RSS

Pernikahan adalah Warisan Indah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallama

23 Des

Oleh : H. Mas’oed Abidin

الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ،  وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّد، وَ عَلىَ آله وَصَحْبهِ. وَ أَحْيِنَا اللَّهُمَّ عَلىَ سُنَّتِهِ، وَ أَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ، وَ احْشُرْنَا فيِ زُمْرَتـِهِ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنـْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. أَمَّا بَعْدُ.

 

Pernikahan Warisan Indah Sunnah Rasulullah SAW

Sabda Rasulullah SAW, “an- nikahu sunnati, man raghiba ‘an sunnati falaisa minni”, artinya “nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, tidaklah termasuk umatku” (al Hadist).  Dengan menikah, dua orang yang sebelumnya masih asing, mengikat diri dalam satu aqad atau perjanjuan nikah dan ijab-kabul dihadapan wali, saksi dan qadhi (penghulu), untuk saling perhatian, kasih sayang, kepedulian, simpati, ketulusan, dan cinta (mahabbah).

1. Kriteria Memilih Pasangan Hidup Perempuan:

a. Beragama Islam dan beramal shaleh (QS. Al-Nisâ’/4: 34)

Rasul Allâh SAW bersabda, “Perempuan dinikahi karena empat faktor: Pertama, karena harta; Kedua, karena kecantikan; Ketiga, kedudukan; dan Keempat, karena agamanya. Maka hendaklah engkau pilih yang taat beragama, engkau pasti bahagia.” (HR. Bukhâriy dan Muslim).

b. Berasal dari keturunan yang baik-baik

Rasul Allâh SAW bersabda, “Jauhilah oleh kamu sicantik yang beracun!, lalu sahabat bertanya: “Wahai Rasul Allâh, siapakah perempuan yang beracun itu? jawab Rasul Allâh,”Perempuan yang cantik tapi berada dalam lingkungan yang jahat.” (HR. Dâr al-Quthniy).

c. Masih perawan

Diriwayatkan dari Jabir, Rasul Allâh SAW bersabda, “Sesungguhnya Rasul Allâh telah berkata kepadanya, kata Beliau: “Hai Jabir, apakah engkau kawin dengan perawan atau dengan janda?” Jawab Jabir:  “Saya kawin dengan janda”. Kata beliau:  “Alangkah baiknya jika engkau kawin dengan perawan. Engkau dapat menjadi hiburan baginya dan diapun  menjadi hiburan bagimu.” (HR. Jama’ah).

d. Carilah perempuan yang Sehat atau tidak Mandul

Rasul Allâh SAW bersabda, “Dari Mu’qil bin Yasar, katanya telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW. Kata laki-laki itu, “Saya telah mendapat seorang perempuan yang bangsawan dan cantik tapi hanya dia tidak beranak (mandul). Baikkah saya kawin dengan dia ?”. Jawab Nabi SAW, “Jangan”, kemudian laki-laki itu datang untuk kedua kalinya dan Nabi tetap melarangnya. Kemudian pada kali ketiga laki-laki itu datang lagi. Nabi bersabda: “Kawinlah dengan yang dikasihi dan berkembang menghasilkan keturunan (subur)”. (HR. Abu Dâud dan Al-Nasâ’i).

 

Beraklak mulia, sopan santun, bertutur kata baik.

  1. Laki-laki yang beragama Islam dan shaleh (QS. Al-Nûr/24: 3 dan 26).
  2. Mempunyai kemampuan untuk membiayai kehidupan Rumah Tangga (sesuai dengan hadits Mutafaqq `alaihi – “yâ ma`syar al-syabâb”).
  3. Cerdas dan Sehat (layak untuk berumah tangga, baik jasmani dan rohani). dan
  4. Cakap Hukum (Baligh).
  5. Berakhlak mulia, sopan santun, bertutur kata baik dan pandai bergaul di tengah keluarga.

Demikian Kriteria Memilih Laki-Laki Calon Suami Yang Baik

 

Resep Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (SAMARAH) Sesudah Akad Nikah

Setelah akad nikah dilaksanakan, suami isteri mempunyai hak dan kewajiban, untuk mencapai tujuan perkawinan, membentuk keluarga bahagia dan kekal dalam aturan syari’at Islam, yang disebutkan dengan “Rumahku adalah syorgaku”.

Ada berapa resep untuk mewujudkan keluarga sakinah dan bahagia.[1] Di antaranya :

1. Saling Mengerti antara Suami-isteri

Seorang suami atau isteri harus tahu latar belakang pribadi masing-masing. Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing adalah sebagai dasar untuk menjalin komunikasi masing-masing. Dan dari sinilah seorang suami atau isteri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga hancur, disebabkan oleh sifat egoisme. Ini artinya seorang suami tetap bertahan dengan keinginannya dan begitu pula isteri. Seorang suami atau isteri hendaklah mengetahui hal-hal sebagai berikut :

a)       Perjalanan hidup masing-masing,

b)       Adat istiadat daerah masing-masing (jika suami isteri berbeda suku dan atau daerah),

c)        Kebiasaan masing-masing,

d)       Selera, kesukaan atau hobi,

e)       Pendidikan,

f)        Karakter/sikap pribadi secara proporsional (baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.

 

2. Saling Menerima

Suami isteri harus saling menerima satu sama lain. Suami isteri itu ibarat satu tubuh dua nyawa. Tidak salah kiranya suami suka warna merah, si isteri suka warna putih, tidak perlu ada penolakan. Dengan keredhaan dan saling pengertian, jika warna merah dicampur dengan warna putih, maka akan terlihat keindahannya.

3. Saling Menghargai

Seorang suami atau isteri hendaklah saling menghargai:

  1. Perkataan dan perasaan masing-masing,
  2. Bakat dan keinginan masing-masing,
  3. Menghargai keluarga masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju terkaitnya perasaan suami-isteri.
  4.  

4.          Saling Memercayai

Jika suami isteri saling mempercayai, maka kemerdekaan dan kemajuan meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.

     

5. Saling Mencintai

Suami isteri saling mencintai akan memunculkan beberapa hal seperti, lemah lembut dalam bicara, selalu menunjukkan perhatian, bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan (batin) masing-masing akan selalu tenteram.

Suami atau isteri harus selalu merawat dan memupuk lima saling di atas untuk mencapai keluarga bahagia dan kekal beradasarkan Syari’at Islam. Tidak ada kata lebih indah, tentang hubungan suami-isteri, selengkap Firman Allah, “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah/2: 187).

Rasa damai dan tenteram hanya dicapai dengan saling mencintai. Maka rumah tangga muslim punya ciri khusus, yakni bersih lahir baathin, tenteram, damai dan penuh hiasan ibadah.

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.ar-Rum : 21).

Ayat ini memakai dua kosa kata secara berurutan, yakni mawaddah, dan rahmah. Kedua-duanya berarti cinta, kasih dan sayang. Mawaddah artinya cinta dan ghairah ketika masih usia awal dan saling ketertarikan antara keduanya. Rahmah adalah cinta, kasih sayang, kepedulian karena pengalaman dalam perjalanan waktu dalam wadah ketenteraman (sakinah).

Cinta kasih yang tulus, dapat wujud jika memiliki rasa thaat dan kesadaran mempertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Surat an-Nisa’ ayat 1 sudah cukup sebagai pegangan.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

 

Dorongan Segera Melangsungkan Pernikahan

Menikah itu separoh dari agama, sebagaimana sabda Rasul Allâh SAW,

اِذَا تَزَوَّجَ اْلعَبْدُ فَقَدِاْستَعْمَلَ نِصْفُ اْلدِّيْنُ فَاْليَتَّقِ اللهَ فِي اْلنِّصْفِ الْبَاقِي  . رَوَاهُ البَيْهَقِى.

“Apabila telah nikah seseorang, maka ia benar-benar telah menyempurnakan seruan agama. Maka hendaklah ia takut kepada Allâh pada separoh yang tinggal” (HR. Baihaqiy).

Pernikahan adalah ibadah yang sakral. Mempunyai risiko hukum. Bimbingan agama menyebutkan, “Empat hal yang dibolehkan jika keempat hal itu diucapkan, yaitu : “Thalaq, Memerdekakan (hamba sahaya), Nikah dan Nadzar.” Maka, “Tidak ada gurauan dalam keempat hal itu.”, demikian Ali bin Abi Thalib RA dalam riwayat Umar RA.

Hal yang terpenting dalam kehidupan di dunia ini adalah kebahagiaan, melalui “proses penyempurnaan” ke arah pencapaiannya. Di akhirat tidak lagi penyempurnaan, seperti yang dialami di dunia ini. Maka, “Dunia tempat beramal, dan akhirat adalah tempat menerima ganjarannya”.

Kehidupan di dunia menjadi indah dan bahagia karena dihiasi empat hal. sesuai hadits Rasulullah SAW,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الْصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْحَنِيْءُ .وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ الْسُوءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ الْسُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيَّقُ.       رَوَاهُ أَحْمَدٌ وَ إِبْنُ حِبَّانٌ

“Empat hal yang merupakan kebahagiaan, yaitu: perempuan shalehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman. Empat hal yang merupakan penderitaan, yaitu: tetangga yang jahat, isteri yang jahat, kendaraan yang buruk dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Hadist ini menjelaskan bahwa perempuan yang shalehah itu adalah perempuan yang patuh pada ajaran agama, setia pada suaminya, pandai menjaga hati suaminya, pandai menjaga kehormatan dan martabat serta keluarganya. Kebahagiaan akan sirna ketika yang menjadi tetangga adalah orang jahat, dan hidup didampingi isteri yang tidak setia.

Pernikahan menjamin keseimbangan dalam kehidupan, dengan adaya pasangan suami-isteri.

Memilih calon isteri atau suami, tidak mesti dari  keluarga terdekat. Umar bin Khaththab RA. menganjurkan, Aghribu wa lâ tadhawwu(carilah yang jauh/asing dan jangan kamu menjadi lemah).

Pernikahan akan merekat tali persaudaraan semakin luas. Menunda pernikahan akan mengundang bahaya, sebagai dipaparkan Rasul Allâh SAW,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ          رَوَاهُ التُّرْ مُذِىوَإِبْنُ حِبَّانٌ فِى صَحِيْحِهِ

“Yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka adalah mulut dan kemaluannya.” (HR. Al-Tirmidziy dan dia berkata hadits ini shahih).

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

Allâh SWT amat meridhai pernikahan, dan menjanjikan mudah jalan untuk melaksanakannya,

تزويج العسر, لقوله تعالى: … إِنْ يَّكُونُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ والله وَاسِعٌ عَلِيْمٌ.

“Kesulitan dalam pelaksanaan nikah, sebagaimana firman Allâh: Yakinlah, jika kamu miskin Allâh akan memampukan kamu dengan karunia (rezki-Nya), dan Allâh Maha luas (pemberian-Nya).” (HR. Buchariy).

Kandungan hadits Bukhâriy, Jilid 3, Juz 7, halaman 8 ini[2] mendorong segera menikah karena Pernikahan akan memelihara kehormatan diri.

Nabi Muhammad SAW (570-632 H)[3], mendorong muda-mudi yang telah mampu, untuk melangsungkan pernikahan.

[عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ لَنَارَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَائَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.  (رَوَاهُ مُتَفَقٌّ عَلَيْهِ) [4

“Rasul Allâh SAW bersabda : “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu sudah mampu (lahir dan bathin) untuk berkeluarga, maka kawinlah. Sesungguhnya hal yang demikian lebih memelihara pandangan mata, memelihara kehormatan, dan siapa yang belum mampu untuk berkeluarga, dianjurkan baginya untuk berpuasa, karena hal itu akan menjadi pelindung dari segala perbuatan memperturutkan syahwat.” (HR. Mutafaqq `alaihi).[5]

 

Suami Isteri Seirama Membina Rumah Tangga

Suami dalam bahasa Alquran disebut zauj, berasal dari kata izdiwaj artinya: isytibah wat tawazun (serupa dan seirama). Suami-isteri atau zaujan, berarti dua orang yang serupa dan seirama, tidak bertolak belakang secara hukum syar’i ataupun secara ukuran manusiawi biasa. Di dalam tatanan adat Minangkabau seorang suami adalah “ Nan ka di-bao jadi kawan sa-iriang, tagak ka di-bao ba-iyo, duduak  ka di-bao  ba-rundiang”, ini tugas sumando di Minangkabau.

Tidak dapat serasi, seirama, cinta sejati dan kasih-sayang, dua insan yang bertolak belakang perangainya.

“ wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS.24, an-Nur: 26).

Ayat 26 surat An Nur ini memberi tahu kepada kita agar menjauhi fitnah. Rumah yang luas adalah tempat tinggal yang sarat dengan nilai-nilai religius, saling amanah (mempercayai), terhindar dari rona keduniaan, yang dapat melupakan perintah Allâh. [6]

Dalam kehidupan ini, perlu ada keyakinan bahwa hanya Allâh satu-satunya pembimbing keluarga. Rasa bahagia akan tercipta dengan kuatnya rasa saling pengertian antara kedua keluarga di dalam mencapai tujuan pernikahan.

 

Perkawinan Beda Agama dalam Pandangan Islam

Berdasarkan hukum munakahat yang diajarkan Islam bahwa perkawinan (pernikahan) yang dibenarkan oleh Allah SWT adalah suatu perkawinan yang didasarkan pada satu akidah, di samping cinta dan ketulusan hati dari keduanya.

Dengan naungan keterpaduan itu, kehidupan suami-istri akan tenteram, penuh rasa cinta dan kasih sayang. Keluarga mereka akan bahagia dan kelak memperoleh keturunan yang sejahtera lahir batin.

Berdasarkan ajaran Islam, deskripsi kehidupan suami-istri akan dapat terwujud bila suami-istri memiliki keyakinan agama yang sama, sebab keduanya berpegang teguh untuk melaksanakan satu ajaran agama, yaitu Islam.

Sebaliknya, jika suami-istri berbeda agama maka akan timbul berbagai kesulitan di lingkungan keluarga.

Misalnya dalam hal pelaksanaan ibadah, pendidikan anak, pengaturan tatakrama makan-minum, pembinaan tradisi keagamaan, dan lain sebagainya. Islam dengan tegas melarang seorang wanita Islam kawin dengan seorang pria non-Muslim, baik musyrik maupun Ahlulkitab. Seorang pria Islam secara pasti dilarang menikahi seorang wanita musyrik. Kedua bentuk perkawinan tersebut mutlak diharamkan.

Pernikahan berlanjut kepada lembaga keluarga menjadi institusi penting dan strategis memindahkan dan menanam nilai-nilai agama yang diyakini kebenarannya.

 

Banyak kasus pemurtadan melalui perkawinan beda agama.[7]

Adapun yang menjadi persoalan sejak zaman sahabat Rasulullah hingga abad modern ini adalah perkawinan antar pria Islam dengan wanita Ahlulkitab atau Kitabiyah.

 

Pandangan Ulama tentang Pernikahan Beda Agama

  1. Wanita Islam dengan pria bukan Islam. Seluruh ulama sejak zaman sahabat hingga abad modern ini sepakat bahwa wanita Islam haram hukumnya kawin dengan pria bukan Islam. Dasar keharamannya termaktub di dalam Alquran Surah Al-Baqarah/2:221. “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu“. Firman Allah ini menegaskan para wali untuk tidak menikahkan wanita Islam dengan laki-laki bukan Islam. Keharamannya bersifat mutlak. Maka, syarat sah perkawinan seorang wanita Islam ialah pasangannya harus laki-laki Islam.
  2. Pria Islam dengan wanita bukan Islam. Dalam kitab Tafsir Ayat Al-Ahkam, Ali Al-Sayis menjelaskan makna muhshanat dalam ayat 5 Surat Al-Maidah (5), … Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[8] di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi. (QS.5, Al Maidah : 5)

Adapun dasar keharamannya mengawini seorang wanita Kitabiyah karena kemusyrikan mereka …. “ mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam.[9] Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.9, at Taubah : 31)

Dengan demikian, seorang wanita musyrik haram dikawini oleh seorang pria Islam.[10]

 

Menurut UU Perkawinan.

  1. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 mengenai perkawinan seperti disebut pada Pasal 66 UUP, maka semua ketentuan-ketentuan perkawinan terdahulu dan Hukum Perdata Barat (Burgelijk wetboek) serta peraturan perkawinan lainnya sepanjang telah diatur dalam undang-undang tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi.
  2. Pasal 2 (1) UUP berbunyi, “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu“.[11].
  3. Perkawinan antaragama harus merujuk kepada Peraturan Perkawinan Campuran.
  4. Pandangan agama-agama di Indonesia tentang Perkawinan Beda agama ;
    1. Agama Katholik pada prinsipnya melarang dilakukan perkawinan antaragama, kecuali dalam hal Uskup dapat memberi dispensasi melakukan perkawinan antar agama.
    2. Agama Protestan membolehkan dilakukan perkawinan antaragama dengan syarat bahwa pihak yang bukan Protestan harus membuat surat pernyataan tidak berkeberatan perkawinan dilangsungkan di gereja Protestan,
    3. Agama Hindu / Buddha melarang dilakukan perkawinan antaragama.
    4. Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional VII MUI, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426H. / 26-29 Juli 2005M, menetapkan ; 1. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah. 2. Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita Ahlu Kitab, menurut qaul mu’tamad, adalah haram dan tidak sah.

 

Zina dan Beberapa Aspek dan Bahayanya

Yang dimaksud perempuan zina ialah perempuan-perempuan nakal yang pekerjaannya berzina (pelacur). Dan laki-laki pezina adalah kelompok pelaku dan pendukung zina.

Di akhir zaman, manusia mulai mengaggap enteng soal zina bahkan cenderung menghalalkan Zina atau mentolerir perbuatan zina sebagaimana peringatan Rasul Allâh SAW,

لَيَكُوْنَنَّ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْر َوَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِف  َ

Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !” (HR. Al-Bukhâriy).[12]

Hadist Rasul Allâh SAW ini mengingatkan umat Islam membatasi diri dengan lain jenis, agar terjauh dari pornoaksi.

لاَيَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ       رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمْ

“Janganlah sekali-kali (di antara kalian) berduaan dengan perempuan, kecuali dengan mahramnya.” (HR. Al-Bukhâriy dan Muslim).

Hadist Nabi SAW ini menjadi panduan agar tidak terjadi pelanggaran hukum, menjauhi yang haram, perlindungan hak-hak, menegakkan sendi kehidupan peribadi muslim, dan terpelihara hubungan dengan Sang Khaliq (hablun minallah), serta memberikan batasan syari`at (ketentuan agama Islam).

Hidup membujang membuka peluang berbuat serong, menimbulkan fitnah, dan mudah jatuh kelobang zina. Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa daripada zina”.

Dalam riwayat (asbabun Nuzul) diceriterakan seorang minta izin kepada Nabi untuk kawin dengan pelacur yang perhubungannya telah dimulai sejak masa jahiliah, namanya: Anaq. Nabi tidak menjawabnya sehingga turunlah ayat yang berbunyi:  “ laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.“[13] (QS. 24, an-Nur: 3).  Rasul SAW membacakan ayat ini dan berkata: “Jangan kamu kawin dengan dia.” (HR. Abu Daud, Nasa’i dan Tarmizi).

Allah SWT mengizinkan lelaki mukmin kawin dengan perempuan mu’minah yang muhshanah atau yang bersih dan terpelihara. Dan perempuan mukminah dengan lelaki muhshan, terlarang dengan seorang lelaki pezina …. “ dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki [14] (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[15] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan Tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[16]. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. 4, an-Nisa’ : 24).

Barangsiapa tidak mau menepati ketetapan Allah SWT berdasarkan wahyu Alquran (QS.24, An Nur : 3), maka dia musyrik, dan tidak boleh dikawini kecuali oleh musyrik juga ….  “  perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”. (QS.24, an-Nur: 2)

Ketetapan Allah ini agar manusia tetap terjaga kebersihan jiwa dan badannya, supaya tidak terjatuh ke lembah zina. Pelaku zina mendapat hukuman fisik, yakni “dera”. Dera ini adalah hukuman jasmani Larangan mengawininya adalah hukuman moral. Haram mengawini pelacur adalah memurnikan kehormatan dan menjaga sucinya garis turunan, selaras dengan fitrah manusia dan sesuai dengan akal yang sehat. Fitrah manusia menganggap jijik perbuatan pelacuran.

Keutamaan syariat Islam, mengharamkan kawin dengan pelacur sampai dia taubat dan mengosongkan rahimnya, paling sedikit haidh satu kali.  Zina dalam Islam termasuk satu dosa besar yang harus dijauhi oleh semua individu yang mengklaim dirinya muslim. Alquran, Surah Al Isra ayat 32, secara eksplisit menyatakan, “ dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan (menuju banyak) kejahatan yang buruk lainnya.”

Berapa tafsir Alquran menyebut larangan keras atas perbuatan zina karena beberapa faktor.

Pertama, zina tidak hanya perilaku yang sangat memalukan, tapi ia juga tidak konsisten dengan self-respect atau respek pada manusia lain.

Kedua, zina membuka jalan pada banyak perbuatan jahat yang lain.

Ketiga, zina menghancurkan fondasi dasar keluarga.

Keempat, zina dapat menyebabkan penyakit, pembunuhan, permusuhan dan hilangnya reputasi dan harta benda pelakunya.[17]

Kelima, zina secara permanen melepaskan ikatan hubungan keluarga dan masyarakat.

Keenam, apabila terjadi hamil, maka hal itu bertentangan dengan maslahat anak yang lahir atau yang akan lahir dari hubungan zina itu. Maknanya agama Islam memerintah perlunya kesucian diri, baik lelaki dan wanita, di segala waktu – sebelum menikah atau selama berumah tangga.

Apabila setiap individu muslim bertekad untuk menjalani setiap larangan besar dalam Islam, seperti larangan berzina, maka umat Islam akan menjadi pelopor penanggulangan penyakit HIV/AIDS di seluruh dunia. Itulah salah satu makna implisit keagungan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Perzinaan tidak akan berkembang bila kesopanan dijaga dengan baik, serta takut kepada iqab Allah.

Kesopanan lelaki dan perempuan di masa berinteraksi diperintah mengawal pandangan dan menjaga faraj mereka.

Kaum perempuan memiliki kemuliaan khas dengan intensif menjaga auratnya. “ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS.24, an Nur : 31)

Diminta kepada kaum perempuan tidak menampakkan perhiasan atau aurat mereka kecuali kepada orang-orang yang rapat atau muhrim. Kata perhiasan bermakna barang yang kemas dan terjaga dengan baik.

Perhiasan perempuan adalah bahagian anggota tubuh yang amat menarik (seperti yang ada di dada) supaya ditutup dengan sempurna. Maka, pakaian perempuan harus menutup bahagian dada mereka, atau dada ditutup sehelai kain lain yang disebut khumur.

 

 

Nasehat Pernikahan

Mengucapkan Ijab Kabul artinya ikrar timbang terima tanggung jawab dari ayah bunda isteri kepada seorang lelaki yang akan menjadi suami atau yang akan menjadi menantu-nya. Dalam istilah di Minangkabau di sebut bahwa menantu itu  “.. nan ka di-bao jadi kawan  sa-iriang, tagak  ka  di-bao  ba-iyo,  duduak  ka  di-bao  ba-rundiang = yang akan di bawa jadi kawan seiring, tegak di bawa beriya bertidak, duduk untuk teman berunding.”

Sasaran pernikahan adalah mendapatkan kedamaian, kenyamanan dan ketenangan.

Ketika manusia dalam keadaan lemah atau miskin sekalipun tidak terhalang baginya untuk melangsungkan pernikahan, karena Allâh SWT telah menjamin rizkinya. “ Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian – yakni, hendaklah laki-laki yang belum kawin atau perempuan- perempuan yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin –, di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nûr/24: 32).

Sabda Nabi Muhammad SAW, menyebutkan, “Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain.” (Hadits Qudsi).[18]

Agama Islam sangat mengecam pola hidup membujang (celibat) atau hidup tanpa ada ikatan perkawinan yang sah. Agama Islam melarang celibat tersebut terjadi dalam kondisi ia mampu untuk nikah, kecuali ada alasan biologis, seperti impoten[19].

 

I. Peran Suami Isteri

Allah SWT perintahkan setiap suami, wa ‘a-syiruu-hunna bil ma’ruf, artinya pergaulilah isterimu dengan dengan ma’ruf, lemah lembut, yang di ikrarkan dalam sighat thalaq ta’lik. Tanggung-jawab suami menurut Alquran sangat berat.  الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ Lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan … (QS. an-Nisa’:34), dan “menggauli isterinya dengan baik” (QS.an-Nisa’:19).

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata, dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS.4, An-Nisa’ : 19).

Hak-hak hidup lelaki dan perempuan tidak ada berbeda, “ … dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Lelaki berkewajiban melindungi perempuan. Di sini tugas dan kehormatan laki-laki yang diberikan Allah SWT. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.al-Baqarah:228).

Betapa bijaksana Allah, memberikan tanggung jawab kepada lelaki memikul tugas menyeluruh membina rumah tangga. Ketahuilah bahwa suami adalah pemimpin di tengah rumah tangganya. Rumah tangga wajib di bina. Masyarakat keliling mesti di tenggang. Keduanya wajib di jaga. Mancari kato mufakaik, ma-nukuak mano nan kurang, Mam-bilai mano nan senteng, ma-uleh sado nan singkek, Man-jinaki mano nan lia, ma-rapekkan mano nan ranggang, Ma-nyalasai mano nan kusuik, Ma-nyisik mano nan kurang, Ma-lantai mano nan lapuak,  mam-baharui mano nan usang.

Betapa agung Allah, yang mewajibkan suami  musyawarah dengan isteri, serta menggauli isteri lemah lembut setiap waktu.

مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ       رواه الضياء عن أنس

Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya sesuatu dan jika lemah lembut itu telah dicabut dari sesuatu, niscaya yang akan tersisa adalah keburukan. (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas).

Rasulullah SAW bersabda, sebaik-baik kamu adalah yang paling baik pada keluarganya.” Nilai martabat terletak pada akhlak.

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًاَ رواه الطبراني و أبو نعيم

Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”. (HR. Thabarany dan Abu Nu’aim).

Kewajiban suami, menjadi pelindung terhadap perempuan. Umar bin Khattab RA, menceritakan tentang bakti isterinya.  “Isteriku, benteng bagiku dari api neraka. Isteriku, orang yang paling  setia mendampingiku di saat senang dan susah. Isteriku yang membantu, menjaga, memelihara rumah dan hartaku. Isteriku adalah  ibu dari anak-anakku. Saya tahu betul, betapa berat tugas ibu, mengandung, melahirkan, menyusukan, dan menjaga  anak-anak. Selain itu, isteriku tanpa mengenal lelah, setiap hari mencuci pakaianku, dan memasakkan makanan untukku, dan anak-anakku. Karena itu, aku selalu memaafkannya. Mungkin banyak hak-haknya yang belum sempat aku penuhi.” Kiat Umar ini mesti ditiru.

Kebahagiaan rumah tangga bisa di perdapat dengan saling pengertian dan musyawarah. Hindari sifat menang sendiri dan memaksakan kehendak. Bina rumah tangga dengan kasih sayang. Hindari sifat tertutup dan saling curiga. Hadapi masalah bersama. Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako sampai nan di cito.

Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan, ”Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan  tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.”

Suami dituntut berpendir­ian teguh, lembut hati, penyabar, dan melaksanakan suruhan Allah.

إِنَّ مِنْ أَخْلاَقِ المُؤْمِنِ قُوَّةً فيِ دِيْنٍ وَ حَزْمًا فيِ لِيْنٍ وَ إِيْمَانًا فيِ يَقِيْنٍ وَ حِرْصًا فيِ عِلْمٍ وَ شَفَقَةً فيِ مِقَةٍ وَ حِلْمًا فيِ عِلْمٍ وَ قَصْدًا فيِ غِنًى وَ تَجَمُّلاً فيِ فَاقَةٍ وَ تَحَرُّجًا عَنْ طَمَعٍ وَ كَسْبًا فيِ حَلاَلٍ وَ بِرًّا فيِ اسْتِقَامَةٍ وَ نَشَاطًا فيِ هُدًى وَ نَهْيًا عَنْ شَهْوَةٍ وَ رَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدِ.

Sesungguhnya, termasuk budi pekerti orang beriman ialah, kuat memegang agama, tegas bersikap, ramah lembut, beriman dengan keyakinan, merebut ilmu pengetahuan, membantu dengan kasih sayang, ramahtamah dalam berilmu, sederhana di waktu kaya, mampu bersahaja dikala miskin, memelihara diri dari tamak, berusaha di jalan yang halal, selalu berbuat baik, rajin menjalankan pimpinan yang benar, membatasi diri dari keinginan nafsu dan kasih sayang terhadap orang yang berkekurangan. Inilah profil suami ideal itu.

Suami yang berakhlak mulia akan mampu membentuk rumah tangga ideal (baiti jannati)

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ: أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَ خُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ، وَ أَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ

Empat kebahagiaan dalam hidup manusia: isterinya perempuan yang saleh, anak-anaknya orang baik-baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh, dan rezekinya diperoleh di negerinya. (Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali).

 

II. Posisi Isteri dan Peran Kaum Perempuan

Islam sangat menghormati kedudukan perempuan, Sorga ditelapak kaki Ibu, artinya bahwa “Keridhaan Allâh terletak pada keridhaan kedua orang tua (ayah dan ibu). Agama Islam dengan hadist Nabi Muhammad SAW telah meletakkan penghormatan kepada posisi kaum perempuan (ibu) dengan tiga banding satu dengan kaum lelaki (ayah). Selain itu, « perempuan adalah tiang negeri, rusak perempuan maka rusaklah negeri ». Perempuan adalah ibu yang mendidik pertama dari generasi yang dilahirkannya.

Agama Islam telah mengembalikan fitrah kaum perempuan dari rongrongan kebiasaan jahiliyah yang telah mengingkari kesucian kaum perempuan, dan menganggap kedudukan perempuan sangat rendah. Kaum perempuan dapat menghidupkan suasana hidup yang indah dan bahagia, bila dibimbing oleh nilai-nilai ajaran agama yang luhur (Dinul Islam).

Di era globalisasi ini karena dorongan paham kebebasan (liberalisme), kebendaan (materialisme) dan mengutamakan kepentingan sendiri (individualisme), tanpa disadari kaum perempuan kembali menjadi obyek pemuasan nafsu rendah. Kaum perempuan jadi mangsa porno aksi dan pornografi. Kaum perempuan dianggap pemuas nafsu dan kreativitas seni semata. Di samping kaum perempuan tidak pula menjaga harkatnya dengan kukuh ketika berhadapan kenikmatan sensual dan erotik yang amat merusak moral.

Kaum perempuan semestinya tidak berpaling dari kodrat sebagai perempuan, yang mempunyai kelebihan dan memiliki keterbatasan-keterbatasan, sesuai kehendak Maha Pencipta. Kaum perempuan wajib mempersiapkan diri jadi isteri shalehah, sesuai sabda Rasul Allâh SAW,  “Ada tiga hal yang sangat aku senangi di dunia ini, yaitu: Wangi-wangian, Isteri shalehah, dan ketenangan saat shalat.”(Imam Nawawi, 2005, hal. 75).

Kaum perempuan yang menjadi isteri shalehah dan amanah dalam kekayaannya, pasti mendapatkan dua pahala, satu pahala ibadah dan satu pahala sedekah, karena harta isteri adalah hak isteri.[20] Umar bin al-Khatthab RA, berkata,

لَوْلاَ اْدِّعَاءُ الْغَيْبِ لَشَهِدْتُ عَلَى خَمْسِ نَفَرٍ أَنَّهُمْ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْفَقِيْرُ صَاحِبُ اْلعِيَالِ وَالْمَرْئَةُ الرَّاضِى عَنْهَازَوْجُهَاوَالْمُتَصَدِّقَةُ بِمَهْرِهَاعَلَىزَوْجِهَا وَالْرَّاضِى عَنْهُ اَبَوَاهُ وَالْتَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ.

“Sekiranya tidak takut dituduh mengetahui yang ghaib, tentulah aku mau bersaksi bahwa kelima golongan manusia ini adalah termasuk ahli surga, yaitu: a. Orang fakir yang menanggung nafkah keluarganya; b. perempuan yang suaminya ridha kepadanya; Isteri yang menshadaqahkan mahar/maskawinnya kepada suaminya; Anak yang kedua orang tuanya ridha kepada dirinya; dan Orang yang bertobat dari kesalahannya.”

Agama Islam mengajar umatnya, untuk selalu bersikap ridha dan syukur atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allâh. Sikap ini dapat merasakan indahnya kehidupan berkeluarga, dengan menjadikan rumahku adalah surgaku”, dengan saling membutuhkan, saling memberi kemudahan, saling menjaga keutuhan rumah tangga, sebagai kekuatan dalam berbagai persoalan hidup, sesuai perkembangan zaman.

Wahyu Alquran menempatkan perempuan dengan hak dan kewajiban seimbang. Perempuan, sumber sakinah (bahagia) dengan merajut kasih dan rahmah. Tenteram, dengan mawaddah kasih sayang. Citra perempuan Minangkabau sangat sempurna diperankan pada posisi sentral IBU = Ikutan Bagi Ummat. Ibu adalah inti keluarga. Perempuan adalah “tiang negeri(al Hadist).

Kaum perempuan wajib menjaga marwah (muruah) dengan menjaga “aurat”, sebagai ujud ciri-ciri feminim. Sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya Ilahi, mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, mengubah rasionalitas menjadi intuisi, dan mendorong seksualitas menjadi spiritualitas, sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, penderitaan dan kegagalan”. Hancurnya sebuah rumah tangga ideal akibat sikap isteri terlalu maskulin.[21]

 

III. Seorang Isteri mesti Menjaga Diri dan Muruah

Pakaiannya menutup aurat. Mempunyai  malu dan sopan. Firman Allah menegaskan ; “ Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.33, al Ahzab : 59).

Jilbab (33:59), adalah penudung atau khumur yang artinya juga adalah “pakaian luar; gaun panjang yang menutupi seluruh badan, atau mantel yang menutupi leher dan payudara“[22].

  1. Tidak berkata keras, apalagi bersikap kasar sombong, di kacak batih bak batih, di kacak langan bak langan, yang diarahkan kepada suami junjungan diri.
  2. Jangan menolak panggilan suami kepada yang baik. Jangan berpuasa sunat tanpa seizin suami (kecuali puasa yang wajib). Jangan meninggalkan rumah tanpa seizin suami. Jangan berhias berlebih-lebihan untuk dilihat orang lain. Jangan lupa berbenah diri ketika suami pulang ke rumah. Jangan menerima tamu laki-laki yang bukan muhrim, di saat suami tidak di rumah.
  3. Simpan rahasia rumah tangga dengan baik.  Karena, suami isteri adalah ibarat pakaian yang saling melindungi, karena “.. mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka…” (QS.2, al-Baqarah : 187).
  4.  

Pesan Rasulullah SAW, “Seorang isteri yang taat melakukan shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga diri (kehormatan faraj-nya), setia kepada suaminya, — dia akan di masukkan ke dalam sorga dari pintu mana saja yang dia ingini”.[23] Alangkah mulia dan tingginya penghargaan Allah SWT bagi seorang isteri. Bila ia mau mengamalkannya. Dengan bekal syariat Islam dan adat istiadat yang  baik  dapat dibina rumah tangga sakinah, “Baiti jannati”, yakni Rumah Tangga Sorga.

Seorang ibu di rumah tangganya, sangat dituntut bersifat kreatif, ulet, tabah, sabar dan mampu menghidangkan keindahan, dan selalu hati-hati melangkah.   “ boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “ (QS.2, Al Baqarah : 216)

Arif bahwa di balik sesuatu tersimpan sesuatu. Jangan terperdaya kepada yang tampak lahir semata. Arif melahirkan kewaspadaan dalam bertindak dan berperangai.

Dalam awa akie mambayang,   Dalam baiak kanalah buruak,

Dalam galak tangih kok tibo,        Hati gadang utang kok tumbuah.

Maknanya, sejak awal, diperhitungkan apa mudharat dan manfaat dari suatu. Hati-hati dalam bertindak.

Jangan perturutkan hati gadang, sehingga lupa nasehat orang tua-tua.

Di balik gembira, bisa menanti duka membawa tangis. Sia-sia hutang tumbuh, kurang awas nagari kalah.

 

Tipe perempuan, tidak boleh ditiru

  1. Perempuan kufur dan khianat kepada suami, seperti isteri Nuh dan Luth, berakhir keneraka. Firman Allah, “ Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan, bagi orang-orang kafir. Keduanya, berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh, di antara hamba-hamba kami. Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk ( ke dalam jahannam itu)”. (<span>QS.66,at Tahrim :10</span>),  Nabi-nabi sekalipun, tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah,  apabila mereka menentang ajaran agama.
  2. Perempuan yang suka meninggalkan bengkalai dan merusak rajutan …. “ Dan janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan, yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)-mu sebagai alat penipu di antaramu…,” (<span>QS.16, an-Nahl :92</span>).
     

  1. Tipe Perempuan yang Perlu Ditiru
    1. Selalu menghindar dari kezaliman dan kemusyrikan. Senantiasa berharap sorga, seperti Asiyah isteri Fir’aun ; “ Dan Allah membuat isteri Fir’aun, perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu, dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (<span>QS.66 at-Tahrim : 11</span>). Sekalipun isteri seorang kafir, bila menganut ajaran Allah dengan taat, akhirnya masuk dalam jannah.
    2. Selalu berupaya agar generasi yang dilahirkannya menjadi zurriyat yang memegang teguh amanah Allah. “ Dan (ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau, anak yang dalam kandunganku ini, menjadi hamba yang saleh, dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Maka, tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan (padahal), anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya, serta anak-anak keturunannya, dengan (pemeliharaan) Engkau (ya Allah),  daripada syaitan yang terkutuk.” (<span>QS.3, Ali Imran : 35-36</span>),

 

Doa ibu muda ini makbul.

Maryam, melahirkan anak laki-laki yang sangat baik, mulia dan bermartabat, menjadi Nabi dan Rasul Allah untuk Bani Israil, yaitu Isa ibni Maryam dari keluarga Imran ini adalah seorang dara yang selalu memelihara farajnya sendiri, sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam firman Nya ;  “ Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang (perempuan) yang taat.” (QS.66, Tahrim : 12).

 

Perempuan dalam Adat Minangkabau

”Adapun yang disebut perempuan, memakai tertib dengan sopan. Mamakai baso jo basi. Tahu ereng dan gendeng. Memakai rasa dan periksa, malu dan sopan. Menjauhi sumbang dan salah. Mulut manis, tutur bahasa disenangi. Kato baik kucindan murah, pandai bergaul  sama besar. Hormat kapada ibu bapo. Khidmat kepada orang tua, patuh kepada suami, Takut kepada Allah, mengikut perintah sunnah Rasulullah. Tahu dengan Korong dan kampong.  Mengenal tumah tangga. Tahu  manyuri mangulindan. Takut budi akan terjual. Malu di paham akan tergadai. Tahu di mungkin dengan patut. Meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tahu tinggi dan rendah, bayang-bayang sepanjang badan. Boleh ditiru diteladani. Kan suri teladan kain, kan cupak teladan betung. Meleleh boleh dipalit, menetes dapat ditampung.Setitik dapat dilautkan, sekepal dapat digunungkan, oleh orang se nagari.” Inilah, harkat perempuan di Ranah Bundo, mulia dan bermartabat.

 

Perempuan Minang, padu isi dengan lima sifat utama; benar,  jujur, pandai, fasih terdidik, dan bersifat malu. Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek. Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.  Dalam siklus ini generasi Minangkabau lahir bernasab ke ayahnya, bersuku ke ibunya, dan bersako ke mamak atau memperoleh gelar sako dan pusako dari mamaknya. Ketek banamo gadang bagala.

 

Perlu di Ingat !

1.       Jangan cepat berputus asa.

Riak jo galombang adalah permainan laut. Bergisir sampan dan pendayung adalah hal biasa.

Jangan cepat berputus asa, akan binasa jadinya rumah tangga. Minta selalu pertolongan dari Allah.

 

2. Ingat pesan Rasulullah SAW,  Bila perlu perlindungan minta perlindungan kepada Allah. Bila engkau memerlukan pertolongan minta pertolongan dari Allah “.

 

3. Jangan meminta kepada yang dikeramat-keramatkan, atau paranormal. Akibatnya bisa terseret kepada mensyarikatkan Allah, satu dosa besar, ujungnya doa tidak akan dikabulkan Allah.

 

4. Shalat yang lima waktu jangan dilalaikan apalagi di tinggalkan. Doamu dinilai dari sini !!!.

 

5. Pesan Rasulullah SAW, “ sinarilah rumah tangga kalian berdua, dengan shalat dan bacaan Alquran.

 

IV. DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَ نَجَّنَا مِنَ الظُّلُمَاتَ إِلىَ النُّوْرِ وَ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ،

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا،

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

 

 

Brunei Darussalam,   21 Dzulhijjah  1431  H / 28 Desember 2010 M

 

Catatan Kaki

[1] Prof. Dr. Zakiah Darajat dalam bukunya “Ketenangan dan Kebahagiaan Dalam Keluarga” memberikan 5 (lima) resep mewujudkan keluarga tenang dan bahagia

[2] (سُوْرَةُالنُّوْرِ/24:32) (رَوَاهُ الْبُخَارِى-كِتَابُ النِّكَاحِ-جِلِدْ 3, جُزْءٌ 7:8)

[3]  Muhammad SAW, adalah orang nomor satu dunia dalam sejarah peradaban manusia, beliau seorang pemimpin yang tangguh, tulen, dan efektif. Lihat Michail H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, (Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya, 1988), Cet. Ke-8. judul asli: The 100`s, a Ranking of The Most Influential Persons in History.

[4]  Al-Bukhâriy, Shahih al-Bukhâri, (Bairut : Dâr al-Ihyâ’ al-Turâts al-`Arabiy, [tth]), Juz 7, h. 3

[5]  Hadits ini tercantum dalam Shahih Bukhari pada kitab al-Nikah, Jilid tiga, juz tujuh halaman tiga dan Shahih Muslim pada kitab al-Nikah, Juz  2, halaman 118-119.

[6]  Ayat ini menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik Maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi isteri beliau.

[7]  Berdasar zahir ayat 221 pada Surat Al-Baqarah/2, menurut pandangan kebanyakan ulama, pernikahan seorang Muslim dengan Kitabiyah diperbolehkan, tetapi sebagian ulama mengharamkan atas dasar sikap musyrik Kitabiyah sebab pada akhirnya kelak fitnah atau mafsadat dari bentuk perkawinan tersebut akan sangat mudah sekali muncul.

[8]  Artinya perempuan yang merdeka. “Wanita-wanita yang menjaga kehormatan (al-muhshanat) di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitabadalah wanita yang merdeka (bukan hamba sahaya). Syekh Ali Al-Shabuni menjelaskan dalam Kitab Tafsir ayat Al-Ahkam-nya bahwa maksudnya adalah mengawini perempuan-perempuan merdeka dari perempuan-perempuan mukmin dan perempuan Ahlulkitab. Sedangkan mufassir lainnya menyatakan bahwa al-muhshanat adalah perempuan-perempuan yang memelihara kehormatan dirinya.

[9]  Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

[10] Yusuf Al-Qardlawi berpendapat bahwa kebolehan nikah dengan Kitabiyah tidak mutlak, tetapi dengan ikatan-ikatan (quyud) yang wajib diperhatikan ; (1) Kitabiyah itu benar-benar berpegang pada ajaran samawi. Tidak ateis, tidak murtad dan tidak beragama yang bukan agama samawi;  (2) Wanita Kitabiyah yang muhshanah (memelihara kehormatan diri dari perbuatan zina);  (3) Bukan Kitabiyah yang kaumnya berada pada status permusuhan atau peperangan dengan kaum Muslimin. Perlu dibedakan antara kitabiyah dzimmiyah dan harbiyah. Dzimmiyah boleh, harbiyah dilarang dikawini;  (4) Perkawinan dengan Kitabiyah itu tidak berujung fitnah, tidak mafsadat atau kemurtadan. Makin besar kemungkinan terjadinya kemurtadan makin besar tingkat larangan dan keharamannya. Nabi Muhammad saw. pernah menyatakan, “La dharara wa la dhirara (tidak bahaya dan tidak membahayakan”).   Selanjutnya Qardlawi menyatakan beberapa kemurtadan (keburukan) akan terjadi manakala kawin dengan wanita non-Muslim:   (1) Akan berpengaruh kepada perimbangan antara wanita Islam dengan laki-laki Muslim. Akan lebih banyak wanita Islam yang tidak kawin dengan laki-laki Muslim yang belum kawin. Sementara itu poligami diperketat dan malah laki-laki yang kawin dengan wanita Nasrani sesuai dengan ajaran agamanya serta tidak mungkin menyetujui suaminya berpoligami;   (2) Suami mungkin terpengaruh oleh agama istrinya. Demikian pula anak-anaknya. Bila hal ini terjadi maka fitnah benar-benar menjadi kenyataan,    (3) Perkawinan dengan non-Muslimah menimbulkan kesulitan hubungan suami istri dan kelangsungan pendidikan anak-anaknya. Lebih-lebih jika laki-laki Muslim dan Kitabiyah berbeda tanah air, bahasa dan budaya.

Penafsir Departemen Agama Republik Indonesia menyampaikan suatu pandangan bahwa, “Dihalalkan bagi laki-laki mukmin mengawini perempuan Ahlulkitab dan tidak dihalalkan mengawini perempuan kafir lainnya. Dan tidak dihalalkan bagi perempuan-perempuan mukmin kawin dengan laki-laki Ahlulkitab dan laki-laki lainnya”.

[11] Di dalam penjelasan UUP itu dinyatakan bahwa, “Dengan perumusan Pasal 2 (1) ini, tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945”.

Prof. Dr. Hazairin, S.H. secara tegas menafsirkan pasal 2 (1), “Bagi orang Islam tidak ada kemungkinan untuk kawin dengan melanggar hukum-hukum agamanya sendiri. Demikian juga bagi orang Kristen dan bagi orang Hindu atau Hindu-Buddha seperti dijumpai di Indonesia“. Perkawinan campuran karena berbeda agama selalu hangat dan pelik untuk dibicarakan karena itu berhubungan dengan akidah dan hukum.

Rusli (1984) menyatakan bahwa “perkawinan antaragama tersebut merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita yang berbeda agama, menyebabkan tersangkutnya dua peraturan yang berlainan mengenai syarat-syarat dan tata cara pelaksanaan perkawinan sesuai dengan hukum agamanya masing-masing, dengan tujuan untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa“.

Kalangan para ahli dan praktisi hukum berbeda dalam memandang Undang-undang Perkawinan bila dihubungkan dengan perkawinan antardua orang yang berbeda agama. Mazhab pertama mengatakan bahwa perkawinan antaragama merupakan pelanggaran terhadap undang-undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 8 huruf (f), di mana pasal tersebut berbunyi, “Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin“. Mazhab kedua berpendapat bahwa perkawinan antaragama adalah sah dan dapat dilangsungkan karena telah tercakup dalam perkawinan campuran.

[12] صَحِيْحُ الْجَمْع/ِ 5466

[13] Maksud ayat ini Ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

[14] Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.

[15] Ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa’ ayat 23 dan 24.

[16] Ialah: menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang telah ditetapkan.

[17] HIV/AIDS hanyalah salah satu efek buruk perbuatan zina seperti disinggung dalam Surah Al Isra: 32 di atas. Tidak menutup kemungkinan efek-efek lain yang jauh lebih mengerikan dari AIDS akan menyusul apabila zina masih dianggap sebagai hal biasa tanpa sedikit pun mengindahkan larangan Sang Pencipta. Tidak ada obat pencegahan AIDS yang paling mujarab bagi umat Islam kecuali menjauhi zina dan tidak menikahi mereka yang pernah melakukan zina.

[18]  Menurut bahasa kata Qudsi adalah dinisbatkan pada lafazh “al-Qudsu” atau “alQudusu“. Artinya suci dan bersih. Disebut juga hadits Ilahiy, dinisbatkan pada lafazh “al-Hilâhu”. Atau disebut juga hadits rabbaniy, dinisbatkan pada lafazh “al-Rabbu“. Menurut istilah sesuatu yang didasarkan dan di-isnadkan oleh Nabi SAW kepada Allâh, tapi bukan al-Qur’ân.

[19]  Ajaran Kristiani (Katolik) menganggap celibate mencerminkan kesempurnaan (seperti dialami Yesus hingga di salib dan Maryam yang tetap perawan), seperti tertera dlm Injil Matius 19: 12, 27-29; Korintus 7: 32-33 dan Surat Paulus, Rum 12: 1 yang isinya: “karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allâh aku menasehati kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan hidup yang kudus dan berkenan kepada Allâh; itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Jakarta, LAI, 1990, h. 203- PB), Yang menentang sikap menyendiri adalah Protestan. Ajaran agama islam tidak mengajarkan pola hidup yang egois ini.

[20]   Kandungan Hadits Riwayat Bukhâriy dan Muslim, lihat dalam SAHID, No. 10/Tahun III/Februari 1991, hal. 41.

[21] Hani’ah, HISKI, UNP-1997, dan Armiyn Pane, “Belenggu”

[22] [The Holy Qur’an, Abdullah Yusuf Ali (1946), halaman 1126, nota kaki 3765]. Ia bukan tudung kepala. (Tudung kepada yang kini dipakai oleh kaum wanita adalah ‘mandil’ dalam bahasa Arab. Ia bermaksud kerchief; handkerchief; head kerchief, dalam bahasa Inggeris. Tetapi ia tidak terdapat di dalam al-Qur’an.)

[23]  Hadist dari Anas bin Malik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: