahnya terhadap Siti `Aisyah.

90

Karena sangat cinta Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam. Apabila Muhammad kebetulan memotong kambing, maka Nabi selalu menyuruh supaya sebagian dari daging kambing itu diberikan kepada orang-orang yang sebaya dengannya/teman-teman akrab Siti Khadijah, yang mengembalikan ingatan beliau kepada isteri yang terkesan di lubuk hatinya itu.

Begitulah cintanya Nabi Muhammad kepada Siti Khadijah yang perlu dikaji bagi kaum ibu khususnya sehingga bagi kaum bapak ia akan berkata, “Rumahku adalah syorgaku”.

Kenapa Nabi sangat cinta kepada Siti Khadijah, ini pernah dikemukakan Nabi dengan kata-kata, “Sesunguhnya demi Allâh! Tuhan tidak menggantikan bagiku isteri yang lebih baik dari pada Khadijah. Dia beriman bersama-samaku di waktu manusia yang lain masih engkar. Dia membenarkan aku dikala manusia yang lain mendustakan, ia melapangkan aku dengan mengorbankan harta bendanya di waktu manusia yang lain tidak mau memberi. Tuhan mengaruniakan kepada kami anak-anak yang tidak kunikmati dari isteri-isteri yang lain”.

Dari ungkapan Nabi di atas, dikatakan ada empat sebab Siti Khadijah sehingga Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam sangat cinta kepadanya, yaitu:

  1. Khadijah tetap beriman kepada Nabi, dikala manusia yang lain masih engkar, dengan tulus dan ikhlas.

Suatu hal yang memberi kesan pada diri Nabi disaat orang tak mau beriman kepadanya lalu muncul seorang yang tanpa ragu siap untuk beriman. Pada saat itu sangat terangkat jiwanya, Khadijah beriman kepada Muhammad bukan karena faktor kekayaan tapi berdasarkan kejujuran yang muncul dari diri Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam.

Iman adalah suatu keyakinan yang melekat dalam hati dinyatakan dengan lisan, diamalkan dengan panca indera. Kalau kita kaitkan iman ini dengan keyakinan seorang isteri kepada suaminya adalah suatu prinsip dasar dan keyakinannya bahwa suaminya sangat mencintainya.

Kepercayaan seorang isteri kepada suaminya itu harus dipelihara dan ditunjukkan dalam ucapan, tindakan, namun demikian kepercayaan yang berlebih-lebihan tidak baik pula. Misalnya suami terlambat pulang, tidak ditanya atau tidak pulang semalaman tidak ada pertanyaan apapun dan tentu akan menimbulkan efek lain misalnya suami merasa tidak diperhatikan. Siti Khadijah adalah orang yang sangat bijak dalam hal ini.

  1. Khadijah selalu membenarkan apasaja yang disampaikan suaminya. Khadijah adalah orang yang ta’at kepada suaminya. Dalam hal ini timbul pertanyaan, ialah kalau yang dikatakan itu benar bagaimana kalau yang salah. Kalau suami berkata yang salah, perkataan itu dengarkan dulu sampai dia selesai bicara, hendaknya isteri menyanggah atau meluruskan dengan intonasi kewanitaannya dan mengemukakan bukti-bukti yang memungkinkan. Kalau ia tak mau memahami, tentu dituntut kesabaran si isteri, kan orang bijak pernah berkata, “menghadapi suami sama halnya dengan anak TK yang sudah besar”. Inilah yang selalu dipelihara oleh Siti Khadijah dalam keluarganya.
  2. Khadijah adalah isteri yang mau berkorban untuk kepentingan suaminya.

Siti Khadijah adalah seorang isteri yang mau mengorbankan hartanya untuk kepentingan suaminya. Ia sangat merasakan miliknya adalah milik suaminya, cita-cita suaminya adalah cita-citanya, ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun. Tidak jalan sendiri-sendiri.

  1. Memperoleh keturunan dari Khadijah, anak-anak beliau tidak satupun yang mengingkari beliau, sama-sama beriman kepada Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam.

Itulah empat keistimewaan Khadijah yang menjadi sebab kenapa Nabi sangat cinta kepadanya, yang patut ditauladani oleh para ibu atau isteri-isteri orang yang beriman dan shaleh. Karena tauladan yang paling baik bagi kaum wanita itu adalah umm al-mukminîn yakni para isteri Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam.

D.    Masih Hangatkah Ranjang Anda ?

Hubungan intim itu seperti keperluan makan dan minum, kalau tidak ada variasi kan bosan juga. Bukan tidak mungkin lama-lama ranjang Anda menjadi dingin dan membosankan. “Banyak sekali pasangan yang baru menikah dua sampai tiga tahun sudah bosan-bosanan, ”jelas seksolog dr. Boyke Dian Nugraha”. Bagaimana mempertahankan kehangatan ranjang Anda, dr. Boyke memberikan beberapa kiat, sebagai berikut;

1.      Harus Ada Rasa Cinta

Harus disadari dulu bahwa hubungan seks itu bukan hubungan kelamin saja. Tapi yang terpenting dan harus dibina adalah komunikasi intim. Dalam menghangatkan ranjang ini kedua pasangan harus mampu memberikan hubungan intim yang saling memuaskan.

Dalam hubungan intim harus ada rasa cinta. Nah, rasa cinta antara suami isteri itu harus dibangkitkan. Untuk itu, upayakan agar pasangan itu selalu masih seperti pacaran. Banyak sekali pasangan yang mengeluh, baru menikah tiga sampai empat tahun sudah bosanan. Manggilnya sudah tidak lagi “Sayang” atau “Yang”, tapi si isteri dipanggil “`ndut” atau si suami dipanggil “Botak“. Ini tidak baik, walaupun memanggilnya secara bercanda.

Rasa cinta itu harus dipupuk, tetaplah nonton sekali atau dua kali sebulan film-film romantis seperti Titanic. Waktu untuk nonton itu sediakan, nggak usah harus malam minggu. Nontonlah film yang menyegarkan. Kita bisa melihat atau belajar cara mereka berkomunikasi dalam film itu. salah satu film bagus yang ditayangkan TPI, A Little Hous, dapat menjadi pilihan. Film ini bercerita tentang satu keluarga yang mesra yang harmonis. Kita bisa lihat bagaimana mereka berkomunikasi.

2.      Komunikasi Intim

Komunikasi intim ini sangat penting dalam menghangatkan hubungan suami isteri. Komunikasi intim itu adalah suatu cara agar pasangan berusaha mendengarkan apa yang diutarakan pasangannya, belajar jadi pendengar yang baik. Maunya apa sih? Jangan berkomentar dulu deh.

Kalau susah ngomong, tulis surat, dalam perkawinan itu diupayakan  suatu wahana, misalnya setahun perkawinan, tulislah apa yang diinginkan pada perkawinan yang akan datang. Sedangkan suami menulis apa yang tidak disukai dari isterinya, misalnya tak pernah masak lagi atau bikin minum. Tuliskan, ‘Saya harap perkawinan pada tahun kedua ini tidak menjadi layu.’

Tulisan ini diberikan pada hari ulang tahun perkawinan, di suatu tempat berdua saja. Itu salah satu cara berkomunikasi. Kalau diungkapkan secara verbal, takutnya jadi berantem, “Ah, kamu juga nggak mau antar-antar saya.” Akhirnya berantem, mendingan ditulis apa yang diinginkan termasuk masalah seks.

3.      Gabungan Panca Indera

Seks adalah gabungan dari seluruh panca indera-mata, hidung, penciuman, perasaan, sentuhan, gunakanlah semua itu. Supaya suami tetap hangat, rawatlah badan agar tetap bugar, pergi ke salon memperhalus kulit wajah. Pakai pemerah bibir yang sekarang macam-macam rasanya.

Jaga kebersihan ranjang, jangan sampai bau pipis, misalnya. Ganti sprei kalau sudah bau tak sedap, jangan warna yang itu-itu saja. Mingu ini warna biru, minggu berikut pink. Taburi ranjang dengan bunga melati atau mawar, agar harum atau semprotkan minyak wangi.

Minyak wangi isteri jangan seperti minyak sinyongnyong, ganti-ganti dong. Nggak usah yang mahal, produk dalam negeri juga banyak yang enak wanginya, atau aroma yang dapat menyamankan suasana.

  1. Ungkapkan Kalau Anda Puas

Suasana kamar saat berhubungan intim harus diperhatikan, jangan gelap terus. Sekali-kali remang-remang, lain hari terang benderang. Hubungan intim tidak selalu di atas ranjang, sekali-kali di atas karpet. Mandi berdua, saling keramas. Asal tidak melakukan hal yang dilarang seperti oral sex. Dan tetap menjaga sikap yang lembut dan takwa kepada Allâh (pen-).

Sediakan minuman ringan atau buah ditepi ranjang, sebelum bermesraan minum atau makan buah. Perbanyaklah sentuhan dengan bibir, tangan, mata dan hidung. Bau badan dan kebersihan busana harus diperhatikan. Jangan pakai daster melulu, pakailah busana yang bersih dan menarik. Ungkapkanlah kalau Anda merasa puas, itu merupakan rintihan-rintihan bahwa pasangan Anda merasa puas. Jangan lupa ucapkan terima kasih pada pasangan, “terima kasih saya puas sekali malam ini, kamu memang hebat.” Itu membuat si suami merasa jantan dan si isteri merasa bahagia.

Kepuasan itu tergantung pada keadaan psikologis antara suami-isteri, bagaimana tehnik yang akan dilakukan asalkan tidak bertentangan dengan asas saling menghargai kondisi pada saat melakukannya. Tidak tergantung pada seberapa kuatnya untuk melakukan hubungan tersebut.

5.      Pergi ke Hotel

Kalau isteri tidak puas, ungkapkan saja, tentunya dengan kalimat-kalimat yang enak. Misalnya, “Mas kita berobat yuk, kayaknya saya sudah deh mencapai klimaks. Mungkin sentuhan-sentuhan kamu tidak mengena, kita konsultasi sama dokter”.

Banyak pasangan yang konsultasi, kebanyakan karena isteri tidak puas. Teknik suami yang sangat kurang, maunya tembak langsung. Kalau misalnya mampu, silahkan melakukan sekstorasi berdua agar mengetahui bagian tubuh isteri yang mana harus disentuh. Ini sangat diperlukan dalam menghangatkan ranjang.

Mengatasi budaya malu, komunikasi intim harus ditingkatkan. Kalau sudah mulai dingin, lakukan bulan madu kedua, pergi ke hotel, anak-anak dititipkan ke rumah nenek. Ini juga bisa menghangatkan ranjang. Melakukan hubungan intim di hotel yang menghadap ke laut. Makan dengan lilin berdua di hotel.

6.      Perlu yang liar

Melakukan seks itu tidak harus malam, kapan saja. Dan tidak selalu direncanakan, misalnya isteri lagi dandan, pakai kebaya, kelihatan seksi sekali. Terus suami minta hubungan intim, jangan ditolak. Kadang seks itu perlu yang liar, jangan selalu terjadwal dan selalu di tempat tidur.

Menolak yang enak, bicara yang sopan, jangan teriak, “Ah, nggak mau saya lagi capek, aku malas.” Bisa kan dengan bahasa yang halus, “Pa, saya masih capek, bener lho, saya tidur dulu, setelah itu baru kita melakukannya biar sama-sama enak.

Jangan sekali-kali menolak suami yang minta hubungan intim, itu keperluan seperti makan dan tidur. Tapi minta pengertian suami menundanya, tidur dulu, lakukan tengah malam, menjelang pukul 01.00 WIB. Jangan menggunakan obat-obatan untuk menghangatkan ranjang karena bisa jadi ketergantungan.

BAB V

ETIKA HUBUNGAN SEKSUAL

DALAM ISLAM

A.    Hubungan Seksual Suami-Isteri

Hubungan sex, antara suami-isteri merupakan sunnah dan beribadah melakukannya. Sewajarnyalah ibadah yang dilakukan serta menjaga hal-hal yang dapat merusaknya, melakukan selain pada tempat yang wajar seperti lewat dubur, setelah melakukan sex (coitus), diceritakan pada orang lain, nah ini tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, karena ada dalil yang melarang hal itu.

Sebagaimana diketahui, bahwa seorang Muslim tidak boleh malu untuk menanyakan apa saja yang berkaitan dengan hukum agama, baik yang bersifat umum maupun pribadi.

100

Sebuah pertanyaan mungkin muncul, apabila berbicara tentang hubungan sex ini. Pertanyaan mengenai hubungan seksual antara suami-isteri yang berdasarkan agama, yaitu jika si isteri menolak ajakan suaminya dengan alasan yang dianggap tidak tepat atau tidak berdasar. Apakah ada penetapan dan batas-batas tertentu mengenai hal ini, serta apakah ada petunjuk-petunjuk yang berdasarkan syariat Islam untuk mengatur hubungan kedua  pasangan, terutama dalam masalah seksual tersebut ?.

Sikap seorang Muslim adalah akan menerangkan; yaitu, boleh bersikap malu dalam memahami ilmu agama, untuk menanyakan sesuatu hal. Aisyah radhiy Allâhu `anha telah memuji wanita Anshar, bahwa mereka tidak dihalangi sifat malu untuk menanyakan ilmu agama. Walaupun dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan haid, nifas, janabat, dan lain-lainnya, di hadapan umum ketika di masjid, yang biasanya dihadiri oleh orang banyak dan disaat para ulama mengajarkan masalah-masalah wudhu, najasah (macam-macam najis), mandi janabat, dan sebagainya.

Hal serupa juga terjadi di tempat-tempat pengajian Al-Qur’ân dan hadits yang ada hubungannya dengan masalah tersebut, yang bagi para ulama tidak ada jalan lain, kecuali dengan cara menerangkan secara jelas mengenai hukum-hukum Allâh dan Sunnah Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam dengan cara yang tidak mengurangi kehormatan agama, kehebatan masjid dan kewibawaan para ulama.

Hal itu sesuai dengan apa yang dihimbau oleh ahli-ahli pendidikan pada saat ini. Yakni, masalah hubungan ini, agar diungkapkan secara jelas kepada para pelajar, tanpa ditutupi atau dibesar-besarkan, agar dapat mereka pahami.

Sebenarnya, masalah hubungan antara suami-isteri itu pengaruhnya amat besar bagi kehidupan mereka, maka hendaknya mereka sangat memperhatikan dan menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan kesalahan dan kerusakan terhadap kelangsungan hubungan suami-isteri. Kesalahan yang bertumpuk dapat mengakibatkan kehancuran keluarganya. Apalagi menyangkut keperluan anak-anak yang berpeluang terjadinya pertengkaran, seperti pendidikannya, memeliharanya dan lain sebagainya.

Agama Islam dengan nyata tidak mengabaikan segi-segi dari kehidupan manusia dan kehidupan berkeluarga, yang telah diterangkan tentang perintah dan larangannya. Semua telah tercantum dalam ajaran-ajaran Islam, misalnya mengenai akhlak, tabiat, suluk, dan sebagainya. Tidak ada satu hal pun yang diabaikan (dilalaikan).

  1. 102

    Islam telah menetapkan pengakuan bagi fitrah manusia dan dorongannya akan seksual, serta ditentangnya tindakan ekstrim yang condong menganggap hal itu kotor. Oleh karena itu, Islam melarang bagi orang yang hendak menghilangkan dan memfungsikannya dengan cara menentang orang yang berkehendak untuk selamanya menjadi bujang dan meninggalkan sunnah Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam yaitu menikah. Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Aku lebih mengenal Allâh daripada kamu dan aku lebih khusyu’, kepada Allâh daripada kamu, tetapi aku bangun malam, tidur, berpuasa, dan menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak senang (mengakui) sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”

  1. Islam telah menerangkan atas hal-hal kedua pasangan setelah pernikahan, mengenai hubungannya dengan cara menerima dorongan akan masalah-masalah seksual, bahkan mengerjakannya dianggap suatu ibadat. Sebagaimana keterangan Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam, “Di kemaluan kamu ada sedekah (pahala).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasul Allâh, apakah ketika kami bersetubuh dengan isteri akan mendapat pahala?” Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam menjawab, “Ya. Andaikata bersetubuh pada tempat yang dilarang (diharamkan) itu berdosa. Begitu juga dilakukan pada tempat yang halal, pasti mendapat pahala. Kamu hanya menghitung hal-hal yang buruk saja, akan tetapi tidak menghitung hal-hal yang baik.”

Berdasarkan tabiat dan fitrah, biasanya pihak laki-laki yang lebih agresif, tidak memiliki kesabaran dan kurang dapat menahan diri. Sebaliknya wanita itu bersikap pemalu dan dapat menahan diri. Karenanya diharuskan bagi wanita menerima dan menaati panggilan suami. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis:

“Jika si isteri dipanggil oleh suaminya karena perlu, maka supaya segera datang, walaupun dia sedang memasak.” (HR. Tirmidziy, dan dikatakan hadits ini Hasan).

Dianjurkan oleh Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam supaya si isteri jangan sampai menolak kehendak suaminya tanpa alasan, yang dapat menimbulkan kemarahan atau menyebabkan dia berbuat menyimpang kejalan yang tidak baik, atau membuatnya gelisah dan tegang.

Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Jika suami mengajak tidur si isteri lalu dia menolak, kemudian suaminya marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat dia sampai pagi.” (HR. Mutafaqq `alaih).

Keadaan yang demikian itu jika dilakukan tanpa uzur dan alasan yang masuk akal, misalnya sakit, letih, berhalangan, atau hal-hal yang layak. Bagi suami, supaya menjaga hal itu, menerima alasan tersebut, dan sadar bahwa Allâh subhânahu wa ta`âlâ adalah Tuhan bagi hamba-hamba-Nya Yang Maha Pemberi Rezki dan Hidayah, dengan menerima uzur hamba-Nya. Dan hendaknya hamba-Nya juga menerima uzur tersebut.

Selanjutnya, Islam telah melarang bagi seorang isteri yang berpuasa sunnah tanpa seizin suaminya, karena baginya lebih diutamakan untuk memelihara haknya daripada mendapat pahala puasa.

Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Dilarang bagi si isteri (puasa sunnah) sedangkan suaminya ada, kecuali dengan izinnya.” (HR. Mutafaqq `alaih).

104

Disamping dipeliharanya hak kaum laki-laki (suami) dalam Islam, tidak lupa hak wanita (isteri) juga harus dipelihara dalam segala hal. Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam menyatakan kepada laki-laki (suami) yang terus-menerus berpuasa dan bangun malam (tahajud). Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya bagi jasadmu ada hak dan bagi keluargamu  (isterimu) ada hak.”

Abu Hamid Al-Ghazali ( 1059-1111 M – Ghazaleh – Tus Khurasan ), ahli fiqih dan tasawuf dalam kitab Ihya’ mengenai adab bersetubuh, beliau berkata: “Disunnahkan memulainya dengan membaca Bismi Allâhi al-Rahmânir-rahîm dan berdo`a, sebagaimana Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam telah mengajarkan sebagai berikut:

“Ya Allâh, jauhkanlah aku dari syetan dan jauhkanlah syetan dari apa yang Engkau berikan kepadaku. “Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, “Jika ditakdirkan oleh Allâh mendapat anak, maka tidak akan diganggu oleh syetan.” (HR. Bukhâriy). Lihat Bab III, tentang kewajiban suami terhadap isteri.

Dianjurkan setiap selesai shalat atau kapanpun selain waktu dan tempat dilarang membaca ayat-ayat Allâh, seperti di dalam WC (tempat buang air kecil/besar), bagi yang telah berkeluarga dianjurkan selalu berdo`a, seperti yang di amalkan Nabi Ibrahim `alaihi salam, yaitu;

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَامِنْ اَزْوَاجِنَاوَذُرِّيَاتِنَاقُرَةَاَعْيُنٍ وَجَعَلْنَالِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا (سُوْرَةُ اْلفُرْقَاْنِ/25: 74)

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqân/25: 74). Hendaknya do`a ini diulang-ulang setiap selesai shalat.

Seperti itu juga Allâh menerangkan dalam surat al-Anbiyâ’ ayat 90, yang isinya Allâh memperkenankan do`a Zakaria `alaihi salam karena ia termasuk orang yang selalu bersegera berbuat baik dan berdo`a kepada Allâh dengan rasa harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyu` kepada Allâh.

Do`a juga menyangkut masalah hak dan kewajiban ini sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia sebagai `abdi Allâh subhânahu wa ta`âlâ. Allâh lebih mementingkan menunaikan kewajiban daripada hak. Hak ini, seolah-olah menjadi pokok daripada kewajiban yang telah kita tunaikan. Inilah yang digambarkan oleh firman Allâh,

“…أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَادَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْالِيْ….(سُوْرَةُاْلبَقَرَةِ 2: 186)” “…Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku…” (QS. Al-Baqarah/2: 186).

106

Dalam hadits Qudsi dijelaskan, “ مَنْ لاَيَدْعُوْنِى اَغْضَبُ عَلَيْهِ ” Siapa saja yang tidak berdo`a kepada-Ku niscaya Aku murka kepadanya. (HQR. `Askari dalam kitab Mawâ`idh dari Abu Hurairah dengan sanad Hasan). Begitu pentingnya kita berdo`a, maka ini termasuk kewajiban kepada Allâh. Karena ini merupakan keperluan dan obat rohani manusia, Allâh inginkan manusia sehat, rohani dengan berdo`a. Dengan berdo`a akan memantapkan sikap tawakkal kepada Allâh.

Allâh tidak akan memperhatikan hak hamba-Nya sebelum ia menunaikan hak-Nya, baik `amaliyah (perbuatan sehari-hari) maupun i`tiqadiyah (tauhid atau iman). Seperti firman Allâh dalam hadits Qudsi berikut:

لَسْتُ بِنَاظِرٍ حَقّ عَبْدِىحَتَّىيَنْظُرَفِىحَقِّى. (رَوَاهُ الطَّبْرَانِى)

“Tidaklah Aku perhatikan hak hambaku, sebelum ia menunaikan hak-Ku”. (HQR. Thabrâniy dalam kitabnya: al-Kabir dari Ibnu Abbas).

Sepanjang perjalanan manusia, Allâh telah menyediakan semua keperluan untuk dapat menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut seperti rezki, rahmat dan hidayah, serta banyak kesempatan perobahan. Sesungguhnya rahmat Allâh dekat kepada orang yang melakukan kebaikan (QS. Al-A`râh/7: 56).

Kembali kita pada masalah seks, nah Al-Ghazali berkata,

“Dalam suasana ini (akan bersetubuh) hendaknya didahului dengan kata-kata manis, bermesra-mesraan dan sebagainya, dan menutup diri mereka dengan selimut, jangan telanjang menyerupai binatang. Sang suami harus memelihara suasana dan menyesuaikan diri, sehingga kedua pasangan sama-sama dapat menikmati dan merasa puas.”

Berkata Al-Imam Abu Abd Allâh Ibn al-Qayyim dalam kitabnya Zâdul Ma’âd Fî Hâdî Khairul ‘Ibâd, mengenai sunnah Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam dan keterangannya dalam cara bersetubuh. Selanjutnya Ibn al-Qayyim berkata. Tujuan utama dari jimak (bersetubuh) itu ialah:

  1. Dipeliharanya nasab (keturunan), sehingga mencapai jumlah yang ditetapkan menurut takdir Allâh.
  2. Mengeluarkan air yang dapat mengganggu kesehatan badan jika ditahan terus.
  3. Mencapai maksud dan merasakan kenikmatan, sebagaimana kelak di surga.

Ditambah lagi mengenai manfaatnya, yaitu: Menundukkan pandangan, menahan nafsu, menguatkan jiwa dan agar tidak berbuat serong bagi kedua pasangan. Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam telah menyatakan: “Yang aku cintai di antara duniamu adalah wanita dan wewangian.”

Selanjutnya Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda! Barangsiapa yang mampu melaksanakan pernikahan, maka hendaknya menikah. Sesungguhnya hal itu menundukkan penglihatan dan memelihara kemaluan.” (HR. Mutafaqq `alaih).

108

Kemudian Ibn al-Qayyim berkata, “Sebaiknya sebelum bersetubuh hendaknya diajak bersenda-gurau dan menciumnya, sebagaimana Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam melakukannya”.

Ini semua menunjukkan bahwa para ulama dalam usaha mencari jalan baik tidak bersifat konservatif, bahkan tidak kalah kemajuannya daripada penemuan-penemuan atau pendapat masa kini.

Yang dapat disimpulkan di sini adalah bahwa sesungguhnya Islam telah mengenal hubungan seksual diantara kedua pasangan, suami isteri, yang telah diterangkan dalam Al-Qur’ân al-Karîm pada Surat Al-Baqarah, yang ada hubungannya dengan peraturan keluarga.

Firman Allâh subhânahu wa ta`âlâ, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa, bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allâh mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu, Allâh mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allâh untukmu, dan makan minumlah kamu, hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah larangan Allâh, maka janganlah kamu mendekatinya …” (QS. Al-Baqarah/2: 187).

Tidak ada kata yang lebih indah, serta lebih benar, mengenai hubungan antara suami-isteri, kecuali yang telah disebutkan, yaitu: “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah/2: 187).

Pada ayat lain juga diterangkan, yaitu: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: Haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allâh kepadamu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu dengan cara bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah  (amal yang baik) untuk dirimu, dan takwalah kamu kepada Allâh dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah/2: 222-223).

Maka, semua hadis yang menafsirkan bahwa dijauhinya yang disebut pada ayat di atas, hanya masalah persetubuhan saja. Selain itu, apa saja yang dapat dilakukan, tidak dilarang. Pada ayat di atas disebutkan: “Maka, datangilah tanah tempat bercocok tanammu dengan cara bagaimanapun kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah/2: 223).

Tidak ada suatu perhatian yang melebihi daripada disebutnya masalah dan undang-undang atau peraturannya dalam Al-Qur’ân al-Karim secara langsung, sebagaimana diterangkan di atas.

110

Adapun resep nabi, yang diriwayatkan oleh Abd Allâh bin Mas’ûd: “Wahai generasi muda, siapa saja diantara kalian telah mampu serta berkeinginan menikah, maka nikahlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan siapa saja diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.”(HR. Bukhâriy, Muslim, Ibnu Majah, dan Tirmidziy).

Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah syaitan. Seperti sabda Nabi, “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syetan menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya.” (HR. Bukhâriy dan Muslim).

Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup auratnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung sampai kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.” (QS. Al-Nûr/24: 31).

Dan Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kita benar-benar memejamkan mata dan memelihara kemaluan, atau benar-benar Allâh akan menutup rapat matamu.”(HR. Thabraniy).

Yang perlu diingat bahwa jodoh merupakan Qadha’ (ketentuan) Allâh, dimana manusia tidak punya andil menentukan, manusia hanya dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Nah. Untuk itu perlu kita memperhatikan ciri-ciri dan perempuan seperti apa yang sewajarnya menjadi pendamping (suami-isteri). Tercantum dalam Al Qur’ân: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini kecuali dengan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini kecuali oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang mukmin. (QS. Al-Nûr/24: 3).

  1. Sebelum Melakukan Hubungan Seks (Coitus)

Pengantin atau suami isteri sebelum melakukan hubungan biologis (coitus) penganten atau suami-isteri mesti melaksanakan hal-hal berikut ini:

  1. Wajib memberikan mahar terlebih dulu (bagi pengantin baru) jika maharnya diutang, harus dibayarkan maharnya dulu, sabda Rasul Allâh, shall Allâhu `alaihi wa sallam:

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam, melarang Ali menggauli Fatimah sampai ia memberikan sesuatu (mahar) kepadanya. Lalu jawab Ali: “Saya tidak punya apa-apa.” Maka sabda Rasul Allâh, “Dimana baju besi ‘Hutamiyahmu? Lalu berikanlah barang itu kepadanya. (HR. Abu Dâud, Al-Nasâ’iy dan Hakim)

  1. Membersihkan Badan (mandi) dari hadas dan najis serta hal-hal yang barbau tak sedap. Dr. H. Ali Akbar, menambahkan bahwa pada tahap mandi bersih-bersih ini hendaklah dikosongkan kantong kencing, dan membersihkan penis (alat kelamin laki-laki) dan vagina (alat kelamin wanita).
  2. Setelah tahap bersih-bersih ini dilakukan, maka hendaklah berwudhu’, karena berwudhu’ dengan sendirinya berarti membersihkan mulut, hidung, tangan, muka dan lainnya.
  3. Pakailah cahaya remang-remang atau gelap, karena dalam suasana demikian akan meningkatkan konsentrasi dan khayalan, sehingga segala kekurangan jasmaniah dapat diatasi.
  4. Berdo’a kepada Allâh (semoga Allâh melimpahkan nikmat-Nya). Do’a yang biasa dibaca adalah:

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ قَالَ لَوْ أَنَّكُمْ إِذَا آتَى أَهْلَهُ قَالَ : بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَقُضِىَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌلَمْ يَضُرُهُ. (رَوَاهُ الْبُخَارِى فِى اْلكِتَابِ الصَّحِيْحِهِ/كِتَابُ الْوُضُوْءِ- حَدِيْثٌ- 141)

“Dari Ibnu Abbas r.a. ia menyampaikan apa yang diterima dari Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Andaikata seseorang diantara kamu semua mendatangi (menggauli) isterinya, ucapkanlah, “Bismi Allâhi, Allâhumma Jannibnâ Syaithânâ wajannibi al-syaithânâ mâ razaqtanâ.” (dengan nama Allâh. Ya Allâh, hindarilah kami dari syetan dan jagalah apa yang engkau rizkikan kepada kami dari syetan.” Maka apabila ditakdirkan bahwa mereka berdua akan mempunyai anak, syetan tidak akan pernah bisa membahayakannya.” (HR. Bukhâriy dalam Kitab Shahihnya pada Kitab Wudhuk Hadits ke-141).

  1. Selanjutnya mulailah coitus dan awali dengan gurauan dan rangsangan lebih dahulu, dengan cara lembut dan romantis. Lakukan jima’ pada sepertiga malam ( pukul 10 keatas). Atau pada tiga waktu yang nyaman yaitu, sebelum shalat subuh, tengah hari, dan sesudah shalat isya’, hal ini dapat  kita lihat dalam QS. Al-Nûr/24: 58 sebagai berikut,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَالِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ(58) (سُوْرَةُ النُّوْرِ/24: 58)

” Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga `aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allâh menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Nûr/24: 58).

Sabda Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam:

“Siapa pun diantara kamu, janganlah menyamai isterinya seperti seekor hewan bersenggama, tapi hendaklah ia dahului dengan perentaraan. Selanjutnya, ada yang bertanya: Apakah perantaraan itu ? Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “yaitu ciuman dan ucapan-ucapan romantis”. (HR. Bukhâriy dan Muslim).

  1. Selanjutnya dalam masalah ini Ali Akbar berpesan, “Bagi kita kaum muslimin, adab seksual yang baik dan terpuji adalah adab seksual Islam, yang ditauladankan oleh Nabi Muhammad shall Allâhu `alaihi wa sallam. Kesenangan dari aktivitas seksual itu sebenarnya adalah tergantung dari keadaan mental kedua belah pihak.
  2. Dilakukan dalam kondisi yang sehat dan menyenangkan bagi kedua pasangan. Dalam keadaan begini insyâ Allâh akan sama puas.
  3. Penetralisasian dilakukan jika alat seks benar-benar klimaks.
  4. Setelah melakukan hubungan intim, hendaknya membaca do`a,

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا.

“Segala puji bagi Allâh yang telah menjadikan manusia dari air (mani), lalu menjadikan pertalian darah, dan hubungan perkawinan. Dan Allâh adalah Maha Berkuasa”.

  1. Apabila ingin memulai yang kedua atau seterusnya lebih afdhallah melakukan wudhu’, sekurang-kurangnya membasuh kemaluan atau apasaja yang berhubungan dengan kemaluan sang isteri.

C.     Sesudah Melakukan Hubungan Seks

Suami-isteri yang baru saja melakukan hubungan seksual (coitus) dalam fiqh thaharah disebut dengan junub (berjunub), maka ia wajib mandi (QS. Al-Mâidah/5: 6). Ada beberapa macam yang menyebabkan seseorang wajib mandi dalam fiqh Islam ini adalah ijtihad al-thathbiqy (penerapan hukum):

  1. Karena melakukan hubungan seksual (coitus/jima’)
  2. Keluarnya mani (sperma), (sengaja atau tidak sengaja)

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Apabila air (sperma) itu terpancar keras, maka mandilah.” (HR. Abu Dâud). Kalau tidak keluar mani, maka Rarul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam. menerangkan, dalam hadits berikut,

عَنْ أُبَىَّ ابْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ قَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ إِذَا جَامَعَ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ فَلَمْ يُنْزِلْ. قَالَ “يَغْتَسِلُ مَا مَسَّ الْمَرْأَةَ مِنْهَ ثُمَّ يَتَوَضَّاءُ وَيُصَلِّى”. قَالَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ: الْغَسَلَ اَحْوَطُ وَذَاكَ اْلآخِرُوَإِنَّمَا بَيْنَا ِلإِخْتِلاَفِيْهِمْ. ( رَوَاهُ الْبُخَارِى فِى الْكِتَابِ الْصَّحِحِهِ/كِتَابٌ الْغُسْلِ–حَدِيْثٌ- 290 )

116

“Dari Ubai bin Ka`ab bahwasanya ia berkata : “Wahai Rasul Allâh, apabila ia seorang laki-laki menyetubuhi isterinya, tetapi tidak mengeluarkan mani, apakah yang diwajibkan olehnya? Beliau bersabda, ”Hendaknya dia mencuci bagian-bagian yang berhubungan dengan kemaluan wanita, berwudhu’ dan lalu shalat”. Abu `Abd Allâh berkata, “mandi adalah lebih berhati-hati dan merupakan peraturan hukum yang terakhir. Namun mengetahui tidak wajibnya mandi kamu uraikan juga untuk menerangkan adanya perselisihan pendapat antara orang `alim.” (HR. Bukhâriy dalam Kitab Shahihnya/Kitab Mandi, hadits ke-290)

  1. Bermimpi senggama dan mengeluarkan mani
  2. Berhenti Haid dan Nifas

Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam, “Dari Fatimah binti Abi Hubaisy, Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Apabila haidmu datang maka tinggalkanlah shalat dan apabila haid tersebut telah selesai maka mandilah kemudian shalat.”

  1. Karena Meninggal Dunia

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Mandikanlah olehmu dengan air dan bidara …. (HR. Mutafaqq ‘alaih)

D.    Hubungan Seks yang Dilarang Islam

Banyak buku-buku Islam mengenai Rumah Tangga, Kebahagiaan Rumah Tangga yang dikarang para Ustadz. Ada bab khusus dalam Ilmu Fiqih yang membahas masalah bersetubuh, dikenal dalam Kitab Kuning sebagai Bâb al-Jima’. Secara singkat dapat saya sampaikan hal melanggar adab Jima` dalam Islam:

Model dan tehnik bebas.

Hal-hal yang melanggar/ tidak boleh dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Berbugil (kecuali dalam selimut).
  2. Oral sex, sex dengan memasukkan alat kelamin ke mulut.
  3. Bersetubuh lewat dubur.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَلْعُوْنٌ مَنْ اَتَى إِمْرَأَةً مِنْ دُبُوْرِهَا (رَوَاهُ اَبُوْدَاوُدْ وَ النَّسَاءِى)

“Dari Abu Hurairah radhiy Allâhu `anhu, Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam bersabda, “Terkutuklah siapa saja yang menggauli isterinya melalui duburnya”. (HR. Abu Dâud dan al-Nasâ’iy)

  1. Menyakiti/berlaku kasar terhadap pasangan (QS. Al-Nisâ’/4 : 14).
  2. Bersetubuh waktu wanita haid, seperti firman Allâh berikut;

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَأَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ. (سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ/2: 222)

118

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allâh kepadamu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah/2: 222)

Imam Al-Ghazali16 dalam Ihya’ `Ulumuddin-nya mengulas lengkap masalah ini berdasarkan Al-Qur’ân, Hadis dan Ijtihadnya. Bahkan beliau menyebutkan misalnya dimana saja dari bagian tubuh wanita itu yang sensitif dan yang sangat sensitif. Seperti pada daerah bibir dan payudara. Masing-masing wanita berbeda daerah sensitifnya. Oleh karena itu perlu komunikasi intim.

E. Tata Cara Mandi Wajib

  1. Berniat dalam hati, tidak perlu dilafazkan.

Contoh Niat, “Bismillâhi al-Rahmâni al-Rahîm, sengaja aku mandi wajib (membersihkan hadas dan najis) karena Allâh  subhânahu wata`âlâ.

  1. Membasuh Seluruh Anggota Badan.

Pada saat membasuh anggota badan, ada beberapa hal yang disunatkan:

  1. Mulailah dengan mencuci kedua tangan tiga kali.
  2. Kemudian membasuh kemaluan.
  3. Lalu berwudhu’ secara sempurna, seperti halnya wudhu’ untuk shalat. Mulai dari sebelah kanan.
  4. Kemudian menuangkan air ke atas kepala sebanyak tiga kali sambil menyelang-menyelangi rambut agar air sampai membasahi urat-uratnya. (ini khusus membasahi kepala saja atau sama dengan seseorang membersihkan rambutnya pakai shampo).
  5. Lalu mengalirkan air keseluruh badan dengan memulai sebelah kanan lalu sebelah kiri tanpa mengabaikan kedua ketiak, bagian dalam telinga, pusar dan jari-jari kaki serta menggosok anggota tubuh yang dapat digosok. Mengalirkan air sedikitnya tiga kali. Selesai.
  6. Khusus untuk wanita yang berambut panjang tidak diwajibkan menguraikan rambutnya seperti laki-laki:

Sabda Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam, “Bahwa seseorang wanita bertanya kepada Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam: “Jalinan rambutku amat ketat, haruskah diuraikan jika hendak mandi janabah? ”Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam menjawab: “Cukuplah bila engkau menuangkan ke atasnya air tiga kali, kemudian engkau timbakan ke seluruh tubuhmu. Dengan demikian engkau telah suci.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidziy).

Semua aturan ini berdasarkan pemahaman prinsip-prinsip ajaran Islam, yang mengandung hikmah dan kebaikan untuk semua manusia, terutama sekali bagi umat islam, untuk menjaga kepuasan bagi sesama pasangan berdasarkan tujuan awal dari pernikahan yaitu ibadah kepada Allâh, serta untuk menjaga kelestarian keturunan, disamping suatu wadah penyaluran hasrat sex yang dimiliki manusia kepada lawan jenis secara sehat dan bermartabat lagi terhormat.

Ingat ketika Allâh mengajarkan kita lewat firman-Nya selalu dipanggil dengan ungkapan kasih sayang, ini mengisyaratkan bahwa Allâh senantiasa sayang pada hamba-Nya, berdasarkan sifat-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi janganlah sekali-kali menentang ajaran Allâh dengan berdalih tidak mungkin atau tidak berlaku lagi. Bertakwalah kepada Allâh dan ta`atlah.

Adapun hal-hal yang tidak termasuk di dalam tulisan ini merupakan ketidak mampuan dan kekhilafan penulis, atas semua ini penulis berharap semua yang tertulis dalam buku ini dapat dimaklumi dan memberikan masukan-masukan, baik secara syari`at maupun secara hukum positif yang berlaku diluar kemampuan penulis sendiri, yang pada hakekatnya maksud dari syari`at adalah hak Allâh secara mutlak, manusia hanya dapat mengkaji, memahami dan mengamalkannya berdasarkan kemampuan intelektual masing-masing yang dianugerahkan-Nya.

Malahan Yusuf Qaradhawi pernah berfatwa bahwa, seorang muslimah boleh jadi atris. Dengan syarat tetap berpakaian muslimah, kameranmennya tidak boleh terlalu lama mengarahkan kameranya kepada atris tersebut, tidak menonjolkan karakter atris tersebut, sehingga terkesan tidak etis. Ini dalam koridor Ijtihad.

Setelah pembahasan ini penulis akan mencoba uraikan masalah seputar sisi lain dari perempuan yang mungkin perlu kita renungkan kembali apa dan bagaimana seharusnya perempuan bersikap dan inovasi-inovasi yang dilakukan untuk mengaplikasikan syari`at tanpa melanggar kodratnya yang telah dianugerahkan Allâh kepada kaum perempuan.

Sebenarnya masih banyak solusi-solusi  yang pantas diikuti dan dicermati oleh kaum perempuan sebagai mitra kaum laki-laki untuk menyonsong hidup dan kehidupan di dunia ini sebagaimana layaknya makhluk yang beradab dan berbudaya terutama sekali budaya Islam. Islam menawarkan solusi-solusi agar kaum perempuan tidak terhina justru memuliakannya, sebagaimana akan penulis paparkan pada bahasan-bahasan berikut ini.

Dalam berbagai literatur penulis temukan banyak fatwa-fatwa ulama tentang perempuan, berkisar antara profesi dan status perempuan sebagai mitra laki-laki dalam urusan mu`amalah, namun dalam masalah ibadah, perempuan mendapat tempat tersendiri. Contoh, perempuan yang haid tidak diwajibkan melakukan shalat. Sampai ia suci, dari haid atau bahkan dalam keadaan nifas juga termasuk dalam kategori ini.

Contoh lain, seperti sang isteri ingin puasa sunat dalam keadaan yang sama ia harus menuhi hasrat seksual suaminya, pada saat itu bagi perempuan atau sang isteri tidak ada pilihan lain, harus memenuhi hasrat suaminya tersebut. Dan itupun menjadi ibadah melebihi puasanya yang akan dilakukan.

Demikian Islam menghormati kaum laki-laki dan menghargai perempuan dengan pahala yang seharusnya berada dalam keinginan yang tidak terbayangkan. Dan banyak lagi peluang-peluang terhormat lainnya terkadang diabaikan atau bahkan meremehkannya.

Berbagai kasus terjadi dalam pemahaman masyarakat. Dengan memperturutkan egonya ingin beribadah kepada Allâh, namun mereka melupakan kewajibannya kepada orang yang paling dekat dengannya, bahkan telah disinyalir oleh Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallan, “kalaulah tidak dilarang makhluk menyembah makhluk, maka akan aku perintahkan isteri menyembah pada suaminya.” Begitu berharganya penghormatan yang diberikan kepda sang suami. Dengan demikian pantaslah kiranya seorang suami bertanggungjawab terhadap perlindungan dan kasih sayang tercurah dengan tulus kepada suaminya. Dimata sang isteri hanya suaminya menjadi sanjungannya lebih dari segala-galanya setelah Allâh. Berikut penulis memaparkan beberapa fenomena perempuan dengan melirik sisi lain dari perempuan itu sendiri.

BAB VI

SISI LAIN KAUM PEREMPUAN

  1. I. Perempuan Masa Sebelum Islam

Perempuan pada masa sebelum islam adalah suatu masa dimana mereka menemukan penindasan dan eksploitasi dalam berbagai bidang. Mereka diperlakukan sebagai budak kaum laki-laki. Sebagaimana layaknya seekor anjing terhadap tuannya.

Dikalangan Yahudi, dihalalkan berzina dengan ibu dan saudara perempuan. Sebagaimana dikatakan dalam talmut (salah satu kitab suci Yahudi), “Siapa saja yang berzina dengan Ibunya, ia akan memperoleh hikmah (berkah). Dan bagi yang berzina dengan saudara perempuannya, ia akan memperoleh cahaya ilahi.” Dr. Muhammad Ahmad Diyab Abdul Hafidz, Meguak Tabir dan Konspirasi Yahudi, 2005, hal. 17).

Dan dikatakan lagi, kaum perempuan tidak mempunyai hak, layaknya seperti sebuah milik yang bisa dibeli dari ayahnya melalui pernikahan. Suami adalah tuan bagi isteri. Dalam interaksi antar keduanya, sang isteri sama sekali tidak memiliki hak untuk menasehati sang suaminya. Poligami merupakan kebiasaaan yang berlaku untuk selama-lamanya. (Ibid., hal. 120). Demikian kaum Yahudi mendistorsi ajaran mereka yang ditulis 900 tahun sepeninggal Nabi Musa. (Ibid., hal. 151).

Padahal perzinaan, apalagi dengan ibu bertentangan dengan 10 wasiat Allâh yaitu wasiat ke-8 dan 9 dari Sifr Khuruj. Yaitu “Hormatilah  bapak dan ibumu agar umur yang tuhan berikan kepada kalian bertambah lebih lama di bumi (8) dan Jangan membunuh, berzina, mencuri, dan jangan memandang tetanggamu dengan pandangan sinis. (9).” Demikian disinyalir oleh Al-Qur’ân, “Mereka mengubah kalimat-kalimat Allâh dari tempat-tempatnya.” (QS. Al-Maidah/5 : 13).

Sebagaimana diketahui, di zaman Jahiliyah kaum perempuan yang lahir harus dibunuh, dan dianggap sebagai kehinaan bagi kaumnya. Karena akan memperlemah kedudukan suku mereka didepan suku lain. Dan di India, khusus dikalangan umat Budha dahulu pernah timbul anggapan bahwa, kaum wanita adalah sumber kehancuran bagi kelestarian ajaran suci Sang Budha.

126

Banyak lagi kebobrokkan yang ditujukan kepada kaum perempuan, untuk menghinakan kedudukan kaum mereka. Lalu bagaimana mereka bisa bangkit dari kehidupan yang setara dengan kaum laki-laki sebagaimana diharapkan kaum perempuan sekarang. Dimana keadilan akan tercipta bila dalam doktrin-doktrin yang menyesatkan muncul dalam kehidupannya, tentu ada jalan keluar sebab Allâh menjadikan manusia tidaklah dengan main-main, tapi penuh dengan skenario yang paling bagus. Bukti-bukti di atas adalah sebagai pelajaran bagi manusia, bagaimana hidup ini tidak dipandu dengan ajaran yang benar dan dapat menjawab seluruh masalah yang ada dikalangan manusia. Yaitu hanya dengan wahyu dan keterangan para Nabi dan Rasul-Nya yang mulia.

  1. Perempuan Masa Awal Islam

Pada awal munculnya islam semua bentuk penindasan dan eksploitasi berangsur-angsur dihilangkan dengan norma-norma agama yang berdasarkan wahyu, mereka secara simultan mendapatkan tempat yang mulia.

Dan melalui fase-fase yang cemerlang yang telah dicapai oleh Pemerintah Islam pertama pada zaman Nabi, dimanan seorang perempuan merupakan pendamping lelaki, ikut berpartisipasi dalam melaksanakan kewajiban yang dibebankan oleh Islam, seperti jihad, belajar, usaha mencapai kemuliaan dalam rangka merealisir misi Al-Qur’ân: Ingatkanlah mereka tentang apa-apa yang harus dibaca dirumah mereka dari ayat-ayat Allâh dan nasehat kebijaksanaan, (QS. Al-Ahzab : 34).

Ayat ini menjadi bukti bahwa, wanita berhak untuk belajar dan diajarkan, serta mengetahui ilmu pengetahuan yang dimiliki kaum lelaki, ini dalam bidang ilmu pengetahuan.

Dizaman pertahanan Islan setelah Nabi pun, dalam bidang perjuangan Islam untuk mempertahankan dan jihad dijalan Allâh. Seperti Ummu Haram, beliau adalah seorang Pahlawan Fathul Islam ketika beliau bergabungan dengan Angkatan Perang Islam dalam menaklukkan Cyprus, sehingga gugur sebagai syahid di sana (Panji Masyarakat No. 619, 1-10 Agustus 1989, hal. 68).

III. Peranan Perempuan

Peranan perempuan sebagai pendamping kaum pria, dan menjadi mitra dalam hidup dan kehidupan kaum laki-laki. Selalu bekerjasama dalam mewujudkan keharmonisan. Masa inipun diwarnai dengan sikap diskriminatif sebagian kalangan.

128

Perempuan dalam sejarah, dilukiskan sebagai sosok yang paling diidamkan kaum pria. Sebuah fenomena tidak sedikit kaum perempuan  yang mengukir sejarah dengan tinta emas. Ini terlihat pada empat citra wanita tertinggi dalam sejarah manusia : Mariyam, Asiyah, Khadijah dan Fatimah. Kehebatan citra Maryam terpatri pada kekokohan jiwanya yang tak terpengaruh hembusan nafas zamannya. Melalui dirinya Allâh menitipkan Isa untuk diasuh dan dibina memjadi nabi berpribadi tangguh. Kegemilangan Asiyah terpancar dari keteguhannya melindungi dan memelihara Nabi Musa. Kendatipun suaminya, Fir`aun, berkonfrontasi terhadap Musa. Citra Khadijah dan kecemerlangannya diukir di atas pengorbanan dan kecintaannya terhadap Rasul Allâh Muhammad. Dan, Fatimah Azzahra seorang anak perempuan Rasul Allâh, ibu dan isteri yang amat kukuh. Fatimah tahan banting dalam terpaan badai kezhaliman.

Selanjutnya, adajuga perempuan yang mempunyai tabi`at sebagai mesin penghancur yang sangat ampuh seperti Donna Rice, Pamella Bordes, Christine Keeler mampu menggoncang “mahkota” dua negara digdaya. Donna Rice (seorang sarjana Biologi dan filsafat) melempar senyum mautnya, dan Gary Hart pun mundur dari panggung pemilihan calon peresiden negeri Paman Sam, dengan kecantikan dan kecerdasannya. Pamella Bordes, sang Ratu Kecantikan dari India. Membuat Kabinet negeri sarat aristokrat Inggris gonjang-ganjing, karena main mata dengan kemenakan musuh bebuyutan Barat Kolonel Khadafi. Christine Keeler, mampu mengandaskan karier mantan Menteri Pertahanan Inggris John Pfumno.

Disamping itu adajuga yang berjuang untuk memerangi sistem sosial budaya. Seperti Oshin seorang perempuan Jepang yang gigih dan tangguh dalam menghadapi penderitaan, Ia bertindak apabila saat merasa sangat terjepit. Walaupun keahliannya dieksploitasi oleh mertuanya. Karena peranan perempuan dinomor duakan (kelas dua) atau makhluk subordinat. Juga di Indonesia dikenal pula R.A. Kartini, sebagai pejuang emansipasi perempuan, yang sampai saat ini perjuangannya masih diperhitungkan, bahkan hari kelahirannya diperingati dan dihormati oleh bangsa dan negara Indonesia pada setiap tanggal 21 April. Banyak lagi peranan perempuan yang masih belum terungkap. Mereka sering terusik oleh bentuk masyarakat yang beragam, terutama di Indonesia yang memiliki budaya yang majemuk.

  1. Peranan Perempuan dalam Rumah Tangga

Perempuan sering juga menjadi barang eksploitasi oleh sebagian aliran Agama Islam, seperti dalam ajaran Al-Argam yang didirikan oleh Ashaari Muhammad bersama beberapa kawannya di Kampung Keramat, Kuala Lumpur tahun 1968. Ashaari awalnya adalah Aktivis Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) dan Partai Islam se-Malaysia. Mereka mewajibkan poligami terhadap penganutnya, tanpa ada batasan yang jelas. Ini akan memberi dampak negatif bagi wanita. Bahwa hak-haknya dipersamarkan, padahal Islam memberikannya. Walaupun sebuah organisasi yang kemudian berkembang menjadi bentuk ajaran, jelas ini telah menyimpang dari Ajaran Islam Murni (Manji Masyarakat No. 619, 1-10 Agustus 1989, hal. 57-61). Begitu gampang orang menjadikan agama sebagai doktrin yang tak logis. Sehingga merugikan satu pihak, demi kepuasan pihak lain yang semestinya melindungi dan menghormati hak-haknya.

  1. Peranan Perempuan dalam Masyarakat

Peranan perempuan dalam masyarakat, sangat penting untuk disimak. Dalam sepanjang sejarah Islam yang penuh dengan kegiatan-kegiatan sosial. Ini merupakan cermin dari kemuliaan akhlak yang diajarkan dalam Islam. Seperti dianjurkan bagi kaum perempuan yang mampu, misalnya mendirikan sebuah lembaga yang khusus untuk membantu masyarakat yang tak mampu/miskin. Contoh mendirikan kelompok Arisan yang khusus meminjamkan alat-alat atau perhiasan untuk acara pernikahan atau walimah al-`urs. Setelah selesai acara tersebut si peminjam mengembalikannya kepada kelompok Arisan tersebut. Ini sangat membantu untuk terciptanya hubungan sosial yang harmonis.

Inilah salah satu peran kaum perempuan yang semestinya ada dan dinilai sangat mulia. Akan lebih mulia ada inisiatif mendirikan suatu lembaga Wakaf yang khusus untuk masalah ini. Karena Islam adalah agama akhlak, seperti sabda Nabi,

اِنَّمَابُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak”. (HR. Al-Tirmidzi, Al-Thabrani, dan Al-Hakim, al-Hakim menshahihkannya dengan syarat Muslim, Nashiruddin Al-Albani juga menshahihkannya). (Yusuf Qaradhawi, Distorsi Sejarah Islam, 2005, h. 155).

  1. Peranan Perempuan dalam Bidang Agama

Sangat besar peranan kaum perempuan dalam bidang agama khusus para Ibu. Sebab tugas utamanya adalah mengasuh dan mendidik anak. Dalam pembentukkan akhlak anak tergantung didikan Ibu terhadap anak yang dianugerahkan Allâh pada mereka. Disamping suami sebagai pelindungan kesejahteraan keluarga. Dengan demikian jelas tugas Ibu terhadap agama buah hatinya.

Dalam lingkungan lebih luas, hendaknya ada diantara para ibu yang memiliki pengetahuan agama yang mampu berfungsi sebagai umm al-mukminin. Yang berperan sebagai penafsir pesan-pesan agama kepada kaum mereka. Dengan ini akan terciptalah kesepadanan ilmu dengan kaum Bapak. Karena menuntut ilmu bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan secara umum adalah wajib. Kalau sudah begini penulis yakin tak akan ada tumpang tindih tentang kesetaraan gender, masih pentingnya pembicaraan persamaan hak laki-laki  dan perempuan akan sirna, karena mereka telah memfungsikan potensi masing-masing sesuai fitrah. Sikap beginilah yang diharapkan kepada kaum perempuan agar tetap menjaga kodratnya.

  1. Peranan Perempuan dalam Bernegara

Sebagai warga negara, “Wanita adalah tiang negara, rusak wanita maka rusaklah negara “. Demikian sabda nabi. Disamping negara melindungi hak-hak perempuan, dipersamakan dalam negara. Hak berkumpul dan menyampaikan pendapat pada Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28,

“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”

Melihat bergemanya himbauan reformasi, yang menimbulkan gejolak dalam penyampaian pendapat maka perlu DPR membuat Undang-undang. Yang pada keputusannya, tanggal 26 Oktober 1998 disahkanlah Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998. Isinya mengatur perihal kemerdekaan setiap warga negara Indonesia mengemukakan pendapatnya dimuka umum. Pada Pasal ke-4 point d, “menempatkan tanggung  jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara tanpa mengabaikan kepentingan perorangan atau kelompok.”

Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28 di atas sejalan dengan Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia Pasal 19 bahwa,

Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hak ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat dengan tidak mendapat gangguan dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan keterangan dan pendapat dengan cara apa pun juga dan dengan tidak memandang batas-batas.”

Dan dalam Pasal 29 pada point “d”, menyatakan sebagai berikut,

“Melindungi hak warga negara sesuai dengan Pasal 28 Undang-undang Dasar 1945. di sisi lain dapat mencegah tekanan-tekanan, baik fisik maupun psikis, yang dapat mengurangi jiwa dan makna dari proses keterbukaan, dalam pembentukan dan penegakan hukum.”

Hal ini menunjukkan kepedulian negara pada hak warganya termasuk kaum perempuan, sekarang menteri, bahkan jadi presiden di Indonesia, namun “seandainya urusan negara diberikan pada perempuan, akan hancurlah negara tersebut.” Sejarah telah membuktikan hal tersebut, seperti pemerintahan Megawati di Indonesia, dan Aroyo di Pilipina.

Kaum perempuan jangan khawatir. Selain yang belum ditegaskan oleh Al-Qur’ân dan Sunnah Nabi. Hal itu boleh kamu lakukan, sebagaimana yang dicontohkan oleh umm al-Mukminin. Para isteri nabi adalah isteri yang berkiprah untuk perempuan bermartabat.

  1. Emansipasi Perempuan (Woman`s lib)

Emansipasi itu secara ideal adalah meninggikan harkat dan martabat agar tidak sebagaimana kehidupan orang yang mempunyai bekal pengetahuan (pendidikan) yang memadai sebagai aktualisasi kehidupan atau profesinya bagi orang yang berbakat untuk itu, meraka yang melupakan kodrat sehingga mereka “layu sebelum berkembang”.

Banyak orang berpendapat bahwa emansipasi itu adalah persamaan hak wanita dengan pria, misalnya model liberal Barat yang diproyeksikan tidak ada perbedaan prinsip antara pria dan wanita. Namun tidak semua kaum wanitanya diprofesikan. Tapi harus sesuai dengan karakter yang dimilikinya.

“Wanita masa kini” menpunyai kecenderungan yang kuat pada faktor otonom, kalau faktor otonom ini makin diideologikan, maka mereka akan lebih memilih untuk tidak kawin, dan mengejar karier, serta bebas menentukan sendiri dengan pria mana ia berhubungan. Akibatnya, akan terjadi krisis penyelewengan isteri atau wanita ekstramarital. Jelas ini akan merusak moral bangsa dan negara, karena mereka tiang negara.

Psikolog Laurel Richardson menyimpulkan penelitiannya dari 700 wanita yang mempunyai hubungan ekstramarital dengan suami lain adalah faktor otonom yang dipunyai wanita itu. Akhirnya terbentur juga dalam kehidupan bermasyarakat. (Panji Masyarakat No. 619, 1-10 Agustus 1989, hal. 32-33).

IV.  Kerentanan Perempuan

Sebagaimana diketahui, bahwa wanita adalah mitra kaum laki-laki, bukanlah berarti sama dalam berbagai hal. Tapi mereka mempunyai kelemahan-kelemahan, dan kelemahan tersebut membuat mereka rentan terhadap kemajuan dan perubahan peradaban manusia.

Misalnya dalam masalah kesehatan yang dapat mengancam jiwa dan raganya. Ada beberapa kerentanan pada perempuan yaitu: Kerentanan Biologis, Kerentanan karena tidakadilan Gender, Kerentanan sosial yang berupa kekerasan seksual dan perdagangan perempuan, kerentanan ekonomi, dan kerentanan kultural.

  1. Kerentanan Biologis

Kerentanan biologis, organ reproduksi yang tersempunyi sehingga tidak mudah terdeteksi bila ada keluhan. Selain itu organ reproduksi perempuan memiliki selaput mukosa yang luas, mudah luka/iritasi, sehingga bila terjadi penetrasi penis dengan kekerasan atau penis dengan Infeksi Menular Seksual (IMS) akan lebih memudahkan terjadinya penularan. Perlu diingat dalam kasus penularan virus HIV/AIDS. Jumlah virus HIV di dalam sperma juga lebih banyak dibandingkan jumlah virus HIV di dalam cairan vagina, sehingga perempuan sebagai pihak penampung sperma lebih besar kemungkinannya untuk terinfeksi. Apalagi ada luka di vagina yang seperti akibat seks yang dipaksa. Sehingga virus dapat berpindah, risiko penularan akan meningkat bila terdapat infeksi Menular Seksual (IMS).

  1. Kerentanan Karena Ketidakadilan Gender

Akibat dominasi kaum pria, sehingga tak menghiraukan nasib perempuan yang memang mereka ada yang punya kemampuan atas pekerjaan/profesi yang biasa dilakukan pria seperti menjadi dokter, ahli bedah, dan lain sebagainya dengan tidak merugikan aspek kodrat yang mereka dimilikinya.

  1. Kerentanan Sosial

Dalam kehidupan sosial wanita dipandang sebagai pelengkap tatanan sosial yang berada disamping pria sebagai layaknya pembantu. Sehingga kaum perempuan dijadikan barang komoditi yang bisa diperjual belikan, seperti kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya.

136

Dalam masalah ini lalu bermunculanlah berbagai badan perlindungan mulai dari adanya deklarasi tentang perempuan, lembaga pemberdayaan perempuan. Seperti Deklarasi PBB pada Millennium Summit September 2000, yang dihadiri 189 negara diantaranya mendeklarasikan, “menegakkan Hak Azazi Manusia (HAM) dan demokrasi”.  (Jurnal HAM. Vol. 3. tahun 2005, hal. 44-45). Termasuk perlindungan perempuan dari perampasan hak-haknya. Berupa kemerdekaan perempuan dan laki-laki berhak untuk hidup bermartabat, bebas dari kelaparan, kekerasan dan ketidakadilan, dan sebagainya yang mendukung hal ini secara mendasar. Dalam berbagai bidang sosial, orang selalu mengarah pada kaum perempuan, karena mereka yang pantas untuk urusan ini.

  1. Kerentanan Ekonomi

Begitu juga masalah ekonomi, kaum perempuan selalu menjadi lahan eksploitasi, dengan gaji yang murah, fasilitas apa adanya dan terkadang tidak tidak layak. Ini dikarenakan lapangan kerja yang sempit dan jumlah pencari kerja yang melimpah. Apalagi jumlah populasi perempuan lebih banyak dibandingkan kaum laki-laki. Perbandingannya tidak siknifikan dengan pekerjaan yang ada. Dengan demikian akan lebih mudah untuk mengeksploitasi tenaga dan keahlian perempuan baik secara kolektif maupun individu.

Di Indonesi tentang perkonomian yang berkaitan dengan hak hidup ini di atur dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 27.

  1. Kerentanan Kultural

Dan secara kultural kerentanan pada perempuan tersebut berkisar pada adat-istiadat dimana ia berdomisili. Misalnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), berlaku tradisi sifon (tradisi sunat pada laki-laki NTT untuk penyembuhan luka sunat ini, remaja tersebut diharuskan melakukan hubungan seks dengan perempuan. Ritual seperti ini dimaksudkan sebagai pendingin luka agar cepat sembuh, namun hal ini malah akan meningkatkan risiko pada perempuan yang disetubuhinya tersebut terkena Infeksi Menular Seksual (IMS). Di Sumatera Utara ada tradisi turun ranjang, dimana seorang laki-laki yang kematian isteri, maka ia harus nikah dengan adik dari almarhumah isterinya (kalau ada), maka hal ini akan berakibat adanya perbedaan gejala seksual, sehingga timbul pemberontakan emosi si perempuan, maka ini akan mempengaruhi kehidupan seksnya yang tidak mampu memuaskan pasangannya.

Maka terjadilah kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya. Juga di Sumatera Barat tradisi ini disebut ganti lapiak (ganti tikar). Sebenarnya banyak masalah yang mesti dicermati dan dikonstruksi ulang dalam kultur-kultur yang ada, maka untuk penyelesaiannya adalah Islam, karena Islamlah yang mampu menyelesaikan masalah pelik ini. Islam berkiprah untuk kaum perempuan jadi bermartabat, dan terhormat.

V.  Solusi Bagi Kaum Perempuan

Berbagaimacam solusi yang dimunculkan oleh aktivis perempuan atau pemerhati perempuan mulai dari hak-hak dan kedudukannya di dalam keluarga, masyarakat atau pun negara. Diantaranya ada Badan Perlindungan Perempuan juga dalam berbagai deklarasi tentang perlindungan perempuan. Baik dari sudut pandang Liberal Barat maupun penganut sosialis. Dari masalah tersebut penulis kemukakan beberapa solusi, insyâ Allâh bermanfaat sebagai berikut:

A. Solusi Terlambat Nikah

Disini penulis kemukakan solusi yang disampaikan oleh Faruq Nasution tentang problem terlambat kawin:

  1. Mulai menalarkan apa dan bagaimana emansipasi itu sebenarnya, terutama dengan mengitari sejarah timbulnya kata-kata ini.
  2. Berpola pada pikiran rasionalitas, sampai dimana batas emansipasi dan seleksinya.
  3. kembali kepada nafas bimbingan agama, terutama dengan mengitari kedalaman arti “Fi Buyutikunna” secara harfiyah dan maknawiyah.
  4. perangkat kata “otonom” tidak etis dalam pandangan kita orang Timur, dan tidak layak dalam pandangan moral Islam.

Islam sangat menghormati kedudukan wanita, “Sorga ditelapak kaki Ibu“, artinya apa, diterangkan oleh hadits lain “Keridhaan Allâh terletak pada keridhaan kedua orang tua (ayah dan ayah). Atau perbandingan dalam masalah kehormatan adalah tiga banding satu dengan ayah. Wanita adalah tiang negara, rusak wanita maka rusaklah negara. Demikian ungkapan Rasul Allâh shall Allâhu `alaihi wa sallam.

Ini semua tergantung pada sikap mental seseorang, bagaimana ia menyikapi tantangan hidup. Mental ini menpunyai definisi, G.W. Allport menemukan lebih dari 100 definisi mental (attitude = mental attitude), tapi ada 3 kesamaan yang konsisten :

  1. Sikap mental selalu terkait dengan perilaku (behavior)
  2. Sikap mental adalah variabel unidimensional yang ada kaitannya dengan perasaan terhadap objek.
  3. Sikap mental abstrak, namun konsekuensinya dapat dilihat.

Secara teori Human Behavior tampak bahwa sikap mental manusia dipengaruhi oleh atau dibentuk oleh nilai luhur agama, ideologi dan pengalaman sejarah/tradisi dilingkungannya.

Juga akan dipengaruhi oleh kendala situasi, keinginan dan norma. Inilah yang akan memunculkan perilaku seseorang baik tingkah individu maupun sosial.

Berdasarkan hal di atas untuk menimbulkan perilaku yang luhur, individu maupun sosial maka mesti menjaga nilai-nilai luhur berdasarkan nilai-nilai luhur agama dan sosial-budaya.

  1. Solusi Untuk Kaum Perempuan

Sebagai perempuan selayaknyalah kembali kepada fitrah yang telah digariskan penciptanya. Mereka patut mensyukuri, Islam telah mengembalikan fitrah mereka dari rongrongan kaum-kaum terdahulu yang telah mengingkari kehadiran mereka.

Sejak awal kejadian Adam dan Hawa, yang mampu menjerumuskan suaminya atas rayuan sang isterinya. Disamping hal tersebut sudah menjadi skenario sang Pencipta. Disaat kaum perempuan menjadi penakluk kaum pria, mereka juga diciptakan untuk menenang jiwa sang pria. Sampai masa sekarang wanitalah yang menghidupkan suana hidup yang indah dan bahagia. Ini tentunya harus dibimbing nilai-nilai agamis yang luhur.

Masalah yang timbul di zaman modern ini, hampir semua kaum perempuan yang merasa tertekan dan dikungkung dengan nilai budaya dan agama brontak. Apalagi mengenai Porno Aksi dan Pornografi, malah sudah dirancang undang-undang tentang hal itu. Yaitu Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi (RUU-APP), malah ada yang menentang dengan berbagai alasan. Ada yang beralasan tidak perlu disahkan, karena kalau disahkan akan membunuh kreativitas para seniman. Ternyata ini lebih mengarah pada kreativitas penciptaan seni semata. Bukan pada kreativitas penciptaan ilmu dan teknologi guna meningkatkan kesejahteraan hidup. Itu salah satu alasan yang menolak.

Inilah Paham Sekuler, mereka tidak lagi memikirkan kesejahteraan hidup, melainkan memikirkan nilai jual yang merusak moral. Padahal tugas seorang seniman untuk mengeluarkan dan harus mampu mengekspresikan nilai-nilai yang indah, sehingga mampu mensejahterakan hidup ?.

Sadarlah, kembali kepada tuntunan Islam, jangan berpaling dari kodrat. Ikutilah kehendak pencipta yaitu pelajarilah Al-Qur’ân dan Sunnah, serta nasehat umm al-Mukminîn. jadilah isteri shalehah, inilah yang disenangi Rasul Allâh lewat sabdanya,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلاَثٌ الطَّيِّبُ وَالنِّسَاءُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِى فِي الصَّلاَةِ.

“Ada tiga hal yang sangat aku senangi di dunia ini, yaitu: Wangi-wangian, Isteri shalehah, dan ketenangan saat shalat.”(Imam Nawawi, 2005, hal. 75).

Kalau isteri kaya dalam hal harta benda, maka kalau dengan senang hati dan ikhlash memberikan hartanya kepada suaminya atas dasar kasih sayang, dan suaminya dalam keadaan miskin, maka ia akan mendapat dua pahala satu pahala ibadah dan satu pahala sedekah. Harta isteri merupakan hak isteri (kandungan Hadits Riwayat Bukhâriy dan Muslim). (SAHID, No. 10/Tahun III/Februari 1991, hal. 41).

Shahabat Rasul Allâh shalla Allâhu `alaihi wa sallam umar bin al-Khatthab radhiy Allâhu `anhu juga pernah berkata,

لَوْلاَ اْدِّعَاءُالْغَيْبِ لَشَهِدْتُ عَلَى خَمْسِ نَفَرٍ أَنَّهُمْ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْفَقِيْرُ صَاحِبُ اْلعِيَالِ وَالْمَرْئَةُ الرَّاضِى عَنْهَازَوْجُهَاوَالْمُتَصَدِّقَةُ بِمَهْرِهَاعَلَىزَوْجِهَا وَالْرَّاضِى عَنْهُ اَبَوَاهُ وَالْتَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ.

“Sekiranya tidak takut dituduh mengetahui yang ghaib, tentulah aku mau bersaksi bahwa kelima golongan manusia ini adalah termasuk ahli surga, yaitu:

Orang fakir yang menanggung nafkah keluarganya;

Wanita yang suaminya ridha kepadanya;

Isteri yang menshadaqahkan mahar/maskawinnya kepada suaminya;

Anak yang kedua orang tuanya ridha kepada dirinya; dan

Orang yang bertobat dari kesalahannya.”

Demikianlah islam mengajarkan kepada umatnya. Semuanya penuh dengan sikap ridha dan syukur atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allâh kepada mereka. Dengan sikap inilah mereka dapat merasakan betapa indahnya keluarga. Maka sampailah mereka pada nikmat “rumahku adalah surgaku”.

Konsep-konsep demikianlah yang seharusnya dimunculkan oleh kaum perempuan pada masa ini, saling memperlukan, dan memberi kemudahan dalam berbagai persoalan hidup yang dihadapi. Saling menjaga keutuhan rumah tangga. Adapun mengenai toleransi Islam terhadap pernikahan antara laki-laki muslim dengan perempuan Ahli Kitab akan diterangkan berikut.

  1. Pernikahan Laki-laki Muslim dan Perempuan Ahli Kitab

Khusus wanita Ahli Kitab, Yahudi dan Nashrani, islam memberi toleransi, dengan membolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan dari kalangan mereka. Dan setelah menikah isteri yang berasal dari Ahli Kitab tersebut tetap berada dalam agamanya, memperbolehkan pergi ke gereja untuk melakukan kewajiban ibadahnya. Ini apabila ada sebab-sebab khusus, seperti bagi orang-orang yang kuat akidahnya, tunduk pada hukum syari`at, menjalankan hukum dan ritualnya.

Sebagai dasar dari argumen ini adalah,

اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌ لَّهُمْ  وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُواالْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَا آتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسَافِحِيْنَ وَلاَمُتَّخِذِىْاَخْدَانٍ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاْلإِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِى ْلآخِرَاةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. (سُوْرَةُ الْمَائِدَةِ/5: 5).

“Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Siapa saja yang kafir setelah beriman maka sungguh, sia-sia amal mereka dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Al-Mâidah/5: 5).

Sebagaimana diketahui dari pendapat yang rajih (kuat) bahwa, ayat-ayat dalam surat Al-Mâidah tersebut paling terakhir diwahyukan Allâh kepada nabi, jadi hukum terakhir itu tidak ada yang menghapuskannya (me-nasakh-nya), jadi ini adalah sebagai toleransi bagi kaum ahl al-Kitab membolehkan menikahi perempuan mereka.

Sebagian ulama menganggap, “Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan”, ini adalah perempuan-perempuan yang merdeka. Tentunya hal ini tidak berlaku lagi, karena per-budak-an tidak ada lagi.

Al-Qur’ân tidak menjelaskan tentang diperbolehkannya bagi perempuan muslimah nikah dengan laki-laki ahl al-Kitab. Melihat dari ke-mudharat-an yang ditimbulkan, maka ulama sepakat mengharamkan hal itu. Karena sesuatu yang menyebabkan timbulnya pengharaman (secara pasti) terhadap sesuatu, maka sesuatu itu juga diharamkan.

Selanjutnya apabila dilihat secara pasti,  manfaatnya lebih besar. Berdasarkan keterangan di atas, maka hal itu dapat terjadi. Jadi untuk masalah ini, sebagai pertanyaan apakah pada zaman sekarang ini ada “perempuan-perempuan yang sesuai dengan firman Allâh di atas?”, apakah mereka betul-betul berpegang kepada ajaran kitab yang diwahyukan Allâh sebelum al-Qur’ân?.

Sebaiknya seorang muslim dan muslimah memperhatikan hal ini, karena Islam telah mengajarkan berbagai macam kebaikan kepada kita. Dan tidak sama dengan non-Islam. Sebagai contoh, pada tahun 1685 M., Perancis mengeluarkan ketetapan yang mengharamkan agama Protestan dan menghancurkan gereja-gerejanya, mengusir pemimpin-pemimpinnya dari negaranya. Pada tahun 1715 M., Perancis menganggap bahwa pernikahan yang diadakan tidak dengan cara Katolik adalah pernikahan yang tidak sah (baik laki-laki atau pun perempuan dari golongan mereka-pen). Dan Pada tahun 1724 M., Perancis menghalangi kaum Protestan untuk memperoleh pekerjaan, dan anak-anak Protestan disandera untuk dididik dengan pendidikan Katolik. Demikian perlakuan doktrin yang mereka pahami, apa yang akan terjadi, akhirnya mereka memberontak. Aturan apa itu?, yang dibuat dari lembaga manusia, dan tidak sesuai dengan fitrah apakah itu yang dipegangi ahl al-Kitab sekarang?, kalau demikian halnya tentu tidak termasuk dalam kategori masalah ini.

Keterangan di atas, merupakan gambaran perbandingan negara non-Islam dengan negara Islam. Hanya islam membuat peraturan seperti itu lewat mulut mu`allimin islam.

Kembali pada masalah pernikahan laki-laki muslim dengan perempuan ahl al-Kitab, apakah pernikahan tersebut dilakukan secara islam atau tergantung pada ajaran perempaun ahl al-Kitab?, jelas menurut ajaran Islam. Karena islam hanya memberi toleransi bukan sebagai hak penuh untuk “ibadah” sakral ini (pernikahan), sehingga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai islam, sesuai dengan syarat yang dikemukakan di atas.

Nah, bagaimana ada dikalangan golongan islam yang mengharamkan nikah dengan golongan islam lain, yang pahamnya tidak sama dengan golongan tersebut, seperti golongan arqam, ahmadiyah, dan lainnya. Pada hakekatnya ajaran tersebut bukanlah ajaran Islam, karena islam tidak pernah secara qath`iy (pasti), melarang pernikahan sesama muslim.

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan melalui tulisan ini, dan penulis akhiri dengan do`a,

رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوبَنَابَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَ وَهَبْ لَنَامِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. (سُوْرَةُ آلِ عِمْرَانِ/3: 8)

“(Mereka berdo`a), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau Berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Âli `Imrân/3: 8).

Semoga dengan pembahasan yang singkat ini dapat bermanfaat, bagi semua umat islam, khusus bagi penulis sendiri menajadi amal yang shaleh. Amien. Wa Allâhu A`lam bi al-Shawâb.

DAFTAR RUJUKAN

Abu Al-Su`ud Badr, Abdullah, Tafsir Umm Al-Mu`minîn `Aisyah r.ha, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2000), Cet. I, penerjemah: Gazi Saloom dan Ahmad Syaikhu.

Ahmad Jaiz, Hartono, Aliran-aliran dan Paham Sesat di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), Cet. XII.

Al-Bukhâriy, Abu `Abd Allâh Muhammad Ibn Ismâ`îl, al-Jâmi` al-Shâhîh al-Mukhtashar min Umûr Rasûl Allâh `alaihi wa Sallam wa Sunanih wa Ayyânih, (Bairut : Dâr al-Fikr, [t. th]).

Al-Ghazali, Ringkasan Ihya `Ulumuddin, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), Cet. I, Penerjemah: Zaid Husein Al Hamidi.

Al-Ghazali, Ihya’ `Ulumuddin, penerjemah: Ahmad Rofi` Usmani, (Bandung: Pustaka, 2005), Cet. I, Jilid 4.

Al-Hikmah & DITBINBAPERA Islam, Mimbar Hukum; jurnal dua bulanan: aktualisasi Hukum Islam, (Jakarta: PT. Internusa, 1995), No. 21 tahun VI.

Ali Akbar, Merawat Cinta Kasih, (Jakarta: Pustaka Antara, 1995), Cet. XX.

Aliyah, Samir, Sistem Pemerintahan, Peradilan, dan Adat dalam Islam, penerjemah: H. Asmuni Solihan Zamkhsyari, Lc., (Jakarta: Khalifah, 2004), Cet. I

Al-Khurasyi, Sulaiman bin Shalih, Pemikiran Yusuf Al-Qaradhawi dalam Timbangan, penerjemah: Abdul Ghoffar, E.M. (Bandung: Pustaka Imam Al-Syafi`i, 2003), Cet. I.

Al-Maqdisy, Al-Imam al-Syaikh Ahmad bin `Abdu al-Rahmân bin Qudamah, Minhâj al-Qashidîn: Jalan Orang-Orang Yang Mendapat Petunjuk, (Jakarta: Pustaka al-Kautsâr, 1997), Cet. I, Penerjemah: Kathur Suhardi, judul asli, “Mukhtasâr Minhâj al-Qashidin”.

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Terjemahan Tafsir al-Maraghi Juz II, (Semarang: CV Toha Putra, 1993), Cet. II, Penerjemah: K. Anshori Umar Sitanggal, dkk.

Al-Mubarakfuriy, Syaikh Shafiyy al-Rahman, Sirah Nabawiy, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1997), Cet. I, Penerjemah: Kathur Suhardi.

Al-Qaradhawi, Yusuf, Fatawa Qardhawi, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), Cet. II.

Al-Qaradhawi, Yusuf, Distorsi Sejara Islam, penerjemah: Arif Munandar Riswanto, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), Cet.I.

Aminuddin  dan Slamet Abidin, Fiqh Munakahat 1, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. I.

Ash-Shiddieqy, Hasbi, Fiqh Ibadah Ditinjau dari Segi Hukum dan Hikmah, Cet. VIII, (Jakarta, 1994), Cet. VIII.

Bahreisy, Salim, Al-Hikam; Pendekatan `Abdi pada Khaliqnya, (Surabaya: Balai Pustaka, 1984), Cet. V.

Bismar Siregar, Islam dan Hukum, (Jakarta: PT. Pustakakarya Grafikatama, 1990), Cet. I.

Boyke Dian Nugraha, DSOG, Surat-surat Pembaca tentang: Problema Seks dan Organ Intim, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2000), Cet. IV.

Bukhari. M, Hubungan Seks Menurut Islam, (Bumi Aksara: Jakarta, 2001), Cet. I.

Dahlan, H. M. D, Khuthbah Jum`at dan `Idain dari Kampus, (Bandung: CV Diponegoro, 1996), Cet. I.

Daud Ali, Muhammad, Hukum Islam; Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), Cet. Ke-11.

Didin Hafiduddin, Tafsir al-Hijri Surat al-Nisâ’, (Ciputat: Logos, 2000), Cet. I.

Djamaan Nuh, Fiqh Munakahat, (Semarang: Dina Utama, 1993), Cet. I.

Hamka, Lembaga Hidup, (Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 2001), Cet. 12.

Handono, Irena, dkk, Islam Dihujat; Menjawab Buku Islamic Invasion, (Kudus: Bima Rodheta, 2004), Cet. IV.

Hasan, Ayyub, Etika Islam: Menuju Kehidupan yang Hakiki, (Bandung: Triganda Karya, 1994), alih bahasa: Tarmana Ahmad Qasim, dkk.

Husein Bahreisj, Shahih Bukhari-Muslim, (Surabaya: CV Karya Utama).

Junaedi, Subki, Pedoman Mencari dan Memilih Jodoh, Cet. I, (Bandung: Sinar Baru, 1992).

Khoiruddin Nasution, Status Wanita di Asia Tenggara: Studi Terhadap Perundang-undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia, (Jakarta: Leiden, 2002).

Mahmud, Abdul Halim, Menyingkap Rahasia Ibadat, (Jakarta: Alayidrus, 1988), Cet. I.

Mizan Ansori, Penawar Kegundahan Hati, (Bandung: Husaini, 1987), Cet. I  di terjemahkan dari karya (`Abd al-Majid `Ali al-`Adawy, al-Tufah al-Mardhiyah fi al-Akhbari al-Qudsiyyah wa al-Ahadits al-Nabawiyyah;Mesir: Musthafa al-Bâbi al-Halabi, 1950 M/1369 H), Cet. II.

Nasir, Salihun, Tinjauan Akhlaq, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1991), Cet. I.

Nazar Nizar, Fiqh Munakahat (diktat), (Padang: IAIN, 1989), Cet. I.

Nawawi, Nashaihul `Ibad, penerjemah: Fuat Kauma, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005), Cet. Ke-10.

Panji Masyarakat No. 619, 29 Zulhijjah-8 Muharram, 1410, 1-10 Agustus 1989.

Panji Masyarakat, No. 08 tahun I. 09 Mei 1997.

Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Ciputat: Lentera Hati, 2000), Cet. I, Vol. 2.

Rahman, Abdur, Tindak Pidana dalam Syari`at Islam, penerjemah: Wadi Msturi dan Basri Iba Asghary, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), Cet. I.

Rahman Ritonga, Fiqh Ibadah, (Jakarta: GayaMedia Pratama), Cet. I.

Rasyid, Figh Islam, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1987), Cet. 20.

Republika, Terbitan Rabu, 2 Maret 2005.

Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998), Cet. III.

SAHID, No. 10/Tahun III/Februari 1991.

Sahli, Mahfudli, Amaliah Surgawi ; terjemahan al-Targhîb wa al-Tarhib,, (Jakarta: Pustaka Amani, 1981).

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah V, (Bandung: PT. Al-Ma`arif, 1997), Cet. XI, Penerjemahkan oleh: Mahyuddin Syaf.

Sayyid Sabiq, fiqh Sunnah IX, (Bandung: al-Ma’arif, 1994), Cet. XIII, Jilid 1, Penerjemahkan oleh: Mahyuddin Syaf.

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Bandung: PT. al-Ma’arif), Cet. I, Penerjemah: Muhammad Thalib.

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Jakarta: Kalam Mulia, 1991), Cet. II, Jil. 14.

Staf Redaksi PT Pustaka Litera AntarNusa, Nasehat-nasehat Al-Qur’ân, (Bogor: PT Pustaka Litera AntarNusa, 1989), Cet. I.

Takariawan, Cahyadi, Izinkan Aku Meminangmu, (Solo: Era InterMedia, 2004), Cet. I.

Thaha, Fauzy Sa`ied, Ghulam Ahmad Penyeleweng Terbesar, (Jakarta: Disampaikan pada seminar Nasional di Masjid Istiqlal, Agustus 2002).

Thalib, Muhammad, Nasehat Untuk Pengantin, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2001), Cet. I.

Umar As Seewed, Muhammad, Janganlah Mendekati Zina, (Sukabumi: Yayasan Al-Imam)

Usman, Ali. dkk, Hadits Qudsi, (Bandung: CV Diponegoro, 1997), Cet. XXII.

Usman, Suparman, Hukum Islam; Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), Cet. II.

Ya`qub, Hamzah, Etika Islam, (Bandung: CV Diponegoro, 1996), Cet. VII.


[1]Pasal  39 ayat (2) huruf b Jo PP No. 9 Tahun 1975 pada pasal 19 huruf b dinyatakan; salah satu sebab atau alasan perceraian ialah salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua (2) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa dasar yang sah. Dan inilah  yang kemudian yang menjadi salah satu janji ta`liq thalaq hingga kini. (Al-Hikmah & DITBINBAPERA Islam, Mimbar Hukum; jurnal dua bulanan: aktualisasi Hukum Islam, (Jakarta : PT. Internusa, 1995), No. 21 tahun VI (juli-Agus), hal. 93.

[2]Pasal 2 ayat 1 undang-undang No. 1 tahun 1974 Menyatakan; bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaannya. Dengan pernyataan ini Hukum Islam menjadi hukum yang berdiri sendiri setara dengan hukum barat. Ibid. hal. 18. Tahun 1981 Menteri Kehakiman Ali Said menegaskan, “Hukum Islam merupakan salah satu komponen tata hukum di Indonesia dan menjadi salah satu sumber baku pembentukan hukum nasional, ini ditegaskan oleh Menteri Kehakiman Ismail Saleh (tahun 1989), “… karena mayoritas rakyak Indonesia memeluk agama Islam. Ibid. hal. 19.

[3]Kata “Ta`zîr“, secara bahasa berarti pengajaran, kebesaran, sedangkan secara istilah berarti hukuman yang bersifat pengajaran terhadap kesalahan-kesalahan yang tidak diancam hukum had (khusus), atau kejahatan-kejahatan yang sudah pasti ketentuan hukumnya, tetapi syarat-syaratnya tidak cukup (seperti tidak cukupnya empat orang saksi dalam kasus pidana). Hukuman ini diserahkan pada hakim atau penguasa. Dapat berubah sesuai dengan kemashlahatan.

[4]Ketentuan-ketentuan yang membuat batasan-batasan bagi mukallaf baik mengenai perbuatan, perkataan, dan i`tiqad mereka. Itulah kandungan hukum Islam.

[5]Muhammad sall Allâhu `alaihi wa sallam, adalah orang nomor satu dunia dalam sejarah peradaban manusia, beliau seorang pemimpin yang tangguh, tulen, dan efektif. Lihat Michail H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, (Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya, 1988), Cet. Ke-8. judul asli: The 100`s, a Ranking of The Most Influential Persons in History.

[6]Al-Bukhâriy, Shahih al-Bukhâri, (Bairut : Dâr al-Ihyâ’ al-Turâts al-`Arabiy, [tth]), Juz 7, h. 3

[7]Menurut bahasa kata Qudsi adalah dinisbatkan pada lafazh “al-Qudsu” atau “alQudusu“. Artinya suci dan bersih. Disebut juga hadits Ilahiy, dinisbatkan pada lafazh “al-Hilâhu”. Atau disebut juga hadits rabbaniy, dinisbatkan pada lafazh “al-Rabbu“. Menurut istilah sesuatu yang didasarkan dan di-isnadkan oleh Nabi shall Allâhu `alaihi wa sallam kepada Allâh, tapi bukan al-Qur’ân.

[8]Kecuali dalam ajaran Nasrani khususnya Rum katolik, yang menganggap hal tersebut suatu hal yang mulia, bahkan mencerminkan kesempurnaan agamanya (seperti yang dialami oleh Yesus hingga disalib dan Maryam yang tetap perawan). Dasar mereka adalah Injil Matius 19: 12, 27-29; Korintus 7: 32-33 dan Surat Paulus, Rum 12: 1 yang isinya: “karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allâh aku menasehati kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan hidup yang kudus dan berkenan kepada Allâh; itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Lembaga Al-Kitab Indonesia, Al-Kitab, ( Jakarta: LAI, 1990), h. 203- PB, tapi sebagian mereka membolehkan. Yang menentang sikap celibat adalah Kristen Protestan, menganggap ini pernikahan sebagai sunnah Allâh. (lihat Abu Jamin Rohan, Garam Dunia, (Jakarta : Yayasan Garam Dunia, 2001), No. 180, Th. V, juga No. 181. Namun ajaran islam tidak mengajarkan pola hidup yang egois ini.

[9] اِنَّ اللهَ تَجَاوَزَعَنْ أُمَّتِى : اَلْخَطَأَ وَ اْلنِّسْيَانَ وَمَااسْتُكْرِهُوْعَلَيْهِ(Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Jakarta : Kalam Mulia, 1991), Cet. II, Jil. 14, hal. 126

[10]Pernikahan bukanlah seperti disangkakan oleh orang Nasrani, yang tidak mengenal perpisahan setelah pernikahan terjadi. Dan juga tata aturan dan petunjuk tentang nikah bahkan tentang rumahpun tidak begitu jelas, hanya berupa simbol-simbol. Seperti yang tertuang dalam Matius 29: 6, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allâh, tidak boleh diceraikan manusia. Ditambah lagi “Sebab seorang isteri telah terikat oleh hukum kepada suaminya itu (Roma 7: 2-3). Seperti itu juga sebelum masalah sebelum pernikahan atau dikenal dengan masa pertunangan, yang menurut ajaran Islam adalah masa penjajakan, pendekatan dan penilaian yang diawasi kedua belah pihak keluarga, agar tidak menyalahi aturan syari`at islam, karena dalam masa yang sensitif ini, belum tentu akan terlaksana pernikahan. Tapi Nasrani menganggap, “Dan siapa yang telah bertunangan (betrothed a wife = terikat nikah dengan seseorang), dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya (hidup bersama) ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain mengawininya.” (Kitab Ulangan 20: 7).

[11] Sumpah berlaku apabila dengan disebutkan nama Allâh, sebagaimana sabda Rasul shall Allâhu `alaihi wasallam, “Siapa yang bersumpah, harus dengan nama Allâh atau lebih baik ia diam (sumpahnya tidak berlaku) ” مَنْ كَانَ حَالِفٌ فَلْيُحْلِفْ بِاللهِ اَوْ لِيَصْمُتْ, sedangkan kafarat sumpah ditegaskan dalam QS. Al-Mâidah/5: 89 yang artinya, “Allâh tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Siapa yang tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasa tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpamu. Demikianlah Allâh menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

[12]Maksudnya kitab-kitab sihir.

[13]Syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir. (Ibnu Katsir).

[14]Para mufassir berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang Malaikat ini. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul Malaikat dan ada pula yang berpendapat, dua orang jahat yang berpura-pura shaleh seperti Malaikat.

[15]Bermacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan hubungan suami isteri.

16Dalam kitab ini beliau membahas masalah hubungan suami-isteri secara gamlang, sehingga jelas etika bagaimana berhubungan intim yang sesuai syari`at Islam, paling tidak menggambarkan keluesan Islam mengajarkan kepada kita untuk melakukannya dengan nyaman. Walaupun Syaikh Shalih Al-Fauzhan mengkritisi banyak hadits-hadits dha`if dalam kitab tersebut, dan sampai ada ungkapan, “Ilmu Hadits yang dimiliki Imam Al-Ghazali seperti orang mencari kayu bakar dimalam hari.” Namun kekurangan tersebut dapat diatasi dengan mengedit beberapa hal yang perlu oleh penerusnya dengan tidak merobah kandungan aslinya, mesti proposional. Masalah tentang hubungan intim itu dibahas oleh Imam Ghazali dalam Ihya’ `Ulumuddin, penerjemah: Ahmad Rofi` Usmani, (Bandung: Pustaka, 2005), Cet. I. Jilid 4, hal. 130-181. Dalam keterangan lain Felyx Bryk menyelidiki dengan kesimpulan bahwa “berkhitan dapat memperlambat ejaculatio seminis (memperlambat/memperpanjang persenggamaan).” Sejarah berkhitan ini, terdapat semenjak purba, pada bangsa Semit, Mesir, berbagai bangsa Amerika, Afrika, Melanesia, Polynesia, Australia dan Indonesia. Hanya pada bangsa Indo-Jerman, Mongol dan Fin yang tiada kebiasaan ini (kecuali yang dipengaruhi kebudayaan Islam).

Menurut Riwayat, yang mula berkhitan ialah Nabi Adam `alaihi salam, dan mewariskan kepada keturunannya. Dan diteruskan oleh Nabi Ibrahim `alaihi salam. Akan tetapi oleh Penganut Kristen, syari`at berkhitan itu dibatalkan. Bacalah: 1 Korintus 7: 18-19 juncto Galitia 5: 2, Galitia 6: 15. Inilah yang menjadi syari`at Nabi sebelum Nabi Muhammad yang disyari`atkan juga pada umatnya. Khitan, pada anak laki-laki adalah sebelum akhir baligh dan perempuan secepatnya pada umur tujuh hari sesudah kelahirannya dan biasanya paling lambat selagi balita. (Panji Masyarakat No. 619, 1989, hal. 36-37).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: