RSS

Urgensi Hijrah Kiat Menumbuhkan Militansi Ummat

26 Nov

 

Hijrah berarti pindah kenegeri lain. Dalam sejarah Islam, hijrah Rasul adalah satu peristiwa Sirah Nabawi (sejarah Rasulullah SAW) bersama-sama Mukminin pindah dari Makkah ke Madinah pada satu setengah millenium yang lalu, dan kemudian menjadi awal penghitungan tahun baru Islam di zaman Sahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA di saat menjabat Khalifah III sesudah wafatnya Rasulullah SAW.

Hijrah bukan melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. Hijrah adalah satu peristiwa penting yang menjadi titik awal — starting-point — kebangkitan Dakwah Islam, dedikasi keyakinan Tauhid — beriman kepada Allah, bukti kepatuhan, buah kesetiaan –, ketaatan kepada prinsip-prinsip ajaran tauhid.

Hijrah adalah jawaban tegas seorang mukmin atas seruan Allah, tanda kecintaan sejati – mahabbah — kepada Muhammad Rasulullah SAW. Cinta akan Allah dan Rasul SAW dibuktikan oleh kemampuan menundukkan kecintaan kepada harta benda, sanak keluarga dan kerelaan menggantinya dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam.

Hijrah adalah fenomena kekuatan umat Mukminin. Citra ajaran dan latihan dari Rasulullah SAW,– ujian menghadapi krisis — akan tersua sepanjang masa. [1]

Hijrah adalah gerakan nyata dari interpretasi Wahyu Al Quran. Hijrah adalah kebenaran perjalanan sejarah manusia pemilik keyakinan tauhid — berakidah Islam — sepanjang masa, siap sedia melaksanakan reformasi actual — menanggalkan kehidupan jahili — menumbuh biasakan karakter masyarakat Sunnah – Islami — dalam membentuk generasi Qurani.

Quba_n

Membentuk Militansi Khayra Ummah

Hijrah pada hakekatnya melahirkan militansi – bersemangat, penuh ghairah dalam melakukan sesuatu – di tengah ummat tauhid itu.

Militansi menampilkan sosok umat bermutu — khaiyr-ummah –, yakni umat yang siap memikul tanggung jawab manusiawi – menjadi khalifah Allah di muka bumi – itulah puncak kewibawaan ajaran Islam.

Setiap upaya menjadikan Islam sebagai agama yang haq (benar) dari Allah oleh ummat yang militan — secara pasti tidak bisa dirusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan musyrikin – atheism — Quraisy.

Dalam fenomena kekinian — di era global dan arus kebebasan informasi – tekanan paham-paham – atheis, sekuler, anarchism, permissivism – dalam bentuk neo-communism bergenetika tidak berakhlaq.

Militansi ummat mengamalkan ajaran Islam – di antaranya menampilkan akhlak Islami yang karimah – menjadi satu-satunya benteng terkuat melindungi harkat-martabat kemanusiaan.

Militansi Muhajirin — umat yang tidak cemas dan takut – berhadapan dengan penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi — dari pihak Jahiliyah Qureisy –, tidak takut menentang kemusyrikan maupun atheis – laa diniyah –, walau dalam masa yang panjang tidak boleh berhubungan dagang — embargo ekonomi — serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang Mukmin di masa itu. [2]

Tantangan Ummat Di Depan

Kebiasaan sikap Masyarakat Jahiliyah yang selalu menyembah berhala, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji tercela — zina, sadis, miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba, dan segala bentuk p[enyakit masyarakat –, menjadi ancaman terhadap jiran, memutus silaturrahim dengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah.[3]

Strukturisasi ruhaniyah Risalah Muhammad SAW, dikenal shiddiq (lurus, transparan), amanah (jujur), tabligh (dialogis), fathanah (ilmiah), memancangkan keyakinan bersih kepada kekuasaan Allah Yang Esa (tauhidiyah), percaya kepada hari berbangkit (akhirat), disiplin dalam beribadah (syari’at), memiliki optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki), hidup dalam kesaudaraan mendalam (mu-akhah), — sesungguhnya adalah bentuk-bentuk militansi yang dikiatkan dan di kaitkan kepada setiap pribadi mukmin –, siap sedia untuk berhijrah – tidak ada hijrah lagi sesudah futuh Makkah, dan yang sebenar hijrah itu adalah meninggalkan apa-apa yang dilarangkan oleh Allah – maka hijrah sedemikian semata-mata dikerjakan hanya mengharapkan balasan (pahala) dari Allah semata.[4]

Hijrah telah menjadi ketetapan operatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakat baru, — tegak dengan ikatan kepercayaan, dengan prinsip dasar yang lebih tinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok ‘ashabiyah, nepotisme –, dan kemudian, tumbuh-kembang menjadi masyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmuran dengan kekayaan — iman, harta dan ilmu – menjadi sumber kekuatan dalam membangun.[5] Nash (teks) Al Quran membuktikan pula bahwa masyarakat Madinah tumbuh berkeamanan yang tenteram serta dihuni tidak hanya oleh umat Mukmin — homogrenitas agama –, tapi juga oleh Yahudi-Nashara (Judeo-kristiani) dan bahkan kalangan Munafik (hipokrit).

            Hijrah telah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua, dengan kesempatan berkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya — tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untuk maju –, menjadi salah satu keutamaan yang ditampilkan Islam membangun satu masyarakat yang kuat berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun). Sebuah peradaban yang tinggi yang melahirkan suatu lingkungan yang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil, memungkinkan manusia mengarahkan dirinya untuk menyembah Allah dalam semua kegiatan (lihat QS.Tahrim,ayat 6), tanpa rintangan dari institusi-institusi yang memerintah masyarakat itu.

Khulasah

  • Masyarakat akan tetap dianggap terbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untuk menyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya. Tidak dapat disangkal bahwa Islam dan Iman mampu membangkitkan motivasi kuat dengan keyakinan diri yang unggul dengan militansi penghayatan dan pengamalan syari’at agamanya.
  • Memiliki kebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual adalah menjadi satu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan.
  • Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru dalam gelombang kesadaran Islam. Pengaruhnya akan tampak jelas dalam tatanan kehidupan duniawi.
  • Hanya kelompok Yahudi (zionis) yang tidak akan pernah diam. Mereka akan selalu berupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikut millah (konsepsi dan cara-cara) mereka.[6]

Wallahu a’lamu bis-shawaab

.

Padang,  Muharram 1436 H –  Oktober 2014 M.

 [1] Firman Allah ; Artinya, “ dan ingatlah (hai Para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, Maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS.8, al-Anfaal :26).

 [2] øFirman Allah ; artinya :Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan kamu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS.8, al Anfal :30).

 [3] Lihat “Al Islam Ruhul Madaniyah”, berisi jawaban Sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Kaisar Negus di Habsyi.

 [4] Firman Allah ; Artinya, “ Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.4, an-Nisa’:100).

 [5] Sejarah kemudian membuktikan betapa Shahabat Ali bin Abi Thalib pernah diadili atas aduan seorang Yahudi dengan dakwaan pemilikan seperangkat baju besi oleh seorang hakim Muslim dan akhirnya demi hukum dan keadilan Ali bin Abi Thalib bisa di kalahkan lantaran tidak dapat mengetangahkan bukti-bukti di pengadilan (mahkamah).

[6] Firman Allah ; Artinya ; orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS.2,Albaqarah : 120)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 November 2014 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: