RSS

Jangan di undang Musibah datang dengan rusaknya akhlak dan moral bangsa

24 Mei

“Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan),

membayar zakat dianggap merugikan,

belajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata),

suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu,

menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran,

membenci ayah,

bersuara keras (menjerit jerit) di masjid,

orang fasiq menjadi pemimpin suatu bangsa,

pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya,

orang dihormati karena takut pada kejahatannya,

para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari,

minum keras/narkoba semakin meluas,

umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin

(termasuk mencela para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar).

 

Maka hendaklah mereka waspada

karena pada saat itu akan terjadi

hawa panas,

gempa,

longsor,

dan kemusnahan.

Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain

seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya

(semua tanda kiamat terjadi).”

 

(HR. Tirmidzi).

 

KETIKA terjadi bencana alam, paling tidak ada tiga analisa yang sering diajukan untuk mencari penyebab terjadinya bencana tersebut.

  1. Azab dari Allah karena banyak dosa yang dilakukan.
  2. Sebagai ujian dari Tuhan bagi yang beriman.
  3. Sunnatullah dalam arti gejala alam atau hukum alam yang biasa terjadi.

Untuk kasus Indonesia ketiga analisa tersebut semuanya mempunyai kemungkinan yang sama besarnya.

Jika bencana dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa ini bisa saja benar, sebab kemaksiatan sudah menjadi kebanggaan baik di tingkat pemimpin (struktural maupun kultural) maupun sebagian rakyatnya, perintah atau ajaran agama banyak yang tidak diindahkan, orang-orang miskin diterlantarkan. Maka ingatlah firman Allah:

“Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Al-Isra’[17]: 16).

Apabila dikaitkan dengan ujian, bisa jadi sebagai ujian kepada bangsa ini, khususnya kaum Muslimin agar semakin kuat dan teguh keimanannya dan berani untuk menampakkan identitasnya. Sebagaimana firman Allah:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”

( Al-Ankabut [29:2).

 

Akan tetapi, jika dikaitkan dengan gejala alam pun besar kemungkinannya, karena bumi Nusantara memang berada di bagian  bumi yang rawan bencana seperti gempa, tsunami dan letusan gunung. Bahkan, secara keseluruhan bumi yang ditempati manusia ini rawan akan terjadinya bencana, sebab hukum alam yang telah ditetapkan Allah SwT atas bumi ini dengan ber bagai hikmah yang terkandung di dalamnya.

 

Seperti pergerakan gunung dengan  berbagai konsekuensinya.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal gunung-gunung itu bergerak sebagaimana awan bergerak.(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.( QS. Al-Naml [27]: 88).

 

Di samping harus tetap bersikap optimis dan berupaya mengenali hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan atas alam ini, adalah bijak untuk terus melakukan introspeksi terhadap keseriusan kita dalam menaati perintah-perintah Allah SwT dan menghitung-hitung kedurhakaan kita kepada-Nya.Sabda Rasulullah saw yang diriwayat kan Imam Tirmidzi di atas patut menjadi renungan bagi bangsa ini atas berbagai bencana yang menimpa secara bertubi tubi.

 

Jika kita cermati hampir semua penyebab bencana yang disebut Rasulullah saw dalam Hadits tersebut tengah melanda bangsa ini.

 

Masalah kepemimpinan, amanah dan penguasa. Jika suatu bangsa memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat, baik (shalih), cakap/cerdas dan kompeten (gawiy) dan amanah (amin), maka kebangkrutan dan kehancuran sebuah  bangsa tinggal menunggu waktu saja. Se bab, pemimpin seperti itu menganggap kekuasaan bukan sebagai amanah untuk menciptakan kesejahteraan dan ketentraman bagirakyatnya, tetapi sebagal sarana dan kesempatan untuk memperkaya diri dan  bersenang-senang.

Akibatnya, perilaku korupsi merajalela, penindasan dan pemiskinan menjadi pemandangan yang lumrah, dan kebangkrutan moral menjadi hal yang sangat sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, memilih pemimpin atau pejabat harus hatihati dan selektif, sebab mereka akan memanggul amanah yang sangat berat.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika amanat disia-siakan, maka tunggulah saatnya (kehancuran). Abu Hurairah bertanya; “Bagaimana amanat itu disia-siakan wahai Rasulullah?, Beliau menjawab,”Jika suatu urusan diserahkan pada orang yang bukan ahlinya (tidak memenuhi syarat)”. ( H R. Bukhari).

Orang kaya tidak menunaikan kewajibannya. Zakat adalah kewajiban minimal bagi orang kaya untuk peduli kepada orang miskin. Jika kewajiban minimal ini tidak ditunaikan, maka kegoncangan social tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena tindakan orang miskin yang terampas haknya tidak bisa dipersalahkan. Sehingga azab Allah menjadi keharusan ;

dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

(Al-Isra’: 16).

 

Demikian intisari istinbath Amirul Mu’minin Umar bin Khathab ra yang didukung Ibnu Hazm rahimallahu ta’ala.

 

Hilangnya ketulusan dan kebijakan para ulama dan cendekiawan.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh penguasa dan pengusaha (orang kaya) itu akan menjadi-jadi jika ulama/cendekiawan sebagai pilar penting suatu bangsa yang bertugas untuk memberi peringatan dan beroposisi secara loyal terseret ke dalam kepentingan pragmatis para penguasa dan pengusaha tersebut.

Aktualisasinya bisa berwujud pada terbitnya fatwa-fatwa pesanan yang tidak memihak orang-orang lemah dan tertindas serta opini yang menyesatkan dan membingungkan umat sebagai akibat terialu banyak menerima pemberian yang tidak jelas dan sering mengemis pada musuh-musuh Islam dan bangsa pada umumnya. Karena ketulusan telah hilang, para ulama pun menjadi orang yang membuat gaduh di masjid dengan perdebatan dan berbantahan mengenai hal yang sudah diputuskan dengan jelas oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pada akhirnya, bukan hanya perintah Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperhatikan dan disia-siakan. Akan tetapi para sahabat Rasul dan generasi mereka sesudahnya (ulama dari kalangan tabi’in dan tabi’tabi’in) sebagai generasi terbaik umat Muhammad saw menjadi bahan olok-olok dan ejekan dalam perbincangan mereka dengan merendahkan dan mencampakkan kezuhudan dan hasil ijtihad mereka yang cemerlang.

Jika ketiga pilar bangsa penguasa, pengusaha dan ulama atau cendekiawan sudah tidak menjalankan fungsi yang semestinya, maka kebangkrutan moral yang lain seperti durhaka pada orangtua, suami yang manut pada hawa nafsu istrinya, mewabahnya khamr (narkoba) dan kesenangan pada hiburan yang memancing keliaran syahwat menjadi pemandangan yang biasa. Pada saat itu ”kemarahan” Tuhan dipastikan tidak bisa dihalang-halangi untuk menghancurkan bangsa yang durhaka.

Berbagai solusi teknologi, tidak akan dapat diterapkan bilamana terdapat pengabaian memandang kedudukan manusia dan alam dalam peradaban. Dan Islam merupakan satu-satunya ideologi alternatif yang mampu untuk menyelesaikan problema peradaban manusia. Konsep dalam Islam meliputi ;

  1. Konsep tauhid, dimana memandang bahwa manusia, alam dan kehidupan adalah ciptaan Allah SWT dan diciptakan dengan tujuan yang telah ditentukan.
  2. Konsep ibadah, dimana memandang bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
  3. Konsep Ekonomi Islam sebagai Solusi Penyelesaian Kerusakan Alamyang dikenal dengan istilah ekonomi syariah.

Segala perbuatan manusia dalam aspek ekonomi pun tanpa terkecuali, harus tunduk pada hukum syariat Islam. Secara makro maupun mikro, konsep ekonomi Islam mengarah pada empat hal yaitu ;

  1. Memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan salah satu tujuan utamanya penghematan sumber daya alam dengan mengurangi eksploitasinya.
  2. Mengutamakan produksi kebutuhan pokok manusia pada taraf yang layak untuk kehidupan normal.
  3. Menciptakan keadilan ekonomi dengan cara melakukan pemberdayaan serta penciptaan sistem distribusi ekonomi yang adil.
  4. Mendudukan ekonomi sebagai salah satu komponen peradaban.

 

Kesimpulannya, Bencana ada yang merupakan adzab dari Allah bagi para penentang Rasul-rasul terdahulu, atau sebagai cobaan bagi orang beriman yang akan menghapus dosa-dosanya jika ia bersabar dan bisa juga sebagai peringatan.

Bencana sebagai azab

telah dijelaskan dalam Al Qur’an,

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

(Q.s. Al-Ankabut:40).

 

Bencana sebagai cobaan (ibtila’) bagi mukmin,

dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang–orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : “Inna Lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

(Q.s. al-Baqarah: 155-156).

 

Ada pula musibah yang diberikan Allah sebagai peringatan agar kita kembali kepada kebenaran, dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; diantaranya ada orang-orang saleh dan diantaranya ada yang tidak demikian. dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

“ dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).”

(Q.s. al-A’raf: 168)

 

Bencana alam berupa letusan gunung api, banjir bandang, wabah penyakit, kekeringan, kelaparan, kebakaran, dan lain sebagainya, dalam pandangan alam Islam (Islamicworldview), tidaklah sekedar fenomena alam.

 

Al Qur’an menyatakan dengan lugas bahwa segala kerusakan dan musibah yang menimpa umat manusia itu disebabkan oleh “perbuatan tangan mereka sendiri”.

 

Tentu saja kata ‘tangan’ sebatas simbol perbuatan dosa/maksiat, karena suatu perbuatan maksiat melibatkan panca indra, dan juga dikendalikan dan diprogram sedemikian rupa oleh otak, kehendak dan hawa nafsu manusia. Maksiat, sebagaimana taat, ada yang bersifat tasyri’ Allah seperti melanggar perkara yang haram, dan ada yang bersifat menentang takwin Allah (sunatullah) seperti melanggar dan merusak alam lingkungan.

Dalam sudut pandang wahyu Allah terakhir, musibah dan bencana ada kaitannya dengan dosa atau maksiat yang dilakukan oleh manusia-manusia pendurhaka.

Allah ta’ala berfirman,

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

(Q.s. As-Syura: 30).

 

Ketika turun ayat itu Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada satu luka, keringat, dan terkilirnya kaki kecuali DISEBABKAN DOSA (yang diperbuat), dan apa yang Allah maafkan dari dirinya jauh lebih besar.”

(HR al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman melalui jalur Qatadah mursal kepada Rasulullah Saw, namun at-Thabrani merawikannya dalam Mu’jam al-Awsath dan dinukil oleh as-Suyuthi dalam al-Jami’ al-Shagir yang disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ al-Shagir vol.5/120-121).

Namun disisi lain musibah atau bencana juga dapat menjadi penghapus dosa (kifarat) bagi hamba Allah yang sabar dan menerima takdir Allah dengan lapang dada. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah menimpa seorang mukmin suatu kesulitan, cobaan, gelisah dan kesedihan kecuali Allah hapuskan darinya dengan aneka musibah itu semua kesalahan-kesalahannya, sampai duri yang menusuknya pun diganjar seperti itu.”(HR Bukhari kitab al-Maradl no.5641-5642 dan Muslim kitab al-Birru wa al-Shilah no.2573).

Dari ‘Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata, “Maukah aku kabarkan kalian dengan ayat paling utama di dalam Kitabullah yang disampaikan Rasulullah Saw kepada kami, yaitu dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Beliau Saw bersabda, Aku akan menafsirkannya untukmu wahai Ali, “Apapun yang menimpa kalian berupa penyakit, siksaan, atau bencana di dunia, maka itu semua akibat perbuatan kalian, dan Allah lebih bijak daripada mengulangi siksaannya atas kamu nanti di akhirat. Dan apa yang telah Allah maafkan di dunia, maka Allah lebih bijak untuk kembali (menyiksamu) setelah dimaafkannya.”(HR Ahmad dan Ibnu Hatim dengan redaksi marfu’ dari Rasulullah Saw tapi dinilai dhaif karena Azhar bin Rasyid al-Kahili, salah satu perawinya, dilemahkan oleh Ibu Ma’in, Abu Hatim dan Ibnu Hajar, yang shahih adalah redaksi mawquf dari sayidina Ali ra riwayat al-Hakim).

Kezaliman kita terhadap diri sendiri dan juga terhadap hak-hak Allah dan alam semesta sungguh terlampau banyak. Kita patut bersyukur bahwa Allah tidak membinasakan kita semua karena kemaksiatan yang kita perbuat, sebab ;

“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.”

(Q.s. An-Nahl: 61).

Di dalam ayat lain yang senada, Allah ta’ala juga menegaskan,

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, Maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”

(Q.s. Fathir:45).

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (vol.11/34) menulis, “Bencana kekurangan buah-buahan dan tanam-tanaman itu disebabkan merebaknya kemaksiatan.” Abul ‘Aliyah berkata, “siapa yang bermaksiat kepada Allah di bumi maka ia telah berbuat kerusakan di bumi, karena kebaikan dan keberkahan bumi dan langit itu terjadi karena ketaatan hamba kepada Allah.”

Rasulullah Saw menyatakan dalam sabdanya, “Suatu hudud yang ditegakkan di bumi itu lebih disenangi dan memberi keberkahan untuk penduduknya dari pada mereka diberikan hujan selama 40 hari”(HR Ahmad dalam al-Musnad vol. 2/362 dan an-Nasai vol. 8/75 dari Abu Hurairah ra). Hal itu karena, jika hudud (hukuman badan bukan kurungan badan) itu diterapkan maka kebanyakan umat manusia akan menjauhi perkara-perkara haram seperti mencuri, berzina, meminum khamar dan lainnya sehingga aman dan sejahteralah hidup manusia. Sebaliknya jika aneka maksiat dikerjakan maka itu adalah penyebab hilangnya berbagai keberkahan hidup dari langit dan bumi.

Jika seorang manusia tidak beriman dengan baik, maka ia akan terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan. Kejahatan itu tidak hanya dirasakan dampak negatif untuk dirinya sendiri, melainkan kerap kali membahayakan orang banyak, merusak fasilitas umum, mengurangi kualitas infrastruktur, tidak terpenuhinya standar pelayanan berkualitas, bahkan dapat merusak ekosistem dan membunuh binatang. Kekufuran yang berujung kepada kemaksiatan memang menyengsarakan banyak makhluk Allah. Sehingga wajar jika Rasulullah Saw bersabda, “Jika orang jahat (ahli maksiat) meninggal dunia sungguh hamba-hamba Allah, negeri-negeri, pohon dan binatang merasa senang dan beristirahat dari kejahatannya.” (HR Bukhari no. 6512).

Akhirnya, marilah kita perbaiki kualitas hubungan kita dengan Allah ta’ala agar kualitas hubungan timbal balik kita dengan masyarakat dan alam lingkungan sekitar kita juga dapat diperbaiki dan berjalan secara harmonis

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Mei 2014 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: