RSS

Kesultanan Siak, Sultan Siak Lahir di Pagaruyung, (Syafriyal -GATRA 7 Desember 2002).

26 Nov

Kesultanan Siak
Sultan Siak Lahir di Pagaruyung

Kesultanan Islam Siak, terpaut erat dengan Kerajaan Johor, Malaysia dan Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau. Siak, berasal dari nama tanaman obat, awalnya cuma pelabuhan sungai di bawah syahbandar kerajaan Malaka di Johor Malaysia. Sejarah berubah kala Sultan Johor, Mahmud Syah II dibunuh karabatnya, Sri Rama, tahun 1699, dan digantikan Tun Habib gelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah sampai tahun 1717.

Istri mendiang Mahmud Syah II, Cik Pung, yang sedang hamil, diselamatkan para perantau Minangkabau ke Kerajaan Pagaruyung. Tak lama kemudian Cik Pung melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi bertubuh kecil itu dipanggil Kecik dibesarkan keluarga Istana Pagaruyung di Balai Janggo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Kala berusia 18 tahun, Kecik, kemudian memakai gelar Raja Pagaruyung, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Atas dukungan pasukan bangsawan Bugis, Daeng Parani, dan pasukan Pagaruyung, Kecik kemudian merebut kembali tahta kerajaan ayahnya di Johor. Lewat sebuah pertempuran hebat, Kecik berhasil mendepak Tun Habib.

Tapi baru dua tahun di kursinya, Kecik digoyang Daeng Parani yang menuntut jabatan Raja Muda atau wakil raja. Daeng Parani bergabung dengan pendukung Tun Habib, Tengku Sulaiman. Mereka memberontak. sehingga terjadilah perang saudara di Johor. Rupanya Kecik

kalah kuat sehingga terpaksa menyeberangi Selat Malaka dan bermukim di Pulau Bintan. Pada 4 Oktober 1722 Kecik mendirikan kerajaan Malayu Riau di Pulau Bintan.

Tapi kerjaaannya tak bertahan karena Pulau Bintan pun direrbut Tengku Sulaiman. Akhirnya Kecik masuk ke perairan sungai Siak dan mendirikan Kerajaan Siak di desa Buatan, kini Kabupaten Siak, di pinggir sungai Siak.

Sebagai asuhan istana Pagaruyung, ia mengangkat empat datuk (menteri) dari empat daerah (kini kabupaten) di Minangkabau sebagai pendukung pemerintahannya. Yaitu, Datuk Sri Paduko Rajo dari Tanah Datar, Datuk Bijoangso dari Lima Puluh Kota, Datuk Sri Dewaraja dari Pesisir Selatan dan Datuk Maharajo Sri Wangso dari Kampar (kini masuk Provinsi Riau). Di kalangan sendiri, ia mengangkat Datuk Laksama sebagaimana Panglima Angkatan Laut dan Datuk Panglima sebagai panglima angkatan darat.

Raja Kecik kemudian tak lagi kecil. Ia menjalin ikatan dengan raja di daratan Riau dan Minangkabau. Ia juga membuka hubungan dagang dengan bangsa Eropa dan Cina. Karena itulah kemudian mudah bagi Kecik menangkap dan membunuh Daeng Parani, yang mengkhianatinya.

Sayang usia Kecik singkat. Pada tahun 1746 ia wafat. Penggantinya, sibungsu Sultan Abdul Jalil Muzafar Syah, setelah memindahkan pusat kerajaan ke Senapelan, menyerbu loji, tempat pemungutan pajak oleh Belanda di mulut muara Sungai Siak. Kekuasaannya pun terbentang luas sampai ke Langkat, Deli dan Serdang di Sumatera Utara.

Tapi hukum alam berlaku: kejayaan sebuah kerajaan pudar seiring melemahnya pemimpinnya. Begitulah Siak, tujuh sultannya kemudian, tak lagi mampu memeluk wilayahnya yang terus menerus direnggut penjajah Belanda. Akibatnya, 1 Februari 1858, Kesultanan Siak di bawah Sultan Ismail, (1815-1864) terpaksa meneken Tractat Siak-Belanda di Batavia.

Sejak itu Siak jadi daerah otonomi Belanda. Wilayah kerjaannya yang lain seperti Deli, Serdang, Asahan dan Langkat, dikuasai Belanda. Akhirnya, Siak di bawah Sultan Syarif Qasim, yang kemudian jadi nama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekanbaru, memilih mengangkat senjata kepada penjajahan Belanda.

Kala kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945, Syarif Qasim menyerahkan mahkota raja milik kesultanan, berupa emas 18 karat (kini di museum Jakarta), juga sebilah keris dan uang 3 juta gulden kepada Tentara Keamanan Rakyat untuk membiayai negara yang baru berdiri.

Kini bila berkunjung ke Istana Sultan Siak, masih terdengar lantunan musik klasik karya Beethoven dari pesawat Komet, gromofon raksasa, ukuran 1,5 x 2,5 meter, satu dari dua yang pernah dibuat Jerman. Itu pertanda istana yang sudah objek wiasata di Siak Sri Indrapura, 125 kilometer di timur kota Pekanbaru, Riau, itu masih dikunjungi pelancong. Istana berlantai dua merupakan perpaduan arsitektur Spanyol, Turki dan Arab, itu dibangun Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, tahun 1889 hingga 1893.

Komplek seluas 3,5 hektare itu terdiri dari Istana Utama, ukuran 50 x 20 meter, Istana Lima, Istana Pajang dan Istana Baroe serta gudang dan tangki air. Lantainya keramik putih buatan Italia. Diding keramik ukiran dari Prancis. Ruang tamunya, khusus pria berkursi kristal, dan jendela-jendela rungan khusus wanita menggunakan gorden beledru berwarna merah.

Di situ masih tersimpan sejumlah benda-benda berharga. Misalnya, kursi raja dari kuningan berukir dan bersalut emas, payung sutra kuning setinggi 170 centimeter bermahkota naga dan tulisan Allah dan Muhammad. Selain tombak dan meriam, terdapat pula cermin mustika, lampu kristal seberat satu ton dan sebuah kursi kristal buatan tahun 1896.

Di istana yang jadi panorama di depan Sungai Siak itu juga tersimpan patung perunggu Ratu Belanda, Wihelmina. Di sampingnya terdapat patung batu pualam Sultan Syarif Qasyim I bermata berlian pahatan seniman Jerman tahun 1889. Yang misteri, adalah sebuah lemari besi yang sudah beberapa kali gagal dibuka. Kini istana dan benda-benda peninggalan Kesultanan Siak dijaga siang malam 20 pegawai Dinas Pariwisata Riau. Dan, kita tinggal memetik hikmah. (Syafriyal -GATRA 7 Desember 2002).

 
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 November 2014 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: